Istri Yang Ternodai

Istri Yang Ternodai
Menemukan keberadaan Rara


__ADS_3

Apaan sih?” tanya Jack bingung karena tubuhnya di tarik untuk bersembunyi.


“Ada orang tuanya Rara.” Zayn menunjuk ke dua orang paruh baya yang berjalan tergesa-gesa mencari nomor pintu unit putrinya.


“Ini, Yah. Ini kamarnya Rara,” ucap Mia senang dengan suara yang cukup keras.


“Iya, Bun. Ayo cepat tekan belnya," sahut Sanjaya dan Mia pun melakukan apa yang diperintahkan sang suami.


“Ayah ... Bunda ...” teriak Rara yang terlihat langsung memeluk kedua orang tuanya. “Maaf ayah Bunda, Rara jarang kasih kabar.”


Rara melebarkan pintu apartemennya dan mengajak orang tuanya masuk ke dalam. Setelah Sanjaya dan Mia masuk ke dalam sana, Zayn mengajak Jack untuk keluar dari persembunyian itu dan kembali menuju lift.


“Wah tempatmu lumayan nyaman, Ra.” Mia menelusuri ruangan di dalam itu.


“Iya, Bun. Makanya Bunda ngga usah khawatir. Rara disini baik-baik aja kok.”


“Alhamdulillah, Nak. Tapi Ayah dan Bunda tetap khawatir.”


Kemudian, Rara membuatkan teh hangat untuk kedua orang tuanya. Sanjaya duduk di kursi mini bar itu, sedangkan Mia masih menelusuri bagian dalam apartemen yang Rara sewa, hingga ke kamar mandinya.


“Ayah ngga ke kantor?” tanya Rara sembari menaruh dua cangkir teh hangat di depan Sanjaya.


Sanjaya menggeleng. “Ngga, nak. Ayah kangen sama kamu.”


“Eum ... Rara juga kangen ayah.” Rara menghampiri ayahnya dan memeluk tubuh itu.


“Ra, siapa yang memilih tempat ini?” tanya Mia yang juga menghampiri suami dan anaknya di sana.


“Bos Rara, Bun.”


“Pemilik yayasan tempat kamu mengajar itu?” tanya Mia lagi.


Rara pun mengangguk.


Mia ikut duduk di samping suaminya. Mereka berbicara ngalor ngidul kesana kemari dan tertawa, hingga tertawa itu pun memelan dan hening sejenak.


Tak terasa perbincangan mereka yang terkadang unfaedah itu karena isinya membicarakan tentang sepupu Rara yang juga diselingkuhi suaminya itu memakan waktu hampir satu jam lebih.

__ADS_1


“Ra, ayah ingin mengatakan sesuatu,” ucap Sanjaya.


“Apa, Yah?” tanya Rara serius karena sepertinya sang ayah pun memasang wajah serius.


Sanjaya melirik ke arah istrinya dan Mia pun mengangguk. Ya, Rara memang perlu tahu hal ini. Sang putri perlu tahu bahwa dirinya bukan wanita cacat. Dia sempurna dan telah melahirkan anak kembar sepasang.


“Ra, jika ayahmu bebruat salah, apa kamu akan memaafkannya?” tanya Sanjaya lirih.


“Ayah ngomong apa?” Rara merangkul bahu ayahnya yang masih terlihat tegap. “Pasti dong. Rara ngga akan pernah bisa marah sama Ayah dan Bunda. Orang yang paling ada di saat apapun dn selalu menyayangi Rara dengan tulus.”


“Jika ternyata kesalahan ayah fatal, bagaimana?”


“Setiap keputusan memang selalu ada plus minus dan terkadang kita lupa bahwa yang menurut kita itu terbaik belum tentu menjadi yang terbaik nantinya.”


Sanjaya langsung berdiri dari tempat duduknya dan memeluk tubuh Rara yang sedang duduk di seberang sang ayah. “Ayah menyayangimu, Nak. Sangat menyayangimu.”


Rara menepuk lengan sang ayah. “Iya Ayah, Rara tahu.”


“Sebenarnya, ada hal yang ingin ayah katakan bahwa ...”


Ting Tong


“Sebentar, Yah.” Rara melepaskan pelukan itu dan bangkit dari duduknya, lalu membuka pintu.


“Hai, udah dateng? Katanya jam sebelas. Sekarang baru jam sembilan loh.”


Di depan Rara tengah berdiri Reihan.


Reihan nyengir hingga terlihat jejeran giginya yang rapih. “Aku bosan di rumah, karena Bulan dan Bintang sekolah dan aku ngga ke kantor. Jadi aku putuskan untuk ke sini dan menemanimu.”


Kemudian, Rara mengajak Reihan untuk masuk. Sebelum memasuki aaprtemen Rara ke ruangan lebih dalam. Reihan melihat keberadaan dua orang apruh baya di sana.


“Om, tante.” Reihan membungkukkan separuh tubuhnya pada Mia dan Sanjaya sebagai tanda hormat.


“ini siapa, Ra?” tanya Mia senang, karena ternyata putrinya sudah memiliki teman lawan jenis.


“Ini dai Bun Bos Rara. Pemilik Yayasan Salahudin Al Ayubi.” Rara memperkenalkan Reihan pada kedua orang tuanya.

__ADS_1


“Oh, ya ampun. Selama ini Rara hanya bercerita tentangmu, Nak.” Mia antusias.


Reihan pun tersenyum lebar sembari mengulurkan tangannya pada Mia dan bergantian ke arah Sanjaya.


Sanjaya pun senang melihat putrinya yang sudah move on dari Reza. Padahal hubungan mereka tidak seperti yang orang lihat. Rara benar-benar menganggap Reihan sebagai teman, sekaligus kakak. Mungkin karena sejak kecil ia terbiasa dekat dengan Reza da Zayn yang seperti Kakak sekaligus sahabat untuknya, sehingga ketika Reihan hadir, Rara pun menganggap kedekatan ini demikian.


Akhirnya, Sanjaya lupa dengan niatnya yang ingin memberitahu anak kembar yang pernah putrinya lahirkan, karena kehadiran Reihan. Sanjaya, Mia, dan Reihan terlihat bercengkrama dengan hangat. Kedua pria beda generasi itu tampak nyambung saat berbincang tentang bisnis, karena Reihan juga memiliki bisnis di bidang kuliner, walau tidak sebesar milik Sanjaya.


“Terima kasih, Nak Rei karena telah membantu Rara selama pindah di sini,” ujar Sanjaya.


“Dengan senang hati, Yah. Rei senang sekali bisa membantu Rara,” jawab Rei tersenyum lebar.


Suasana apartemen Rara mendadak menjadi ramai. Hingga waktu menunjukkan pukul sebelas dan Reihan meminta izin pada orang tua Rara untuk mengajak Rara menjemput ibunya ke bandara.


“Baiklah, hati-hati ya.” Mia mengantarkan Reihan dan Rara keluar.


“Bunda sama Ayah tunggu di sini ngga apa-apa ya,” kata Rara.


“Iya ngga apa-apa, Sayang,” jawab Sanjaya yang memang sudah mengutarakan niatnya yang ingin menginap di apartemen ini satu malam.


“Kalau begitu, nanti malam, Ayah sama Bunda makan malam di rumah Rei ya! Pasti Ibu Rei senang sekali, mumpung Ayah dan Bunda di sini,” Ucap Reihan.


“Ngga usah, Mas. Repot. Lagian Ibu pasti capek abis perjalanan jauh.”


“Ngga, Ra. Ibu pasti senang. Bener deh.” Reiha kembali mengalihkan arah matanya pada Sanjaya dan Mia. “Ya Bunda, Ayah?”


Sanjaya dan Mia pun mengangguk. “Baiklah, tidak ada salahnya bersilaturahim.”


Reihan tersenyum semakin lebar. Ia sengaja mempertemukan orang tua Rara pada ibunya, agar niatnya yang ingin meminang Rara nanti mudah terealisasi.


“Baiklah, Ayah ... Bunda. Rara dan Mas Rei berangkat.” Rara berpamitan pada kedua orang tuanya.


Sanjaya dan Mia pun tersenyum sembari menganggukkan kepalanya.


Reihan berjalan beriringan bersama Rara menuju lift hingga sampai di lobby. Saat di lobby ternyata ada seorang pria yang tengah mengintai Rara. Pria itu memoto Rara yang sedang berjalan bersama Reihan sembari tertawa karena ada saja perbincangan Reihan yang membuat Rara tertawa.


Di parkiran, Reihan membuka pintu mobil untuk Rara dan hal itu pun tak luput dari pantauan pria itu yang memotonya.

__ADS_1


Ya, pria itu adalah orang suruhan Reza. Pria yang tengah mengintai Sanjaya akhirnya mengikuti mobil ayah Rara hingga sampai di apartemen ini. Akhirnya, tugas detektif itu pun selesai, karena Reza telah menemukan keberadaan orang yang ia cari dan membuatnya selalu tidak fokus.


__ADS_2