Istri Yang Ternodai

Istri Yang Ternodai
Mengambil keputusan


__ADS_3

"Hari ini kamu mau kemana? Bertemu Zayn lagi?” tanya Reza sinis ketika ia akan berangkat berkerja bersama Kemal.


Kemal menatap pasangan suami istri ini dengan seksama.


“Itu tidak mungkin, Zayn pasti sedang sibuk dengan projeknya di sana,” jawab Kemal, mencoba melerai ketegangan antara anak dan menantunya.


Rara ikut mengangguk. Benar apa yang dikatakan Kemal, sejak kemarin Zayn memang sudah sibuk dengan urusannya. Walau sesekali Zayn bertanya pada Rara tentang keadaannya, tetapi Zayn tidak berani untuk lebih ikut campur dalam rumah tangga sang kakak.


“Iya, Zayn sudah sibuk dengan urusannya. Kemarin kami bisa jalan-jalan karena pemotretan belum di mulai,” sahut Rara membuat Reza terdiam.


“Hari ini aku hanya keluar menemui teman, kemarin anaknya ulang tahun dan aku tidak sempat datang, jadi aku ingin memberi kado ini sekarang,” kata Rara lagi.


“Teman? Siapa? Memang kamu memiliki teman di sini?” tanya Reza lagi.


“Kamu lupa? Teman baru yang aku ceritakan saat aku ke Mall xxx. Anak kecil yamg lucu yang membuntutiku dan di sangka ibunya apdahal ibunya sedang mencari dia setengah mati.”


Sesampainya di rumah, setelah kejadian itu Rara memang menceritakan dirinya yang bertemu dengan anak lelaki tampan dan seorang ibu muda yang cantik. Namun, saat itu Reza tidak terlalu menanggapi cerita Rara. Ia hanya manggut-manggut seolah mendengarkan tetapi tidak serius.

__ADS_1


“Aku lupa,” jawab Reza.


“Ya sudah kalau lupa. Sana berangkat.” Rara mendorong tubuh suaminya keluar pintu, lalu ia mencium tangan Kemal.


“Hati-hati di rumah, Ra.” Kata Kemal.


Kemudian, Reza mencium kening Rara cukup lama, sebelum ia meninggalkan unit apartemen itu. Entah mengapa rasanya ia tidak ingin berangkat kerja hari ini, tetapi itu tidak mungkin karena pekerjaan harus segera diselesaikan mumpung sang ayah sedang berada di sini.


“Ayo, Za. Nanti sore juga kamu ketemu istrimu lagi,” ledek Kemal yang melihat sang putra enggan meninggalkan istrinya.


Reza masih berdiri dekat dengan sang istri. Tangannya masih setia mengelus pipi mulus itu. “Ingat, jangan pulang malam-malam! Pulang sebelum aku pulang oke.”


“Jangan buat aku panik seperti kemarin! Aktifkan selalu ponselmu. Jangan lupa bawa powerbank.” Reza masih terus memberi wejangan pada istrinya.


“Iya, bawel ih.”


Reza mencubit ujung hidung Rara. “Karena aku mencintaimu.”

__ADS_1


Kemal yang tak sabar menunggu putranya, tatap melangkahkan kaki perlahan menuju lift. Ia tak ingin menganggu kemesraan itu.


“Iya, aku tahu.” Jawab Rara. Dalam satu hari ini, Reza terus mengucapkan cinta padanya. Ini adalah pernyataan yang kesekian kali.


“Kaalu begitu aku berangkat. Hati-hati nanti ya!” kata Reza.


Rara mengangguk. “Kamu juga hati-hati.”


Reza tersenyum dan memberi kecupan jarak jauh, lalu ia membalikkan tubuhnya dan berjalan jauh dari tempat Rara yang berdiri di ambang pintu apartemen itu.


Rara menghirup nafasnya panjang dan membuang perlahan. Hari ini ia akan mengambil keputusan. Sepertinya ia akan menerima Manda sebagai madunya. Ia juga akan menerima Noah seperti anaknya sendiri, lagi pula ia pun memiliki kekurangan dan tidak bisa memberikan Reza keturunan.


Sejak semalam, ia mamantapkan diri jika esok hari Reza memintaa maaf lebih dulu, maka ia akan menerima takdir ini. dan, ternyata pagi tadi bukan hanya meminta maaf, tapi Reza menyatakan cintanya berulang-ulang, hingga Rara semakin yakin akan keputusannya.


Rara akan memaafkan kesalahn Reza. Ia akan menerima kekurangan sang suami seperti Reza yang selalu menerima kekurangannya. Lagi pula ia yakin bahwa cinta Reza hanya untuknya dan Reza pasti akan bersikap adil karena cinta yang Reza miliki terhadapnya lebih besar dari Manda, bahkan Rara yakin hingga saat ini Manda belum mendapatkan cinta itu. Rara akan menerima Noah dan manda menjadi bagian keluarga mereka. Ia anggap ini sebuah pengorbanan cinta. Rara harus meyakinkan sang suami untuk mengakui dihadapannya dan dihadapan keluarganya nanti, dengan dirinya yang selalu berada di sisi sang suami untuk mengatakan hal ini pada kedua orang tua mereka.Rara mengambil bungkusan kado yang sudah ia siapkan untuk Noah. Bibirnya tersenyum mengingat wajah Noah yang lucu dan menggemaskan. Tidak susah memang menganggap Noah seperti anaknya sendiri, karena sejak anak itu mengenal Rara dan memanggilnya bunda, Noah memang sudah dekat dengannya.Rara melangkah ke kamarnya untuk membersihkan diri dan bersiap menuju rumah Manda. Ia pun sudah memberi kabar pada Manda bahwa dirinya hendak on the way.


Rara akan menerima Noah dan manda menjadi bagian keluarga mereka. Ia anggap ini sebuah pengorbanan cinta. Rara harus meyakinkan sang suami untuk mengakui dihadapannya dan dihadapan keluarganya nanti, dengan dirinya yang selalu berada di sisi sang suami untuk mengatakan hal ini pada kedua orang tua mereka.

__ADS_1


Rara mengambil bungkusan kado yang sudah ia siapkan untuk Noah. Bibirnya tersenyum mengingat wajah Noah yang lucu dan menggemaskan. Tidak susah memang menganggap Noah seperti anaknya sendiri, karena sejak anak itu mengenal Rara dan memanggilnya bunda, Noah memang sudah dekat dengannya.


Rara melangkah ke kamarnya untuk membersihkan diri dan bersiap menuju rumah Manda. Ia pun sudah memberi kabar pada Manda bahwa dirinya hendak on the way.


__ADS_2