
Dua hari kemudian, di sebuah hotel yang mewah itu, keluarga Reza dan keluarga Essy berkumpul. Di sana pun sudah menunggu para kerabat dan sahabat yang datang lebih dulu untuk menyaksikan akad nikah Reza dan Essy yang akan digelar tiga puluh menit lagi.
Essy dan Reza yang berada di kamar berbeda pun sudah siap dengan penampilannya masing-masing. Reza tampak gagah dengan setelan jas formal yang berwarna putih, sedangkan Essy tampak cantik dengan balutan kebawa anggun dan tetap mewah yang berwarna putih.
Rara menemani Essy di kamar itu, sedangkan Zayn menemani sang kakak di kamar berbeda. Sementara, Zac dan Zoey sudah berpakaian lengkap sebagai dayang-dayang yang akan menemani paman dan bibinya saat akan berjalan ke pelaminan.
“Gugup, Kak?” tanya Zayn meledek sang kakak.
Reza mengangguk. “Ya, walau ini bukan yang pertama tapi aku tetap gugup.”
“Itu wajar, kalau tidak gugup dan biasa saja, berarti kakak tidak serius.”
Reza pun kembali mengangguk.
Lalu, Zayn berdiri. “Ayo, kalau begitu kita keluar lebih dulu. Kata Papa bapak penghulu sudah ada di depan.”
Reza mengangguk dan mengikuti langkah adiknya.
Sedangkan di kamar berbeda, tangan Essy begitu dingin. Rara pun menggenggam tangan itu dan menggosoknya.
“Ra, aku tidak pernah menyangka akan berada di titik ini dengan Kak Reza,” kata Essy.
“Tidak ada satu pun orang yang menyangka dengan siapa hati kita akan berlabuh, Sy. Itulah hebatnya Dia, sang pemilik kehidupan.”
Essy mengangguk. Ia tahu bagaimana masa lalu Rara dan Reza, serta Zayn.
“Cinta selalu bisa membuat kita menerima kelebihan dan keburukan pasangan, Sy. Dan kamu tahu bagaimana kisah itu terjadi hingga akhirnya kini aku bersama Zayn.”
Essy mengangguk. “Aku menerima keburukannya, Ra.”
“Ya, dan semoga Kak Reza pun demikian,” kata Rara yang diangguki langsung oleh Essy.
Sejauh ini, Essy dapat melihat kesungguhan Reza. Di detik-detik hari pernikahan mereka pun, mereka sempat dilanda ketegangan karena Essy yang terlalu sibuk bekerja. Tapi begitulah Essy, ia sangat suka bekerja dan mungkin itu adalah salah satu keburukannya ketika akan menjadi istri nanti. Namun, dengan sabar Reza menerima itu. Dengan sabar pula, Reza menuruti apa pun kemauan wanita itu.
Tidak lama kemudian, Essy keluar ditemani oleh Rara di sampingnya. Rara memegang lengan Essy dan membantunya menghampiri Reza yang sudah duduk dengan gagahnya di sana.
Reza terkesima melihat menampilan istrinya yang cantik dan anggun. Essy seperti cinderela yang menggunakan sepatu kaca dan hendak pergi ke pesta.
Seketika, pandangan Reza pun tak teralihkan hingga pak penghulu yang duduk di depannya pu menggoda dan membuat semua yang hadir tertawa.
“Baiklah, bisa kita mulai acara ini?” tanya Pak penghulu yang berusia kurang lebih sekitar liam puluh tahun.
Para saksi dan kedua mempelai itu pun mengangguk.
Dengan mengucapkan basmalah, Pak penghulu itu memulai akad nikah ini. Pak penghulu itu pun mengucapkan nama Reza lengkap dengan nama belakang dan nama ayah, lalu menyebut nama Essy lengkap dengan nama belakang dan nama sang ayah serta diringi oleh sebutan nominal bahar yang diberikan mempelai pria untuk istrinya.
Pria yang menjadi wali Essy pun menghentakkan tangannya yang menggenggam erat tangan Reza. Lalu, Reza mengucapkan ulang kalimat yang disebutkan pak penghuu tadi tanpa kurang dan tanpa lebih.
“Sah.”
“Sah.”
“Sah,” ucap penghulu itu ke kanan, ke kiri \=, dan ke audiens, membuat semua orang pun berkata, “sah.”
“Barokallahu lakuma wa baroka alaikuma wajam’a baynakuma fii khoir,” ucap kembali pak penghulu seraya mengusap wajahnya.
Kini, Reza dan Essy pun sah menjadi sepasan suami istri. Kata keramat yang Reza ucapkan dengan lantang pun di saksikan oleh seluruh keluarga inti dan keluarga besar masing-masing. Bahkan para mantan mereka ada di sana.
Manda ditemani Sam dan Noah pun menghadiri acara itu dari awal. Sedangkan Rara dan Zayn justru malah menjadi orang terdepan yang paling sibuk mengurus pernikahan mereka sejak baru direncanakan hingga pesta digelar.
Untuk menyelenggarakan pesta mewah ini, Zayn hampir dua hari tidak tidur. Bahkan ia meninggalkan Rara tidur sendirian di kamar, padahal biasanya pria itu tidak pernah absen bercinta sebelum matanya beristirahat.
Namun, usaha Zayn tak mengkhianati hasil. Acara ini tampil sempurna, hingga setiap yang datang pun memujinya.
Zayn menggandeng pinggang Rara dan Rara pun menyandarkan kepalanya di bahu Zayn. Mereka tersenyum melihat Reza dan Essy yang tampak bahagia di atas pelaminan dan menyambut dengan senyum sumringah pra tamu di sana.
“Ah, aku bahagia, Dad.”
“Aku juga.”
Zayn memeluk erat pinggang Rara sambil tubuhnya bergerak mengikuti alunan musik melow yang disuguhkan panitia.
“Ada yang ingin menyumbang lagu?” tanya poanitia band di sana.
Tanpa pikir panjang, Rara mengangkat tangannya ke atas dan Rara menarik lengan suaminya untuk menaiki panggung musik.
Sementara, Zac dan Zoey tengah asyik bersama Noah, Manda dan Sam.
“No, Sayang. Aku tidak bisa bernyanyi di depan orang lain. Aku hanya bisa bernyanyi di depanmu.”
“Ayolah, Sayang! Bernyanyi bersamaku,” kata Rara.
“Bersamamu?” tanya Zayn meyakinkan.
Rara mengangguk. “Aku ingin duet denganmu.”
__ADS_1
Zayn menyungging senyum. “Oke, siapa takut.”
Lalu, mereka berlari menghampiri panggung musik itu dan berdiri di sana.
“Come on, Daddy.”
“Come on, Mommy.”
Teriak Zac dan Zoey di kursinya ketika melihat kedua roang tuanya berdiri di sana.
“Hei itu Daddy dan Mommy ku,” kata Zoey kepada orang-orang.
“Ya, itu Daddy dan Mommy kami,” sahut Zac, membuat Rara dan Zayn yang ada di sana pun melambaikan tangan ke arah anak-anak mereka dan tersenyum.
“Lagu ini kami persembahakan untuk kedua mempelai di sana yang tengah berbahagia karena cinta,” kata Rara sembari menunjuk ke arah Reza dan Essy yang berdiri di pelaminan.
Essy yang melihatnya pun langsung memberi kecupan jauh pada Rara, sementara Reza melambaikan tangannya ke arah Zayn. Mereka benar-benar sangat terlihat bahagia.
Kemudian, Rara membisikkan lagu yang ingin merak nyanyikan bersama. Rara memilih lagu dari Titi DJ dengan judul hanya cinta yang bisa.
Panitia itu mulai memainkan musik dan Rara menyanyikan lirik lagu itu lebih awal
Kupikir ku tak pernah pantas untuk bahagia
Sejak kau pergi dalam ketidaktahuanku
Kini kau kembali
Membawa bingkisan kebahagiaan
Yang aku ingat pernah kau curi dariku dulu
Kau tawarkan lagi untukku
Jangan lagi kau pergi dari hidupku
Takkan mudah untukku bila sendiri
Biar kita miliki rasa bahagia
Ingin selalu bersama
Di dalam ruang dan waktu
Lalu, di sambung dengan suara Zayn.
Bukan hanya kau kembalikan mimpiku
Hadirmu kini membuatku percaya lagi
Bahkan lebih indah dari mimpi-mimpiku, hu-hu
Dan, kemudian suara mereka bergantian.
Hanya cinta yang bisa menaklukkan dendam
Hanya kasih sayang tulus yang mampu menyentuh
Hanya cinta yang bisa mendamaikan benci
Hanya kasih sayang tulus
Yang mampu menembus ruang dan waktu
(Wo-o-hoo)
Jangan lagi kau pergi dari hidupku
(Hanya kasih, hu-uu) Takkan mudah untukku bila sendiri
(Hanya cinta, wo-wo-hoo) Biar kita miliki rasa bahagia
(Hanya kasih sayang tulus) Ingin selalu bersama
Mampu menembus ruang dan waktu, woooo
Kemudian, mereka pun bernyanyi bersamaan.
Hanya cinta yang bisa (Bisa menaklukkan dendam)
Hanya kasih sayang tulus (Tulus mampu menyentuh)
Hanya cinta yang bisa (Bisa damaikan benci)
Hanya kasih sayang tulus (Tulus)
__ADS_1
Yang mampu menembus ruang dan waktu (Dan waktu, huhuhu)
Rara dan Zayn mengakhiri menyanyikan lagu itu dengan saling berpelukan. Tanpa ia sadari ia meneteskan air mata saat menyanyikan lagu itu. Entah mengapa hatinya tersentuh saat mengucapkan lirik di lagu itu ketika bernyanyi bersama dengan Zayn. Seolah lirik itu meluapkan perasaannya yang dulu pernah benci, pernah dendam pada pria yang kini menjadi suaminya. Namun, cinta mengalahkan itu semua, karena ia sadar bahwa cintanya adalah Zayn.
Dan, hal itu pun berlaku untuk pria yang saat ini tengah duduk di pelaminan. Cinta Essy meluluhkan benci dan dendam akan dirinya yang pernah terpuruk dan melakukan kesalahan yang amat dalam.
****
Selesai acara resepsi, Reza langsung menerkam sang istri yang saat ini belum berganti pakaian.
“Kak, aku belum ganti baju,” ucap Essy sambil tertawa di atas tempat tidur.
Tubuhnya sudah di tarik Rteza ke sana.
“Biar, biar aku yang buka gaunmu.”
“Tapi bdanku lengket, Kak. Aku mau bersih-bersuh dulu.”
“Tapi aku sudah tidak tahan, Sayang.”
Essy melihat tampang suaminya yang memelas. Ya, Reza memang sudah lama menahan gairah itu. Sangat lama. Untung saja, ia bisa menahan gairah sang duda yang sudah lama tidak menyalurkan hasrat.
Tanpa meminta persetujuan dari sang istri, Reza langsung menanggalkan gaun putih itu tanpa sisa hingga tubuh molek Essy pun terpampang jelas.
Reza sudah sangat siap melakukan aktivitas itu. Ia pun langsung menindih tubuh Essy dan ******* bibir itu dengan brutal dan cukup lama hingga Reza melepaskannya.
“Siap?” tanya Reza semangat.
Essy pun mengangguik. Namun, beberapa menit kemudian ia menahan dada Reza.
“Kak, kamu harus tahu sesuatu.”
“Apa?” tanya Reza yang melihat wajah Essy yang serius.
“Aku sudah tidak perawan.”
Jedar.
Sontak reza terkejut.
“Maksudmu?” tanyanya bingung.
“Aku sudah tidak perawan.” Essy mengulang perkataannya.
“Siapa?” tanya Reza dengan raut wajah yang mencoba untuk tidak marah.
“Apanya?” Essy balik bertanya.
“Orang yang sudah melakukannya lebih dulu.”
Essy terdiam. “Tapi apa kamu marah?” tanyanya hati-hati.
“Hal itu sudah tidak menjadi tolak ukur untukku. Yang penting aku mencintaimu dan nyaman bersamamu,” jawab Reza jujur. “Hanya saja, aku ingin tahu pria itu.”
“Untuk apa? Bukankah masa lalu biar saja menajdi masa lalu?”
Reza terdiam. “Baiklah, biar saja itu sebagai masa lalu, karena aku memang sudah berdamai dengan itu.”
“Kamu tidak jijik denganku?” tanya Essy lagi.
Reza pun menggelengkan kepalanya. "Aku sudah memikirkan kemungkinan terburuk ini."
“Jadi, kamu sempat berpikir kalau aku sudah tidak perawan?” tanya Essy kesal dan mendorong tubuh suaminya. “Jahat kamu, Kak.”
“Loh, tadi kan kamu sendiri yang bilang seperti itu.” Reza mencoba mengejar Essy yang bangkit dan mengambil selimut untuk menutupi tubuhnya yang polos.
Essy berjalan ke akamr mandi dengan marah.
“Essy buka pintunya. Kok malah kamu yang seperti ini?” tanya Reza bingung.
“Aku tuh tadi cuma ngeprank kamu ya? Eh malah kamu buat aku kesal,” teriak Essy dari dalam kamar mandi dan itu sontak membuat Reza tertawa.
Essy pun mendengar tawa suaminya. ”Puas kamu ketawa.”
Reza masih tertawa. “Makanya jangan ngeprank orang sembarangan. Jadi kena batunya kan?”
Essy pun membuka kembali pintu kamar mandi itu.
“Siapa suruh ngeprank?” tanya Reza setelah mendapati istrinya berdiri di hadapannya.
“Pengen tahu aja, apa kamu masih cinta sama aku kalau kamu bukan yang pertama untukku.”
“Dasar.” Reza mencubit ujung hidung istrinya dan langsung menggendongnya ala bridal.
“Kak, aku mau mandi dulu,” rengek Essy.
__ADS_1
“Tanggung. Aku ingin buat kamu terbang hingga merengek untuk meminta lagi,” ujar Reza yang sudah siap dengan stamina dan gerakan yang akan ia ajarkan pada istri barunya ini.
“Kak,” teriak manja Essy.