
Rara masih berdiri di sela pintu yang sedikit terbuka itu. Ia melihat Zayn yang sedang duduk di temani oleh Cellin yang berdiri dekat di sampingnya dengan tubuh yang membungkuk sehingga membuat mereka semakin dekat.
Rara pun semakin malas melihat itu, karena Zayn seolah biasa saja, padahal belahan dada Cellin terlihat jelas dengan posisinya yang seperti itu. Rara saja yang seorang perempuan, risih melihatnya
“Itu Bos Zayn, Miss. Mau langsung masuk?” gadis resepsionis itu menawarkan pada Rara.
“Eum ... tidak perlu, saya menunggu di depan saja,” jawab Rara dan hendak berlalu dari ruangn itu menuju lobby.
Namun, Zayn merasakan kehadiran Rara. Sebelum Rara berlalu dari puntu ruangan itu, Zayn menengadahkan kepalanya ke arah pintu. Sosok sang istri yang tengah berbincang dengan karyawannya pun terlihat jelas.
“Sayang,” panggil Zayn yang langsung berdiri dan menghampiri Rara.
Rara pun langsung menoleh ke sumber suara itu. Sementara Cellin berdiri mematung dengan menatap tajam ke arah Rara dari dalam pintu dan menelitinya dari ujung kaki hingga kepala.
“Ini istri, Zayn?” tanyanya dalam hati.
Cellin merasa penampilan Rara tidak istimewa. Rara jauh dari kata sexy, tapi ia heran mengapa wanita seperti ini yang Zayn sukai. Menurut Cellin, padahal penampilannya jauh lebih sexy dan lebih cantik dibanding Rara.
Rara masih berdiri di luar pintu ruangan itu, hingga Zayn mendekatinya. Zayn membelakangi Cellin, sedangkan Rara dan Cellin saling bertatapan. Rara dapat merasakan aura ketidak sukaan Cellin padanya. Cellin memang sudah tahu wajah Rara dari unggahan yang sering di upload Zayn. Namun, Rara sama sekali tidak tahu bagaimana rupa Cellin, ia hanya tahu namanya dari adik Zayn.
“Hei, kenapa berdiri saja di sini. Ayo masuk!” ucap Zayn dengan menggandeng pinggang Rara.
Rara menggeleng. “Nanti aku ganggu. Aku tunggu di lobby aja.” Rara memasang wajah ketus.
Zayn tertawa. Ia bisa merasakan aura kecemburuan dari wajah Rara dan si*lnya Zayn menyukai situasi ini. “Apa karena ada dia?”
Rara cemberut.
“Bos, Miss. Saya permisi dulu,” ucap gadis resepsionis itu.
“Eh, tunggu. Siapa namamu?” tanya Rara pada resepsionis itu.
“Namanya Mitha,” jawab Zayn dan gadis itu pu mengangguk.
“Aku ngga nanya sama kamu.” Rara melirik ke arah Zayn dan kembali pada Mitha.
Zayn tersenyum dan mengusap dagunya yang tak gatal.
“Mitha, aku buatkan kue untuk kalian. Ini!” Rara menyerahkan kue buatannya untuk dibagikan temna-teman yang bekerja dengan suaminya.
“Buat aku mana?” tanya Zayn manja.
“Aku kasih Jack aja,” jawab rara bohong dan Zayn pun melihat rantang susun tiga yang masih Rara pegang di tangan kanannya.
“Jangan! enak aja. Ini punya aku.” Zayn langsung merampas rantang berwarna hijau itu dari tangan Rara dan menarik Rara untuk masuk ke dalam ruangan tadi.
Rara mengikuti langkah Zayn dengan tangannya yang masih digenggam oleh tangan suami yang berjalan di depan.
“Cel, ini istriku,” ucap Zayn memperkenalkan Rara pada Cellin.
“Sayang, ini Cellin.” Zayn tersenyum menatap istrinya.
Rara mengangkat tangannya untuk berjabat pada Cellin tanpa senyum, karena Cellin pun demikian. Model cantik itu tak sama sekali menampilkan senyumnya di hadapan Rara.
“Rara.”
“Cellin.”
__ADS_1
“Zayn, ini!” Jack tiba-tiba masuk ke ruangan itu dan ketika ia menengadahkan kepalanya, ia melihat situasi yang sedikit tegang di ruangan ini. “Ups, Sorry gue ganggu.”
“No, Jack. Ada apa?”
“Hai, Cel” Jack menyapa Cellin yang wajahnya terlihat ketus. “Hai, Ra.” Jack pun menyapa Rara yang menampilkan wajah yang sama.
Rara dan Cellin seperti istri pertama dan kedua Zayn yang bertemu dalam satu rumah. Mereka berdiri berseberangan.
Jack tersenyum ke arah Zayn sambil berjalan ke arahnya untuk meminta saran pada pekerjaan yang sedang ia pegang. Mereka pun berbincang sejenak. Sementara Rara hanya berdiri dengan memainkan kakinya sambil menunduk. Sedangkan Cellin dengan gayanya yang arogan duduk bak putri sambil mengeluarkan ponsel dari tas mahalnya.
“Ya udah gini aja, Jack. Udah oke kok,” kata Zayn pada asistennya.
“Oke deh kalo gitu.” Jack selesai bertemu bosnya. Lalu, ia berkata sebelum meninggalkan Zayn. “Tegang banget nih ruangan.”
“Doi ngambek kayanya.” Zayn melirik ke arah Rara yang sedang tak melihatnya.
“Dia cemburu liat Cellin?” tanya Jack.
Mereka berbicara dengan saling berbisik.
“Maybe,” jawab Zayn.
Kemudian, Rara mengarahkan pandangannya pada Zayn dan Jack. Ia merasa sedang menjadi objek pembicaraan kedua pria itu.
Zayn dan Jack pun kembali menunduk ke arah kertas yang ada di meja Zayn. Mereka tertawa.
“Lu emang ga salah pilih, Bro. Pantes rela nunggu jandanya.” Bisik Jack lagi sebelum pergi meninggalkan Zayn.
Zayn tertawa sambil mendorong Jack untuk keluar dari ruangan itu.
Cellin langung berdiri, melihat Zayn telah selesai dengan Jack. Ia pun langsung mendekati suami Rara. “Zayn, Ayo ke ruang studio!”
“Daddy, kamu makan siang dulu. Baru kerja lagi. Nanti sakit. Ayo!” Rara menarik lengan Zayn yang lain.
Mendengar Rara memanggil nama Zayn dengan sebutan Daddy, membuat Cellin semakin panas.
Zayn melepas tangan Cellin dari lengannya. “Kamu ke sana duluan, Cel. Di sana sudah ada Sam.”
Kebetulan Cellin kembali terlibat satu proyek dengan Zayn dan itu tidak lama. Zayn pun meminta Cellin untuk di foto oleh fotografer andalannya yang lain yang masih dalam tim mereka.
“Aku hanya ingin di foto sama kamu. Aku tidak mau kalau sama Sam,” ucap Cellin.
Rara menghimpit tubuh suaminya, karena ternyata wanita di depannya ini tidak tahu malu.
Zayn menoleh ke arah istrinya. “Sayang, aku ke studio dulu ya.”
“Ngga. kamu harus makan dulu. Ini jam makan siang. Istirahat dulu, baru nanti kerja lagi.” Rara menatap suaminya.
Zayn tersenyum. “So Sweet banget sih.” Ia menoel ujung hidung Rara.
Lalu, arah mata Zayn beralih pada Cellin. “Cel, sorry ya. Aku makan dulu. Kamu ke ruang studio aja duluan. Di sana ada Sam dan teman-teman yang lain.”
Cellin cemberut dan menghentakkan kakinya keluar.
Rara tersenyum puas melihat Cellin yang terlihat sangat kesal. Ia pun hendak melepaskan tangannya yang melingkar di lengan Zayn.
“Eits, mau kemana?” tanya Zayn dengan menahan tangan Rara agar tak lepas dari lengannya.
__ADS_1
Zayn suka ketika Rara merajuk dan manja padanya.
“Ish, ganjen.” Rara mendorong bahu suaminya.
“Siapa yang ganjen?” tanya Zayn sambil mengangkat bahunya.
Rara berjalan ke arah meja dan membuka rantang bawaannya tadi. “Kamu lah, di gelayutin tangannya diam aja. Dasar playboy.”
Zayn tertawa. “Kamu cemburu?”
Rara menggeleng tanpa melihat ke arah Zayn. Ia tetap fokus pada bekal makanan yang sedang ia buka itu. “Ngga. ngapain cemburu. Ngabisin tenaga,” jawab Rara bohong.
Zayn tersenyum dan mendekati istrinya. Ia memeluk pinggang Rara dan berkata tepat di telinga Rara yang berbalut hijab dengan lembut. “Cemburu juga ngga apa-apa. Aku suka kok dicemburuin kamu.”
Rara menoleh ke arah suaminya. “Ih, ge-er.” Rara tersenyum.
Zayn gemas dan memeluk tubuh istrinya dari belakang dengan erat. Ia pun menghirup aroma blosom dari kain yang Rara kenakan. “Sayang, aku ingin makan kamu dulu, boleh?”
“Zayn, apaan sih. Ini di kantor.” Rara menggerakkan tubuhnya agar Zayn tidak memeluknya terlalu erat.
“Jangan banyak gerak, Sayang. Nanti dibawah sana semakin bangun,” ucap Zayn dengan nada yang mulai sedikit berat.
“Zayn,” teriak Rara kesal, karena suaminya benar-benar mesum.
Rara berhasil melonggarkan pelukan itu dan membalikkan tubuhnya. Ia melihat bagian bawah Zayn yang memang sudah menggelembung.
“Ck ... Ini rudal Paris, emang ngga ada capeknya ya.”
Zayn tertawa. “Kamu menyebutnya apa?”
“Rudal Paris,” jawab Rara sambil memindahkan bekal itu ke meja sofa.
Mereka pindah ke sofa untuk menikmati makan siang di sana.
"Rudal Paris kamu jangan macem-macem ya! Nanti ngga aku kasih jatah," kata Rara.
Zayn kembali tertawa. "Lagian Rudal Paris ini maunya sama kamu. Dia ngga mau sama yang lain."
Rara mencibir. Lalu, mengelus rudal paris itu seraya berkata, “nanti malam ya. Sekarang kamu harus tahan dulu.”
Zayn semakin tertawa dan kembali memeluk Rara. “Dapet kamu tuh lengkap banget ya, Beib.”
“Apanya?”
“Cantiknya, lembutnya, baiknya, dan nakalnya.” Zayn menekankan pada kata-kata terakhir.
“Zayn, aku ngga nakal,” rengek Rara.
“Ngga nakal tapi liar.” Zayn tertawa.
“Ini karena kamu.”
“Jadi sama yang dulu ngga begini?” tanya Zayn.
Rara menggeleng. “Ngga. Ngga bisa. Ngga tau kenapa.”
“Udah ah, ayo makan! aku suapin.” Rara mengangkat satu bagian rantang itu ke hadapan Zayn dan bersiap untuk menyuapi suaminya.
__ADS_1
Zayn masih tersenyum dan memandang wajah cantik sang istri. Ia benar-benar beruntung karena menikahi Rara tidak hanya memiliki tubuhnya saja, tetapi juga hatinya.