Istri Yang Ternodai

Istri Yang Ternodai
Ikuti kata hatimu


__ADS_3

Rara duduk memeluk kedua kakinya di atas pasir pantai di tangah hamparan deru ombak. Ia dan Zayn hanya menatap sunset di depannya yang begitu indah. keduanya tak berkata.


"Aku bertemu dia saat dia mabuk, Mbak. Saat itu dia ditinggal oleh teman-temannya dalam keadaan mabuk berat. Kebetulan waktu itu aku bekerja di kasir club malam itu. Aku memang mengenal dia, aku tahu siapa dia karena dulu aku pernah bekerja di perusahaannya walau tidak lama."


Kata-kata Manda terus berputar di kepala Rara.


"Dia mengambil kehormatanku, Mbak. Aku sedih tapi aku juga tidak bisa berbuat apa-apa karena aku juga salah.”


"Anak itu Noah. Mata coklat itu memang milik Kak Reza," batin Rara sembari menghembus nafasnya panjang.


Pikiran Rara menerawang memikirkan tentang rumah tangganya, karena setelah ini mungkin hubungan antara dirinya dan sang suami tidak akan seharmonis dulu. Ada luka dan ada pengkhianatan yang pastinya akan memberi jarak pada hubungan ini nantinya.


"Dia tidak pernah mencintaiku, Mbak. Aku juga tidak berani muluk-muluk mendapatkan cintanya, karena aku tahu dia sangat mencintai istrinya."


Perkataan Manda menggaung ditelinga Rara. Ya, Reza memang sangat mencintainya, Rara pun bisa merasakan itu. Ia tahu bahwa hal ini terjadi pasti diluar kendali sang suami, Reza pasti tak menginginkan ini, tetapi semua terlanjur terjadi karena kesalan. Apa ia harus memaafkan kesalan ini dan menerima Noah seperti anaknya sendiri? Mengingat mereka memang tidak memiliki anak, atau ia tidak mentolerir kesalahan seperti yang sering diucapkan Reza, tapi itu tidak mungkin mengingat ia pun tidak lagi wanita sempurna dan pernah melakukan kesalahan.


Sesekali Zayn menoleh ke arah Rara yang pandangannya lurus ke depan. Raganya disini dengan arah mata tak berpaling sedikitpun dari keindahan sunset yang disuguhkan itu, tetapi nyawanya tak disini. Zayn dapat merasakan bahwa Rara masih diselimuti kegundahan akan pemandangan menyakitkan itu.


Pikirannya Zayn juga menerawang pada pengkhianatan sang kakak dan kesalahannya dulu terhadap Rara. Entah apa yang terjadi jika ingatan Rara kembali. Apa ia masih bisa sedekat ini? Apa Rara akan memaafkannya atau malah menjauhinya? Padahal seharusnya Zayn dapat mengambil kesempatan atas kesalahan Reza. Ia bisa merebut kembali Rara untuk menjadi miliknya. Namun, tiba-tiba kepercayaan diri itu runtuh kala ia ingat bahwa dirinya pun mempunyai kesalahan yang fatal pada Rara.


Setelah matahari itu benar-benar tenggelam, Adzan maghrib pun berkumandang. Rara berdiri dan langsung meminta Reza untuk mencari musholla terdekat.


Zayn juga berdiri dan segera menemani Rara menuju tempat itu.


Sesampainya di musholla, Rara khusuk berwudhu dan menjalankan kewajibannya. Air mata itu pun tak terbendung kala ia mendengar ayat-ayat suci yang dilantunkan seorang imam di dalam sana, karena saat ini ia dan Zayn tengah sholat berjamaah dengan pengunjung dan pengelola pantai ini.


Di sujud terakhirnya, Rara memohon ampun dan meminta jalan yang terbaik. Jika yang terbaik adalah berpisah, ia akan mempersiapkan diri. Namun jika yang terbaik adalah bertahan, maka ia akan mencoba bertahan. Sementara ini biarlah ia menjalani seperti ini hingga semua terbuka bukan melalui dirinya melainkan dari sang suami sendiri.


Rara mengusap wajahnya. Sungguh ia semakin tenang. Ia sangat berterim kasih pada Zayn, ia tak tahu apa yang terjadi jika ia menyaksikan pemandangan menyakitkan itu sendiri, mungkin saat ini ia masih berkeliaran dijalan tak karuan, tetapi Zayn membuatnya tenang dan sedikit meleraikan sakit itu.


Perlahan Rara keluar dari musholla itu dan melihat Zayn di luar yang sudah rapih mengenakan sepatu sport ternama. Ia tersenyum. Begitu pun Zayn.


Rara duduk di samping Zayn.


"Kita pulang?" tanya Zayn.


Rara mengangguk.


"Kamu sudah lebih baik?" tanya Zayn lagi.


Rara kembali mengangguk. "Ya, ini semua berkat kamu. Terima kasih, Zayn." Rada tersenyum manis, hingga senyum itu menularkan Zayn untuk tersenyum.


"Apa keputusanmu?"


Zayn dan Rara berdiri dan hendak berjalan menuju mobil yang terparkir cukup jauh dari tempat mereka sekarang.


"Aku bertemu wanita itu beberapa hari lalu. Aku tidak tahu mengapa kami mudah sekali akrab, mungkin karena aku terpesona dengan mata coklat itu." Rara tersenyum dengan pandangan yang lurus ke depan sembari berjalan beriringan dengan Zayn.


"Matanya mirip sekali dengan Kak Reza, aku menyukai anak itu. Ternyata anak itu memang anak Kak Reza." Rara meneruskan perkataannya dengan lesu.


Zayn meraih pundak Rara dan merangkulnya, mencoba membagi apa yang Rara rasakan.

__ADS_1


"Aku yakin Kak Reza tidak melakukan itu dengan kesadaran."


Langkah Rara langsung terhenti. "Ya kamu benar, ibu Noah bercerita kalau Kak Reza melakukannya karena mabuk berat."


Kemudian, Rara menceritakan kronologis hingga Noah lahir, sama persis seperti yang diceritakan Manda padanya waktu itu.


"Kak Reza sangat mencintaimu, Ra." kata Zayn.


Rara mengangguk.


"Tapi aku lebih mencintaimu, Ra." batin Zayn.


"Jadi? Haruskah aku memaafkannya?" tanya Rara menatap kedua manik-manik berwarna sedikit kebiruaan yang terlihat jelas karena sorot lampu jalan di sana yang menyinari.


Zayn terdiam, lalu berkata "ikutilah kata hatimu! jika kami sanggup bertahan, maka bertahanlah. Jika tidak, maka pergilah!"


Rara langsung memeluk tubuh Zayn. "Terima kasih, Zayn. kamu benar-benar sahabat terbaikku. Please, jangan pergi lagi ya!" Rara mengatup kedua tangannya di dada.


Zayn tertawa melihat Rara yang tengah memohon. Ia pun mencubit ujung hidung Rara.


"Gemes banget sih, bikin ngangenin aja."


Kemudian, mereka tertawa.


Lalu, mereka pun beranjak pulang. Zayn akan mengantar Rara kembali ke apartemennya, sedangkan ia langsung ke Lembang karena besok ia sudah mulai melakukan projeknya.


****


"Kamu kemana sih, Sayang?" Reza benar-benar panik, karena waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh malam.


Sedangkan Zayn dan Rara kembali pulang pukul tujuh dan harus menempuh empat jam perjalanan menuju kota.


"Zayn, kamu tidak lelah?" tanya Rara ketika mereka masih berada di dalam mobil.


Mereka hampir sampai ke kota.


Zayn menggeleng. "Tidak, semalam aku sangat cukup beristirahat. Jadi hari ini segar."


Padahal ia lelah, tetapi lelahnya hilang karena sedari tadi ia melihat tawa dan senyum itu. Lagi pula kapan lagi ia bisa seharian jalan-jalan dengan wanita pujaannya.


"Terus abis ini langsung ke Lembang?" tanya Rara lagi.


Zayn menoleh ke arah Rara. Ia tersenyum dan mengangguk.


"Ya ampun, Zayn. Kenapa ngga nginep sehari lagi di hotel? kamu pasti lelah."


"Tidak apa, sekalian capek. karena besok aku sudah harus memulai aktifitasku."


"Hmm ... maaf Zayn, aku jadi merepotkanmu," sahut Rara lirih.


Zayn kembali tersenyum dan mengacak-acak rambut Rara. "Jangan bilang seperti itu lagi! karena aku selalu ada untukmu, Ra."

__ADS_1


Rara tersenyum dan mengambil tangan Zayn untuk di genggam. "Sekali lagi terima kasih."


Zayn mengangguk.


Akhirnya, Rara tiba di lobby apartemen itu. Zayn menurunkan Rara tepat di sana.


"Zayn, hati-hati ya! Beri kabar kalau kamu sudah sampai Lembang," kata Rara sebelum membuka pintu mobil dan keluar.


"Iya, princes," jawab Zayn tersenyum membuat Rara ikut tersenyum.


"Jangan pendam masalahmu sendiri! Ingat ada aku. Berbagilah supaya lebih ringan," ucap Zayn.


Rara membuka pintu mobil itu dan berkata, "oke" ia melingkarkan jemarinya membentuk huruf O.


Rara langsung memasuki gedung itu, ketika melihat mobil Zayn yang melesat pergi. Ia pun melirik jam di tangan kanannya, waktu sudah menunjukkan pukul sebelas. Ia tak tahu Reza sudah pulang atau belum.


Sambil berjalan menuju unit milik sang suami, ia mengambil ponselnya dan mulai mengaktifkan. Serangkaian notifikasi muncul begitu banyak dari mulai pesan, telepon biasa hingga video call dari Reza, juga ada pesan dari Manda. Namun, ia malas membukanya. Ia memasukkan kembali ponsel itu ke dalam tas.


Perlahan, Rara memasuki apartemen itu setelah menekan passcode. Pandangannya berkeliling, tidak ada sosok sang suami di sana. Ia pun langsung menuju dapur, karena temggorokannya begitu kering.


"Kamu darimana?"


Deg


Rara terkejut mwndengar suara bariton itu hingga ia hampir saja menumpahkan air yang sudah berada di mulutnya.


"Ya ampun, kamu ngagetin aja."


Reza menghampiri Rara. "Aku berkali-kali telepon. Mengapa ponselmu tidak aktif?"


"Baterainya habis," jawab Rara berbohong dengan santai, sama sepertinya suaminya yang sering berbohong dengan santai.


"Kamu darimana?"


"Jalam-jalan." Rara hendak meninggalkan Reza dan berjalan santai menuju kamar.


"Jalan-jalan dari pagi hingga larut malam?"


"Aku kan sudah minta izin padamu, kalau hari ini aku ingin jalan-jalan. bukan begtu?"


"Ya, tapi inget waktu, Sayang. Aku pulang, kamu tidak ada. Aku memberimu kebebasan kesana kemari, bukan berarti kamu jadi meninggalkan kewajibanmu," kata Reza yang mulai meninggi.


"Baiklah, aku tidak akan seperti ini lagi. Maaf." Rara tidak ingin berdebat panjang, karena entah mengapa ia tak ingin lama-lama berada di dekat pria ini.


"Sayang." Reza mencekal tangan Rara yang hendak kembali berlalu darinya. "Ada apa denganmu?"


Rara mengerdikkan bahunya. "Tidak ada apa-apa. Aku hanya lelah dan ingin membersihkan diri."


Ada yang aneh dengan Rara menurut Reza. Rara terlihat cuek padanya, biasanya ia akan menanyakan padanya, apa ia sudah makan? apa ingin dibuatkan kopi?


Rara kembali melangkahkan kakinya menuju kamar mandi yang berada di dalam kamarnya.

__ADS_1


__ADS_2