
Rara duduk di atas pasir pantai dengan memeluk kedua kakinya. Sudah dua jam ia berada di sini. perjalanan menuju pantai ini dari kota memang tidak sebentar. Namun, pemandangan yang indah dan suasana damai tempat ini mampu meredamkan hati dan jiwa Rara yang sedang rapuh. Orang yang selama ini menjadi sandaran dan tempatnya berbagi, kini akan lenyap. Orang yang selama ini sangat ia percaya, justru telah meluluhlantakan kepercayaan itu.
Kini, air mata itu sudah mengering. Ia tak mampu lagi menangis. Air matanya tumpah sejak beberapa jam tadi. Pandangannya hanya lurus ke depan, memandangi laut yang tak terlihat ujungnya. Laut yang begitu luas dengan hamparan panjang, menyatakan bahwa apa yang ia alami tidak sebanding dengan nikmat yang Dia berikan.
Bugh
Lamunan Rara tersentak, karena benturan sebuah bola pada bahu kanannya. Ia langsung mengambil bola itu.
“Oh, Miss. Sorry,” ucap seorang gadis belia yang usianya sekitar delapan belas tahunan.
Rara tersenyum. “It’s ok.”
Bulan ini memang bulan libur panjang. Selain sekolah diliburkan karena liburan akhir semester, bulan ini juga bulan berakhirnya tahun. Dua minggu lagi, tahun akan berganti menjadi tahun yang baru, sehingga tempat ini lebih banyak pengunjung, bahkan dari luar negeri. Seperti gadis yang meminta maaf pada Rara tadi, gadis itu seperti terlihat wajah orang asing dari belahan Eropa.
“Michele,” panggil kedua anak kecil yang berlari ke arah Rara dan gadis belia itu.
Kedua anak kecil yang berjenis kelamin laki-laki dan perempuan itu terlihat lucu dan menggemaskan. Cara mereka berlari saja sudah membuat Rara menyungging senyum, padahal semula bibir Rara sangat sulit untuk dilebarkan.
“Mana bolanya?” tanya anak laki-laki dengan raut wajah yang tampan.
“Hei, mengapa diam saja?” anak perempuan yang sebaya dengan anak lelaki itu menarik kaos gadis belia tadi.
Anak perempuan ini pun terlihat cantik. Anak laki-laki dan perempuan ini terlihat mirip walau tidak identik. Sepertinya, mereka kembar dengan jenis kelamin berbeda.
“Ini bolamu,” kata Rara tersenyum sambil menyerahkan bola yang mengenai bahunya dengan sedikit keras.
Kedua anak kecil itu ikut tersenyum.
“Thanks, Miss.” ucap anak lelaki dan anak perempuan itu bersahutan.
“Sama-sama.” Senyum Rara pada anak laki-laki dan perempuan itu. “Kalian fasih bahasa indonesia.” Rara gemas memegang pipi kedua anak kecil itu yang sedang ikut duduk bersamanya sembari mengambil bola dari tangan Rara.
Kedua anak kecil itu ikut tersenyum.
“Kami belajar bahasa ini sampai satu tahun,” kata anak perempuan.
“Oh, saya belajar bahasa ini hanya delapan bulan,” kata anak laki-laki yang menyebut delapan bulan tetapi sepuluh jarinya diangkat ke depan wajah Rara.
Rara tak tahan untuk tidak tertawa. Akhirnya ia pun tertawa.
“Miss, you are very beautiful,” kata gadis belia yang sedari tadi memandang wajah Rara.
Rara kembali tersenyum. “You too.”
“Zac ... Zoey ...” teriak wanita paruh baya memanggil anak laki-laki dan perempuan itu.
Kedua anak kecil dan gadis belia itu menoleh ke sumber suara yang membuat Rara ikut menoleh.
“Yes, Mam,” jawab gadis belia itu.
“Kalian kembar?” tanya Rara pada dua anak kecil yang dipanggil Zac dan Zoey oleh ibu mereka.
__ADS_1
Zac dan Zoey mengangguk.
“Kami pergi dulu,” kata Zac.
“Aku juga. Daaah ... senang berkenalan denganmu,” sambung Zoey.
“Daah, Miss. semoga kita bertemu lagi,” kata gadis belia itu.
Rara hanya tersenyum dan mengangguk seraya melambaikan tangannya. “Daah.”
Ketiga orang asing itu pun menghampiri ibunya dan meninggalkan Rara. Namun, suara riuh mereka masih terdengar.
“Mam, mengapa kita pulang cepat? Bukannya Dad juga sedang beekrja di sini?” tanya anak perempuan yang sudah lancar berbicara apalagi dengan bahasa yang mungkin bukan bahasa sehari-hari mereka.
“No, Daddy tidak tahu kita berlibur ke sini. Ayo pulang, lagipula sudah dari kemarin kita menginap di sini. Come on!” wanita paruh baya itu pun mengajak kedua anak kembar dan gadis belia itu untuk meninggalkan tempat ini.
Rara masih melihat ke arah turis itu, karena ke empat orang tadi termasuk ibunya memang berwajah Eropa. Anak kembar dan gadis belia itu pun melangkah meninggalkan pantai, tetapi sesaat mereka menoleh ke belakang dan tersenyum pada Rara yang masih melihatnya.
Zac dan Zoey kembali melambaikan tangan pada Rara diiringi senyum yang teramat manis.
Rara pun membalas lambaian tangan itu dan ikut tersenyum. Lalu, ia kembali memandang pemandangan laut, setelah orang-orang asing tadi menjauh dan tak menoleh lagi ke arahnya. Rara menarik nafasnya panjang. Sungguh menggemaskan sekali anak-anak itu, sma menggemaskannya dengan anak-anak yang ia ajarkan di Yayasan tempat dirinya bekerja. Hah, Rara rindu bekerja dan bertemu anak-anak didiknya. Walau ia tak memiliki anak tapi ia memiliki anak-anak yang ia ajarkan di sekolah.
Di rumah Manda, Kemal kini melihat Noah, cucu pertamanya yang berjenis kelamin laki-laki. Kemal pun tak tahan untuk tidak meninju wajah putranya. Alhasil saat ini, Manda tengah mengobati bibir bengkak reza akibat pukulan Kemal.
“Kamu benar-benar pengecut, Za. Papa tidak pernah mengajarkanmu untuk menjadi seperti ini.” Kemal tak tahan untuk tidak bersedih mengetahui kenyataan ini, apalagi ketika melihat Noah yang terbangun karena kebisingan yang terjadi.
Melihat kepolosan Noah, Kemal pun terenyuh. Belum lagi benda putih yang menampilkan garis dua merah di meja itu, menunjukkan bahwa menantu yang disembunyikan putranya tengah mengandung lagi.
“Tidak Pa, Reza tidak mau bercerai dari Rara. Please, Pa.” Reza langsung bersujud di kaki sang ayah.
“Selama ini Papa berusaha menjadi ayah yang baik untuk kalian. Menjadi pria setia untuk mama kalian. Untuk apa? Karena Papa ingin menjadi contoh yang baik untuk kalian."
Kemal menunjuk dirinya sendiri. Ia meyakini bahwa buah tidak jauh dari pohonnya tetapi ternyata iman tak dapat diwarisi walau dari seorang ayah yang bertaqwa.
“Pa,” panggil Zayn lirih sembari menggenggam tangan ayah angkatnya yang tetap selalu menjadi ayahnya, walau ia sudah menemukan ayah biologisnya.
Memang Kemal adalah pria sejati yang menyayangi keluarga.
“Lalu, apa maumu? Kamu ingin memiliki dua istri? Papa rasa Rara yang tidak menginginkan itu. Dia wanita yang baik. Dia pasti akan mengalah dan pergi.”
“Tidak, Pa.” Reza menggeleng.
“Kalau begitu biar saya yang pergi,” ucap manda tegas. Ia memang tidak menginginkan keadaan ini.
“Kamu pikir, Rara akan terima? Tidak akan. Lagi pula, kamu sedang mengandung. Tidak akan papa biarkan kalian bercerai. Lebih baik Reza menceraikan Rara atau jika Reza tidak mau, maka Rara yang akan menceraikan Reza,” ucap Kemal dan segara mengajak Zayn untuk pergi dari rumah itu.
Zayn tidak bisa berbuat apa-apa. Ia pun tidak menginginkan situasinya menjadi seperti ini. Ia pun ingin rumah tangga sang kakak dan belahan jiwanya baik-baik saja. Ketika Rara resmi menjadi istri Reza, Zayn sudah sepenuhnya mengikhlaskan. Ia tahu bahwa tidak semua cinta itu bisa dimiliki.
“Pa, Zayn antar Papa ke apartemen saja ya,” ucap Zayn melirik ke arah sang ayah ketika mereka sudah berada di dalam mobil.
Kemal masih terdiam. Ia masih syok dengan semua yang terjadi hari ini. Ia syok ketika melihat Noah, karena ternyata ia sudah memiliki cucu. Entah bagaimana ia memberitahu hal ini pada Mirna. Istrinya sudah sangat syok ketika Zayn melakukan kesalahan dulu dan kini, anak kandung mereka pun melakukan kesalahan yang mungkin sama besarnya, karena secara tidak disengaja keduanya sama-sama telah merenggut kehormatan wanita dengan paksa.
__ADS_1
“Pa,” panggil Zayn.
Kemal menoleh ke arah Zayn. “Lalu bagaimana dengan Rara? Dimana putri papa?”
“Zayn akan mencarinya, Pa.”
“Papa ikut.”
Zayn menggeleng. “Tidak, Papa istirahat saja di apartemen Kak Reza. Sepertinya Papa lelah dan butuh istirahat.”
Kemal menyerah. Ya benar, dirinya memang sangat lelah karena bukan hanya lelah fisik tetapi juga lelah fikiran.
“Baiklah.”
Kemudian, Zayn melajukan mobilnya menuju apartemen Reza dan menurunkan sang ayah tepat di lobby.
Kemal terlihat lesu. Ia membuka pintu mobil dan Zayn menahan lengan sang ayah.
“Pa, maafkan kami.” Zayn memeluk sang ayah dengan meneteskan airmata.
Zayn sadar bahwa kesalahan seorang anak menjadi kesalahan orang tua juga, karena apa yang dilakukan seorang anak pasti akan berimbas pada orang tuanya. Zayn dapat merasakan kekecewaan di raut wajah pria paruh baya yang masih terlihat tegap dan tampan.
Kemal menepuk bahu Zayn dan sedikit tersenyum. “Cari Rara sampai ketemu!”
Zayn mengangguk. “Iya, Pa.”
Setelah menurunkan sang ayah di lobby apartemen itu. Zayn langsung melesatkan mobil itu ke tempat yang mungkin Rara kunjungi saat ini. Pantai Jayanti, ya ... Zayn tahu bahwa Rara sangat menyukai sunset. Wanita itu suka pantai dan tiap kali ada masalah dulu, Rara memang selalu meminta Zayn utnuk di antar ke pantai.
Zayn melihat jam di tangan kanannya. dua jam setengah lagi, matahari akan tenggelam. Ia tak ingin melewatkan keberadaan Rara di sana.
****
Langit kian menguning, tanda matahari akan segera terbenam. Sebentar lagi, Zayn akan sampai di pantai itu.
Setengah jam kemudian, ia sudah memarkirkan mobilnya dan mencari keberadaan Rara. Reza berlarian kesana kemari untuk mencari sosok wanita itu. Sungguh, Zayn bisa merasakan apa yang Rara rasakan sekarang. Dengan segala drama yang etrjadi di rumah Manda tadi, Zayn bisa menyimpulkan bahwa Rara terguncang setelah mengetahui bahwa istri kedua sang kakak mengandung anak kedua. Anak yang hadir pastinya bukan lagi karena sebuah kesalahan.
“Rara,” panggil Zayn lirih dengan senyum lebar ketika mendapati sosok wanita yang selalu ada dalam hatinya tengah duduk memeluk kedua lututnya dan membelakanginya.
Setelah bertemu dengan orang asing tadi. Rara juga beranjak dari duduknya menuju musholla untuk menunaikan shiolat Ashar, lalu membeli minuman dan duduk kembali ke tempat itu menunggu engel matahari terbenam.
Zayn langsung duduk di samping Rara. Wanita di samping Zayn itu tidak menoleh ke arahnya sama sekali. Seolah ia memiliki dunia sendiri atau memang pikirannya yang tidak sedang di sini.
“Ngga bosen sendirian? Perlu teman?” tanya Zayn, membuat wanita di sampingnya itu tersentak.
Rara menoleh ke arah Zayn dan tersenyum. Ia mengerjapkan kedua matanya hingga bulu mata lentik itu bergerak.
“Kamu tidak tanya kenapa aku bisa ada di sini?” tanya Zayn.
Rara tersenyum dan menggelengkan kepalanya. Ia kembali meluruskan pandangan untuk melihat keindahan sunset di depan matanya.
Sedangkan Zayn, menatap wajah cantik yang sedang tersenyum itu dari samping. Zayn tidak butuh keindahan sunset, ia hanya butuh keindahan wanita di depannya ini. Namun, apa pun yang sedang terjadi pada Rara sekarang, Zayn tidak akan memanfaatkannya. Sungguh, ia hanya ingin membantu Rara bangkit dari keterpurukan ini, sekaligus membayar rasa bersalah yang tidak pernah hilang itu.
__ADS_1