
Tok ... Tok ... Tok ...
Reza pulang tepat pukul dua malam. Manda menunggu di ruang keluarga, menanti kepulangan suaminya. Sejak Rara dan Zayn menikah, hampir setiap malam Reza pulang dalam keadaan mabuk. Walau tidak sampai mabuk berat dan masih bisa menyetir mobilnya sendiri.
Ceklek
Manda membuka pintu itu.
“Mas, ya ampun.” Manda langsung mengaitkan lengan Reza pada pundaknya. Ia membopong suaminya yang berjalan sempoyongan.
Sudah dua malam Reza seperti ini, membuat hati Manda teriris melihat pria yang ia cintai hancur. Seharusnya memang ia tak usah dinikahi Reza, agar tak melihat orang yang disayanginya terpuruk.
Manda membuka sepatu Reza dengan pelan. Ia pun telaten membuka pakaian Reza yang lusuh dan bau dengan asap rokok. Padahal semula Reza bukanlah seorang perokok. Ia membersihkan tubuh suaminya yang sudah terlelap, hingga menggantikan dengan pakaian yang baru.
Manda duduk di tepi ranjang. Ia menatap sendu wajah sang suami yang tak lagi bergairah untuk hidup. “Maafkan aku, Mas. Maaf aku memisahkanmu dengan Mbak Rara. Maaf telah membuatmu menjadi seperti ini,” gumamnya.
Reza yang terlelap pun tak mendengar perkataan yang terlontar dari bibir Manda. Walau pernikahan mereka terjadi karena kesalahan, tetapi Manda mengakui bahwa malam itu ia tak bersungguh-sungguh untuk lepas dari kungkungan Reza yang hendak melecehkannya saat mabuk. Manda terhipnotis dengan wajah tampan Reza yang sudah ia sukai sejak menjadi sekretarisnya itu.
Manda menangis. Ia Rara sangat mencintai Reza dan akan melakukan apa pun untuk suaminya. Ia pikir dengan menikahi Reza, ia mampu menjadi pelengkap kekurangan Rara. Namun, nyatanya ada orang lain yang menginginkan wanita itu. Nyatanya bukanlah Rara yang tergila-gila pada Reza, melainkan suaminya yang tergila-gila pada mantan istrinya itu.
Ini kali kedua Manda menyakiti orang yang ia cintai. Sebelumnya, ia pun menyakiti ayahnya dengan kabur dari sang ayah yang menikahi mantan pacarnya setelah tiga bulan ibunya meninggal. Manda menentang pernikahan itu hingga akhirnya ia pergi dari rumah. Tiga tahun sang ayah meminta Manda pulang, tetapi Manda bersikeras untuk hidup sendiri, hingga sang ayah jatuh sakit dan meninggal dunia tepat di saat Manda hendak merayakan kelulusan pendidikan strata satu.
Manda masih terisak di tengah kesunyian malam.
Berbeda dengan Manda dan Reza, Justru Zayn dan Rara tengah di gelut oleh rasa bahagia dan cinta yang menggelora. Rara kembali terbangun, karena perutnya yang lapar dan tenggorokannya yang kering. Ia tertidur setelah bercinta dengan Zayn dua kali.
Rara menoleh ke arah Zayn yang juga terlelap. Perlahan Rara bangkit sembari memegang selimut tebal untuk menutupi tubuhnya yang polos. Baru saja, ia akan menggeserkan tubuhnya untuk beranjak dari ranjang itu, tiba-tiba tangan kekar Zayn melingkar di pinggangnya.
“Mau ke mana?”
Rara menoleh ke arah suaminya. “Aku haus. Mau ke dapur.”
“Aku temani?” tanya Zayn.
Rara menggeleng. Ia tersenyum dan mendekati wajah Zayn yang masih berbaring. “Tidak usah, kamu tidur saja.”
Rara bangkit dari ranjang itu menuju kamar mandi untuk membersihkan sisa percintaan mereka dan memakai lingeri kimono transparan yang sangat pendek dan sexy.
Rara terkejut melihat Zayn yang sudah berdiri dan memakai boxernya ketika ia keluar dari kamar mandi. “Loh, kok kamu ikutan bangun? Masih malam, Zayn. Ini baru jam dua.”
Rara melirik ke arah jam dinding.
Zayn tersenyum dan menghampiri istrinya. “Tidak apa, aku akan temani kamu ke bawah. Di bawah sepi, pasti kamu takut. Aku tahu kamu orangnya penakut.”
Rara menyengir. Sejak kecil, ia memang penakut, apalagi dalam gelap dan biasanya Zayn yang suka meledek Rara ketika itu, bahkan membuat Rara hingga menangis ketakutan.
Zayn menggandeng bahu Rara dan mereka keluar bersama. Rara tersenyum ke arah Zayn dan ikut melingkarkan tangannya pada pinggang suaminya.
“Dulu kamu sering banget bikin aku takut,” ujar Rara di sela-sela langkah kaki mereka menuju dapur.
Zayn menoleh ke arah istrinya dan tersenyum. “Itu karena aku suka kamu peluk. Kamu kan kalau takut pasti peluk aku.”
Sontak Rara melepas pelukannya di pinggang Zayn dan memukul lengan itu. “Ah, pantesan. Kamu rese banget.”
“Aww ...” Zayn tertawa sembari memegang lengannya yang pura-pura sakit. “Ini KDRT namanya.”
Rara mencibir dan menjulurkan lidahnya. “Biarin.”
Zayn dan Rara berada di dapur. Zayn berdiri menemani Rara yang sedang membuka lemari es dan menuangkan air mineral dari dalam sana ke gelasnya. Zayn ikut menelan salivanya ketika melihat leher Rara yang bergerak naik turun karena sedang meminum air seperti orang yang tengah berada di gurun pasir. Zayn juga melihat gaya berdiri Rara yang sangat sexy dengan pakaian yang ia kenakan saat ini.
__ADS_1
Zayn pun menggelengkan kepalanya, lalu menghampiri sang istri. Ia menyambar gelas yang baru saja Rara tuangkan air karena Rara masih ingin meminum lagi.
“Zayn, jangan sebelah situ! Itu bekas bibir aku,” kata Rara menunjuk bagian gelas yang tadi ia minum. “Harusnya kamu ambil gelas baru.”
Zayn menenggak habis minuman itu. “Justru aku ingin minum dari bekas bibirmu.”
“Zayn.” Rara Kembali memukul pelan lengan suaminya. “Kamu mesum banget sih, heran.”
Zayn menyengir. “Gara-gara kamu.”
“Terus aja gara-gara aku. Nanti kamu bangun kesiangan juga pasti bilangnya gara-gara aku. Gara-gara temani aku minum dan bangun tengah malam.” Rara mengoceh sembari memasukkan kembali botol minum ke lemari es dan meletakkan gelas itu ke tempat cucian piring tanpa melihat ke arah Zayn.
Rara berdiri di sana dan ketika membalikkan tubuhnya, Zayn sudah menangkap tubuh itu.
“Bawel,” kata Zayn yang langsung mencium bibir ranum Rara.
Kali ini ciuman mereka tidak lama, karena tiba-tiba terdengar suara dari perut Rara.
Kruk ... Kruk .. Kruk ...
Zayn melepaskan ciuman itu. “Kamu lapar?”
Rara menyengir. “Kedengaran ya?”
Zayn mengangguk. Lalu, tiba-tiba terdengar suara aneh lagi.
Duuut ...
“Ups, Maaf.” Rara kembali menyengir.
Hal itu membuat Zayn tertawa. “Kenapa Maaf?”
Ekspresi Rara membuat Zayn semakin gemas. Namun, tidak untuk Rara. Ia malu pada Zayn. Pasalnya ketika bersama Reza, IA tidak pernah buang angin sembarangan, bersendawa, atau perut yang bunyi, karena Reza bisa melotot ketika Rara melakukan itu atau Rara memang tidak ingin terkesan memalukan di depan Reza. Tapi bersama Zayn, semua lepas begitu saja. Bahkan Zayn malah tertawa gemas melihat tingkah istrinya yang polos.
“Jadi mau makan apa pup dulu?” tanya Zayn tersenyum sambil mengelus pipi mulus Rara.
“Hmm ... makan.” Rara menyengir. “Bunyi tadi cuma angin.”
Zayn tersenyum dan mengacak-acak rambut Rara. Ia pun beralih ke kompor dan meletakkan panci teflon di atasnya.
“Kamu bikinin aku apa?” tanya Rara.
“Mie. Mau? Mie instan mirip Bu Tun, belakang kantin sekolah kita,” jawab Zayn.
Rara langsung menganggukkan kepalanya cepat. “Mau, Mau.”
“Kalau udah mie, cepet banget ngangguknya. Kalau aku minta bercinta harus cepet juga ya ngangguknya.”
Sontak Rara mencubit pinggang suaminya.
“Aww ... Sakit Sayang.” Zayn meringis karena memang cubitan Rara cukup nyelekit.
“Ah, maaf. Sakit ya.” Rara mengelus pinggang itu dan memeluknya.
Zayn tertawa dan merangkul bahu Rara sambil memasak. Mie instan buatan Zayn memang sama persis dengan warung mie jalanan. Ketika masih sekolah, Rara rela ke rumah Mirna untuk dibuatkan Mie pada Zayn.
“Pake cabai ya,” kata Rara.
“No, masih malam Ra. Nanti sakit perut.”
__ADS_1
Rara merungutkan bibirnya. “Pelit.”
Lalu Rara memeluk Zayn dari belakang. Zayn menggenggam jemari Rara yang melingkar di perutnya. Ia bisa merasakan kepala Rara yang bersandar di punggungnya.
“Zayn,”
“Hmm ...”
“Kenapa kamu cinta sama aku.”
“Hmm ... kenapa ya?” tanya Zayn pura-pura berpikir dengan tetap berdidi membelakangi Rara dan menghadap ke tungku. “Karena kamu jelek, cengeng, dan manja.”
“Eum ...” rengek Rara. “Emang aku sejelek itu? ngga ada bagusnya banget.”
Rara masih dengan posisi yang sama. Ia masih melingkarkan kedua tangannya di pinggang Zayn dan merebahkan kepalanya di punggung itu.
“Aku cinta kamu, Zayn.”
“Udah tahu. Tapi kamu nya aja jaim,” jawab Zayn.
“Aku panggil kamu Daddy ya,” ucap Rara.
Zayn pun membalikkan tubuhnya. “Jadi sekarang aku sugar Daddy nih?”
Rara tertawa dan mengangguk. “Biasanya kalau di novel-novel kan ada hot Daddy yang mesumnya ngga ketulungan. Sama kaya kamu.”
Zayn dan Rara pun tertawa.
“Ah, mie nya sudah matang.” Zayn kembali berbalik menghadap tungku.
Tak lama kemudian, makanan itu pun tersaji lengkap dengan telur dan sayuran hijau.
“Ini buat tuan putri,” kata Zayn dengan menaruh mangkuk itu di atas meja mini bar, karena Rara duduk di sana.
“Wah, enak!” Seru Rara sambil menggosokkan telapak tangannya. “Kamu ikut makan kan?”
Zayn menggeleng. “Kamu aja, nanti ngga kenyang.”
“Kenyang pasti. Ini banyak. Berdua ya!” pinta Rara menatap suaminya dengan ceria.
Zayn masih menggeleng.
“Aku suapin,” kata Rara lagi sambil menegakkan tubuhnya dan meminta Zayn untuk duduk di sampingnya.
Lalu, Zayn menurut. Ia duduk di samping Rara dan mereka menikmati makanan, semangkuk berdua dengan sendok yang sama. Bahkan beberapa kali Zayn mengambil makanan dari mulut Rara menggunakan mulutnya. Mereka benar-benar sudah saling menyatu, tidak ada rasa jijik sama sekali. Tubuh mereka seakan menjadi satu bagian yang saling menyempurnakan.
Zayn kembali mengambil sehelai mie yang tersisa di bibir bawah Rara. Ia menghisap bibir itu lalu masuk ke dalam rongga di dalamnya sehingga makanan yang ada di mulut Rara berpindah ke mulut Zayn.
“Daddy nakal. Ngambil makanan aku terus,” kata Rara genit dan kembali menyuapkan sendok lagi dari mangkuk itu.
Zayn menelan makanan yang ada di mulutnya, lalu bibirnya menelusuri leher jenjang Rara. Tangannya pun ikut bermain di area sensitif bawah sang istri.
“Aku menginginkannya lagi,” ucap Zayn dengan suara parau karena gairah yang kembali hadir.
Di dekat Rara, milik Zayn tidak pernah bisa tidur. Ia selalu minta dimanjakan oleh pemiliknya.
Rara tersenyum ke arah Zayn sambil menjilat sendok yang ia suapkan tadi. “Daddy, eum ...” Rara bisa merasakan gerakan jari jemari Zayn di bawah sana.
“Aku habiskan makanan ini dulu, Dad. Setelah itu aku pasti akan puaskan kamu.” Rara mengusap pipi suaminya.
__ADS_1
Suara sexy Rara terdengar indah, ditambah kata-katanya yang semakin membuat Zayn bergairah. Zayn pun tersenyum lebar dan kembali membantu Rara menghabiskan makanan itu.