
Ceklek
Kemal membuka pintu kamar Reza. “Za, ayo turun! Banyak tamu di bawah. Ada adikmu di sana.”
Reza menggeleng. “Aku tidak ingin menemui mereka, Pa.”
Kemal menarik nafasnya kasar. “Itu artinya, kamu masih belum berubah, Za.”
Kemal sudah tak tahu lagi harus bersikap bagaimana pada putranya ini. Sudah segala macam kata ia lontarkan, dari yang halus sampai kasar, tapi sepertinya Reza masih tak mengerti. Pria itu masih belum bisa menerima takdirnya.
“Terserah kamu. Pokoknya, Papa tunggu kamu di bawa,” ucap Kemal tegas dan berlalu dari kamar itu, meninggalkan Reza yang masih mematung di dalam kamar itu.
Kemal kembali turun ke bawah. Sudah lama ia tak berkumpul dengan Sanjaya. Ini adalah suasana langka paska kedua putra putri mereka bercerai.
“Loh, Ra. Kamu mau makan duren?” tanya Kemal saat turun dari tangga dan mendapati Rara sedang memakan buah itu bersama Zayn.
“Dipaksa Zayn, Pa,” rengek Rara.
Kemal tersenyum, pasalnya dulu ia pernah melihat Reza memaksa Rara untuk memakan buah itu saat Rara dan Reza masih berstatus suami istri. Namun, Rara sama sekali tak mau mencoba makanan itu, padahal Reza sudah membujuk dan memohon, tapi tak berhasil. Dan, kini Zayn berhasil. Kemal semakin menyadari bahwa Rara memang pantas bersama anak angkatnya itu.
Kemal tersenyum. “Ya sudah habiskan.” Ia pun berlalu ke arah Sanjaya dan cucunya. Di sana juga ada Noah yang tengah bersama Mia dan Mirna.
“Huuuh.” Rara bersendawa cukup keras, hingga Zayn mendengar suara itu dan tertawa.
“Hmm ... mulutku bau Zayn. Udah Ah,” kata Rara yang tak mau lagi memakan buah itu.
“Tapi enak kan?” tanya Zayn. Ia pun selesai memakan makanan itu dan mengelap jarinya dengan tisu.
Lalu, ia mengambil tisu itu dan mengusap jemari Rara yang juga kotor setelah memakan buah tadi.
“Enak sih.”
__ADS_1
“Makanya cobain dulu, baru bilang ngga mau. Seperti waktu itu kamu juga ngga mau aku makan itu kamu.” Zayn mengarahkan matanya pada bagian bawah tubuh Rara yang sensitif. “Eh, pas udah ngerasain sekarang ketagihan kan?”
“Daddy ... Apa sih? Ngga jelas.” Rara malu dan ia pun berdiri untuk meninggalkan suaminya yang masih duduk di sofa itu.
Zayn tertawa melihat ekspresi wajah Rara yang memerah karena malu.
“Mending aku ke dapur bantu Bibi bikin cemilan anak-anak. Bye,” ledek Rara pada suaminya dan Zayn kembali tersenyum hingga Rara kembali meledek dengan menjulurkan lidahnya ketika ia sudah berada jauh dari jangkauan Zayn.
Kemudian, Zayn pun beralih ke arah anak-anak dan para orang tua. Zayn mendekati Noah yang sedang bermain bersama Zac dan Zoey. Lalu, Noah mengajak Zac dan Zoey ke area permainan indoor yang disiapkan Kemal untuk cucunya bermain. Kemal menyediakan satu ruangan seperti ruangan permainan di mall. Zayn pun menjaga anak-anak itu di dalam sana.
“Hai, Nda? Lagi buat apa?” tanya Rara yang mendekati Manda yang tengah berada di dapur.
“Eh, Mbak.” Manda menoleh ke arah Rara dan tersenyum. “Biasa Rainbow Cake, kesukaan Noah.”
“Zac dan Zoey juga suka kue itu. Hampir setiap hari, aku buat kue itu di rumah.” Rara tertawa mengingat Zac dan Zoey yang sering berebut dengan Zayn untuk memakan kue itu, seperti mereka yang sering merebutkan dirinya di saat malam.
“Tapi buatanku tidak seenak buatan Mbak Rara. Kadang Noah juga bilang, katanya pengen yang buatannya Bunda.”
Manda tersenyum. Ia pun mengingat saat-saat seperti ini. Dulu, saat mereka baru menjadi teman, Rara memang membantu membuat kue ini di rumahnya di Bandung. Saat ini, baik Rara atau pun Manda tidak tahu bahwa mereka memiliki suami yang sama.
Rara dan Manda berada di dapur. Kedua wanita itu membuat kue bersama dan Bi Nani pun meninggalkan kedua wanita itu agar bisa leluasa berbincang.
Manda sesekali menoleh ke arah Rara yang tengah mengaduk adonan kue. “Mbak Rara makin cantik.”
“Oh, ya?” Rara menoleh ke arah Manda sambil tersenyum. “Masa’ sih?”
Manda mengangguk. “Aku senang melihat Mbak Rara bahagia.”
Rara kembali tersenyum. “Ya, hidup memang aneh, Nda. Tapi aku mengikuti jalannya. Kamu tahu kisahku dan Zayn?”
Manda mengangguk.
__ADS_1
“Dari siapa? Mama?” tanya Rara.
“Bukan.” Manda menggeleng. “Dari Bi Nani.”
“Oh, ya. Bi Nani memang sudah kami anggap orang tua. Beliau dekat sekali dengan Zayn.”
Manda kembali menganggukkan kepalanya. Mereka pun terdiam sejenak, hingga Manda kembali bersuara.
“Jadi sebenarnya Mbak tidak mencintai Mas Reza?” tanya Manda hati-hati membuat Rara menghentikan aktivitasnya.
Rara menatap wajah Manda. Lalu, tersenyum dan perlahan mengangguk. “Antara kagum dan cinta itu beda tipis. Dan, dulu aku tidak mengetahui itu.”
Sontak air mata Manda kembali menggenang. Ia merasa seperti senjata makan tuan. Rela terjebak dalam kungkungan pria beristri dan berharap dicintai oleh pria yang ia cintai karena memiliki kelebihan dari wanita yang pria itu cintai, justru malah nelangsa karena takdir berjalan tidak sesuai yang ia harapkan. Istri pria yang ia cintai yang dianggap kekurangan itu justru bukanlah wanita berkekurangan. Rara memiliki Zayn, pria yang tanpa lelah mencintainya dengan tulus. Rara juga ternyata memiliki anak kembar yang pintar dan sehat. Di tambah Rara ternyata mencintai pria lain dan bukan suaminya. Alih-alih untuk menjadi istri kedua yang di sayang karena memiliki kelebihan pun kandas.
Manda harus rela hidup bersama pria yang selalu di bayang-bayangi mantan istrinya, karena ternyata Reza yang tergila-gila pada Rara, bukan Rara yang teramat mencintai Reza dan akan rela dimadu.
Manda menertawai dirinya yang begitu naif.
Di balik ruangan itu, Reza mendengarkan percakapan dua wanita yang pernah bersamaan menjadi istrinya. Saat itu, Reza amat bahagia karena memiliki Rara untuk menyalurkan hasrat bercinta yang memang ia lakukan atas dasar cinta dan memiliki Manda sebagai wanita yang mencetak keturunannya.
Setelah Kemal pergi dari kamarnya tadi, Reza berpikir sejenak dan mencoba menguatkan hati untuk menemui orang-orang yang berkumpul di bawah. Akhirnya, Reza memakai pakaian yang sopan untuk turun ke bawah, bukan untuk menemui orang-orang di sana tapi hanya untuk menemui Rara. Sungguh, Reza sangat merindukan wanita itu.
Namun, saat ia turun ternyata semua orang tengah sibuk dengan aktivotas masing-masing di ruangan masing-masing dan tak melihat kehadirannya. Reza pun mendengar samar-samar suara Rara dari arah dapur. Ia langsung beralih ke sana. Semula bibir Reza tersenyum lebar saat melihat sosok wanita yang ia rindukan itu. wanita yang hanya mampu ia lihat di laptop. Wanita yang kini tidak bisalagi di sentuh olehnya.
Sesaat bibirnya menyungging senyum, tiba-tiba Manda mengeluarkan pertanyaan yang membuat telinga Reza harus terpasang lebar.
Anggukan kepala yang Reza lihat setelah pertanyaan kramat itu terlontar dari istrinya, membuat senyum reza tak lagi melebar.
“Antara kagum dan cinta itu beda tipis. Dan, dulu aku tidak mengetahui itu,” kata Rara tadi, membuat hati Reza kembali teriris.
Reza terlalu jumawa ketika Rara membalas cintanya. Ia pikir sejak remaja Rara tergilagila padanya, karena Rara memang kerap menunjukkan gelagat itu pada waktu itu. Lalu ketika ia menduakan Rara dengan menikahi Manda, ia pikir Rara akan menerimanya karena Rara mencintai dirinya dan wanita itu pun memiliki kekurangan.
__ADS_1
Sontak, reza menyandarkan tubuhnya pada dinding itu. Ia terlalu sombong, terlalu egois, terlalu mementingkan dirinya sendiri. Dan kini, ia menyadari mengapa ia kalah.