
“Mom, sekarang Bintang sudah tidak jahil lagi padaku,” ujar Zac ketika ia dan sang adik memeluk Rara dari sisi kanan dan kiri.
Mereka duduk di atas ranjang Zoey.
“Bagus kalau begitu. Sebenarnya Bintang anak yang baik, hanya dia sedikit aktif.”
“Aku juga sekarang punya teman baik, Mom,” Zoey mengadu.
“Ya, Zoey dekat sekali dengan Bulan,” sambung Zac.
“Bahkan kemarin saat aku malas makan, Bulan mengambil makanan untukku,” sahut Zoey.
“Oh, ya? Bagus kalau begitu.”
“Kata Bulan, Minggu depan dia akan ulang tahun dan akan dirayakan di rumahnya.”
“Kita akan ke sana kan, Mom?”
Zac dan Zoey terus berceloteh.
“Tentu saja.”
Ceklek.
Tiba-tiba Zayn memasuki kamar Zoey. “Hei, kalian belum tidur? Besok kalian harus bangun pagi. Kita akan berangkat pagi-pagi ke rumah Kakek.”
Zayn berdiri dengan memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana panjang nike sport.
“Kamu belum ngantuk,” jawab Zac.
“Ya, kami ingin dibacakan dongeng oleh Mommy,” sahut Zoey.
Zayn mendekati putranya dan mengelus rambut kebulean itu. “Come on, Dear! Jika kalian kesiangan maka kita tidak jadi ke rumah Kakek.”
“No,” teriak Zac dan Zoey bersamaan.
“Tidak bisa begitu,” protes Zac.
“Tentu saja bisa,” jawab Zayn santai.
Padahal Zayn ingin kedua anaknya cepat tidur, agar ia bisa berduaan dengan istrinya di kamar. Zayn duduk di tepi tempat tidur dengan memegang kaki Rara yang berselonjor di dekatnya. “Mommy sudah bersama kalian seharian. Mommy juga butuh istirahat. Oke!”
Rara menatap suaminya sambil tersenyum, begitu pun Zayn. Ia tahu betul akal bulus suaminya yang mesum itu.
“Ayo, Dude. Pindah kamar.” Zayn mengusir Zac agar memasuki kamarnya sendiri.
Lalu, Zac menurut dan segera bangkit dari ranjang Zoey. “Baiklah. Aku akan tidur. Night Mommy.” Zac mencium pipi Rara.
“Night, Dad.” Zac segera berlalu dari hadapan Zayn.
Namun, Zayn segera menarik lengan Zac saat putranya melintas. “Daddy tidak diberi ciuman seperti Mommy?” tanyanya sambil memeluk Zac.
__ADS_1
“No, aku sudah besar Daddy.” Zac menghindar dicium oleh sang ayah, tetapi Zayn tetap mencium pipi putranya yang semakin besar.
“No, Dad.”
Zayn tertawa dan menepuk b*k*ng Zac. “Kamu semakin besar, Dude.”
Zac pun langsung berlari keluar menuju kamarnya.
Zayn tertawa melihat Zac yang berlari menghindarinya. Ah, tak terasa kini kedua anaknya semakin besar, sepertinya baru kemarin ia merawat anak kembar itu. Lalu, pandangan Zayn beralih pada Rara yang terus mengembang senyum.
“Tidur ya, Sayang,” Rara mengecup kening Zoey dan bangkit dari ranjang itu.
Zoey pun mengecup pipi Rara. “Night, Mommy.”
Zayn mendekati putrinya.
“Night, Daddy.” Tangan Zoey meraih wajah sang ayah dan Zayn pun membungkuk untuk mengecup putrinya.
“Night, Sayang. jangan lupa berdoa sebelum tidur!” Zayn mengusap rambut Zoey.
Zoey mengangguk. “Tentu saja, Daddy.”
Rara tersenyum sambil melingkarkan tangannya pada pinggang Zayn. Zayn pun melingkarkan tangannya pada bahu Rara, setelah ia menyelimuti tubuh putrinya.
Mereka keluar dari kamar itu, setelah mematikan lampu kamar Zoey. Kedua nya berjalan beriringan ke lantai dua. Namun, sesaat sebelum itu Zayn menghentikan langkahnya.
“Sebentar, Sayang. Aku lihat kamar Zac.” Zayn melangkahkan kakinya cepat menuju kamar putranya untuk memastikan bahwa Zac sudah tidur, karena anak itu suka bermain game sebelum tidur.
“Aman. Zac sudah mematikan lampu kamarnya.”
Rara mengangguk dan mereka pun kembali berjalan sambil berpelukan dari samping.
“Kamu tidak memberitahu ayah kalau kita akan ke sana besok?” tanya Zayn setelah mereka sampai di kamar.
Rara membuka jubah kimono yang semula ia pakai untuk menutupi gaun malamnya yang super tipis dan pendek.
Rara menggeleng. “Belum. Biar jadi surprise aja buat mereka.”
Rara menaiki tempat tidur, sedangkan Zayn sudah duduk di sana sambil menyandarkan tubuhnya pada dinding dinding ranjang.
“Sini.” Zayn menepukkan kedua pahanya agar Rara duduk di pangkuannya.
Rara terlihat sangat sexy. Lalu, Rara menuruti kemauan suaminya. Ia pun duduk di pangkuan itu dengan menghadap Zayn. Payud*r* Rara yang bulat tampak mengenai dagu Zayn.
“Kalau ternyata mereka pergi, bagaimana?” tanya Zayn dengan kedua tangan yang memeluk tubuh istrinya.
“Ngga akan, Ayah pasti bilang kalau mau pergi,” jawab Rara sambil membuka tali di bahu kanan dan kirinya. Ia membiarkan dadanya terbuka di depan Zayn, karena ia tahu suaminya menginginkan tubuhnya.
Zayn tersenyum karena hidangan pembuka telah diberikan. Ia pun menghisap put*ng Rara yang sudah tegak bergantian.
“Eum ... Pelan-pelan, Dad. Ini sedang sensitif.” Rara melenguh sambil mengusap kepala Zayn.
__ADS_1
Zayn meremas dua gunung kembar itu bergantian.
“Aww ... sakit, Dad.”
Zayn tersenyum. Ia memang selalu gemas dan tidak tahan untuk tidak menggigit bagian kesukaannya itu ketika dimainkan.
“Oh. Maaf. Aku akan pelan-pelan,” ucap Zayn yang kini meremas kedua gunung kembar itu dengan lembut.
"Dulu kalau mau datang bulan, bagian ini memang sering sakit," kata Rara.
“Aku kira, setelah pengangkatan rahim. Kamu sudah tidak datang bulan. Itu yang aku baca,” ucap Zayn lagi di sela-sela keasyikannya memainkan dua gunung kembar Rara.
“Ya, memang sudah tidak. Jadi sepertinya kamu akan senang.”
Zayn kembali menyeringai. Kedua tangannya terus mengeksplore punggung dan b*k*ng Rara. "Kita bisa bercinta tanpa gangguan bulanan."
"Ish, kamu." Rara mencubit pinggang Zayn.
"Aww ... sakit, Sayang." Zayn pura-pura meringis.
“Aku sudah tidak ada harapan memiliki anak lagi, Dad. Tapi aku masih memiliki indung telur yang sehat. Kata dokter masih bisa punya anak dengan menitipkan benih kita pada rahim orang lain," kata Rara sedih.
Zayn melepaskan put*ng Rara dari bibirnya. Ia menatap Rara yang berwajah sendu. “Di Paris, ada kasus seperti ini. Mereka menyewa jasa surrogate mother.”
“Aku pernah membaca artikel itu," ucap Rara.
“Aku tidak setuju, Sayang. Benih aku dan kamu ditampung di rahim wanita lain. No." Zayn menggelengkan kepalanya.
"Aku tidak ingin melibatkan orang lain dalam rumah tangga kita. Cukup hanya kita saja,” ujar Zayn tegas.
“Kamu tidak ingin memiliki anak lagi?” tanya Rara.
“Kita sudah memiliki Zac dan Zoey, di tambah sekarang aku sudah memilikimu. Itu jauh lebih dari cukup, Sayang.”
Rara pun tersenyum dan mengecup bibir suaminya.
Cup
“Manis sekali kamu, Dad.”
Zayn pun ikut tersenyum lebar. “Sexy sekali kamu, Sayang.”
Keduanya pun tertawa.
“Boleh aku makan sekarang?” tanya Zayn dan langsung di angguki Rara.
“Kalau aku meminta lebih, boleh? Karena sebentar lagi aku harus puasa kan?" Zayn tersenyum menyeringai.
Rara tertawa. “Up to you, Dad. I’m your’s. Kamu bisa lakukan sebanyak yang kamu mau.”
Zayn semakin tersenyum lebar dan tak menunggu waktu lama, ia pun melakukan aksinya.
__ADS_1