
"Udah ah, aku pulang dulu ya," kata Rara yang langsung berdiri dan hendak keluar dari kamar Zayn.
"Emang Kak Reza udah pulang?" tanya Zayn.
Rara menggeleng. "Ngga tau, soalnya aku lupa bawa hape."
Zayn ikut berdiri dan tersenyum. "Ayo aku antar!"
"Tidak perlu. Aku bisa sendiri, lagi pula gedung ini bersebelahan," kata Rara
Namun, Zayn tak menghiraukan perkataan Rara, ia tetap bersama Rara keluar kamar.
"Aku khawatir Kak Reza sudah pulang dan aku malah ngga ada. Harusnya aku sambut kedatangannya karena pasti dia lelah setelah seharian kerja," kata Rara lagi.
Zayn dan Rara berjalan beriringan.
Zayn mengacak-acak rambut Rara. "Emang istri solehah."
"Huft ..." Rara meniup rambutnya yang berantakan hingga ke depan wajah.
"Beruntung banget sih, kak Reza," kata Zayn lagi.
"Aku juga beruntung Zayn. Kamu tahu, aku tidak.bisa memberikan kakakmu keturunan tapi dia masih tetap bertahan dan setia," jawab Rara. "Padahal setiap suami pasti menginginkan dalam pernikahannya, tapi kakakmu tidak pernah mempermasalahkan itu. Aku yang beruntung, Zayn."
Zayn tersenyum getir. Ia memang mengetahui kondisi Rara dari Mirna dan Kemal.
"Aku juga akan seperti kak Reza, jika menikah dengan wanita yang benar-benar aku cintai. Karena bagiku cinta adalah memberi, memberi kebahagiaan pada seseorang yang kita cintai tanpa berharap ia akan membalasnya atau memberikan yang sama seperti apa yang aku berikan."
"Eum ... So sweet. Beruntung sekali wanita yang kamu cintai, Zayn." jawab Rara. "Siapa wanita itu? Rara melirik ke arah Zayn.
"Wanita mana?" Zayn balik bertanya.
"Wanita yang kamu cintai. Aku ngga pernah tahu."
"Rahasia," jawab Zayn tersenyum dan ia berjalan lebih cepat.
"Zayn, siapa dia? Kamu tidak pernah cerita," tanya Rara sembari berteriak dan mengejar Zayn yang sudah berjalan lebih dulu.
Zayb menoleh ke belakanh dan hanya tersenyum. Wajah penuh isyarat.
"Zayn, siapa dia? Apa aku mengenalnya?"
Rara menarik ujung kaos oblong yang Zayn kenakan agar pria itu memelankan langkahnya atau berhenti sejenak.
"Pokoknya rahasia."
"Zayn, jangan nyebelin deh! Aku kan sahabatmu, masa aku ngga tahu wanita yang kami cintai," rengek Rara.
Kemudian, Zayn merangkul leher Rara. "Udah jangan banyak bicara! pulang sekarang, kasihan kakakku menunggu istrinya."
Zayn mendorong Rara untuk masuk ke dalam lift, saat pintu lift itu kebetulan terbuka tepat di saat mereka sampai di depannya.
__ADS_1
Rara masuk ke dalam, tetapi sesaat ia menahan pintu lift yang akan tertutup itu.
"Zayn, pokoknya kamu hutang cerita sama aku. Aku berhak tahu wanita itu." Rara mengancam dan Zayn hanya tersenyum hingga pintu itu tertutup.
"Daah ..." Zayn melambaikan tangannya.
"Kamu tidak mengantarku sampai lobby?" tanya Sara.
"Kayanya bisa pulang sendiri."
"Baiklah." Rara melepas tangan yang semula menahan pintu lift itu.
Lalu, ia melangkah mundur untuk lebih masuk lagi ke dalam lift itu. Ia hanya seorang diri di dalam sana. Namun, tiba-tiba pintu lift yang akan menutup sempurna itu ditahan oleh satu telapak tangan yang kokoh.
"Aku akan antar sampai lobby," kata Zayn saat pintu itu kembali terbuka sempurna.
Rara tersenyum lebar.
Sesampainya di lobby, Rara melambaikan tangan. "Daah, sampai jumpa Zayn."
Zayn ikut tersenyum dan mengangguk sembari memasukkan kedua tangan ke dalam saku.
Rara membalilkan tubuhnya dan mulai berjalan keluar pintu lobby, sedangkan Zayn mengikutinya dari belakang dan langkahnya terhenti setelah melewati pintu lobby itu. Ia memperhatikan wanita itu yang terus berjalan keluar gedung hotel.
"Ra." teriak Zayn memanggil lagi nama wanita yang ia rindukan itu.
Rara langsung menoleh.
Rara tersenyum dan mengangguk.
Ia tahu bahwa sang suami memang masih marah dengan adiknya. Ia juga tidak mau kedua kakak beradik ini berseteru, walau menurutnya kemarahan Reza tak beralasan, karena Rara tidak tahu persis letak kemarahan Reza sebenarnya pada Zayn.
Lalu, Rara membalikkan lagi tubuhnya dan kembali berjalan.
Arah mata Zayn tak berpaling dari sosok wanita yang semakin lama meninggalkannya. Zayn berdiri dengan posisi yang sama di depan lobby. Ia masih memasukkan kedua tangannya di dalam saku.
"Ra," teriak Zayn lagi.
Rara kembali menoleh. "Apa?"
"Besok temani aku jalam-jalan."
"Jam berapa?" Rara bertanya dengan suara yang sedikt dikeraskan karena posisi mereka sudah tak lagi dekat.
"Jam sepuluh, aku tunggu di sini. Oke!"
Rara mengangguk. Ia memang ingin sekali jalan-jalan. Namun, Reza sangat sibuk dan tak bisa menemani. Untung saja ia bertemu Zayn.
Besok, Rara akan meminta Zayn untuk menemaninya ke rumah Manda dan memberi kado Noah, karena ia sudah berjanji akan mendatangi rumah itu mengingat hari ini ia tak jadi datang ke acara ulang tahun anaknya Manda, teman baru Rara, sekaligus madunya.
Rara mengangguk dan membulatkan jarinya ke atas. "Oke,"
__ADS_1
Bibir Zayn tak henti mengembang senyum. Sungguh ia sangat senang hari ini. Entah mengapa sejak keberangkatannya ke Lembang, ia ingin sekali mampir ke kota, ternyata ada takdir yang membawanya bertemu Rara, wanita yang paling ia cintai tetapi dengan kebodohannya ia pun melakukan kesalahn yang paling ia sesali seumur hidupnya. Walau di dalam kesalahan itu, ia mendapatkan sesuatu yang berharga yang Rara tidak tahu.
****
Rara sampai di depan pintu apartemen Reza. Ia menekan passcode dan membukanya perlahan. Baru saja ia masuk.dan menutup pintu, Reza langsung berlari memeluk sang istri.
"Sayang, kamu dari mana? aku khawatir." Reza memeluk erat tubuh Rara.
Rara kebingungan dengan tingkah aneh suaminya. "Maaf, Kak. Aku keluar sebentar karena suntuk di sini. Abis kamu ngga pulang-pulang."
Reza semakin bersalah. Ia memang salah karena telah ingkar janji pada istrinya. Semula ia berjanji akan pulang sebelum jam enam sore, nyatanya ia malah pulang hampir jam sepuluh malam
"Maaf, Sayang. Maaf." Reza semakin mengeratkan pelukan itu.
Reza mengelus punggung sang suami. "Ya, aku ngerti kok, Kak. Pasti karena urusanmu di sana yang belum selesai. Aku ngga apa-apa kok."
Hati Reza tercubit, Rara yang pengertian dan polos membuatnya semakin bersalah.
"Sayang. Apapun yang terjadi jangan pernah meninggalkanku! Oke."
Reza mengendurkan pelukan itu dan menatap wajah sang istri.
Rara tersenyum, lalu menganggukkan kepala. "Iya, apapun yang terjadi, aku akan tetap di sampingmu."
Rara tidak berpikir bahwa suaminya tengah berselingkuh, tapi Rara yang selalu berpositif thinking berpikir bahwa keanehan sang suami karena bisnisnya yang sedang mengalami masalah yang cukup banyak.
"Kamu sudah lebih baik?" tanya Reza sembari merangkul bahu Rara dan membawanya ke kamar.
"Ya, aku sudah sangat sehat sekarang. Malah sepertinya besok aku mau jalan-jalan. Boleh?" tanya Rara dengan menatap wajah sang suami.
Langkah mereka terhenti dan mereka saling bertatapan tanpa jarak. Reza mengelus rambut Rara dan menyelipkannya ke belakang telinga. Ia tersenyum menatap paras cantik itu.
"Tentu saja, tapi maaf aku tidak bisa menemanimu."
Rara mengangguk. "Ya, aku mengerti. Besok aku akan jalan-jalan sendiri."
Reza tersenyum dan ikut mengangguk. "Belanja sebanyak yang kamu mau, Sayang."
Rara tersenyum. "Terima kasih."
"Berarti harus ada imbalan untukku malam ini."
"Apa?" tanya Rara sembari mengeryitkan dahinya.
Ia melihat sorot mata Reza yang tengah bergelayut hasrat. Arah matanya sesekali menuju pada bibir ranum sang istri dan tangannya mulai menggerayangi tubuh itu.
"Kamu sudah sehat kan? boleh aku memintanya malam ini?"
Rara tersenyum.dan mengangguk.
Reza ingin menghabiskan malam panjang bersama sang istri untuk menebus rasa bersalahnya hari ini. Ia ingin memanjakan Rara dengan sentuhan-sentuhannya.
__ADS_1
Kemudian, Reza menggendong Rara menuju kamar dan perlahan memulai aksinya.