Istri Yang Ternodai

Istri Yang Ternodai
Jodoh pasti bertemu


__ADS_3

Malam itu, dengan terpaksa Rara mengikuti kemauan Zayn untuk mengantarnya pulang. Jam menunjukkan pukul sepuluh malam, sebenarnya di jam begini jalan di luar masih belum sepi dan memungkinkan untuk menaiki ojek Online. Namun, Zayn tidak bisa dibantah, sepertinya juga ia ingin mengambil kesempatan ini untuk memulai hubungan mereka agar kembali dekat.


“Sini aku pakaikan!” Zayn memegang helm berwarna putih itu untuk dipakaikan ke kepala Rara. Setelah baru saja ia memakaikan jaket ke tubuh Rara.


Rara canggung. Padahal ketika Zayn memakaikannya jaket, Rara sudah berusaha untuk mencegah dan hendak memakai jaket milik Zayn itu sendiri.


“Ngga usah, biar aku pakai sendiri aja.” Rara mengelak. Ia berusaha mengambil helm itu, tetapi Zayn segera menghindar.


“Ngga, sini biar aku yang pakaikan.”


Lagi-lagi Rara merengut dan menghela nafasnya.


Zayn mulai memasangkan helm itu ke kepala Rara. “Sama Reihan mau dipakaikan helm. Sama aku ngga mau,” gerutu Zayn sembari mengunci ikatan helm itu.


Rara menganga. “Kamu lihat?”


Zayn mengangguk. “Kalian romantis sekali, hatiku sakit.” Lalu, zayn meninggalkan Rara yang masih mematung dan menaiki moto sportnya.


Perlahan Rara mendekati motor Zayn yang sudah diduduki pemiliknya. “Dia sudah aku anggap seperti kakakku sendiri, Zayn. Jangan berpikir macam-macam!”


Zayn terdiam. “Ayo naik!”


Rara menurut dan menaiki motor yang cukup besar itu.


“Jangan pernah menjadikan lawan jenismu itu saudara atau sahabat! karena bagi pria kedekatan dengan seorang wanita itu tidak ada yang murni, di dalamnya pasti ada cinta. Apalagi dia juga sudah mengutarakan perasaannya padamu,” celetuk Zayn.


Rara terdiam sejenak, lalu berkata, “jadi selama ini kamu juga menguntitku?”


“Untuk apa?” tanya Zayn santai. Lalu, ia mulai menjalankan motornya.


“Buktinya kamu tahu semua tentangku. Dasar penguntit!”


Zayn tersenyum tanpa sepengetahuan Rara karena Rara berada di belakangnya.


Di depan gerbang si Bibi sudah siap untuk membuka dan menutup gerbang itu kembali setelah majikannya keluar.


Kemudian, Rara pamit pada si Bibi ketika mereka sudah melewati gerbang itu.


“Kamu lupa, kalau aku juga berteman baik dengan Reihan?” tanya Zayn di tengah perjalanan pertama mereka menggunakan sepeda motor setelah bertahun-tahun lamanya, mereka tidak berjalan berdua dengan kendaraan roda dua.


Terakhir kali mereka berboncengan dengan roda dua, ketika keduanya masih sekolah.


Rara baru ingat, kalau Zayn memang kenal baik dengan Reihan saat rapat kerja di hotel itu hingga akhirnya insiden amnesia Rara pun pulih.


Rara tak menjawab pertanyaan Zayn, membuat perjalanan mereka terasa sunyi. Timbul keisengan di kepala Zayn.


Ngiik ...


Tiba-tiba Zayn me-rem mendadak motornya, membuat kedua tangan Rara berpegangan erat pada pinggang Zayn dan dadanya pun menempel di punggung itu.


“Zayn, pelan-pelan.” Rara memukul pundak Zayn. “Kenapa rem mendadak sih?”


Zayn tertawa.


“Dasar! Modus.”


Zayn tertawa lagi. “Ada polisi tidur.”


“Bohong, emang sengaja aja.”


“Kok tahu,” sahut Zayn.


“Zayn,” teriak Rara dan kini memukul punggung itu dengan sedikit keras.


“Aww, sakit Sayang. Nanti punggung aku berdarah.”


“Lebay,” kesal Rara.

__ADS_1


“Biarin yang penting dapat pelukan dari kamu.”


“Ish ...” Rara kembali memukul Zayn. “Tadi ngga usah dianter aja.”


“Tetep aku dapet pelukan dari kamu karena kita tidur bareng.”


“Zayn,” rengek Rara lagi. “Udah cepetan bawa motornya! Lelet banget lagi.”


“Sengaja, supaya bisa lamaan sama kamunya.”


“Ish ... Malu sama umur. Udah punya anak juga,” kata Rara kesal.


Zayn kembali tertawa. Ia tak menyangka akan mengalami momen seperti ini lagi. Momen dimana ia dan Rara berjalan di atas motor diiringi dengan hembusan angin malam dan seasana kota yang indah di malam hari.


“Seperti dejavu ngga sih, Ra,” kata Zayn yang tidak menggunakan helm full face, sehingga Rara yang berada di belakang dapat mendengar ucapan Zayn.


Rara terdiam. Ya, sesungguhnya ia pun merasakan hal yang sama. Namun, ia tak ingin mnejawab pertanyaan Zayn. Ia masih ingin menunjukkan pada Zayn bahwa dirinya tidak mudah diluluhkan.


“Sayang, kamu tidur?” tanya Zayn yang tak mendengar suara dari belakangnya.


“Ngga,” jawab Rara.


“Kok ngga ada suaranya. Kalau kamu mau tidur, kamu bisa peluk aku dan bersandar di punggungku.”


“Ish, itu sih mau mu.”


Zayn kembali tertawa. “Yah, ketauan.”


Di belakang Zayn, Rara pun tersenyum sembari pandangannya melihat ke arah jalan.


“Zayn jalannya lebih cepat, mumpung lampu hijau,” ucap Rara melihat ke arah dan rambu lalu lintas di sana.


Setelah melewati lampu merah itu, mereka akan putar balik, lalu lurus sedikit dan tibalah di gedung apartemen Rara. Oleh karena itu, Zayn memperlambat laju kendaraannya agar kena lampu merah sehingga ia bisa lebih lama bersama Rara.


Ngiik ...


“Ah, kamu kelamaan jalannya, Zayn. Jadi kena lampu merah deh. Lampu merah di sini tuh lama.”


“Bagus dong,” jawab Zayn sembari melepaskan kedua tangannya dari kemudi motor itu dan meletakkan kedua tangan itu ke atas kedua paha Rara.


“Ih, dasar kamu! Modus terus.” Rara yang berasa kedua pahanya menjadi sanggahan kedua tangan Zayn itu pun langsung menepis kedua tangan itu.


“Pegel, Ra.” Zayn menengok sedikit ke belakang.


“Alasan. Baru jalan segitu aja pegel. Bilang aja modus.”


“Ah, kamu ngga asyik, Ra.” Zayn tertawa.


“Biarin.”


Zayn tersenyum. Rasanya ia semakin ingin mengungkung wanita itu, karena semakin galak, Rara terlihat semakin seksi.


Perjalanan yang dekat, serasa jauh bagi Rara karena Zayn mengemudikan motornya dengan sangat lambat. Namun bagi Zayn, perjalanan ini begitu cepat, padahal ia sudah memperlambat laju kendaraannya.


“Ah, cepet banget sampenya,” ujar Zayn ketika memberhentikan motornya di lobby apartemen Rara.


“Ini tuh lama, padahal kalau naik ojol udah sampe dari lima belas menit yang lalu,” jawab Rara ketus.


Zayn tersenyum. “Aku bukan tukang ojek, Ra. Makanya lama.”


“Ck, kamu bukan tukang ojek tapi tukang kardus yang suka modus.”


Zayn tertawa dan mencubit ujung hidung Rara yang mancung. “Gemesin banget sih, kamu.”


“Aww... Zayn. Apaan sih,” protes Rara sembari menepis tangan Zayn yang menempel di ujung hidungnya.


“Nih, sana pulang.” Rara menyerahkan helm Zayn. Lalu, ia membuka jaket itu.

__ADS_1


“Ini ngga usah dibuka, dingin. Pakai saja!” Zayn kembali menarik resleting jaket itu hingga ke leher Rara.


“Nanti aku pulangin,” kata Rara.


“Ngga usah, nanti akan ajdi milikmu karena minggu depan kita menikah,” ucap Zayn.


“Zayn, jangan mulai lagi deh!”


“Aku serius, Ra.”


“Aku ngga,” jawab Rara.


“Terserah. Tapi mulai besok aku akan siapkan berkas untuk pernikahan kita. Aku akan datang ke rumah orang tua kamu.”


“Ayah dan bunda lagi di Singapura,” sanggah Rara.


“Aku tahu, tapi besok mereka pulang.”


“Kata siapa? Sok tahu, aku aja belum tahu.”


“Di bilang, aku tahu semua tentang kamu. Sekalian besok aku juga mau jemput Papa dan Mama.”


Rara kembali mengernyitkan dahinya. “Kamu merencanakan sesuatu?”


Zayn tersenyum menyeringai sembari menaikkan alisnya. Lalu, ia mulai menyalakan mesin motornya lagi.


“Zayn, kamu nyebelin.” Rara memukul punggung Zayn.


Zayn tertawa. “Biarin. Dah, Sayang. Mimpiin aku ya!”


Rara memonyongkan bibirnya, membuat Zayn tertawa lagi. Lalu pergi.


“Dasar tukang maksa,” gerutu Rara, kemudian membalikkan tubuhnya dan masuk ke dalam gedung itu setelah motor Zayn sudah tak terlihat.


Rara berjalan menuju lift sembari sambil menggelengkan kepala dan tersenyum mengingat interaksi antara dirinya dan Zayn tadi. Lalu, tiba-tiba ponsel Rara berbunyi dan menampilkan sebuah notifikasi.


Ternyata pesan dari Zayn berupa video. Rara membuka pesan itu dan menampilkan beberapa foto kebersamaan mereka yang telah di edit dengan diiringi lagu Afgan yang berjudul Jodoh Pasti Bertemu.


Andai engkau tahu


Betapa ku mencinta


Selalu menjadikanmu


Isi dalam doaku


Ku tahu, tak mudah


Menjadi yang kau minta


Kupasrahkan hatiku


Takdir 'kan menjawabnya


Jika aku bukan jalanmu


Ku berhenti mengharapkanmu


Jika aku memang tercipta untukmu


Ku 'kan memilikimu


Jodoh pasti bertemu .....


Rara terharu melihat video itu, sempat-sempatnya Zayn mengirim video ini padahal ia masih berada di jalan.


Rara tersenyum dan menghapus jejak air yang ada di sudut matanya sembari menaiki lift, karena pintu lift itu sudah terbuka.

__ADS_1


__ADS_2