
Satu tahun berlalu.
Sam masih belum bisa meresmikan hubungannya dengan Manda. Manda pun belum bisa menerima lamaran Sam. Wanita itu masih terguncang dengan semua yang ia alami. Sebelumnya, hidup Manda cukup tragis, mencintai pria yang tidak pernah bisa mencintainya, lalu di ceraikan, kehilangan anak dan akhirnya kini kehilangan rahimnya pula. Manda masih butuh waktu untuk sendiri.
Namun Sam tetap memenuhi janjinya. Pria itu bertanggung jawab untuk Noah dan Manda.
Manda menangis mengingat betapa angkuhnya ia dulu. Ia sempat ingin menjadi wanita yang melengkapi kekurangan Rara, tapi kini ia pun memiliki kekurangan itu.
Untung saja, ada Sam yang membuat Manda tak sendirian. Pria itu dengan tulus dan penuh kasih sayang merawat Manda dan memberi semangat sepanjang hari.
"Aku sudah siapkan makanan di dapur. Di makan ya! Aku berangkat kerja dulu. Nanti sore aku mau ajak kamu dan Noah belanja bulanan. Stok bahan makanan di sini sudah habis. Di tempatku juga," ujar Sam tersenyum pada wanita yang membuatnya tidak lagi bermain wanita.
Kehadiran Noah dan Manda mampu mengalihkan Sam pada kebiasaan buruknya itu.
Manda tersenyum. "Terima kasih, Sam."
Sam sengaja menyewakan satu unit apartemen yang dekat dengan unit apartemen miliknya. Pelan pelan tapi pasti, ia akan mengajak Manda tinggal bersama dan mempersuntingnya.
Di tempat berbeda, Rara tengah memasak, karena malam nanti akan ada tamu spesial yang ikut makan malam bersama.
Kali ini Rara memasak menu makanan aneka daging dan sayuran tumis.
"Mommy, Zoey ingin bantu."
Anak kecil itu naik ke kursi dan duduk menemani ibunya yang tengah mengolah sayuran di meja itu sambil berdiri.
"Zoey ingin bantu apa? Hmm ..." tanya Rara gemas sambil mencubit pipi Zoey yang semakin chubby.
"Memotong ini." Dengan ceria, Zoey menunjuk pada buncis mentah yang tengah ia pegang.
Rara memang akan membuat tumis buncis dengan campuran ati ampela di dalamnya, karena Zoey menyukai sayuran itu sejak pertama kali Rara membuatnya. Rara juga akan membuat sapi lada hitam dan sosis asam manis.
Rara mengangguk. "Oke, memotongnya seperti ini ya!"
Rara mengajari Zoey cara memotong sayuran itu. "Jauhkan tanganmu dari pisau. seperti ini! Oke." Rara juga mengajarkan Zoey memotong dengan benar.
Zoey pun mengangguk dan tersenyum. Ia mempraktekkan apa yang diajarkan sang ibu.
Malam ini, mereka benar-benar makan besar. Di tambah, masakan yang Rara masak sedikit banyak adalah menu makanan yang disukai oleh tamu istimewa yang akan makan malam bersama mereka nanti.
Sedangkan Zayn selalu menyukai apapun yang Rara masak. Sepertinya tidak ada makanan tertentu yang menjadi makanan paling disukai Zayn. Pokoknya, apapun masakan Rara, pasti dia suka.
"Mom, Zac juga ingin membantu." Suara anak lelaki itu membuyarkan aktivitas Rara dan Zoey.
"Kakak bantu apa? Ini pekerjaan perempuan. Memang kakak bisa?"
"Bisa. Daddy laki-laki juga bisa masak. Dulu, sebelum ada Mommy, Daddy sering memasak untuk kita."
kakak beradik yang kembar tak identik itu pun berdebat.
"Memang kalian suka dimasakin apa sama Daddy?" tanya Rara.
"Telor ceplok," jawab Zac dan Zoey bersamaan, membuat Rara tertawa.
"Selain telor ceplok, apa yang bisa Daddy masak?" tanya Rara lagi.
"Tidak ada," jawab Zoey.
"Mie instan," sahut Zac.
Rara tersenyum dan menganggukkan kepalanya. "Lumayan."
Semakin hari, Matahari kian terbenam. Hari berganti malam. Rada menunggu suami dan seseorang yang akan datang untuk makan malam bersama.
Rara tampak kompak bersama Zac dan Zoey menata piring dan makanan di meja. Sejak pulang sekolah, mereka memang selalu membantu ibunya, hingga si Bibi ikut menggelengkan kepala. Zac dan Zoey benar-benar patuh pada ibunya.
"Mom, Daddy pulang," seru Zoey yang langsung bangkit dari kursi meja makan itu, lalu melangkah keluar karena mendengar suara mobil ayahnya di sana.
__ADS_1
Zac pun ikut berlari.
"Uncle ..." panggil Zoey yang langsung berlari ke arah Reza.
Ya. tamu itu adalah Reza. Ini adalah kali pertama Reza makan malam di rumah adiknya langsung. Biasanya mereka bertemu di kediaman Kemal atau di pusat perbelanjaan atau pun tempat rekreasi.
Reza semakin dekat dengan Zac dan Zoey. Kepintaran anak kembar itu dalam bicara membuat Reza sering tertawa.
"Hai, princes uncle." Reza membantangkan kedua tangannya untuk menangkap tubuh Zoey.
Zoey pun langsung masuk ke dalam pelukan Reza. Reza mengangkat tubuh Zoey dan menggendongnya.
"Uh, kamu semakin berat, Zoey." Reza tertawa dan mengecup pipi chubby milik Zoey.
Zayn merangkul Zac yang menghampiri dan mencium punggung tangannya.
"Hai, Uncle," sapa Zac yang langsung di balas Reza.
"Hai, jagoan." Reza melayangkan tangannya ke atas untuk bertos ria dengan keponakan laki-lakinya.
"Uncle bawakan ini untukmu." Reza memberikan paper bag yang berisi lego terbaru pada Zac.
"Wah ... thank you, Uncle." Mata Zac berbinar dan langsung berlari ke dalam untuk membuka isi paper bag itu.
"Untukku apa, Uncle?" tanya Zoey yang juga menginginkan hadiah dari pamannya.
"Kalau Zoey, dapat ciuman saja dari Uncle. Bagaimana?" Reza memajukan wajahnya dan mencium lagi pipi Zoey.
Gadis kecil itu pun tertawa, karena Reza sengaja menggesekkan bulu halus di dagunya itu ke pipi Zoey, membuat gadis kecil itu kegelian.
Zayn tersenyum melihat kedekatan Zoey dan Reza. Mereka berjalan bersama memasuki rumah itu. Zayn ikut senang melihat Reza selalu tertawa bila bercengkrama dengan putrinya.
"Hai, Sayang." Zayn terlebih dahulu menuju ruang makan dan menyapa istrinya.
Ia langsung melingkarkan tangannya ke pinggang Rara yang sedang menata meja makan dan mengecup pipi sang istri.
"Masih di depan sama anak-anak."
"Kok ga langsung ke sini. Ayo makan! semua sudah siap."
Zayn menghirup aroma makanan yang sudah tersaji di depan. "Hmm ... sepertinya semua lezat."
"Oh, tentu saja." Rara bangga dan menaik turunkan alisnya.
"Pokoknya, semua yang ada dirimu lezat," bisik Zayn di telinga Rara.
Rara langsung mencubit pinggang suaminya.
"Aww ... sakit sayang." Zayn meringis dan Rara pun tertawa.
"Syukurin."
"Awas ya!" Zayn sengaja mendekatkan dirinya pada sang istri dan hendak membalasnya dengan sebuah ciuman dan menggigit bibir itu sebagai pengganti pinggangnya yang dicubit Rara tadi.
Kebiasaan Zayn membalas cubitan Rara, yaitu dengan gigitan. Biasanya Zayn akan membalas dengan menggigit bahu atau leher Rara. Namun, berhubung malam ini sang istri berpakaian lengkap dan tertutup. Zayn pun membalasnya dengan menggigit bibir Rara. Dan, Rara menyukai balasan dari suaminya.
"Ck, ada gue nih yang lagi jomblo. Please deh jangan mesra-mesraan dulu! Bikin iri aja sih," celetui Reza yang berjalan ke arah meja makan.
Sontak Zayn dan Rara pun menoleh ke arah Reza.
"Sorry, Kak." Zayn nyengir, diikuti Rara.
"Loh kok jomblo? Emang kak Reza sama Essy udah ngga?" tanya Rara polos.
Reza tersenyum dan menarik kursi itu, lalu duduk. "Masih dong. Tapi kesel sama temen kamu itu. Dari kemarin katanya mau ke sini, tapi cuma PHP doang. Ngga jadi lagi, ngga jadi lagi."
"Kakak dong yang samperin dia, masa cewek samperin cowok," sahut Zayn.
__ADS_1
Rara mengangguk. "Benar kata Zayn, Kak. tunjukkan kebucinanmu, Kak."
Reza tertawa. "Gue ngga bisa."
"Halah, boong banget. Gue denger ya, Kak. Tadi lu sama Essy telepon sayang-sayangan," ledek Zayn pada sang kakak.
Pasalnya sebelum sampai di rumah ini, Reza mampir ke studio Zayn dan menunggu adiknya selesai pemotretan. Setelah itu, Zayn mendengar percakapan sang kakak dengan kekasihnya yang berada di negeri sakura.
"Kamu tahu sayang, sekarang kak Reza udah jago gombal." Zayn memberitahu Rara.
Ketiganya duduk di meja makan. Sedangkan Zoey dan Zac masih di ruang keluarga membuka hadiah dari Reza tadi.
"Oh ya?" tanya Rara antusias. Pasalnya selama dekat dengan Reza dulu hingga menjadi istrinya, Reza tidak pernah sekali pun menggombali Rara, hanya sering memujinya saja.
"Masa' aku denger Kak Reza bilang gini ke Essy tadi di telepon. 'Sayang aku kangen. Rasanya ga ketemu kamu setahun seperti sudah seratus tahun'." ledek Zayn lagi dengan meniru gaya suara Reza.
Sontak Rara tertawa kencang. "Oh, ya? Ya ampun."
Zayn dan Rara tertawa kompak, meledek kakaknya. Sedangkan yang diledek hanya mesem-mesem saja.
"Puas, puas."
Zayn dan Rara masih tertawa. Rara sampai memegang perutnya yang sakit karena tertawa, karena Zayn kembali menceritakan tentang sang kakak yang mulai bucin pada Essy.
Reza ikut tertawa.
Rara dan Essy memang sering berkomunikasi walau hanya lewat telepon atau pesan whatsapp, sejak Reza bercerita tentang kekasihnya yang ternyata satu angkatan dengan Rara saat SMA. Dan, Rara pun mengenal Essy walau tidak terlalu dekat, karena saat itu Essy terkenal pendiam dan kurang muncul.
"Ya udah sih kalo kangen, langsung aja ke Jepang. Jangan kasih tahu Essy, biar surprise!" kata Rara.
"Wah, ide bagus tuh, Ra." Reza menyeringai membayangkan itu. Ia juga ingin melihat ekspresi keterkejutan Essy.
"Sekalian, ketemu keluarganya di sana, Kak," sahut Zayn.
Rara ikut mengangguk. "Bener tuh."
Lalu, Rara meninggalkan kedua kakak beradik itu menuju ruang keluarga untuk mengajak Zac dan Zoey makan malam bersama.
"Tapi inget, nanti disana, Jangan tinggal di apartemennya Essy loh, Kak!" kata Zayn.
"Justru gue maunya gitu," jawab Reza tersenyum.
"Dasar. Kasian Essy kalo di DP in duluan. Nikahin dulu lah."
"Ya iyalah, Zayn. Malah gue pengennya langsung nikah besok sama dia. Tapi bagaimana? Doi undur-undur terus. Apa iya mesti gue DP in dulu supaya dia ngga undur-undur lagi ya."
"Gila lo." Zayn tertawa.
Reza pun demikian.
"DP in apa sih?" tanya Rara yang baru bergabung di meja makan bersama Zac dan Zoey.
"Itu, Kak Reza mau DP in rumah buat dia dan Essy tinggal nanti setelah nikah," jawab Zayn sambil melirik ke arah Reza dan tersenyum.
"Oh." Rara yang polos pun percaya dan ber oh ria saja, membuat kedua kakak beradik itu tertawa.
Zac, Zoey, Reza, Zayn dan Rara sudah duduk bersama di meja makan. Rara duduk di samping Zayn. Sementara Reza di depannya, duduk diapit Zac dan Zoey.
"By the way, kamu buat makanan kesukaanku semua, Ra?" tanya Reza yang melihat menu makanan hang tersaji di meja itu.
Rara mengangguk. "Iya."
"Wah, ternyata kamu masih inget makanan kesukaanku. Makasih, Sayang."
"Uhuk ... Uhuk ... Uhuk ..." Zayn terbatuk karena mendengar sang kakak yang memanggil Rara dengan sebutan sayang.
"Plis deh, Kak. Jangan panggil istri gue, sayang! Gue cemburu dengernya," protes Zayn.
__ADS_1
Reza tertawa. "Sengaja."