Istri Yang Ternodai

Istri Yang Ternodai
Bonchap 9


__ADS_3

Reza melihat Essy yang masih berada di ruang kerjanya. Essy tampak masih serius di depan laptop dengan menggunakan kaca mata. Lalu, pria itu berinisiatif untuk membuatkan teh manis hangat yang diisi dengan lemon.


Tak lama kemudian, Reza memasuki ruang kerja itu. Ruang kerja yang mereka pakai bersama, jika mengerjakan pekerjaan dari rumah.


“Sayang, sudah larut malam. Sudah waktunya istirahat,” ucap Reza sembari meletakkan secangkir lemon tea itu di samping Essy.


Wanita itu tersenyum dan berkata, “terima kasih.”


Reza ikut tersenyum. Lalu, mengusap lembut rambut Essy. “Ada yang bisa aku bantu?”


Essy menggeleng. “Tidak perlu. Sudah hampir selesai.”


“Kamu sudah mengatakan itu tiga kali. Tapi nyatanya sampai sekarang belum selesai.”


Essy nyengir sambil menatap wajah Reza. “Maaf.” Ia meletakkan tangannya di dada Reza. “Kamu tidurlah duluan, nanti aku menyusul.”


Reza menggeleng. “No. Aku tidak bisa tidur sendirian.”


“Manja,” sahut Essy tersenyum.


“Hm… Aku sudah terbiasa dimanjain kamu.”


Essy pun tertawa dan menatap Reza sembari menopang dagunya. Semakin hari pria dingin dan cepat marah itu kian melumer. Ia tak menyangka Reza memiliki sisi yang seperti ini.


“Kenapa?” tanya Reza pada Essy yang menatapnya intens.


Essy menggeleng. “Ngga. Lucu aja.”


“Lucu kenapa?”


“Ngga nyangka aja, kamu bisa jadi suami aku. Padahal dulu, ngebayangin kau jadi pacar aku aja ga mungkin.”


“Kenapa ga mungkin?” tanya Reza lagi sambil menutup laptop yang sudah Essy log out dan menyandarkan tubuhnya di meja kerja itu sambil berhadapan dengan sang istri.


“Ya, ga mungkin karena dulu kamu tuh bucin banget sama Rara.”


“Ck, jangan sebut nama Rara. Nanti kamu cemburu dan mendiamkan aku.”


“Ih, ngga. Kapan aku pernah cemburu?” tanya Essy tak terima.


“Aku tahu, kenapa kemarin kamu diam saja.”


“Kemarin yang mana?” tanya Essy lagi.


“Kemarin pas di rumah Mama. Hujan deras saat Rara mau pulang dan aku memayungkannya sampai ke mobil. Tiba-tiba kamu diam dan aku tanya, jawabnya ga apa-apa.”


Essy kembali nyengir. “Emang ga apa-apa. Aku berusaha ga baper.”


“Padahal baper,” sahut Reza tersenyum.


“Baiklah, aku ga akan baper.”


“Tidak apa baper. Kalau kamu cemburu, itu artinya kamu sangat mencintaiku.”


Essy mengangguk. “Memang.”


Reza pun tersenyum. “Kalau begitu, ayo kita bercinta!”


Essy menyipitkan matanya. “Ngajak bercinta, seperti ingin ngajak main sepeda.”


Reza kembali tertawa. Essy wanita yang selalu membuatnya terhibur. Ternyata, Tuhan memang adil. Menjodohkan dirinya yang kaku dengan wanita supel dan humoris seperti Essy. Hari-hari Reza pun semakin berwarna.

__ADS_1


Reza merapikan meja kerja itu dan membantu Essy untu berdiri dari tempat duduknya.


“Aww …” rintih Essy saat ia baru meluruskan kakinya.


“Kenapa?” tanya Reza bingung.


“Entahlah, sepertinya kakiku kesemutan.”


“Serius? Apa alasan aja supaya digendong?”


Essy memukul pelan dada Reza. “Ish. Apaan sih? Ngapain banget, bohong.”


Reza tertawa dan menggendong tubuh Essy.


“Za.”


“Apa?”


“Turunin,” rengek Essy.


“Katanya minta di gendong?”


“Ngga,” jawab Essy.


“Iya juga ga apa-apa kok.”


Reza tersenyum dan membawa wanita itu menuju kamar mereka. Reza meletakkan Essy pelan di atas tempat tidur itu.


“Sepertinya, kamu sudah lama tidak datang bulan,” ucap Reza saat tubuhnya mengungkung tubuh sang istri.


“Oh ya? Aku malah lupa.”


“Itu karena kamu terlalu asyik kerja.”


“Aku sudah membelikan alat tes itu. besok pagi, aku akan membantumu untuk mencoba alat itu.”


Essy tersenyum. “Kalau positif?”


“Kamu harus mendelegasikan pekerjaanmu apada orang lain,” jawab Reza.


“Siap, Bos.”


Essy memang sudah mempersiapkan kemungkinan ini. Ia juga sudah mendapat orang kepercayaan untuk mempercayakan pekerjaannya pada orang itu.


Reza tersenyum. “Aku akan pelan-pelan,” ucapnya khawatir jika memang di dalm perut itu ada nyawa yang sedang tumbuh.


****


“Mommy … mana sarapannya?” teriak Zack dan Zoey bersamaan.


“Mommy … mana kopinya?” Zayn yang tak mau kalah pun mengikuti kedua anaknya.


Rara datang dengan membawa dua piring di tangannya. Ia meletakkan piring itu ke depan Zack dan Zoey.


“Mommy … mana kopi Daddy?”


“Belum. Daddy bukannya bantu Mommy malah bikin rusuh,” ujar Rara. Pasalnya saat ini si Bibi sedang minta cuti dadakan dan pulang ke kampung.


Zayn nyengir dan mengikuti langkah sang istri. “Mana sih yang mau Daddy bantu?”


“Itu!” arah mata Rara menunjuk ke arah cucian piring yang menumpuk.

__ADS_1


“Banyak sekali.”


Rara tertawa. “Tadi katanya mau bantu.”


Zayn menarik nafasnya kasar. “Baiklah, tapi setelah itu buatkan kopi untukku.”


“Oke, Sayang.” Rara mencubit ujung hidung Zayn. Pria itu memang selalu bisa diandalkan.


Bahkan hari ini, Zayn sengaja tidak ke studio untuk menemani sang istri yang kerepotan di rumah.


Tin … Tin …


Klakson mobil jemputan sekolah Zack dan Zoey pun tiba. Sontak, anak kembar itu langsung menuntaskan sarapannya dan bergegas berlari ke dapur untuk pamit pada ayah dan ibunya.


“Mommy … Daddy … kami berangkat,” ucap Zack dan Zoey bersamaan.


Mereka mencium pipi Zayn dan Rara bergantian.


“Son, nanti siang Daddy akan jemput kalian pulang,” ucap Zayn.


“Oke, Dad.” Zack men gangak ibu jarinya ke atas.


Lalu, Rara mengantarkan kedua anaknya hingga naik ke dalam mobil jemputan itu. Rara melambaikan tangan ke arah anak kembarnya itu dan kembali masuk ke dalam menuju ke tempat suaminya yang masih membersihkan piring kotor semalam dan pagi ini.


“Duh, rajin banget sih, suamiku.” Rara mencium pipi Zayn.


“Ya, kan ada imbalannya.”


“Ish, ngarang,” elak Rara dan Zayn tertawa.


Mereka pun bekerja sama merapikan dapur itu hingga kembali bersih dan rapi. Lalu, Rara memberikan secangkir kopi itu pada Zayn.


Selesai itu, Rara beralih ke taman. Ia hendak menyiram tanaman. Zayn kembali mengekori sang istri sembari membawa secangkir kopi tadi. Mereka masih berdiri teras hingga terdengar suara dari luar pagar.


“Permisi,” ucap seseorang dari balik pagar rumah Zayn.


Zayn menoleh dan Rara pun hendak melakukan hal yang sama. Namun, Zayn menahan kepala Rara untuk tidak menoleh ke arah pagar itu.


“Kenapa sih?” tanya Rara bingung.


“Udah ga usah nengok,” jawab Zayn posesif dan langsung menghampiri sesorang yang memanggil dari balik pagar itu.


Seseorang itu tak lain adalah pria berstatus duda yang tinggal di sebelah rumah mereka. lalu, Zayn menghampiri pria itu dan berbincang beberapa saat, hingga akhirnya pria itu pergi dan Zayn kembali menghampiri Rara.


“Apa dia sering ke sini saat kamu sendirian di rumah?” tanya Zayn mendelik.


“Ngga.” Rara menggeleng.


“Sepertinya kita harus pindah rumah. Lama-lama aku tidak nyaman bertetangga dengan orang itu.”


Rara tertawa. Ia melihat ekspresi cemburu di wajah Zayn.


“Hei.” Rara menahan lengan Zayn dan mendekatkan wajahnya pada wajah sang suami. lalu, menempelkan bibirnya pada bibir Zayn.


Zayn pun membalas ciuman itu. Satu tangannya memegang pinggang Rara dan satu tangannya lagi menekan tengkuk Rara.


“Aku suka melihatmu cemburu,” ujar Rara saat ciuman itu terlepas.


Zayn kembali mendekatkan bibirnya dan memakan bibir Rara. Ia menggiring tubuh Rara untuk masuk ke dalam dan menutup pintu itu rapat.


“Za … yn … Eum …”

__ADS_1


“Kamu yang mulai, Sayang.”


Zayn tidak melepaskan sang istri. Ia beraksi di dalam rumah yang sepi. Mereka pun melakukannya di setiap sudut ruangan rumah itu. Hal yang dari dulu mereka ingin lakukan. Namun tidak pernah bisa, karena ada banyak penghuni di rumah ini.


__ADS_2