
“Huft..” Keluh Rama, saat ia sudah sampai di rumah sang ibu dan menghempaskan dirinya di sofa. Sungguh, persidangan percerauan Melinda menyita waktu satu harinya, walau hasilnya cukup memuaskan.
“Kamu sudah pulang? Bagaimana proses perceraian putrinya Surya?” Tanya Sofia mengenai Melinda dan Dito.
“Beres, Hakim langsung mengetuk palu tanpa mediasi. Lagi pula Mas Dito nya sudah pasrah dan tidak menolak dengan perceraian ini.”
“Ya, iyalah. Kesalahan dia sudah berat, sangat fatal. Mungkin selama ini dia memng sering menggunakan jasa para artis itu, enam puluh juta hanya untuk satu malam. Gila! Padahal memberi istri belum tentu sebanyak itu dalam satu bulan.” Celetuk Sisy dari dapur, tengah menyiapkan makan malam.
Ihsan pun sedang berada di sana bersama putranya.
“Sabar, Sayang. Kalau aku ngga seperti itu kok.” Ucap Ihsan sambil mengelus punggung istrinya.
“Awas aja kamu!” Mata Sisy langsung membulat ke arah suaminya.
“Kalau aku cukup kamu aja udah enak.” Jawab Ihsan sambil nyengir.
Sofia langsung memutar bola matanya. Begitu pun Rama.
“Ram, sekarang giliran kamu. Cari istri, Ram. Mama sudah ingin sekali menggendong cucu darimu. Anita saja sudah mau melahirkan. Sari, sudah bahagia dengan keluarganya. Sedangkan kamu masih saja seperti ini.” Ucap Sofia kesal dengan kelakuan putranya yang lebih memilih menghabiskan waktunya untuk bekerja.
Sekilas wajah Melisa terbayang di otak Rama, karena selama di persidangan Melinda, arah mata Rama selalu tertuju pada wajah itu. Walau ia tak menginginkannya, tapi matanya itu ingin selalu melihat ke arah Melisa. Ia memperhatikan Melisa saat berbincang dengan ibunya dan saat memberi semangat pada kakaknya. Ia merasa pernah melihat wajah itu, tapi lupa di mana.
Rama terus berpikir, di mana dia pernah bertemu wanita itu.
“Ma, Rama ke ke kamar dulu.” Ucap Rama, berpamitan dengan semua keluarganya yang berada di sana.
“Anak ini, kalau di ajak bicara untuk menikah, pasti kabur.” Sofia kembali kesal.
“Ram, kakak punya teman, adikya cantik banget, mau kakak kenalkan?” Kata Sisy, yang melihat sang adik tengah berjalan gontai menuju kamarnya.
“Tidak usah repot-repot, Kak.” Rama mengibaskan tangannya.
“Tuh, adikmu selalu begitu, mau sampai kapan dia seperti itu, Sy?” Tanya Sofia, sambil menarik kursi di samping Ihsan.
“Sabar, Bu. Nanti juga ada saatnya.”
Sejak Sofia bertemu Sari di sebuah butik aksesoris dan barang branded kala itu. Ia menjadi lebih menghargai orang lain dan tidak meremehkan orang kecil. Apalagi dengan sikap rama yang seperti ini, membuat Sofia semakin jauh lebih baik kelakuannya di banding sebelumnya.
Di kamar, Rama menyiapkan pakaian dan air hangat. Namun, saat itu pula wajah Melisa masih saja terbayang di otaknya.
__ADS_1
“Sss.. kamu tuh siapa sih, kenapa selalu ada disini?” Gumam Rama kesal sambil mengacak-acak rambutnya.
Ia menuju kamar mandi dan langsung mengguyur kepalanya dengan shower. Ia ingin menghilangkan isi kepalanya hari ini.
Di sisi lain. Melisa menggendong putranya, bermain-main sebelum tidur.
“Sayang, tadi mama ketemu papamu. Tapi dia tak mengenali mama.” Kata Melisa pada Edrick yang sedang duduk dan bermain di tempat tidur miliknya.
“Ma.. Ma..” Ucap Edrick.
“Iya, Sayang. Maafin mama ya, kalau hingga besar nanti, kamu tidak mendapatkan kasih sayang seorang papa. Semoga mama bisa menjadi papa untukmu.” Melisa menitikan air matanya.
Lalu, Edrick merangkak dan menghampiri sang ibu. Bayi berusia sembilan bulan ini sudah memahami perasaan ibunya, mungkin karena ketika hamil, Melisa sering menangis sehingga Edrick menjadi anak yang malankolis. Edrick memeluk sang ibu.
“Sayang, hanya kamu yang mama milik, mama bersyukur karena tidak jadi menggugurkanmu. Mama sayang kamu.” Melisa semakin menangis.
Apa yang terjadi pada sang kakak, membuat Melisa semakin tak ingin menikah. Namun, ia selalu teringat akan kebaikan Sari dan David. Sudah sejak lama, ia ingin sekali bertemu kedua malaikat itu, tapi waktu belum memungkinkan, karena selain sibuk menjadi single parent, ia juga masih di sibukkan dengan bisnis kecantikan yang baru menginjak satu tahun.
****
“Ma, ke salon yuk!” Ajak Sisy pada ibunya.
“Iya, mama juga bosen. Pusing mikirin adik kamu. Ayo, kita refreshing.” Jawab Sofia.
Sisy mengajak anak dan pengasuhnya menuju spa dan salon kecantikan milik Melisa.
“Kok kamu ke sini, bukan ke tempat langganan kita?” Tanya Sofia yang baru menginjak ke tempat ini.
“Aku juga baru ke sini, Ma. Kata temen-temen aku di sini pelayanannya bagus dan harganya lebih murah. Ngga ada salahnya kita coba, Ma.” Jawab Sisy, yang langsung di angguki sang ibu.
Mereka pun keluar dari mobil dan masuk ke dalam tempat itu.
Di sana, salah satu karyawan Melisa sedang menggendong Edrick. Sedangkan Melisa sedang berada di ruangannya di lantai dua. Semua karyawan Melisa sangat senang jika Edrick di bawa ke sana, karena Edrick tampan, lucu, dan pintar. Melisa pun tak kerepotan jika membawa Edrick bekerja, karena akan banyak orang yang suka rela menggnedong dan mengajak main putranya.
Sisy dan Sofia duduk di ruang tunggu, sambil menunggu seseorang yang akan melayaninya. Karena satu terapis akan menangani satu orang hingga selesai.
Sisy melihat Edrick yang sedang di gendong salah satu karyawan di sana.
“Ya ampun, ganteng banget. Anak siapa ini?” Tanya Sisy.
__ADS_1
“Ini anak Ibu pemilik tempat ini.”
“Oh.” Sisy membulatkan bibirnya.
“Ma, mirip banget ngga sih sama Rama?” Tanya Sisy pada Sofia yang sedari tadi juga memperhatikan bayi itu.
“Baru mama mau bilang, Sy.” Jawab Sofia.
Sofia dan Sisy semakin mendekat pada Edrick. Sofia mencoba untuk menggendong bayi itu.
“Ayo sama nenek.” Kata Sofia dan Edrick pun mau
“Ya ampun, kamu benar-benar mirip putra nenek. Nenek seperti benar-benar sedang menggendong cucu.” Ujar Sofia dengan wajah sumringah.
Sisy tersenyum. “Iya ih, kok bisa mirip sama si Rama ya.”
“Ma, sini aku foto, nanti aku kasih tau si Rama.” Sisy memfoto Sofia yang sedang menggendong Edrick dengan antusias.
Melisa pun keluar dari ruangannya, ia ingin memberi putranya camilan. Melisa turun dan melihat putranya sedag di gendong oleh wanita paruh baya.
“Edrick.” Panggil Melisa, membuat Sisy dan Sofia menengok ke arahnya.
Sisy mengenal betul kedua putri Surya dan Dian yang merupakan keluarga sahabat almarhum ayahnya, sekaligus keluarga yang selalu membantu keluarganya.
“Melisa ya? Bener ngga sih?” Tanya Sisy mendekat.
“Hmm..” Melisa bergantian melirik ke arah Sisy dan Sofia.
“Kak Sisy, Tante Sofia?” Melisa baru mengingatnya.
Ia memang hanya mengenal Sisy, tapi tidak dengan Rama, karena memang Rama tidak pernah berkunjung ke rumah Surya, ia sibuk kuliah dan megejar beasiswa, kemudian setelah lulus kuliah, dia sibuk berkarir. Kalau pun Rama ingin bertemu ayah Melisa, ia lebih sering mengunjungi langsung Surya ke kantornya di banding ke rumahnya. Melinda pun baru mengenal Rama, saat ia menjadi pengacaranya saja.
“Jadi ini anakmu, Mel?” Tanya Sisy.
Melisa mengangguk sambil tersenyum.
“Loh, Kok tante tidak di undang saat kamu menikah. Mama dan apapmu juga tidak pernah bilang kalau kamu sudah menikah.” Ucap Sofia, membuat Melisa terdiam.
Ia bingung ingin menjelaskan apa dan bagaimana?
__ADS_1
Melisa hanya tersenyum.