Istriku Canduku 2

Istriku Canduku 2
menagih janji


__ADS_3

Sudah dua bulan, Sari di tinggal pulang oleh Ratih dan Teguh ke daerah asalnya. Dan, sejak saat itu pula David semakin romantis. Sedangkan Elvira, masih belum bisa meninggal panti asuhannya secara total. Jadi, ia hanya bisa berkunjung ke apartemen ini untuk menemani cucu dan menantunya dua hari sekali, itu pun tidak menginap.


“Hmm...” Sari melenguh, merenggangkan otot-ototnya sambil membuka mata perlahan.


Sinar matahari sudah masuk ke dalam kamarnya, karena jendela itu terbuka lebar. Di setiap sudut terdapat banyak bunga. Sari mengerlingkan pandangannya, melihat bunga berwarna warni ada di sana. bibirnya mengembang senyum.


Hampir setiap pagi, sang suami melakukan ini. Di kamar ini selalu bertebaran bunga-bunga yang inah dan wangi, membuat mood Sari selalu happy dan berbunga.


“Susu..” David menghampiri Sari dengan segelas susu coklat di tangannya.


Sari mengerucutkan bibirnya.


“Aku sudah punya susu, kenapa masih minum susu juga?”


David tertawa.


“Ini susu untukmu, dan itu susu untuk Melvin.” David menunjuk dua gunung kembar Sari.


“Lalu, ini untukku.” David kembali berkata dengan menunjuk bagian kewanitaan Sari.


“Apaan sih.” Jawab Sari tersipu malu. Pipinya merah merona.


David kembali tertawa.


“Ayo, di minum!” David kembali menyerahkan gelas itu.


Sari pun menerimanya dan meminumnya hingga tandas.


“Melvin mana?”


“Di bawa jalan-jalan ke taman sama Nina.”


“Oh.” Sari membulatkan bibirnya.


Kemudian, David memajukan tubuhnya untuk lebi dekat dengan wajah Sari. Sari tahu apa yang ingin suaminya lakukan. Dengan cepat, ia menjilat sisa coklat yang ada di atas bibirnya. Lalu, mendorong dada David.


“Modus.”


David tertawa melihat kelakuan Sari yang menggemaskan.


“Dasar pria mesum, posesive, menyebalkan.” Sari bertolak pinggang mengumpat suaminya.


David bangkit dari tempat tidur itu dengan terus mengulas senyum. Kemudian, ia beranjak ke kamar mandi.


“Mas..” Panggil Sari.


“Apa? Mau mandi bersamaku?”


Sari cemberut. “Ish.. Dasar bule gila.”


David kembali tertawa dan berdiri di depan Sari.


“Hmm.. aku mau tanya sesuatu.” Kata Sari serius.


David yang melihat raut wajah Sari, kini mendekatinya.


“Apa?” Tanya David.


“Hmm.. itu.” Sari masih bingung, untuk mengatakan keinginannya.

__ADS_1


David menatap intens wajah Sari, menunggu apa yang ingin Sari katakan.


“Itu, kita pernah membuat kesepakatan bukan?”


Deg


Jantung David berdetak. Ini yang tidak ingin ia bahas sebenarnya. Ia berharap Sari melupakan kesepakatan yang mereka lakukan sewaktu di rumah sakit, tepat saat Melvin lahir.


Perlahan David mengangguk.


“Tidak ada perceraian.” Ucap David tegas.


“Hmm.. Tapi uang 5 milyar itu. Aku membutuhkannya.”


David mengeryitkan dahi.


“Hmm.. Anggap saja itu konsekuensi karena perlakuan kasarmu dan kata-katamu yang kasar padaku waktu itu.”


David tersenyum dan mengangguk.


“Kamu tidak bertanya untuk apa uang itu?” Tanya Sari.


David menggeleng. “Itu untukmu terserah akan kamu gunakan untuk apapun, itu hakmu.”


Sari menunduk.


“Uang itu akan aku gunakan untuk pelatihan mode di Paris.” Jawab Sari lirih.


David langsung membulatkan matanya.


“Kamu akan meninggalkan kami?” Tanya David.


“Hanya untuk beberapa bulan. Aku ingin menggali potensiku lagi.”


“Apa kehadiranku dan Melvin tidak cukup membuatmu bahagia?”


Sari terdiam.


“Bukan seperti itu. Aku hanya ingin punya karir sendiri, bisa berdiri sendiri. Siapa tahu kamu khilaf lagi dan kembali mengasariku.” Sari mengerdikkan bahunya.


“Who Knows.”


David terdiam. Ternyata Sari masih belum memaafkannya, walau pun ia seperti sudah terlihat biasa dan sudah menerimanya.


“Aku tidak punya apa-apa, semua ini milikmu. Apartemen, perusahaanku, mobil, semua atas namamu.” Ucap David.


“Aku sudah pindahkan semua assetku di sini atas namamu, sebagai penebus rasa bersalahku, juga sebagai pengingat bahwa aku tidak memiliki apa-apa dan tidak bisa melakukan sesuatu semauku lagi. Kalau kamu tidak percaya, besok kamu bisa bertemu pengacaraku.” David berkata lagi dengan lirih.


Sari terkejut, ia tak percaya dengan apa yang telah David katakan.


David kembali mengangguk. “Sungguh.”


Sari menggeleng.


“Tapi aku hanya ingin mengeksplore diriku sendiri.” Kata Sari lirih.


“Aku ingin ke sana. Aku sudah mendaftar dan kemarin aku salah satu pendaftar yang lulus tahap pertama. Ada ribuan orang Indonesia yang mendaftar dan aku salah satu yang lulus, aku tidak ingin menyi-nyiakan kesempatan ini.”


“Lalu, bagaimana Melvin? Aku?’ David menunjuk pada dirinya sendiri.

__ADS_1


“Hanya enam bulan.” Jawab Sari.


“Kamu tega meninggalkan Melvin yang masih bayi?” Tanya David lagi dengan lirih. Ia menahan emosinya.


Sari menunduk.


“Ada temanku seperti ini. Setelah menikah, dia harus meninggalkan anaknya yang baru berusia tiga bulan untuk menjalani Koas di daerah terpencil sebagai dokter muda. Dan demi mengeksplore kemampuan keduanya, mereka bisa. Menikah bukan berarti mengekang pasangannya bukan? Menikah itu saling mendukung, saling memahami, dan saling pengertian. Bukan seperti itu?” Tanya Sari.


David terdiam. Baru saja, hubungan mereka mencair dan mulai kembali seperti sebelumnya, walau Sari masih belum siap ntuk di sentuh hingga kini. Namun, David kuat menahannya. Tapi untuk di tinggal jauh, selama enam bulan. Ia ragu, apa sanggup menghadapinya. Namun, David juga tidak mau melarang, karena jika ia melarang keinginan istrinya ini, tidak menutup kemungkinan Sari malah akan pergi dari sisinya selamanya.


David memegang kepalanya yang pusing. Sedangkan Sari hanya menatap wajah suaminya. terlihat wajah David yang mulai memerah karena menahan marah. Jika ia menuruti apa yang ia mau, pastinya ia akan mengurung Sari dan tidak boleh keluar sama sekali. Sari hanya boleh mengurus dirinya dan anak-anaknya nanti. Ya, David mirip seperti Jason sang ayah, yang mengurung Elvira di rumah. Bedanya Jason tidak setia, sedangkan David menyerahkan seluruh hatinya pada Sari.


Tok.. tok.. tok..


Nina mengetuk pintu kamar itu.


“Aku mandi dulu.” David meninggalkan Sari yang masih duduk di tepi ranjang.


Sari bangkit dan menghampri pintu kamarnya.


Ceklek


“Bu, Den ganteng udah mandi, udah nyusu, udah jalan-jalan. Eh tidur lagi.” Kata Nina dengan membawa stroler itu masuk ke kamar Sari.


“Ya udah tidurin lagi aja, di sana, Nin.” Sari menunjuk box ranjang Melvin.


Melvin memang selalu bangun pagi-pagi sekali dan tidur lagi setelah kenyang. Setelah selesai meletakkan Melvin, Nina pun pamit keluar.


Kemudian, Sari menata pakaian kerja untuk di pakai suaminya. Ia menaruh pakaian itu di atas tempat tidur. Lalu, Sari melangkah menuju dapur. Ia pun menyiapkan makanan untuk David.


“Sini, Nin aku saja yang menyiapkan makanan bapak. Kamu kerjakan pekerjaan lain saja.” Kata Sari saat bertemu Nina di dapur.


Nina tersenyum. “Iya, Bu. Kebetulan saya lagi memutar cucian.”


Sari mengangguk dan mengambil alih untuk membuat cream soup, karena David paling senang memakan cream soup dengan roti.


Di kamar, David keluar dari kamar mandi dengan lilitan handuk di pinggangnya. Ia mengedarkan pandangan di sana, hanya ada Melvin yang sedang tidur terlelap di ranjang miliknya. David mengeus pipi putranya yang baru berusia emapt bulan. Ia menarik nafasnya panjang dan membuangnya kasar.


Selama menikah, Sari memang tidak pernah meminta apapun, kalau pun meminta sesuatu, itu adalah hal kecil yang mapu David wujudkan. Namun, permintaannya kali ini benar-benar tidak mampu ia wujudkan, tapi ia tidak bisa untuk berkata tidak.


David melihat pakaian yang telah Sari siapkan. Ia menaruh pakaian itu lagi, karena pakaian yang Sari siapkan adalah pakaian kerja. Sedangkan saat ini ia sedang tidak mood untuk bekerja. Ia ingin menghabiskan waktunya untuk Sari dan Melvin.


David memakai kaos oblong berwarna putih dan celana cargo pendek berwarna krem. Ia keluar dari kamar dan menuju dapur. Ia melihat Sari yang tengah memasak. Seperti biasa, rambut Sari di gelung tinggi ke atas, istrinya masih mengenakan tang top dan celana pendek yang hanya satu jengkal dari pinggulnya.


Sari terkejut karena tangan David langsung melingkar di perutnya yang kini mulai kembali rata. David meletakkan kepalanya di bahu itu.


“Kapan kamu akan ke Paris?” Tanya David lirih.


Sari mematikan kompornya dan membalikkan tubuhnya.


“Dua bulan dari sekarang. Tapi minggu depan aku ingin ke Malang, karena berkas-berkasku ada di sana. mereka ingin aku mengirimkan berkas-berkas pendidikan ku sebelumnya sebagai referensi.”


“Apa aku dan Melvin tidak bisa menghentikanmu?” Tanya David lirih, sambil memeluk tubuh Sari.


“Hanya enam bulan.”


“Itu sangat lama, sayang. Bagiku itu sangat lama.” David semakin memeluk tubuh Sari erat.


Entahlah keinginan Sari begitu kuat, selain untuk kembali merefresh dirinya, ia pun ingin mempunyai pengalaman baru dari kemampuan yang ia miliki sebelumnya.

__ADS_1


__ADS_2