Istriku Canduku 2

Istriku Canduku 2
beruntung memilikimù


__ADS_3

Pagi ini, Sari tengah memasak di dapur. Ia rindu dapur, karena sudah tiga hari tidak memasak. David selalu menganggunya di pagi hari dan sering mengajaknya jalan-jalan keluar di sore hari. Alhasil, dia tak pernah bisa ada waktu untuk memasak, padahal Sari termasuk orang yang pemilih dalam makanan. Ia lebih puas, jika makanan itu di buat dengan tangannya sendiri, selain puas juga hemat, mungkin karena sebelumnya ia terbiasa menjadi anak kos, hingga rasa itu terbawa sampai sekarang. Padahal saat ini Sari sudah menjadi seorang milyarder, karena David telah mengubah seluruh asetnya menjadi nama sang istri tercinta.


“Hmm.. Kamu masak apa?’ Tanya David yang langsung berada di ceruk leher jenjang Sari.


Sari tidak terkejut, karena setiap kali ia memasak, David akan menempel seperti ini.


“Kamu wangi dan sexy, jika sedang memasak.” David menggigit pelan leher itu.


Sari mematikan kompornya, lalu membalikkan tubuhnya.


Ia tertawa.


“Kenapa tertawa?”


“Kamu tuh aneh, di mana-mana, istri lagi masak tuh bau. bau masakan, bau keringat. Ini malah di bilang wangi. Di bilang sexy juga lagi. Udah tau acak-acakan begini.” Sari menunjukkan rambutnya yang di kuncir asal dan celemek yang menempel.


David tertawa.


“Tapi memang ini membuatmu sexy. Dan.. Hmm..” David mengendus leher Sari lagi.


“Wanginya khas, khas wangi kamu yang tak pernah ada di tubuh wanita lain.” Ucap David lagi.


“Iya, memang. Bau ketiakku lain dari pada yang lain.” Jawab Sari asal, sambil menuangkan makanan yang sudah matang ke dalam priring yang ia sediakan.


“Benar, Sayang. Kamu tuh membuatku candu, membuatku selalu ingin nempel.”


Sari mencibir. Kemudian, ia terkikik geli, lucu melihat suaminya yang suka dengan bau keringatnya.


“Sana.. mandi dulu, nanti kita sarapan bersama.”


David menggeleng. “Mandiin.”


“Aku belum membuat makanan untuk Melvin. Sana mandi sendiri.” Kesal Sari yang melihat kelakuan manja suaminya.


Pasalnya Melvin baru hanya di beri ASI dan biskuit camilan, bayi menggemaskan yang saat ini akan berusia delapan bulan itu belum memakan makanan berat.


“Melvin masih sama Nina. Ayo mandi bersama, sebentar!” David menarik tangan Sari.


“Mas, Ih mandi sendiri aja.”


“Bersama saja, sebentar!” David memasang wajah layaknya anak kecil yang sedang merengek.


Sari mengeryitkan dahinya.


“Mas, Mas.. Makin lama makin nyebelin banget sih.” Sari menggelengkan kepalanya.


“Tapi..”


“Iya, tapi aku suka.” Sari langsung menyambar perkataan suaminya.


David kembali tertawa.


Mereka pun berjalan bersama menuju kamar. David merangkul pundak sang istri.


“Asyik, di mandiin.” Ucapnya dengan wajah sumringah.


“Tapi mandi aja ya!” Sari memperingatkan.


“Tidak janji.” David semakin mengembang senyum.


“Aaa..aaa..” Rengek Sari dengan nada berirama.


****


“Sayang, minggu depan kita pulang kampung.” Kata David saat sedang sarapan bersama keluarga kecilnya di meja makan.


Melvin pun sedang menikmati bubur instan yang di suapi oleh sang ibu di meja makan khusus untuknya.


“Bukannya baru bulan kemarin kita ke Malang.” Kata Sari sambil memasukkan makanan ke mulutnya.


“Bukan kampungmu tapi kampungku.”


“Maksudmu?” Tanya Sari bingung.

__ADS_1


“Ya kampungku. Kamu ingin bertemu keluargaku di Inggris bukan? Minggu depan kita ke sana bersama Mommy.”


“Oh, ya?” Sari tersenyum lebar.


“Bersama Ayah dan Ibu juga. Kalau perlu Ardi di ajak, katanya dia ingin menonton club MU secara langsung.” Jawab David.


“Lagipula, dulu aku pernah berjanji pada Ayah dan Ardi untuk mengajaknya menonton club sepakbola favoritnya itu.”


“Hmm.. kamu baik sekali sih, Mas.” Sari berdiri dan memeluk David yang sedang duduk di sampingnya.


“Tapi ini semua menggunakan uangmu, karena aku tak memiliki uang lagi, aku hanya membantu mengelola asetmu.” Kata david tersenyum.


“Apaan sih, Mas. Aku ngga butuh itu. Aku hanya butuh kamu, Melvin, dan adik-adiknya Melvin yang akan cooming soon.”


“Kamu hamil?” Tanya David menatap sang istri.


“Sekarang belum.” Sari kembali duduk di kursinya tadi.


“Tapi ngga tau nanti, soalnya kamu sering sekali meminta jatah. Jadi aku harus siap-siap.”


David tergelak.


“Itu bagus, aku juga menantikan adik Melvin. Apa hari ini aku tak perlu bekerja saja dan kita buat adik Melvin lagi.” David menaik turunkan alisnya.


“Apa?’ Sari mencubit dan memukul lengan suaminya.


“Aww..” David meringis.


“Kamu harus kerja, nanti asetku habis.” Ucap Sari galak.


“Katanya kamu tidak butuh itu, yang kamu butuhkan hanya aku, Melvin, dan adik-adik Melvin nanti.” Ledek David.


“Butuh juga lah, untuk Melvin dan adik-adiknya nanti.” Ucap Sari tak mau kalah.


David pun tersenyum, sambil menyuapkan lagi makanan ke mulutnya. Memang Sari paling jago ngeles seperti supir bajai.


Ting.. Tong..


“Nin, Tolong bukakan pintu.” Teriak Sari, saat ia tengah merapihkan dasi suaminya.


“Iya, Bu.”


Nina yang sedang menemani Melvin di ruang keluarga pun segera menuju ke pintu depan dan membukanya.


Di sana terlihat wajah Melisa yang sedang tersenyum.


“Pak David dan Sari nya ada?” Tanya Melisa.


“Ada.” Jawab Nina, yang baru melihat wajah wanita yang cantik itu dengan kulit yang putih bersih.


Nina baru saja hendak ke dalam untuk memberitahu majikannya, tapi Sari dan David sudah lebih dulu keluar dari kamar.


“Siapa, Nin?”


“Ngga tau, Bu. Saya baru lihat orangnya, cantik banget deh, Bu.” Jawab Nina polos.


Sari dan David berjalan menuju ruang tamu dan melewati ruang keluarga. Sari mengambil Melvin dan menggendongnya.


“Sayang, Ayo kita antar papa sampai pintu.” Kata Sari pada Melvin, sambil mecium pipi gembulnya.


David mengeryitkan dahinya, ketika melihat Melisa duduk di ruang tamu.


“Melisa.”


Melisa pun berdiri saat melihat David dan Sari yang sedang menggendong putranya.


“Dia kan yang..” Jari telunjuk Sari menunjuk ke arah Melisa.


“Iya, aku wanita tak tau diri mengaku telah di hamili suamimu, walau pun dulu aku memang mantan selirnya.”


Sari membulatkan matanya, begitu pun David yang tak suka dengan perkataan Melisa, walau itu memang pernah terjadi.


“Maaf. Bukan maksudku untuk mengungkit masa lalu. Justru aku ke sini ingin berterima kasih. Berterima kasih padamu Sari dan padamu Dav.” Melisa menghela nafasnya.

__ADS_1


“Wah ini pasti anakmu.” Melisa mengelus pipi embul Melvin.


“Iya, anakmu bagaimana?” Tanya Sari.


“Baik. Anakku juga laki-laki. Namanya Edrick, aku beri nama Edrick agar bayi itu sehat dan kuat, mengingat saat itu aku melahirkan sendiri tanpa keluarga yang mendampingi apalagi suami.” Ucap lirih Melisa.


“Sabar ya, mba. Saya yakin mba adalah wanita yang kuat.”


Melisa tersenyum pada Sari. “Iya, terima kasih. Dan uang yang kamu berikan sudah aku jadikan dua gerai salon kecantikan.”


“Saya kesini, untuk memberi saham salon kecantikan ini padamu, karena ini adalah uang suamimu.” Ucap Melisa lagi.


“Ah, tidak. Mas David sudah memberikannya untukmu, jadi terimalah. Sudah ku bilang anggap itu sebuah kompensasi atas kerugian yang kamu alami selama bersama suamiku dulu.” Kata Sari.


Sedangkan David hanya tersenyum, ia ingin melihat sejauh mana istrinya dapat mengatasi masalah.


“Aku juga ingin memberikan ini.” Melisa menyerahkan satu kertas berbentuk kotak, yang merupakan undangan pernikahannya.


Sari menerima benda itu. Sebelumnya, ia meminta Nina untuk menggendong Melvin. Sari membuka kertas tebal besar itu perlahan dan membaca tulisan di dalamnya.


“Kamu akan menikah?” Sari tidak terkejut dengan nama yang tertera di sana, karena memang Sari sudah tidak perduli dengan pria bernama Rama itu.


David segera mengambil kertas itu dari tangan Sari dan melihatnya. Ia terkejut dengan nama calon mempelai pria.


“Kamu dan Rama?” Tanya David.


“Iya, aku dan Rama pernah bertemu di Bali dua bulan sebelum kamu menikah Dav. Maaf, Dav. Waktu itu aku kesepian karena di tinggal kamu pergi ke jakarta, aku ke club, mabuk dan bertemu Rama hingga..”


“Hingga hamil, tapi mengapa kamu malah mengaku itu sebagai anakku?” Tanya David kesal, karena kejadian itu hampir saja membuat rumah tangganya berantakan, walau pun akhirnya juga sempat berantakan karena ulah calon mempelai pria yang namanya tercetak di undangan itu.


“Karena aku tidak punya pilihan, keluargaku tidak menerimaku. Sungguh aku minta maaf pada kalian.”


“Sudahlah, semua sudah terlewati, yang penting pada akhirnya kita menemukan kebahagiaan.” Sahut Sari, sambil mengelus punggung Melisa.


Melisa tersenyum dan mengangguk,


“Jadi, anak itu anak Rama?” Tanya David mempertegas.


“Iya.”


“Ya ampun. Dunia tidak selebar daun kelor.”


“Tunggu, kamu tau pepatah itu?” Tanya Sari.


“Aku juga orang Indonesia sayang, Mommy kan orang sini. Aku tau pepatah itu”


“Oke.” Sari mengangguk.


Melisa tersenyum melihat pasangan suami istri ini.


“Nanti kami akan hadir ke pernikahanmu, mba. Tapi untuk ini, saya tidak akan menerimanya. Ini punyamu.” Ucap Sari


“Saya juga tau hubunganmu dan Rama, juga masalah yang hampir saja membuat kalian terpisah. Rama menceritakan semuanya padaku.” Kata Melisa.


“Itu sudah berlalu, Mba. Sudah terlewatkan.” Jawab Sari yang langsung di angguki David.


Melisa kembali tersenyum.


“Sekali lagi, terima kasih atas semuanya. Aku tunggu kehadiran kalian.”


Melisa memeluk tubuh Sari dan Sari pun langsung membalas pelukan itu.


“Istrimu sangat baik, Dav. Jaga dia ya!” Ucap Melisa saat pelukan itu sudah terlepas.


David mengangguk. “Tentu saja.”


Lalu, Melisa pamit pulang dan pergi dari apartemen itu.


David memeluk Sari dan mengecup keningnya. Setelah beberapa saat mengantar Melisa keluar.


“Aku beruntung memilikimu, sayang.”


“Aku juga.” Sari tersenyum di pelukan dada bidang suaminya.

__ADS_1


__ADS_2