
Sari dan David tengah duduk di meja makan. Mereka menikmati nasi goreng, setelah menelepon keadaan Melvin di sana melalui Elvira. Sari lega karena ada sang mertua yang baik dan siap kapanpun untuk di mintai bantuan.
“Bagaimana rasa nasi gorengnya? Enak? Karena bumbu di sini tidak se lengkap di apartemenmu, jadi mungkin rasanya sedikit kurang dari biasanya.” Kata Sari.
“Hmm.. Enak kok.” David terus mengunyah makanan itu.
“Semua yang ada pada dirimu enak. Masakan buatanmu enak, kopi buatanmu juga enak, apalagi kalau di ranjang, kamu sangat enak.” Jawab pria bule berbadan tinggi tegap itu lagi, sambil menegdipkan satu matanya.
Spotan Sari langsung melempar kepalan tisu di tangannya, dengan memonyongkan bibir.
“Dasar.”
David kembali tertawa.
Seteleh sarapan pagi. Mereka membereskan ruangan yang berantakan karena kejadian semalam.
“Assalamualaikum..” Tiba-tiba suara Ratih dan Teguh bersamaan terdengar dari luar.
“Waalaikumsalam. Eh ibu ayah sudah pulang.” Jawab Sari dengan wajah sumringah, sambil melangkahkan kakinya menuju pintu depan.
David pun mengikuti istrinya di belakang.
“Eh ada Nak David.” Kata Ratih yang melihat keberadaan menantunya.
David pun dengan cekatan menghampiri kedua orang tua Sari dan mencium punggung tangannya.
“Kamu menjemput Sari, Nak?” Tanya Teguh.
“Iya, Yah.” David mengangguk.
“Oh, kemarin Sari bilang, mau pulang sendiri.” Kata Teguh lagi.
“Saya ngga bisa jauh dari anak perempuan ayah.” Kata David tersenyum ke arah Sari sambil memeluk bahunya dari samping.
“Hmm.. Gombal.” Cibir Sari, membuat Teguh dan Ratih tersenyum.
Lalu, mereka berjalan beriringan ke dalam rumah.
“Kamu sampai di sini kapan, Nak?” Tanya Teguh pada David.
“Semalam Yah, lepas maghrib.”
“Oh.” Teguh mengangguk.
__ADS_1
“Untung ada kamu, Nak. Karena Sari itu orangnya penakut.” Sahut Ratih.
Mereka berbincang di ruang tamu, sambil mengistirahatkan badan Teguh dam Ratih setelah lima jam di perjalanan.
Sari berjalan menuju ruang tamu dengan membawa minuman dingin untuk orang tua dan suaminya.
“Sari ngga penakut ya, Bu.” Yang di sebut namanya pun menyanggah.
David tersenyum. “Tidak apa, Bu. Saya suka Sari yang penakut.”
Teguh dan Ratih pun kembali tertawa, karena mereka tahu apa yang di massud menantunya.
“Ayah dinas dadakan ke sana?” Tanya David serius.
Teguh mengangguk. “Iya, kok kamu tahu? Tiba-tiba Ayah di minta pak Dito menghadiri acara di kota Surabaya, padahal seharusnya itu tugasnya beliau.”
David mengangguk. Ternyata benar dugaannya. Dito telah merencanakan kejadian semalam. Tepatnya, saat berjumpa dengan Sari di bandara, ia langsung beralasan sakit dan meminta Teguh untuk menhadiri acara penting ke pemerintahan di sana.
“Ayah dan Ibu jadi buru-buru berangkat, hingga Sari tiba pun kami belum sempat berbincang.”
Sari mengangguk. Ia menatap wajah David yang juga sedang menatapnya. Kali ini David benar-benar pria tampan berkuda putih yang menjadi penyelamat baginya. Pria ini pernah melukai, menyembuhkan, melukai lagi, dan sekarang malah menjadi superhero.
Dret.. Dret.. Dret..
Ponsel David berdering. Ia pun langsung merogoh saku celananya untuk mengambil ponsel itu.
Ia pun mengangkat teleponnya.
“Bagaimana, Lik?” Tanya david pada asistennya di sana.
“Sudah, pak. Saya sudah suruh beberapa orang untuk mengawasi gerak gerik Dito.” Sahut Malik dari dalam suara ponsel.
“Bagus. Kita lihat pergerakannya dan kumpulkan bukti korupsinya. Setelah itu, saya ingin karir dia tamat dan membusuk di penjara.” Ucap David geram pada pria yang akan menodai istrinya semalam.
“Sabar, Bos. Semua keingannan bos akan terwujud.”
David mengangguk sambil menggenggam ponselnya.
“Oh, iya. Jet pribadi bos sudah saya siapkan. Siang pukul dua, keberangkatannya.” Malik berkata lagi dalam suara ponsel itu.
“Good. Thank you.” David menutup telepon itu.
Ia memasukkan kembali ponselnya ke saku celana dan membalikkan tubuhnya.
__ADS_1
“Apa yang dia lakukan?” Tanya Teguh, membuat David terkejut. Pasalnya ia tak sadar bahwa percakapnnya dengan Malik di dengar Teguh di balik tubuhnya.
“Ayah mendengar semuanya?” David balik bertanya.
“Apa dia yang di maksud itu Dito?” Teguh kembali bertanya.
David mengangguk. Perlahan ia menceritakan apa yang terjadi semalam. David dan Teguh berbincang serius di teras, sambil berdiri. David juga menceritakan penelusurannya tentang Dito dan tentang Teguh yang di jebak oleh atasannya itu.
“Kurang ajar.” Teguh mengepalkan kedua tangannya.
“Tenang, yah. Saya sudah ada bukti baru untuk melaporkannya pada KPK. Bukti sebelumnya tidak cukup kuat karena korupsinya melibatkan petinggi institusi negara. Tapi yang sekarang, dia sedang berjalan sendiri. Tinggal tunggu tanggal mainnya saja.” Ucap David yakin.
“Yang penting, ayah tidak terlibat dalam proyek dengan anggaran yang hanya mengatas namakan dirinya. Bersikap biasa jika bertemu dengannya.” Kata David lagi.
Kemudian, Teguh langsung memeluk menantunya yang tinggi itu.
“Maafkan ayah, Nak. Maaf karena ayah pernah galak padamu dan meragukan tanggung jawabmu.”
“Maafkan saya juga Yah, karena saya pernah menyakiti hati dan fisik anak kesayangan Ayah berkali-kali.”
Teguh mengeryitkan dahinya. Ia tak menanyakan lebih dalam maksud dari perkataan menantunya itu, yang dia tahu memang David pernah menyakiti putrinya dengan cara memperkosa. Selanjutnya itu adalah urusan rumah tangga mereka dan Teguh sebagai orang tua tidak akan ikut camput kecuali jika Sari mengeluh.
Teguh menepuk kedua bahu David.
“Ayah titip putri ayah padamu. Jaga dia, sayangi dia dengan segenap hati dan jiwamu, karena ayah telah membesarkan dan menjaganya dengan segenap hati dan jiwa ayah. Kini giliranmu, karena sekarang Sari adalah tanggung jawabmu. Walau pernikahan kalian di awali dengan kesalahan.” Ucap Teguh panjang lebar.
“Apa saya harus ijab qobul lagi?” Tanya David.
Teguh menggeleng.
“Kamu adalah ayah biologis bayi yang Sari kandung pada waktu itu, jadi tidak perlu mengulang ijab qobul. Tapi kamu tidak berhak menjadi wali atas Melvin, walau dia memang tidak butuh wali karena Melvin laki-laki. Kecuali untuk anakmu yang kedua ketiga keempat atau kelima.”
“Banyak sekali, Yah.” David tertawa.
Teguh pun ikut tertawa.
“Karena sepertinya, Sari akan memiliki anak yang banyak jika selalu ada tanda merah di lehernya.”
Mereka kembali tertawa.
Di dalam sana, Sari mengintip dari jendela kebersamaan Ayah dan suaminya. Sari meneteskan air mata.
Dari belakang Ratih pun melihat jendela yang sedikit di buka Sari.
__ADS_1
“Kamu beruntung memiliki suami seperti dia, Sar.”
Sari menoleh ke arah suara itu dan memeluknya. “Ini semua berkat doa ayah dan ibu. Terima kasih.”