Istriku Canduku 2

Istriku Canduku 2
bertemu kakak ipar yang tidak jadi


__ADS_3

Waktu terus berjalan, usia kandungan Sari pun semakin hari semakin bertambah, perutnya kini semakin terlihat membesar dengan tubuh yang kian berisi. Aura cantiknya pun semakin terlihat.


“Nanti sore, kita kedokter untuk pemeriksaan rutin kandunganmu.” Ucap David, saat Sari memakaikannya dasi.


Sari mengangguk.


David tidak pernah absen mengantar Sari untuk memeriksakan kesehatan calon bayi yang ada di perut sang istri. Jika, David tidak pernah lupa dengan jadwal kontrol kehamilan sang istri, berbeda dengan Sari yang malah tidak pernah ingat kapan waktu untuk mengontrol perutnya yang kian membesar.


“Nanti sore, aku yang ke kantormu, atau..”


“Aku yang menjemputmu di sini.” Ucap David memotong perkataan istrinya.


“Baiklah.” Sari mengangguk.


David langsung meraih pucuk kepala Sari dan menciumnya. Tak lupa ia pun memangut bibir sang istri sebentar. Lalu, David membuka pintu apartemen itu dan keluar.


“Hati-hati di jalan.” Ucap Sari, sambil tersenyum dan melambaikan tangannya.


David menoleh ke arah istrinya yang semakin cantik, di iringi senyum mengembang di bibirnya.


Sari kembali memasuki ruang keluarga dan duduk di sana. ia melihat Nina yang sedang membersihkan lantai dengan alat penyedot debu.


“Nin, bosan ngga sih? Jalan-jalan yuk.” Ajak Sari pada Nina.


“Kemana, Bu?” Tanya Nina sambil mengerjakan pekerjaannya.


“Ke mall bawah aja yuk, sekalian beli belanja bulanan.”


Nina mengangguk. “Iya, Bu.”


****


Menjelang siang, Sari dan Nina turun menuju mall. Mereka berjalan memasuki pusat perbelanjaan yang cukup besar itu.


“Nin, makan dulu yuk! Aku sudah lapar, sudah masuk jam makan siang kan?”


‘Iya, Bu. Saya mah ikut aja.”


Sari tersenyum.


“Aku lagi ingin ayam krispy, burger, dan es krim.” Ucap Sari dengan arah mata lurus ke depan.


Nina melihat ekspresi lucu majikannya itu. Ia tersenyum.


Untungnya, Nina jarang melihat majikannya berbuat mesum. Nina yang pemalu, hampir tidak pernah menampakkan diri, di area lain selain dapur. Ia pun jarang sekali bertemu David.


“Bu, maaf. Dari dulu saya ingin tanya. Di kamar ibu banyak nyamuk ya? Alhamdulillah di kamar saya aman, Bu. Ngga ada nyamuk.”


“Memang kenapa?” Sari balik bertanya.

__ADS_1


Mereka berjalan beriringan menuju restoran yang menyediakan menu ayam krispy dan burger.


“Saya sering lihat leher ibu merah, seperti terkena gigitan nyamuk. Sekarang juga ada tuh, Bu.” Jawab Nina dengan arah mata yang tertuju pada lehernya.


Sari nyengir dan mengangguk. “Iya kadang memang ada nyamuk, mungkin karena kulitku sensitif jadi mudah merah walau sekali gigit.”


“Oh.” Ucap Nina mengangguk.


“Soalnya di kamarku, ada nyamuk yang gede banget, Nin. Gede banget deh pokoknya.” Kata Sari lagi.


“Di basmi donk, Bu. Di seprot kek.”


“Udah, Nin. Tapi ngga mempan. Tuh nyamuk malah makin ganas menggigitnya. Jadi aku pasrah aja buat di gigit.”


“Kok gitu?” Tanya Nina yang semakin bingung.


“Udah ngga usah di pikiran, mending kita pesan makanan yuk.” Jawab Sari yang langsung menarik tangan Nina, setelah melihat restoran yang ia mau.


Nina berdiri untuk mengantri memesan makanan, sementara Sari duduk di area yang tidak dekat dengan tempat Nina berdiri.


Dari kejauhan ada sepasang mata wanita yang memperhatikan sosok Sari tengah duduk di sana dengan memainkan ponselnya. Wanita itu berdiri dan mencoba menghampiri Sari, sambil melihat sang anak yang tengah asyik bermain di area permainan yang ada di dalam restoran itu.


“Sari..” Panggil wanita itu.


Sari menoleh.


“Eh, kak Sisy.” Jawab sari dengan senyum.


“Pangling gimana?” Tanya Sari.


“Ya pangling, karena kamu makin cantik dan berisi.”


“Ah, masa sih kak.” Jawab Sari malu.


“iya, beneran.”


“Kak Sisy juga makin cantik. Ngomong-ngomong ke sini sama siapa?”


“Berdua aja sama Azka, eh bertiga sama pengasuhnya. Tuh anaknya lagi asyik maen perosotan.” Arah mata Sisy menuju sang putra yang bermain di sana. ia pun ikut duduk di hadapan Sari.


Arah mata Sari mengikuti arah mata Sisy.


“Azka sudah besar ya, Kak.”


Sisy mengangguk.


“Kak, Maaf ya, sebelumnya Sari tidak pernah menemui kak Sisy setelah aku dan Rama ber..”


“Ih, ngga apa-apa. Justru harusnya kakak yang minta maaf, karena kakak ngga tau perilaku adik sendiri. Kakak minta maaf ya, Sar.” Sisy memotong pembicaraan Sari yang belum selesai.

__ADS_1


“Tidak apa, Kak. Sari sudah melupakan semua itu kok.”


Sisy mengangguk. “Kamu memang gadis baik, Sar. Sejujurnya kakak masih tidak rela kalian tidak jadi bersama, tapi apa mau di kata, memang seperti ini jalannya.”


“Eh, tapi sekarang Rama sudah banyak berubah loh, Sar. Paska di tinggal kamu, dia jadi lebih dingin sama perempuan, fokusnya cuma kerja kerja dan kerja. Yah emang sih kadang pria mesti di tinggal dulu, baru berasa arti hadirnya orang yang di cintai.” Kata Sisy lagi.


Sari hanya diam.


“Ternyata Rama begitu sangat mencintaimu, Sar. Dia bener-bener ngga bisa move on dari kamu.” Ucap Sisy lagi.


“Tapi, aku sekarang sudah menikah, Kak. Dan sedang mengandung juga.” Jawab Sari lirih.


Sisy mengangguk. “Iya.”


“Dengan berjalannya waktu, pasti Rama akan bisa mendapatkan wanita yang lebih baik dari aku, Kak.” Kata Sari lagi, yang langsung di angguki Sisy.


“Eh iya, Mas ihsan kerja di kantor suamimu, loh.” Sisy mengalihkan topik pembicaraan.


“Oh ya?” Tanya Sari tak percaya.


Sisy mengangguk. “Yang lebih dulu kasih tau kalau kamu ada di Jakarta itu ya mas Ihsan. Dia lihat kamu jalan bergandengan dengan bos besarnya di lift.”


“Sari mengingat lagi saat pertama kali ke kantor suaminya. “Oh. Itu. ya ampun dunia tidak selebar daun kelor ya, Kak.”.


Keduanya pun tertawa.


“Kamu tinggal di mana sekarang, Sar?” Tanya Sisy lagi.


Tak lama kemudian, Nina datang dengan membawa satu nampan yang penuh dengan pesanan majikannya.


“Bu, ini makanannya.” Nina menaruh makana itu persis di depan Sari.


“Ini Nina, asisten rumah tanggaku.” Sari mengenalkan Nina pada Sisy


Nina menunduk hormat pada Sisy, dan Sisy pun tersenyum.


“Aku tingga di sini, Kak. Di apartemen sebelah lantai 4. Kakak mau mampir?”


Sisy menggeleng. “Ngga Sar, lain waktu aja.”


Kemudian, Sisy di hampiri Azka dan pengasuhnya. Azka merengek untuk pulang.


“Sar, aku duluan ya. Si Azka mulai rewel nih.”


“Iya, Kak. Daah abang ganteng.” Ucap Sari, sambil mengelus pipi Azka.


“Kapan-kapan kita ketemuan lagi ya? Nomor kamu masih yang lama kan?” tanya Sisy sebelum ia pergi.


“Masih kok, Kak.”

__ADS_1


“Okey, Bye.” Sisy melambaikan tangannya dan pergi.


Lalu, Sari dan Nina melanjutkan makan.


__ADS_2