Istriku Canduku 2

Istriku Canduku 2
~bonus chapter 9~


__ADS_3

Enam bulan kemudian.


Mobil David tepat terparkir di halaman rumah david yang luas. Walau pun bangunan rumah itu minimalis, tetapi halaman depan dan halaman belakang rumah itu sangat luas. Sari menyukai halaman dan taman yang luas.


Saat ini, David mempekerjakan supir pribadi, karena jalan Jaakrta semakin lama semakin padat pada pagi dan sore hari. Ia merasa penat jika harus menyetir mobil itu sendiri.


Sari mendengar deru suara mobil yang sudah terparkir di luar rumahnya. Malam semakin larut, Melvin dan Quinza pun sudah tidur di kamarnya masing-masing. Sari tengah berada di kamarnya sambi menunggu sang suami pulang. Mendengar suara mobil di sana, Sari langsung bangun dan berkaca, lalu sedikit menyemprotkan parfum kesukaan suaminya di leher, lengan, dan pakaianya. Ia pun segera keluar kamar dan menghampiri suaminya yang masih berada di lantai bawah.


David mengembang senyum, saat melihat istri tercinta menuruni anak tangga. Sari juga membalas senyum suaminya dengan senyuman yang manis.


“Capek ya.” Sari membuka jas dan dasi suaminya.


David kembali tersenyum. “Ya, tapi kalau sudah bertemu denganmu, semua lelah itu hilang.”


“Hmm..” Sari melingkarkan kedua tangannya pada pinggang suaminya.


David pun membalas pelukan itu dan mencium kening Sari. Lalu, Sari menengadahkan kepalanya dan mencium bibir suaminya. David langsung membalas ciuman itu, hingga terjadilah pangutan bibir yang cukup lama.


“Mau makan?” Tanya Sari.


“Boleh, sepertinya aku lapar lagi. Kamu buat makanan apa?”


"Creme Brulee.”


“Wah enak dong.” Jawab David sambil merangkul sang istri dan sama-sama berjalan menuju dapur.


Sari tersenyum dan melepaskan rangkulan itu, ketika mereka sampai di meja makan. “Aku hangatkan dulu ya.”


David mengangguk.


Sebenarnya, ia sudah makan malam, tapi Sari sering membuatkan makanan dessert Internasional atau lokal yang enak dan sayang jika di lewatkan. Ibunda dari Melvin dan Quinza itu memang hobby memasak, jika David tak rajin olahraga mungkin perutnya akan semakin buncit dan badan yang membulat. Seperti malam ini, Sari membuat Creme Brulee, desseert terkenal dari Prancis yang terbuat dari susu, telur, gula, dan vanili. Kedua anak mereka sangat menyukai makanan ini.


David menghampiri sang istri yang berada di dapur untuk menghangatkan makanan itu. ia berjalan sambil menggulungkan lengan kemejanya hingga siku.


Sari tersenyum ke arah suaminya, ketika melihat David mendekatinya. David memeluk Sari dari belakang, ia senang menggoda sang istri ketika sedang memasak.


“Anak-anak sudah tidur?” Tanya David lirih di telinga Sari.


“Iya, mereka baru saja tidur.”


“Aku ingin.” Suara David terdengar berat.


Sari tahu suaminya tengah berhasrat. Memang beberapa hari terakhir, David selalu sibuk dengan pekerjaannya, kalaupun ia ada di rumah, ia akan menghabiskan banyak waktu bersama kedua anaknya. Di tambah lagi Samuel yang sering menelepon untuk membantunya mengurus perusahaan sang ayah di London, mengingat Matt sudah tak lagi bisa di andalkan karena adiknya itu saat ini tengah asyik berpetualang.


Sari berdiri di depan microwafe. Ia menunggu makanan yang sudah tersedia di dalam mangkuk itu hangat. Sedangkan David terus menempel pada tubuh sang istri dari belakang, ia menelusuri bagian leher dan bahu sari dengan bibirnya, sesekali ia pun menggigit bagian itu.


“Di sini masih merah.” David membuka satu tali baju tidur sari yang ada di bahunya. Ia memeperlihatkan beberapa bagian yang masih terlihat merah karena gigitannya.


Sari menoleh, “Di sana memang selalu merah, tidak pernah tidak.”


David tertawa. “Salah sendiri, kenapa selalu buat orang gemas setiap hari.”


Sari ikut tertawa.


“Sayang.” Panggil David.


“Hmm..”


“Aku ingin.”


“Makan dulu, sebentar lagi hangat.” Jawab sari sembari menunjuk microwave itu.

__ADS_1


“Anak-anak dan pengasuhnya sudah tidur kan? Aku ingin di sini.” Ujar David dengan tangan yang sudah menjeljahi bagian kesukaannya.


Sari memutar tubuhnya. “Kalau tiba-tiba Minah bangun gimana?”


Aminah adalah asisten rumah tangga yang baru bekerja hampir enam bulan di sini sebagai pengganti Nina.


“Iya, ngga apa-apa, pelajaran buat dia nanti kalau sudah menikah.”


Sari memukul lengan suaminya yang masih melingkar di pinggangnya.


“Ngga, enak aja.” Cibir sari, membuat david tertawa.


David dengan cepat mencium bibir Sari dan tangannya membuka bahan yang menutupi bagian inti Sari.


“Aku akan melakukannya dengan cepat.” Ucap David, setelah terlepas dari pangutan itu.


David dengan lihai mencumbu sang istri. Sari menatap mata suaminya yang di liputi gairah. Ia selalu pasrah dengan apa yang di lakukan David padanya, karena semua yang ada di tubuh Sari adalah miliknya dan Sari pun merasakan kenikmatan dari semua yang David berikan.


Dengan tetap di posisi itu, David melakukan penyatuan. Kali ini David melakukannya cukup cepat dan sedikit tidak lembut, hingga Sari mencengkram tangannya pada ujung marmer kitchen set itu. Tak lama kemudian, David memutar tubuh Sari dan kembali melakukan penyatuan dari arah depan. David menggendong Sari seperti koala dengan tetap berada dalam penyatuan. Ia membawa Sari ke sofa.


“Mas, jangan di sana! takut ada yang lihat.” Ucap Sari menunjuk ke arah sofa, karena sofa itu dekat sekali dengan anak tangga. Ia khwatir akan ada keluar kamar dan melihat aksi liar mereka.


“Baiklah, kalau begitu di sini saja.” David mendudukkan Sari di meja makan. lalu, David kembali melakukan aksinya hingga ia benar-benar terpuaskan.


“Ngg..” Erang David, ketika ia telah sampai dan melepas pelepasannya. David memeluk erat sang istri yang duduk di meja makan sementara dirinya tetap berdiri.


“Hmm..” David masih berteriak halus untuk melepas sisa-sisa hasil dari penyatuan tadi.


Sari mengalungkan kedua tangannya pada leher David.


“Terima kasih, Sayang.” Ucap David lirih di telinga Sari.


Sari mengendurkan pelukannya untuk menatap wajah sang suami. David tersenyum dan mengusap bulir-bulir sedikit keringat yang ada di dahi Sari.


“I love you, Hubby.”


“Love you more.” Jawab david dengan kembali mencium bibir Sari sekilas.


David menggendong Sari untuk turun dari meja makan itu dan Sari kembali merapihkan pakaiannya, lalu, kembali ke dapur untuk membawa makanan yang telah di hangatkan tadi.


David dengan tenang duduk di meja makan dan tersenyum saat Sari menghampirinya dengan membawa satu mangkuk creme bluee.


“Kok satu, kamu tidak ikutan makan?” Tanya David saat sari sudah duduk di sampingnya.


Sari menggeleng. “Aku sudah kenyang.”


“Kenyang dengan permainanku tadi?” Tanya David meledek.


“Bisa iya juga sih.” Jawab Sari mengangguk dan tersenyum.


“Hmm.. enak.” David memasukkan sendok yang berisi makanan dessert prancis itu ke mulutnya.


“Kalau begitu aku suapin kamu. Aaa..” David membawa satu sendok creme itu ke depan mulut Sari.


“Aku udah kenyang, Mas. Beneran. Aku udah makan creme itu tiga kali.”


“Oh, ya? Banyak sekali.”


Sari tertawa. “Ngga tau kenapa, aku lagi doyan makan.”


Sari bangun dari duduknya dan menuangkan air putih ke gelas suaminya. lalu, ia duduk lagi di samping David.

__ADS_1


“Tunggu. Apa kamu hamil?” Tanya David yang langsung menaruh sendok dan tangannya beralih memeluk istrinya dari samping sambil mengelus perut yang kini sudah rata kembali.


Sari menggeleng. “Sepertinya tidak, aku kan memang doyan makan.”


David tertawa. “Tapi bisa jadi kamu hamil lagi.”


Tepat satu hari setelah mengantar Ardi ke bandara dan melepas sang adik untuk melanjutkan pendidikan di Florida, David mengantar Sari untuk melepas alat penunda kehamilan yang tertanam di rahimnya.


“Melvin sudah berusia empat tahun dan Quinza dua setengah tahun. Mereka sudah besar cukup besar dan siap untuk memiliki adik.” Kata David lagi.


“Semoga saja, kamu hamil.” David mencium perut Sari dan Sari mengelus rambut suaminya.


“Kamu ingin bayi lagi?”


David menganggukkan kepalanya. Kemudian, kembali menengadahkan kepalanya. “Aku ingin anak yang banyak darimu, agar mansion Daddy semakin ramai.”


“Mansion daddy? Apa kita akan menetap di London?” Tanya Sari bingung.


“Sepertinya begitu. Uncel Sam selalu mengeluh dia sudah sakit ini, sakit itu. walau hingga saat ini aku mash mengulur waktu dengan alasan belum bisa meninggalkan perkerjaanku di sini.” Jawab David lirih dan menyandarkan tubuhnya pada kursi.


Lalu, ia kembali menoleh ke wajah istrinya. “Kamu tidak apa kan, jika kita menetap di sana?”


Sari terdiam. Sebenarnya ia berat untuk meninggalkan negara ini, mengingat kedua orang tuanya saat ini hanya memilikinya, sementara sang adik pun berada jauh di negeri orang.


“Ayah dan Ibu, Bagaimana?” Tanya Sari lirih.


“Itu juga yang membuatku berat.”


Sari dan David terdiam.


“Mas.” Sari menggeser duduknya untuk berhadapan dekat dengan sang suami.


“Apa keputusanmu?” Tanya Sari serius.


“Belum ada.” Jawab David sambil menyuapkan sendok terakhir ke mulutnya.


Sari tersenyum ke arah David. “Mas, apapun keputusanmu, aku akan dukung dan kemana pun kamu pergi, aku akan ikut dan selalu menemanimu.”


David tersenyum dengan kata-kata yang menenangkan dari sang istri. Kata-kata ini yang selalu ia ingin dengar dari mulut Sari, mengingat mereka adalah pasangan yang berbeda negara, hingga masing-masing dari mereka harus berbesar hati jika memilih menetap di salah satu negara tempat kelahiran mereka itu.


“Walau kamu akan berjauhan dengan Ayah dan Ibu?” Tanya David lembut, mengingat Sari sanagt dekat dengan kedua orang tuanya.


“Ketika anak perempuan sudah menikah, maka orang tua harus rela melepasnya.” Jawab Sari.


“Begitukah?” Tanya David.


“Tapi aku tidak rela jika Quinza besar nanti, bawa oleh suaminya.”


Sari tertawa. “Dasar posessive.”


David mememluk tubuh Sari dari samping. Mereka saling berpelukan erat.


“Kalau kita, tua dan anak-anak besar. Kita akan berdua lagi.” Ucap Sari di pelukan David.


David mengangguk. “Berarti haneymoon lagi.”


Sari melonggarkan pelukannya. “Itu kalau kamu masih kuat.”


“Hei, walau sudah tua nanti aku tetap kuat. Ada pepatah bilang makin tua itu makin jadi.”


Sari tertawa. “Ya, ya. Aku percaya.”

__ADS_1


David kembali merangkul kepala sang istri dan memitingnya, membuat kedua insan ini kembali tertawa bahagia.


__ADS_2