Istriku Canduku 2

Istriku Canduku 2
Gaya sama, walau dari ibu yang berbeda


__ADS_3

“Mas, nanti aku ke panti sama Ardi dan Nina ya.” Ucap Sari sambil bergelayutan di lengan suaminya yang sedang merapihkan dirinya di depan cermin.


David membalikkan tubuhnya. Lalu, ia menarik pinggang Sari, hingga dadanya menempel pada perut datar pria bule itu.


“Morning kiss.” David langsung memajukan wajahnya. Namun, Sari dengan cepat memundurkan wajahnya ke belakang.


“Ga mau aku cium?” Ledek David.


Sari tertawa dan menggeleng. “Ceritanya aku masih ngambek.”


Sari kesal dengan sang suami yang tak membolehkannya belajar menyetir mobil sendiri. Padahal Sari ingin sekali bisa menyetir, sehingga kemana-mana tak perlu merepotkan suaminya. Apalagi harus mempekerjakan seorang supir probadi untuknya


“Orang ngambek emang bisa ketawa ya?” Ledek David.


“Aku kan orangnya ga sombong, jadi walau pun lagi ngambek tetap tersenyum.” Jawab Sari yang masih tersenyum.


“Gemes.” David langsung memakan bibir Sari dan mengemutnya bagai permen.


Seolah gemas yang berkepanjangan, hingga membuat David tak mau menyudahi pangutan itu. padahal Sari sudah sangat lihai membalasnya. Namun, ciuman suaminya itu tak kunjung berhenti.


“Mmmpphh..” Suara Sari tertahan karena David masih membungkamnya. Sari meronta dengan memukul dada suaminya yang masih bidang.


David sengaja memberi istrinya peringatan, lalu tak lama kemudian ia pun menyudahi pangutan itu. David tersenyum licik, sementara Sari ngos-ngosan dan menghirup udara sebanyak-banyaknya.


“Maaass.. ngeselin.” Sari terus memukul dada David. Sementara yang di pukul malah tertawa geli.


David mengambil tangan Sari dan memeluknya. “Makanya jangan keras kepala!”


“Aku kan hanya tidak ingin menyusahkan Mas terus. Lagi pula dulu waktu SMA, aku pernah di ajari ayah menyetir, jadi sebenarnya sekarang tinggal mengulang saja.”


“No, aku bilang ngga, ya ngga. Aku takut kamu kenapa-napa. Oke.”


“Jangan keras kepala!” David mencubit ujung hidung Sari dan melepaskan pelukan itu.


“Nanti sore, aku jemput kalian di panti.” David memakai jam tangan di tangan kanannya, lalu bersiap untuk keluar kamar.


“Tapi, Mas? Mas.” Sari mengikuti langkah sang suami.


“Mas.” Sari masih merengek.


“Sayang, dengar. Aku akan mengabulkan apapun permintaanmu, kecuali ini. Oke. Kumohon mengertilah.” Kata David lirih.


Memang David terlalu possesive, biarlah. Ia hanya tidak ingin terjadi sesuatu pada istrinya. Apalagi David tahu betul jika sang istri adalah wanita yang ceroboh dan mudah panik. Ia tidak ingin mengambil resiko dan amit-amit jika sampai kehilangan istrinya hanya karena permintaan bodoh ini. sementara ia masih mampu untuk mengantar ke mana pun yang Sari mau. Lagi pula saat ini, David juga telah menggunakan jasa supir pribadi untuk sang istri. Namun, entah mengapa Sari lebih senang kemana-mana dengan mengemudi sendiri. Terkadang ia risih jika satu mobil oleh pria yang bukan suaminya. Bukan berlebihan, tapi karena memang trauma masa lalu Sari yang pernah di nodai dan sempat ingin di nodai untuk kedua kalinya, membuat ia lebih berhati-hati dengan lawan jenis. Padahal supir Sari yang telah di pilihkan David pun bukan pria sembarangan. Pastinya sudah melalui tahap seleksi loyalitas yang tinggi untuk menjaga sang ratu.


Sari menarik nafasnya. “Yo wis lah.”


“Kamu cukup duduk manis, ratuku.” Ucap David lagi dan mengecup bibir Sari sekilas.


“Ekhem.” Ardi berdehem, ketika melihat sang kakak tengah di skium oleh suaminya.


“Ngga dulu, ngga sekarang. Kalo kerumah ini selalu di suguhkan 21+, kasihan sekali Nina yang setiap hari melihat ini.” Ledek Ardi sambil berjalan melewati Sari dan David.


David dan Sari hanya tertawa dan tak menanggapi ledekan sang adik. Ia mengantar suaminya keluar, tapi sebelum itu David tak pernah absen untuk mencium pipi putra putrinya. Melvin langsung di bawa Nina untuk berangkat ke sekolah play grup. Melvin baru satu bulan di masukkan oleh sang ibu ke tempat itu, hanya untuk melatih anak itu untuk bersosalisasi dengan anak-anak seusianya.


Sari menggendong Quinza dan mengantar suaminya hingga ia masuk ke dalam mobil.


“Dah, papa. Hati-hati ya.” Sari melambaikan tangannya ke arah jendela mobil David yang terbuka.


“Ti-ti, Pa.” Ucap Quinza yang masih bicara huruf belakangnya saja.


David membalas lambaian tangan itu dengan penuh senyum. Lalu, melajukan mobilnya.


****


Setelah Melvin pulang dari play ground. Sari bersiap untuk berangkat ke panti asuhan milik Elvira yang kini di kelola oleh Teguh dan Ratih.


“Mba, udah siap belum?” Teriak Ardi dari luar kamar Sari.


“Iya udah. Ayo!” Sari pun keluar dari kamarnya.

__ADS_1


Ardi melihat sang kakak dari rambut hingga ujung kaki, karena semua yang di pakai Sari terlihat bermerk dan cukup mahal.


“Wah mbaku benar-benar udah jadi milyarder nih.” Ledek Ardi.


“Apa sih kamu. Ini semua pemberian Mas David. Aku mah di kasih iya aja.”


Ardi tersenyum. “Ya aku seneng liat mba Sari sekarang. Bahagia.”


Lalu Ardi merangkul kakaknya yang tidak lebih tinggi darinya.


“Nin, Ayo! Ardi pun ingin merangkul Nina.


“Eh ngapain?” Protes Sari yang melihat Ardi tengah menggandeng asistennya.


“Ngajak, Nina jalan.” Jawab Ardi.


“Ya tapi ga mesti ngerangkul gitu kali.”


Ardi pun tertwa, sedangkan Nina hanya menunduk malu. Entah mengapa hati Nina sangat senang bukan kepalang mellihat kehadiran Ardi di sini. Jantungnya selalu berdegup kencang saat melihat adik lelaki majikan perempuannya itu.


“Mama, kita mau ke tempat Mbah kung sama Uti, ya?” Tanya Melvin yang sudah duduk di samping kemudi bersama Ardi. Melvin tak lepas dalam gendongan om nya itu. Apalagi Ardi sangat gemas dengan ponakannya ini.


Sari duduk di belakang Ardi bersama Nina yang sedang menggendong Quinza duduk di belakang supir.


“Asyik, Melvin ketemu banyak teman-teman di sana.”


Di panti asuhan itu, melvin memang banyak mempunyai teman, karena Sari sering mengunjungi tempat itu, sehingga membuat kedua anaknya pun familiar dengan orang-orang yang ada di sana.


“Assalamualaikum.” Sari dan Nina bersamaa ketika sampai di panti asuhan itu.


“Micum.” Ucap Quinza yang telat memberi salam, membuat yang lain tertawa mendengar celotehan lucunya.


“Micum, cucu Uti.” Ratih langsung melebarkan tangannya untuk menggendong Quinza.


“Uti.” Quinza yang masih dalam gendongan Sari pun ikut melebarkan kedua tangannya.


“Melvin.”


Teguh menyapa kedua cucunya. Mencium pipinya dan menggendongnya.


“Ibu, Ayah.” Ardi yang belakangan datang karena dari luar ia di hadang oleh banyak anak-anak kecil untuk meminta jatah coklat yang sengaja Ardi bawa untuk di bagikan ke mereka.


“Ardi..” Ratih berteriak di telinga suaminya.


“Ibu pelan-pelan apa suaranya.” Ucap Teguh.


“ibu kaget pak, ternyata ada Ardi.” Jawab Ratih riang.


“Iya, tapi jangan buat gendang telinga ayah rusak.” Kata Teguh.


Sontak semuanya pun tertawa. Hal ini yang membuat Ardi merindukan kedua orang tuanya. sari pun hanya bisa menggeleng, karena semakin hari, Teguh dan ratih seperti Tom and Jerry. Entah bagaimana mereka mengelola panti ini beruda. Walau lebih sering Teguh yang mengalah pada istrinya.


Ardi pun menghampiri kedua orang tuanya. ia menyalami dan memeluk kedua orang tuanya. Ratih tak henti-hentinya mencium sang putra.


“Ibu kangen, Ar.”


“Sama, Bu. Ardi juga kangen.”


“Kok tumben kamu di bolehkan pulang. Nak?” Tanya Teguh.


“Hmm.. kebetulan ada hal yang ingin Ardi bicarakan dengan Ibu, Ayah, dan Mba Sari.”


Setelah bercengkrama dan menikamti makan siang. Nina menemani Melvin dan Quinza yang bermain di taman bersama anak-anak yang lain di sana. kebetulan di sana pun sedang ada mahasiswa psikolog yang bersedia menjadi relawan untuk mengajarkan anak-anak bermain sempoa. Anak mahasiswa itu sering mengajar di alam terbuka seperti saat ini.


“Ayah, Ibu, Mba Sari. Ardi mau minta izin.”


“Kelihatannya serius sekali. Ada apa, Ar?” Tanya Sari penasaran.


“Iya. Nih. Jangan bilang kamu mau melamar anak orang.” Celetuk Ratih.

__ADS_1


“Ibu.” Tegur teguh.


“Apa sih, Bu.” Kata Ardi.


“Ardi ingin minta izin untuk pergi ke Florida.”


“Apa? Kok bisa?’ Tanya Sari terkejut.


“Kamu terpilih, Nak?” Tanya Teguh.


“Flo, Flo, apa itu? itu di daerah mana? Kalimantan ya?” Tanya Ratih.


“Itu di Amerika, Bu.” Jawab Sari.


Teguh sama sekali tidak terkejut, karena sebelum Ardi mendaftarkan diri, ia sudah memberitahu hal ini pada sang ayah.


“Iya, Yah. dari seribu orang pendaftar, hanya dua orang yang di terima dan itu Ardi salah satunya.”


“Selamat, Nak.” Teguh langsung memeluk Ardi erat.


“Maksudnya, Yah?” Tanya Sari.


“Iya, Ardi terpilih untuk melanjutkan pendidikan di Florida.”


Sari menutup mulutnya yang menganga. “Ya ampun, Dek. Kamu hebat banget. Ga nyangka mba tuh.”


Sari ikut memeluk sang adik.


“Jadi, kamu bakalan ninggalin ibu lagi?” Tanya Ratih.


“Hanya dua tahun, Bu.”


Ratih pun memeluk putranya. Keempat anggota keluarga ini saling berpelukan.


Ardi ingin menjadi pasukan pengaman presiden. Karena untuk menjadi perwira seperti itu harus orang pilihan. Oleh karenanya, Ardi mengikuti pendidikan dahulu di sana.


****


Di sisi lain. David tengah menelepon sang adik yang tak kunjung mengunjunginya di sini. padahal sudah satu bulan lalu, Matt berkata akan mengunjungi rumah sang kakak.


“Matt, kamu ngapain di Bali?” Tanya David saat melakukan panggilan video call, sekalian memastikan kegiatan apa yang di lakukan sang adik di sana.


“Aku di sini, baru memulai bisnis bersama Mike.” Jawab Matt dengan menegdarkan lokasi di layar ponselnya itu.


“Itu hotel siapa?” Tanya David.


“Ini hotel yang aku beli separuh sahamnya bersama Mike. Rencananya akan aku ambil alih semua saham hotel ini. Doakan, Dav.” Matt semakin mahir menggunakan bahasa Indonesia.


“Are you seriosly?” Tanya David.


“Sure.”


“Lalu, bagaimana usaha Daddy di sana?”


“Uncle Sam masih sangat kuat untuk menangani segala hal di sana, apalagi dia di bantu oleh sahabatnya dan istri tercintanya.”


“Kau ini.”


Matt hanya nyengir.


“Lalu, kapan kau kesini?”


“I don’t know. Yang pasti aku sibuk mengurus bisnis ini sekarang. Mungkin tahun depan.”


David menggelengkan kepalanya. “Up to you.”


Lagi-lagi Matt hanya tertawa menampilkan jejeran giginya yang rapih.


Kemudian, David menutup panggilan telepon itu. Matt persis seperti dirinya dulu. Ia hanya tersenyum. Gaya mereka memang sebelas dua belas, walau dari ibu yang berbeda.

__ADS_1


__ADS_2