Istriku Canduku 2

Istriku Canduku 2
beda budaya


__ADS_3

"Wah, ini oleh-oleh dari pak Teguh?” Tanya Dito, yang merupakan atasan Teguh di kantornya.


Dito adalah salah satu orang yang ada di ruangan interogasi saat Teguh di tuduh menyelewengkan anggaran walikota.


Teguh mengangguk. “Iya pak, tiga hari kemarin saya ke Singapur.”


“jadi, benar. Sari sudah menikah dengan pria asing kemarin itu?” Tanya Dito lagi.


“Benar, pak.” Teguh mengangguk.


“Wah, pak Teguh hebat, dapat mantu wong sugih.” Ucap salah satu karyawan yang duduk di samping Teguh.


“kalau saya, yang penting anak saya bahagia. Pak.” Jawab teguh pada teman di sebelahnya tadi.


Dito hanya mencibir. “Ternyata Sari wanita pemilih ya, Pak. Sudah lama di jakarta sih.”


Dito pergi, setelah kalimat ambigunya terlontar.


Teguh hanya diam.


“Pak Dito, memang mulutnya pedas. Biasa itu mah Pak.” Kata karyawan wanita di sebelah Tegu lagi.


Teguh mengangguk.


Dito sudah hampir lima tahun menjadi atasan Teguh. Usianya jauh di bawah Teguh. Ia sudah memiliki istri dan satu anak yang masih sangat kecil. Istri Dito bekerja di Bank BUMN di kota Malang dengan jabatan branch manager cabang.


Awal Dito menjadi atasan Teguh, sikapnya sangat ramah dan bersahabat. Dito juga sering berkunjung ke rumahnya. Satu waktu, sari sedang berada di rumah Teguh dan bertemu dengan Dito. Sari pun berbincang hangat dengan atasan ayahnya ini, saat Dito datang dan Teguh baru berada di kaamr mandi dan sholat. Sari menemani Dito yang menunggu ayahnya lama. Lalu. Mereka obrolan mereka semakin nyambung. Dito menyukai sari yang supel dan riang, tidak seperti istrinya yang dingin dan kaku.


Dito yang berusia 45 tahun, masih terlihat muda dan gagah.


Kemudian, Dito dan Sari bertukar nomor ponsel. Dito sering menelepon atau sms Sari. Awalnya Sari menanggapi, tetapi semakin hari kata-kata yang di lontarkan Dito semakin aneh. Atasan ayahnya ini sering mengucapkan ‘sayang dan kangen’. Sehingga Sari memblokir nomornya.


Dito pun pernah dengan gentle mengatakan bahwa ia mnyukai sari pada Teguh. Namun, Teguh langsung membantah, karena memang Dito adalah pria beranak dan beristri. Tidak mungkin Teguh memberikan putri kesayangannya pada pria seperti itu. Lambat laun, sikap ramah Dito berubah pada Teguh. kini, sikap Dito ketus pada semua orang. Kasus yang menimpa teguh kemarin, memang karena ulahnya. Dito mulai nakal menggunakan anggaran negara, dan Teguh satu-satunya bawahan yang tak pernah bisa di ajak beekrjasama dalam penyelewangan anggaran.


****


“Kenapa, Pak?” Tanya Ratih pada Teguh, yang baru saja sampai dan duduk di teras rumahnya sambil membuka sepatu.


“Pak Dito, Bu. Dia semakin semena-mena sama Ayah.” Jawab Teguh Lesu.

__ADS_1


“Bapak sih, waktu itu terlalu keras. Kata-kata Ayah mungkin menyinggung dia.” Ucap Ratih.


Memang saat Dito megungkapkan rasanya pada Sari dan ingin meminangnya. Teguh langsung naik pitam, ia marah dan memaki Dito. Kebetulan saat itu mereka berada di ruamh Teguh.


Selang setelah kejadian itu, Sari jarang pulang untuk menghindari Dito dan bertemu dengan Rama.


Teguh mengangguk.


“Habis saat itu ayah jengkel, Bu. Masa, anak kita mau di jadikan istri kedua.” Teguh menarik nafasnya kasar. Ia menyandarkan tubuhnya pada dinding kursi.


“Ya sudah lah, Yah. Sebentar lagi juga ayah pensiun. Betah-betahin aja dulu.”


Teguh mengangguk dan berdiri untuk masuk ke dalam.


“Yang lain, pada kemana, Bu?” Tanya teguh, melihat rumahnya yang sepi.


“Sari lagi di dalam kamarnya, kalau Ardi menemani Nak David ke supermarket. Orang bule minta roti buat sarapan. Lontong sayur yang ibu beli, ndak di makan, Yah.”


“Ya lagian ibu, masa belikan David sarapan, lontong sayur, mana mau dia.”


Ratih nyegir. “Yang dekat dan murah Cuma itu, Yah.”


****


Di supermarket, Ardi mendorong troli yang sangat penuh. David membeli semua makanan di sana. Daging, ayam, sayuran, camilan, bumbu dapur, ikan, dan sebagainya. Ia meminta Ardi memilih makanan yang biasa di beli Ratih, dan Ardi menuruti titah kaka k iparnya.


Alhasil, troli itu penuh, hingga menjunjung ke atas.


“Ardi.” Sapa seorang wanita yang melihat Ardi ebrjalan bersama pria tinggi dan berparas asing.


Sari sengaja tak ikut bersama mereka, karena ia masih ingin istirahat. Perutnya masih sedikit sakit jika berjalan, di tambah kismark yang David lakukan masih sangat berbekas di lehernya. Sehingga ia malu untuk bertemu orang.


“Eh, Dinda.” Ardi menoleh, ternyata gadis yang menyapanya adalah gadis yangia taksir sejak duduk di kelas sepuluh.


David pun menoleh ke arah mata Ardi.


“Your girlfriend?” Tanya David pelan. Saat Dinda berlalri ke arah Ardi.


“Belum, tapi akan.” Jawab Ardi dengan percaya diri.

__ADS_1


“Nice.” Ucap David.


“Hai..” Kini Dinda sudah berdiri persis di hadapan Ardi.


“Kamu lagi belanja juga?”


“Iya.” Ardi mengangguk.


“Ini siapa?” Tanya Dinda kagum melihat ketampanan David.


“KakaK iparku.”


“Hai.” David mengulurkan tangannya, Dinda dengan malu menerima uluran tangan David.


Lalu, david kembali mencari barang yang di perlukan, meninggalkan Ardi dan Dinda berdua.


“Suaminya mba Sari?” Tanya Dinda yang memang kenal dengan anggota keluarga Ardi, karena beberpa kali mereka pernah tugas dan satu kelompok. Dinda pun pernah mengunjungi rumah Ardi untuk belajr kelompok.


Ardi mengangguk. “Ganteng ya.”


“Iya.” Jawab Dinda.


“Mba Sari sekarang kerja di Singapura?” Tanya Dinda lagi.


“Udah engga, setelah menikah. Sekarang mereka lagi ada di rumah nih.”


“Oh.”


“Oiya, Din. Kemarin aku ingin memberikan oleh-oleh, tapi bendanya hilang. Aku cari-cari ngga nenmu, sepertinya ketinggalan di bandara.”


Dinda tersenyum manis. “Tidak apa, Ar. Tidak masalah. lagian aku udah kebagian ini kok.”


Dinda menunjukkan gantungan kunci dengan gambar kepala singa yang ia cantol pada tas yang sedang ia kenakan.


Ardi tersenyum.


David tersenyum melihat Ardi dan Dinda yang sedang malu-malu berbincang berdua. Ia teringat saat ia berada di usia yang sama dengan Ardi. Ia sedih, karena tak seperti Ardi yang hangat dengan kasih sayang keluarga, terutama ibu, membuat David brutal sejak di usia Ardi sekarang. Ia pun sudah mulai mengenal s*x di usia itu.


Jika melihat Ardi yang malu-malu terhadap lawan jenisnya. David di usia itu, langsung membawa gadis yang dekat dengannya ke kamar, bahkan tak jarang teman wanitanya itu yang mengajak David duluan ke kamarnya.

__ADS_1


__ADS_2