
“Sayang..” Panggil David, ketika sampai di apartemennya.
“Mas. Ssst...” Sari menempelkan jari telunjuknya di bibir.
“Jangan berisik! Melvin bru aja tidur.” Ucap sari dengan suara berbisik.
Saat ini, Melvin tengah tertidur di atas ranjang kamar Sari. Setelah lelah bermain dengan sang ibu. Sementara teguh dan Ratih sudah berada di kamarnya, karena mereka pun cukup kelelahan bermain dengan Melvin yang sangat aktif sejak siang hingga sore.
David menghampiri kedua orang yang sangat berarti itu. Ia pun mengecup kening keduanya bergantian.
“Ini serabi pesananmu.”
“Ah, asyik.” Mata sari berbinar.
“Sesenang itu dengan makanan ini?”
Sari mengangguk.
“Lebih senang dengan makanan ini di banding kepulanganku?”
Sari mengangguk lagi, sambil tersenyum.
David mengerucutkan bibirnya. “Baiklah.”
Ia pun melangkah meninggalkan sari yang masih duduk di tepi ranjang. Namun, sari mencekal tangan suaminya.
“Ih,, gitu aja marah. Ga asyik.”
Sari berdiri dan langsung melingkarkan tangannya di leher David. Kakinya berjinjit mensejajarkan wajahnya pada suaminya itu.
Cup
Sari ******* bibir David. Tangan David pun langsung terangkat untuk memegang kepala Sari agar ciuman itu di lakukan lebih dalam dan tak terlepas.
Lama mereka berpangutan bibir dan menyesapnya hingga dalam.
“Mmppphh..” Sari melepas pangutan itu.
“Itu tanda terima kasihku untuk ini.”
“Kurang.” Rengek David.
“Hmm... Mesum.” Sari memukul dada David, membuat pria bule itu tertawa lepas.
“Ssss..” Ucap Sari, karena Melvin bergerak kaget mendengar tawa sang ayah.
“Sorryy.” Jawab david berbisik.
****
“Malik, setelah ini, kita kemana lagi?” Tanya David pada asistennya.
“Ke Restoran Western.”
David mengangguk.
“Setelah ini sudah tidak ada lagi pertemuan kan?”
“No, Sir.”
“Kalau begitu, setelah pertemuan di Restoran Western, saya mau langsung pulang. Kamu juga. Istirahatlah, selama satu bulan ini, kau bekerja sangat giat. Lik.
Malik menoleh ke arah bosnya. “Siap, Sir.”
“Oh, iya. Berapa hari Angel cuti?” Tanya David lagi.
Ia lupa saat ini Angel tengah meminta cuti untuk menemui ayahnya di Bandung yang sedang sakit.
“Tiga hari, Sir. Sepertinya.” Jawab Malik, sambil fokus menyetir.
“Kamu tidak jemput dia ke sana?”
Mereka berbincang di dalam mobil, setelah bertemu klien penting.
Malik terdiam.
“Bukannya, justru saat-saat seperti ini dia sedang membutuhkanmu.” Kata David lagi, mengingatkan asistennya. Ia tahu betul bahwa Malik mencintai sekretarisnya, tapi entah mengapa Malik sendiri yang membuat hubungan itu terasa rumit.
“Kalau besok jadwal kita tidak padat. Saya akan menjemputnya.”
“Good. Buatlah jadwal kita tidak padat besok, supaya kamu bisa menjemput Angel lebih awal.”
“Siap, Sir. Thank you.” Malik tersenyum ke arah bos besarnya.
__ADS_1
“You’re welcome.” David pun membalas senyum itu.
****
Dua minggu berlalu. Teguh dan Ratih masih berada di Jakarta. Justru Ratih lebih betah di sini karena ia sering ke panti dan membantu Elvira di sana. Begitu pun Teguh yang saat ini lebih sering mengajarkan pendidikan agama, menggantikan guru sebenarnya yang sedang sakit tyfus dan harus istirahat beberpa minggu.
Panti asuhan ini, lengkap dengan sekolah dasar dan menengah pertama swasta yang Elvira bangun di sampingnya. Sari pun menjadi donatur tetap untuk panti asuhan dan sekolah dasar milik Elvira.
Tut.. Tut.. Tut..
Sari menelepon sang ayah.
“Iya, Nduk.” Teguh mengangkat telepon itu.
“Ayah, di sini sudah ada Paman Sam. Ayah pulang ya. Biar Ibu tetap di sana dan ke sini nanti barenga Mommy.”
“Iya, Nak.” Teguh menutup teleponnya.
“Ada apa pak?” Tanya Elvira yang melihat Teguh menerima telepon di sudut ruangan.
“Oh, ini. Sari meminta saya pulang lebih dulu, ada kran yang bocor.”
“Yah, ada kran wastafel bocor.” Jawab teguh sediit gagap.
‘Ya ampun, Sari ada-ada saja. Masa kran bocor minta bantuan orang tua, telepon tukang reparasi saja.”
“Tidak apa, Bu. Karena memang saya bisa. Kalau begiu saya pulang duluan.”
“Lalu, Ibu Ratih, Bagaimana?”
“Iya, Ayah.Kok aku di tinggal.” Celetuk Ratih.
“Nanti ibu di antar Bu el saja. Ya, Bu. Tolong antarkan istri saya ke rumah Nak David.”
Elvira mengangguk.
“Baiklah.”
Lalu, Teguh pulang ke apartemen putrinya.
Di apartemen Sari, sudah ada Sam dan George yang baru saja tiba. David, Sari, dan Nina juga sudah menyiapkan kedatangan mereka, juga menyiapkan sedikit pesta kecil-kecilan.
“Wah, kau menyiapkan ini untukku?” Tanya Sam, yang menggunakan bahasa Inggris bercampur Indonesia.
“Oh, Ya. Thank you, Sari.” Sam memeluk Sari.
“You’re welcome, Uncle.”
“Oh, iya. Mat tidak di ajak?”
“Kalau semua ke sini, perusahaan siapa yang akan mengurus, sayang.” Jawab David.
“Oh iya.” Sari tersenyum.
“Kamu tau, Dav. Adikmu sekrang sedang bersemangat belajar bahasa Indonesia.”
“Oh Ya..” David terkejut sambil tersenyum.
George pun megangguk.
“entah dia mengincar siapa? Sepertinya asisten rumah tanggamu ini.” Ucap George melihat ke arah Nina yang sedang meletakkan minuman untuk para tamunya di meja.
Nina tersenyum ke arah George dan Sam, walau ia tidak tahu bahwa mereka tengah membicarakannya.
“Oh, Ya. Wah Mat mengikuti jejak kakaknya, sepertinya.” Ledek Sari.
“Sepertinya.” Sam dan George mengangguk bersama.
Selang beberapa jam kemudian, teguh datang membawa seorang ustadz kenalannya. Lalu, selang beberapa menit kemudian, penghulu pun datang.
“Paman sudah siap?” Tanya David menepuk punggung pamannya.
Sam mengangguk. Ia sudah mengucap syahadat di masjid yang cukup terkenal di Inggirs. Kini ia hanya perlu ijab qobul untuk mengikat Elvira secara resmi.
“Aku tidak pernah sesemangat inni dalam hidup.” Ucap Sam lirih.
“Aku pun merasakan ini dulu.” David memandang wajah sari, ia ingat saat pertama kali akan meminang wanita itu.
“Dav, aku izin padamu sekali lagi, dan aku izin membawa mommy mu setelah ini.”
David mengangguk dan tersenyum. “Saya izinkan, Paman.”
Di panti, Ratih mminta Elvira untuk mengantarnya pulang. Kebetulan Ratih bisa di ajak kerjasama hari ini.
__ADS_1
“Bu, kenapa saya harus berpakaian rapih seperti ini hanya untuk ke rumah David?” Tanya Elvira bingung.
Pasalnya, Elvira harus memakai pakaian yang Ratih berikan tadi pagi untuknya. Sementara pakaian itu sangat formal, persis seperti pakaian wanita yang akan di lamar oleh kekasihnya.
“Tapi Mommy itu cantik dengan pakaian ini. Saya khusus membelikan pakaian ini untuk Jeng Mommy. Pas saya lewat di toko butik, baju ini di pajang bagus banget, jadi saya ingat Jeng Mommy.” Ucap ratih berlebihan, membuat Elvira menggelengkan kepalanya sambil tersenyum.
“Baiklah, ayo kita berangkat!” Ucap Ratih yang sudah melihat Elvira berdandan anggun dan cantik di usianya.
Sesampainya di apartemen, Ratih dan Elvira berjalan perlahan. Entah mengapa batin Elvira terasa ada yang tidak enak. Dadanya berdetak kencang, walau ia tak mengerti apa yang sedang terjadi.
“Jeng Mommy, Ayo!” Ucap Ratih yang sudah berjalan di depan Elvira. Ratih menunggu Elvira hingga jalan mereka bersejajar.
“Oh, iya.” Elvira pun melangkahkan kakinya lebih cepat.
Seampainya di depan pintu apartemen Sari. Ratih menekan pasword di sana dan membuka pintu besar itu.
“Saya terima nikah dan kawinnya Elvira Pratiwi binti Wahidin dengan mas kawin emas dua ratus gram dan seperangkat alat sholat di bayar tunai.”
“Sah.. Sah.. Sah..”
Elvira kebingungan, perlahan ia bersama Ratih yang mengandengnya menuju ke arah Sam yang selsai mengucap ijab qabul.
Elvira mengeryitkan dahinya. Ia tak menyangka dengan situasi ini. hatinya berkecambuk antara senag dan kesal, karena hanya dia orang yang tidak tahu dengan rencana besar ini.
Sam tersenyum ke arah Elvira. Akhirnya, paman david ini mampu mengucapkan ijab qobul dengan lancar, walau hampir dua jam sang penghulu dan ustad yang di bawa Teguh mengajarinya berulang-ulang. Namun, sam mampu menyelesaikannya dengan baik dan di saat kedatangan Elvira tiba.
“Kamu emerencakana ini semua?” Tanya elvira, sambil memukul dada Sam.
“Ini rencana anak dan menantumu.” Jawab Sam.
“Besanmu juga ikut andil.” Geroge melirik ke arah Teguh dan Ratih, sambil tersenyum rapat.
“Ternyata kalian.” Elvira memukul bahu david dan Sari bergantian.
“Kami sayang Mommy.” Sari memeluk mertuanya.
“Terima kasih, Sayang. karena telah mengahdirkan kebahagiaan pada kami.” Elvira membalas pelukan menantunya.
“Kita belum berdoa.” Celetuk pak penghulu yang menunggu kedua mempelai ini ebrbincang dengan sabar. Ia pun dengan sabar membimbing Sam mengucap ijab qabul dengan benar tadiu, walau sebenarnya hatinya sudah dongkol dan gemas karena pria bule ini tak kunjung bisa menyebutkan kalimat itu.
“Barokallahulaku wa barika alaikum wajam’a baynakuma fii khoir..”
“Aamin..” semua orang mengusap wajahnya setelah selesa berdoa.
Elvira yang merupakan yatim piatu, di wakilkan oleh pak penghulu sebagai wakilnya. Sedangkan saksi dari pihak Elvira, David mencarinya dan bertemulah seorang ustadz kenalan Teguh, yang ternyata adalah keponakan dari paman Elvira yang juga sudah tiada.
Sementara David menjadi saksi dari Samuel.
“Akhirnya kamu menjadi istriku.” Kata Sam. Setelah selesai memberikan tanda tangan pada buku yang berwarna merah dan hijau itu.
“Dasar pemaksa.” Jawab Elvira tersenyum ke arah pria yang kini menjadi suaminya.
“Sepertinya, aku dan Dav memang keluarga pemaksa.” Ucap Sam lagi, membuat keduanya tertawa.
“Selamat Jeng Mommy.” Teriak Ratih, setelah prosesi sakral itu terjadi.
Sari dan david memeluk ibunya seraya brkata, “Selamat, Mom. Bahagialah selalu.”
George lebih dulu mengucapkan selamat pada sahabatnya, karena setelah sekian lama akhirnya mimpi itu jadi kenyataan. Kemudian, Teguh dan Nina bergantian memberi ucapan pada kedua mempelai yang tak lagi muda.
“Ayo berfoto!” Kata Ustadz sekaligus keponakan Elvira.
Ceklek.
Disna terlihat senyum sumringah dari kedua mempelai yang di apit oleh anak, menantu, sahabt, besan, dan pak penghulu yang masih setia berada di sini.
“Cheerrs.” Kata Sari yang melebarkan tawanya sambil mengangkat kedua jarinya ke atas. Ratih pun melakukan hal yang sama. Sementara para lelaki tersenyum dengan gaya khas ke eleganan mereka masing-masing. Dan Nina, tersenyum manis di sana.
“Share.” Ucap george yang langsung memasukkan foto itu di sosial media miliknya.
Di Inggris, Mat melihat postingan itu. Ia tersenyum melihat kebahagian sang paman. Senyum yang tak pernah sekalipun terlihat dari wajah itu, setahu Mat. Lalu, arah mata Mat tertuju pada Nina yang tersenyum manis.
Ia mengkrop foto Nina dan menyimpannya.
“Semoga takdirpun menyatukan kita.” Gumam Mat tersenyum.
Walau ia tak tahu kapan akan menjemput atau datang ke negara Nina, karena saat ini ia pun masih melanjutkan kuliah tingkat akhirnya, sambil mengurus perusahaan sang ayah.
Mat menyandarkan punggungnya di kursi besar ruangan kantornya itu. Ia tersenyum lagi melihat semua orang yang tersenyum bahagia di foto yang di bagikan George itu.
T A M A T
______________________________________________
__ADS_1