Istriku Canduku 2

Istriku Canduku 2
dasar gombal!


__ADS_3

Setelah sekian bulan berlalu, Akhirnya Sari mengabarkan pada Inka tentang dirinya. Sari pun mengundang Inka ke acara tujuh bulanan yang akan ia lakukan di Malang. Inka senang sekali, ia pun berencana akan datang menemui Sari. Sari sudah seperti saudara baginya, terlebih lagi Sari adalah malaikat penolong Inka pada malam petaka itu.


Inka berdiri di balkon rumahnya. Ia sedang berfikir alasan yang tepat, agar Mario memberi izin padanya untuk datang di acara Sari.


Mario mengedarkan pandangan, sambil mengibas rambutnya yag basah. Ia baru saja keluar dari kamar mandi, tapi matanya tak melihat sosok sang istri di sana. Mario bergegas memakai baju yang sudah di siapkan Inka di atas tempat tidur. Setelah itu, ia mencari Inka, sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil.


Mario melangkahkan kakinya ke arah balkon. Benar saja, Inka terlihat sedang berdiri membelakanginya di sana.


Mario melempar handuk kecil itu ke sembarang tempat. Lalu, ia menghampiri sang istri. Ia menempelkan tubuhnya pada Inka dan melingkarkan tangannya pada pinggang istrinya.


“Ada apa?” Tanya Mario lembut di telinga Inka.


“Hmm..” Inka menoleh dan memegang wajah sang suami dari depan.


“Sudah selesai mandi?” Inka balik bertanya dan langsung di angguki Mario.


“Apa yang sedang kamu pikirkan?” Tanya Mario lagi.


“Tapi janji kamu tidak boleh marah.” Inka membalikkan tubuhnya dan mengelus wajah suaminya.


Sesaat Mario memejamkan mata saat sentuhan tangan sang istri menjelajahi wajahnya.


“Boleh aku datang ke acara tujuh bulanan Sari di Malang?”


Mata Mario terbuka.


“Kamu membahas ini lagi? Sudah ku bilang, aku tak sudi bertemu David. Please, sayang. Mengertilah.” Ucap Mario lirih.


Sungguh rasa benci Mario pada David masih terasa hingga ubun-ubun.


“Please, Sayang. Mengertilah! Sari sudah seperti saudara bagiku, dia assistenku bahkan malaikat penolongku. Aku ingin menemuinya. Lagi pula sepertinya mereka sudah hidup bahagia.”


Sesaat Mario terdiam. Ia pun menyadari bahwa David memang sudah berubah. Hampir semua teman-temannya bercerita bahwa David sudah berubah 190 derajat, bahkan seorang David yang selalu menjelajah wanita, kini tidak lagi menyentuh wanita manapun selain istrinya. Saat ini ia memang sudah menemukan wanita yang di cintai.


“Ya, boleh ya?” Tanya Inka lagi.


“Tapi aku tidak mau ikut.” Jawab Mario.


“Kalau begitu, aku ke sana bersama Sukma, sekalian dia pulang kampung.” Ucap Inka dengan mata berbinar.


Hari ini adalah hari terakhir Sukma bekerja di rumah Mario, karena dua minggu yang lalu, ia resmi di lamar Husein si pengusaha Dubai. Sukma sudah berpamitan kepada semua orang di rumah ini dan lusa ia akan kembali ke Malang.


“Lalu, bagaimana pulangnya? Kamu sendirian?”


“Sukma pasti akan antar aku dulu ke bandara. It’s oke Sayang. Dulu aku pernah ke paris pulang pergi sendirian, apalagi ini hanya Malang.” Ucap Inka tersenyum.


“Tapi tidak boleh menginap. Pagi berangkat, sore pulang. Aku ngga mau tidur sendirian.” Rengek Mario.

__ADS_1


“Dasar bayi besar.” Inka mencubit hidung mancung suaminya.


****


Di Malang, Sari dan David sudah berada di rumah Teguh. Walau sedikit canggung, David terus berusaha untuk mengakrabkan diri dengan Teguh, seperti awal dia datang ke rumah ini. kemana pun Teguh berada, David berusaha menemaninya.


David memang selalu bangun lebih pagi dari Sari, seperti hari ini. ia menuju dapur untuk membuatkan Sari susu.


“Sedang apa, Nak?” Tanya Ratih yang melihat David mengaduk-aduk sendok di dalam gelas.


“Membuat susu untuk Sari, Bu.” Jawab David sambil menoleh ke arah Ratih.


“Sari nya sudah bangun?”


David menggeleng. “Belum, Bu.”


Teguh yang baru saja duduk di meja makan, mendengar percakapan antara istri dan menantunya.


“Ya ampun, Yah. Kelakuan putrimu itu, sudah punya suami masih saja bangun siang. Moso’ suaminya yang buatkan susu. Kebalik itu. Dasar emang si Sari bikin malu saja.” Ujar Ratih pada Teguh.


David tersenyum mendengar penuturan ibu mertuanya.


“Tidak apa, Bu.”


“Maafkan Sari ya, Nak, dia memang suka seenaknya, maklum dia itu di manja sekali oleh ayahnya.” Ratih melirik ke arah Teguh.


“Oalah, beruntung sekali si Sari.” Ujar Ratih, setelah David berpamitan untuk kembali ke kamarnya.


Kemudian, Ratih menghampiri Teguh.


“Ayah, masih marah sama Nak David?”


“Ndak, Bu.”


“Terus kenapa toh, masih diam saja.”


“Memang ayah harus bilang apa? Toh ibu dari tadi sudah nyerocos terus.”


“ih, ayah.” Ratih mendorong bahu suaminya, hingga hampir terjatuh dari kursi yang ia duduki.


Lalu, Teguh tertawa.


Di dalam kamar, David mencoba membangunkan Sari. Ia melihat wajah mungil sang istri yang masih memejamkan mata. Tangan David terangkat untuk menyentuh hidungnya.


“Bangun. Ayo minum susu!” David menoel hidung Sari dan memencetnya.


“Hmm..” Sari menggeliat dan perlahan membuka matanya.

__ADS_1


“Memang sudah pagi?” tanyanya dengan mata yang masih setengah terbuka


“Semua sudah bangun, kecuali kamu.”


Lalu, David memberikan segelas susu hamil seperti biasa. Sari perlahan bangun dan duduk, ia pun menerima gelas dari tangan suaminya.


Glek..Glek.. Glek..


David tertawa mendengar suara dari tenggorokan Sari.


“Sudah seperti di gurun pasir.” Ucap David tersenyum.


Sari yang menyadari pun hanya bisa nyengir, menampilakan jejeran giginya, di tambah sisa coklat yang menempel di atas bibirnya, membuat Sari praktis seperti bocah bangun tidur.


David mengeluarkan ponselnya dan langsung


Ceklek


Ia memoto keadaan Sari sekarang.


“Penampakan anak SD bangun tidur.” David menunjukkan hasil jepretannya pada Sari.


Sari langsung menangkap ponsel David, tapi dengan cepat David menghindarkan ponselnya dari jangkauan Sari.


“Tau-tau an anak SD, emang anak SD apa?” Tanya Sari memicingkan matanya.


“Tau dong. Anak SD itu anak yang sekolah dari usia tujuh sampai 12 tahun kan? Dan itu kamu, nih.” David memperlihatkan lagi foto di ponselnya tadi dengan jarak yang lumayan jauh dari Sari.


Sari bangkit dari tempat tidur. ia berdiri untuk meraih ponsel David yang sengaja di bentangkan ke atas oleh tangan suaminya.


“Berikan, aku mau lihat.”


David menggeleng. “Tidak, nanti kamu hapus.”


“Itu jelek.”


“Bagus.”


“Jelek.”


Cup


David mencium bibir Sari dan menyesap sisa coklat yang berada di atas bibirnya.


“Kamu cantik, apapun yang ada pada dirimu, aku menyukainya.”


“Dasar gombal.” Sari memukul dada David.

__ADS_1


Kemudian, David mengekuh tubuh Sari dan mereka pun tertawa.


__ADS_2