Istriku Canduku 2

Istriku Canduku 2
tak boleh egois


__ADS_3

Di Jakarta, Rama menyibukkan dirinya dengan bekerja. Ia malas untuk kembali menjalin hubungan dengan wanita manapun. Setelah penat dengan bekerja, ia akan pergi ke club, menikmati dunia gemerlap malam di temani dengan beberapa teman kantornya yang memiliki gaya hidup sama.


“Ram, kamu menghindariku?” Tanya Anita yang tak lagi dekat dengan Rama.


Ia sudah duduk.lama di lobby kantor Rama. ia sengaja menuggu Rama di sini untuk bertemu.


Rama menghelakan nafasnya. Setelah hubungannya kandas bersama Sari, ia tak mau bertemu Anita lagi, karena dengan memandang wajahnya menambah rasa bersalahnya terhadap Sari. Ia mengakui bahwa dirinya adalah pria bodoh yang tidak bersyukur, telah mendapatkan berlian di genggaman tapi masih mencari keindahan yang lain. Padahal kilauan berlian di genggamannya, seharusnya tak perlu membuatnya berpaling pada keindahan yang lain.


“Lebih baik kita tak lagi bertemu, An.” Jawab Rama lirih.


“Apa kamu menyesal dengan apa yang pernah kita lakukan? Apa kamu menyalahkanku atas kandasnya pernikahanmu bersama Sari?”


Rama menggeleng. “Aku yang salah.”


“Lalu, mengapa kamu menjauh dariku?”


Lagi-lagi, Rama menghelakan nafasya. Lalu memegang kedua bahu Anita.


“Yang salah adalah kebiasaan kita. Aku ingin menghentikannya, karena jika kita masih seperti ini, kita tidak akan pernah mendapat pasangan.” Ucap Rama lagi dengan lembut.


“Tapi aku tak bisa jauh darimu, Ram.” Mata Anita seolah ingin menangis.


“Apa kita tak bisa lagi seperti dulu?” Anita menatap Rama intens.

__ADS_1


Rama tetap menggeleng. “Tidak bisa. Kita hanya teman, An. Dari dulu hingga kini, aku hanya menganggapmu sebagai teman.”


Rama kemudian, bergegas pergi dari hadapan Anita.


“Rama, aku mencintaimu.” Teriak Anita, membuat langkah Rama terhenti.


Ia semakin menyadari bahwa ini adalah kesalahan terbesar yang membuatnya semakin tak bisa menggapai Sari.


Rama tetap berjalan, mengabaikan panggilan Anita dan mengabaikan pernyataan cinta wanita yang telah lama menjadi sahabatnya itu.


****


Setelah berjam-jam di perjalanan. David dan keluarga Sari sampai di rumah Teguh menjelang maghrib. Mereka memasuki kamar masing-masing dengan menggeret kopernya masing-masing.


Saari pun langsung ke kaamr mandi dan membersihkan tubuhnya. lalu, ia masuk ke kamar.


Sari langsung menjatuhkan dirinya di tempat tidur yang tak seempuk tempat tidur milik David. Ia menelentangkan tubuhnya, dengan tangan di bentangkan ke atas.


David melihat pemandangan indah di depannya, karena saat ini Sari sudah mengganti bajunya dengan dres yang sangat pendek tanpa lengan, membuat dres itu terangkat ketika Sari mengangkat tanganya ke atas.


David tak tahan melihat itu. Ia langsung manaiki tempat tidur Sari dan menindihnya. Hasrat David sudah lama tak di salurkan. Keberaniannya pun sudah jauh lebih meningkat di banding sebelumnya, karena Sari selalu mengatakan pada semua orang bahwa dirinya adalah suaminya, walau itu hal wajar dan biasa. Namun, untuk David, seolah Sari mengikrarkan pada semua orang kalau dia adalah miliknya.


“Sudah siap?” Tanya David lirih.

__ADS_1


Sari terdiam. Ia bingung ingin menjawab apa. Satu sisi David berhak atas dirinya, di sisi lain ia masih takut akan trauma itu.


Perlahan Sari menganggukkan kepalanya.


David tersenyum, karena Sari sudah memberikan lampu hijau. Ia pun mulai menelusuri area wajah Sari. Ia mengecup kedua mata Sari, ujung hidung, dan kedua pipinya. Lalu, lama David memandang mata Sari. Pandangan mereka bertemu tanpa bicara. Bibir David pun masih sulit mengatakan cinta, yang pasti ia nyaman berada di dekat wanita ini dan bersamanya seolah masa lalunya yang buruk terhenti, berganti dengan masa depan yang lebih baik. Ia juga tak lagi berhasrat dengan wanita lain dan tak lagi berada di dunia malam nan gemerlap.


Bibir David beralih ke leher jenjang Sari. Mencium dan menggigitnya lama di area itu. Sari menikmati cumbuan suaminya. Ia tak menolak dan tak lagi menjerit mengatakan “jangan..sakit”.


David membuka perlahan pakaian Sari, dan berada lama di kedua gunung kembarnya yang tidak besar juga tidak kecil. Terus bibirnya menelusuri hingga ke bagian perut, dan ketika di sana gerakan David pun terhenti. Ia ingat bahwa Sari baru saja melakukan perjalanan jauh.


Ia membantingkan tubuhnya ke samping.


“Kenapa?” Tanya Sari bingung. Ia merasa kehilangan sensani nikmat yang di berikan David tadi.


David menggeleng. “Aku tidak boleh egois.”


Sari mngeryitkan dahinya.


David memiringkan tubuhnya, agar lebih dekat dengan tubuh Sari.


“Aku korban ke egoisan ibuku. Dan aku tak akan melakukan hal yang sama untuknya.” Kata David, sambil mengelus perut Sari.


“Aku tahu kamu pasti lelah karena baru saja kita melakukan perjalanan jauh, dan dia di sini mungkin juga lelah. Jadi istirahatlah!” David berkata lagi. Kali ini tangannya sudah mengusap rambut Sari dan memasangkan tubuhnya agar Sari masuk dalam pelukannya.

__ADS_1


“Baiklah.” Sari langsung menuruti titah suaminya.


Padahal jauh di lubuk hatinya yang paling dalam, ia berkata, “oo, ya ampun. Padahal aku udah siapkan mental, malah ngga jadi.”


__ADS_2