Istriku Canduku 2

Istriku Canduku 2
malaikat itu menantuku


__ADS_3

Keesokan harinya, David menepati janji untuk mengantarkan Sari ke tempat Elvira. Sari beralasan bahwa ia ingin mengembalikan tempat makan yang di berikan Elvira kemarin.


“Nina, di mana? Aku tak melihatya sejak semalam.” Tanya David, sambil menyesap secangkir kopi yang Sari buatkan.


“Oh, itu. Aku mendaftarkan Sari untuk melanjutkan sekolah menengah atas, tapi dia belajar di sore hari, nah semalam adalah hari pertama dia masuk sekolah itu.”


“Oh.”


“Maaf aku baru bilang padamu. Kamu tidak keberatan kan?”


David menoleh dan tersenyum.


“Itu hal yang baik, mengapa keberatan?”


Sari mengela nafasnya lega. “Syukurlah, aku pikir kamu akan memarahi aku atau Nina.”


“Aku bukan orang jahat.” Ucap David menyeringai, lalu ia menyesap lagi kopi di tangannya.


Tak lama kemudian Sari dan David bersiap untuk pergi.


David merogoh saku celananya untuk mengambil ponselnya. Ia menekan nomor Angel.


“Angel, saya akan telat datang ke kantor. Kamu siapkan saja dokumen yang akan kita rapatkan pada bagian operasional siang nanti.” Perintah David,


Lalu, ia mematikan telepon itu dan memasukkannya kembali ke dalam saku celananya.


Mereka berjalan melewati apartemen yang di sewa Rama. Namun pagi ini dan selama satu minggu ke depan, Rama tidak berada di apartemennya, karena ia harus pergi keluar kota untuk pekerjaannya.


Di dalam mobil, Sari tak henti-hentinya mengembang senyum. Ia berharap Elvira akan senang dengan kehadiran putranya. Walaupun mungkin David akan marah, tapi ia perlahan akan meluluhkan hati suaminya.


Empat puluh menit kemudian, mereka sampai di depan panti asuhan itu. Sari dengan gembira langsung masuk ke dalam, sementara David berjalan perlahan. Entah mengapa hatinya dag dig dug, tidak biasa ia merasakan hal semacam ini.


Sari menoleh ke belakang, kemudian ia menghampiri sang suami dan menariknya, agar dapat berjalan lebih cepat lagi.


“Ayo donk jalannya lebih cepat! Biasanya selalu aku yang tertinggal karena kaki panjangmu.” Celoteh Sari yang hany di balas senyum dari sang suami.

__ADS_1


“Assalamualaikum.” Sapa Sari saat ia masuk ke dalam panti itu.


“Waalaikumsalam.” Ucap anak-anak kecil yang berada di dalam.


Mereka berhamburan memeluk Sari.


“Mommy El, ada kak Sari datang lagi.” Ucap salah satu anak di sana yang berusia sepuluh tahun berlari ke arah Elvira.


Lalu Elvira menoleh ke arah Sari, sontak beberapa buku yang berada di dekapannya terjatuh, karena Elvira terkejut degan kehadiran sosok pria yang berada persis di samping Sari.


David pun menatap sosok wanita paruh baya yang sangat ia benci, sekaligus ia sayangi. Rahangnya mengeras tatkala ia ingat kejadian di masa kecilnya. Namun melihat wajah sedih Elvira, ia pun rindu untuk memeluknya.


Elvira menghampiri David dengan langkah perlahan.


“Putraku..”


“Putraku..” Gumam Elvira di sela langkahnya.


Namun, David hanya berdiri mematung, sedangkan Sari dan anak-anak di sana hanya menonton.


“Dav.. David putra Mommy. Mommy rindu kamu, sangat rindu.” Ucap Elvira lirih yang sudah memeluk tubuh David tanpa balasan.


“Aku bukan anakmu, sejak kau meninggalkanku.” Ujar David dingin.


“Ayo pulang!” David menarik tangan Sari.


“Mulai detik ini, aku melarang kamu datang lagi ke tempat ini.” Ucap David pada Sari dengan tegas.


Kemudian David meninggalkan Elvira, sedangkan Sari hanya mengikuti langkah suaminya yang cepat.


“David.. Sari..” Elvira terus memanggil sambil berlari keluar.


“David.. maafkan mommy.. Dav... maafkan mommy.” Teriak Elvira yang terus mengejar putra dan menantunya.


David tak menoleh ke belakang sekalipun, hanya Sari yang menoleh ke arah Elvira dengan sedih.

__ADS_1


Sari menghentakkan tangannya. “Selesaikan urusanmu. Kamu tidak bisa menghindar seperti ini terus.”


Mata David memerah memandang istrinya.


“Jadi ini rencanamu?”


“Aku hanya ingin kalian bertemu? banyak kesalah pahaman yang terjadi, Mas. Mommy El tidak seburuk yang kamu ceritakan.”


“Kamu tahu apa? Aku yang merasakannya. Kamu tidak pernah merasakan kepahitan di masa kecil karena kamu memiliki keluarga yang harmonis.” Jawab David dengan penuh emosi.


“Memangnya salahku kalau aku memiliki keluarga harmonis, lalu salah Mommy yang membuatmu merasakan kepahitan di masa kecil. Berdamailah dengan keadaan Mas, seperti aku yang berdamai dengan keadaan saat memaafkan dan menerimamu.” Ucap Sari tegas.


David semakin membulatkan matanya ke arah Sari. Sementara Elvira, menunggu David menghampiri dan memeluknya di sana. Namun hal itu tidak terjadi.


“Kita pulang.” David langsung memasuki mobil.


“Mommy, Sari dan David pamit.” Teriak Sari dari kejauhan ke arah Elvira, dan Elvira pun mengangguk.


Lalu, Sari pun masuk ke dalam mobil.


“Terima kasih Tuhan, Engkau telah mengirim malaikat itu sebagai menantuku.” Gumam Elvira tersenyum.


Sementara di dalam mobil, David masih diam. Aura wajahnya sangat dingin, membuat orang yang melihatnya pasti akan takut.


“Mas, seharusnya kamu mendengar penjelasan mommy El, kamu harus tahu mengapa dia meninggalkanmu saat itu, karena waktu itu kamu masih kecil akan sangat sulit di ajak diskusi tentang urusan orang dewasa. Tapi sekarang, bahkan kamu akan menjadi ayah, kamu pasti mengerti mengapa Mommy mengambil keputusan terburukmya itu. Kamu juga bisa tanyakan uncle Sam, karena dia adalah saksi hidup atas keputusan mommy pada saat itu.”


David menoleh ke arah Sari sekilas dengan mulut yang masih membungkam. Lalu, pandangannya kembali lurus ke depan.


“Mas, tidak ada bekas anak atau bekas ibu, tapi kalau bekas istri ada.” Ucap Sari lagi.


David menolehkan wajahnya lagi.


“Bisakah kamu diam!” bentaknya.


Sontak membuat Sari langsung terdiam, mendapatkan bentakan dari orang yang di sayangi itu sangatlah perih, seperti hati yang tercubit.

__ADS_1


__ADS_2