
Sari memasuki apartemennya dengan ceria, pasalnya ia membawa makanan kesukaan suaminya langsung buatan tangan sang ibu mertua, walau antara anak dan ibu itu tak menyadari bahwa mereka sungguh dekat.
Sari pun memasuki kamarnya. Ia melepas semua pakaian yang ia kenakan tadi, hanya menyisakan pakaian dalamnya saja. Selain hormon ibu hamil yang suka dengan sentuhan suaminya, ibu hamil juga sering di landa hawa panas. Seperti saat ini, ia merasa lengket setelah setengah harian berada di luar. Sari menghadapkan dirinya di depan AC sambil mengibas-ngibas rambutnya dan bertolak pinggang.
Di ruangan kantor, David duduk sambil memegang ponselnya. Ia tersenyum memperhatikan tingkah sang istri.
Kemudian, Sari menoleh ke samping AC, ia memajukan tubuhnya terus ke arah benda kecil yang terdapat persis di samping AC yang menempel di dinding.
“Itu apa?” Tanya Sari bergumam.
Arah mata Sari terus menatap benda kecil yang menyorot pada dirinya. Ia masih bertolak pinggang, sambil memperhatikan benda itu dan semakin maju untuk melihat lebih jelas.
“Ya ampun, ini cctv?”
Sari langsung mengambil kembali pakaian yang sudah teronggok di lantai.
“Ish, kamu menyebalkan, mengapa di kamar menggunakan cctv? Hah. Dasar bule gila.” Teriak Sari, di depan cctv itu, sambil tolak pinggang dan mangacungkan jarinya ke atas dengan hanya menggunakan pakaian dalam.
Di sana, David terus tertawa. Ia pun begegas mengambil jasnya dan segera pulang. Ia tak tahan untuk bertemu istri tercintanya.
Sesampainya di apartemen, David langsung masuk ke dalam dan menuju kamarnya. Ia tak melihat Sari di sana. Lalu, ia langsung menuju dapur dan melihat sosok yang dari tadi membuatnya gemas.
“Hai, aku mencarimu ternyata ada di sini.” Ucap David di telinga Sari, karena ia langsung melingkarkan lengannya di pinggang yang tidak lagi ramping itu.
Sari menggelungkan tinggi rambutnya ke atas, memudahkan David untuk menjelajahi bagian leher jenjangnya.
David terus mengendus bagian kesukaannya itu, karena aroma tubuh Sari membuatnya terlena, terlebih saat ini Sari baru saja selesai membersihkan diri.
“Aku lagi ngga mau bicara, jangan ganggu!” Jawab Sari ketus.
“Nah itu bicara.” David mengubah posisi menjadi berdiri bersandar pada kitchen set itu sehingga dapat berhadapan dengan sang istri.
“Aku lagi kesal.”
“Sama siapa?” Tanya David pura-pura tidak tahu.
“Sama bule nyebelin. Tau ngga masa tuh bule masang cctv di kamar, jangan-jangan dia pasang cctv di kamar mandi, di dapur, atau di ruang tamu juga kali.” Sari marah-marah tidak jelas, sambil menunjuk beberapa ruangan.
“Emang siapa sih bulenya? Yang mana orangnya?” David semakin mendekatkan tubuhnya pada Sari.
“Pokoknya ada, bule gila nyebelin. Sebel banget pokoknya.” Sari masih marah-marah dengan bibir merengut dan memasang wajah garang.
David tertawa. “Ini kamu lagi marah?”
“Bukan, ini bukan marah, tapi lagi ngedongeng.”
David semakin tergelak.
__ADS_1
“Lama-lama aku bisa gila beneran.” Gumam Sari.
Kemudian, David langsung menggendong Sari ala bridal, membawanya menuju kamar.
“Sudah semakin berat, tapi aku suka.” Ucap David sambil menggendong sang istri.
“Kalau berat jangan di gen..”
Cup
David langsung ******* bibir Sari lagi, sehingga perkataan Sari terpotong. Lagi-lagi David gemas dengan sang istri yang banyak bicara, ia membungkamnya dengan sebuah ciuman panas. Sari pun tak menyia-nyiakan hal ini, ia ikut terbawa dalam permainan lidah David.
Kemudian, Sari di baringkan di ranjang dan David dengan cepat membuka pakaiannya satu persatu, hingga penyatuan itu pun kembali terjadi. Kali ini David melakukannya lebih lama, membuat Sari semakin melenguh, merasakan kenikmatan surga dunia yang tiada tara.
Setelah lebih dari satu jam bergelut dan mendapatkan pelepasan masing-masing. Seperti biasa, David langsung menarik tubuh Sari untuk di peluknya.
“Mas..” Sari emnegakkan kepalanya untuk melihat wajah David.
“Hmm...” David mengulurkan tangannya untuk mengelap keringat di dahi dan di antara bawah hidup di atas bibir Sari.
“Jangan pakai cctv! Copotin semuanya.” Rengek Sari.
David menggeleng. “Memang kenapa? Kamu terganggu?”
“Tentu saja, aku seperti tidak punya privasi.”
David tersenyum.
“Aku bekerja untukmu dan calon anak kita, tidak lebih. kamu bisa tanya Malik dan Angel.” Jawab David.
“Kalau aku tanya mereka, bisa saja kamu sogok mereka dulu supaya bicara yang baik-baik saja, kamu kan bosnya pasti mereka takut padamu.”
Cup
David kembali mencium bibir Sari.
“Mmmpphh..” Sari mendorong dada David hingga terlepas.
“Banyak bicara.” Ucap David, sambil menekan ujung hidung Sari, hingga kepala Sari ikut bergoyang.
Tiba-tiba, Kriuk.. kriuk..
Suara perut sari terdengar kencang.
“Kamu lapar?”
Sari nyengir kuda, membuat David pun ikut tersenyum. Lalu, David menggendong istrinya lagi menuju kamar mandi.
__ADS_1
“Kita bersih-bersih dulu. Oke.” Ucap david sambil menggendong Sari ala bridal.
Sari tersenyum dan mengangguk.
****
Sari menarik David menuju ruang makan.
“Ayo kita cobain makanan yang di berikan Mommy El.” Ujar Sari.
“Memang dia memberikan makanan apa? Sepertinya kamu begitu antusias.”
“Dia membuat smoked salmon, rasanya enaaak banget. Kamu harus coba.” Jawab sari antusias.
Kini, mereka sudah duduk di meja makan. Sari membuka tempat makan yang di berikan Elvira. Lalu, mennuangkannya untuk suaminya.
“Nah, ini. Ayo coba!” Sari memberikan piring yang berisikan makanan buatan Elvira.
David menatap piring itu, sesekali ia meirik ke arah Sari dan piring itu. Tampilan menu yang di berikan sari mirip dengan makanan yang sering ia minta pada ibunya.
David menerima piring itu perlahan. Lalu, ia pun mencicipi makanan itu dan mengunyahnya perlahan. Sementara Sari sudah dengan lahap memakan makanan itu, sambil memperhatikan ekspresi suaminya.
“Enak kan?” Tanya Sari pada David.
David masih terdiam, ia menikmati setiap kunyahan makanan itu dengan perlahan. Sungguh ia jenal rasa ini, ia hafal rasa makanan yang sudah puluhan tahun tak pernah ia coba lagi.
David mengangguk.
“Bagaimana enak kan? Jawab.”
David mengangguk lagi. “Iya enak.”
“Siapa yang membuat makanan ini?” Tanya David, membuat Sari terdiam. Ia bingung ingin memberitahu hal ini sekarang atau nanti.
“Mommy El, pemilik panti asuhan harapan bangsa yang sering aku kunjungi akhir-akhir ini.”
“Oh.” David membulatkan bibirnya.
“Apa kamu ingin menemuinya? Orangnya sangat baik.”
“Kalian dekat?” Tanya David lagi.
“Sekarang, kami sangat dekat. Dia seperti ibu bagiku, banyak pelajaran yang aku dapat darinya.”
David mengangguk. “Boleh, besok aku akan mengantarmu ke tempat itu.”
“Benarkah?” Mata Sari berbinar.
__ADS_1
David mengangguk tanda setuju.
Sari pun langsung beranjak dari duduknya, lalu memeluk David yang masih duduk di meja makan.