
David memasuki apartemennya dengan tergesa-gesa. Ia langsung menuju kamarnya, di sana tak terlihat sosok wanita yang ia cari. Langkah kaki David yang panjang dengan cepat beralih ke kamar mandi. Namun, tak menemukan istrinya di sana. kemudian ia menuju dapur dan langkahnya terhenti saat arah matanya menangkap Sari tengah tertawa bersama Nina di ruang laundry.
David langsung memeluk Sari dari belakang, membuat kedua wanita yang sedang tertawa itu brhenti dengan aktifitasnya.
Cup
David ******* bibir Sari di depan Nina. Sonatk Nina langsung meunutup matanya dengan kedua tangannya.
Sari pun membalas pangutan itu, sekaligus menghilangkan rasa bersalahnya karena telah bertemu dan berbincang lama dengan mantan kekasihnya.
David tak menyia-nyiakan kesempatan itu, ia pun mencium sang istri dengan rakus.
Nina sesekali mengintip dari celah lubang tangannya yang sengaja tidak rapat.
“Sudah belum?” Tanya Nina, sontak membuat Sari tersadar bahwa di sana sedang ada anak kecil.
“Mmmpphh..” Sari mendorong dada David, kemudian David pun melepas pangutan itu.
“Mas, ada Nina.” Rengek Sari.
“Sudah selesai ya?” Tanya Nina dengan polos, sambil membuka telapak tangan yang menutupi wajahnya.
“Maaf ya, Nin. Jangan coba-coba mempraktikkan adegan yang kamu lihat tadi dengan pria yang bukan apa-apa kamu.” Sari memperingatkan Nina.
Lalu, dengan polosnya Nina mengangguk patuh.
David tersenyum dan langsung menggendong Sari yang sedikit lebih berat.
“Aaa..” Teriak Sari saat David tiba-tiba menggendongnya ala bridal.
“Sudah tidak marah lagi padaku?” Tanya David, membawa Sari ke kamar yang masih dalam gendongannya.
“Marah ngga ya?” Sari memicingkan matanya.
Cup
David kembali mencium bibir istrinya dengan gemas. Lalu, menidurkannya di ranjang, saat mereka sudah sampai di kamarnya.
“Maafkan aku.” Ucap David, sambil mengelus wajah Sari dan menindihnya dengan satu tangan yang menjadi penyangga agar ia tidak terlalu menindih perut istrinya yang kian membulat.
“Aku tahu kamu peduli padaku. Aku tahu niatmu baik. Tapi, aku masih shock dengan keadaan ini, aku masih butuh waktu.”
Sari pun mengelus wajah tampan suaminya.
“Aku mengerti, memang butuh waktu untuk bisa memaafkan dan menerima keadaan yang membuat kita sakit hati.”
__ADS_1
“Pergilah menemui Uncle Sam, karena beliau satu-satunya kunci kebenaran dari semua kebencian yang ada di hatimu.” Ucap Sari lagi.
David mengangguk.
“Tapi jika aku menemui uncle Sam, aku akan lama meninggalkanmu.” Kata David.
“Tidak apa, sementara kau pulang ke Inggris, aku juga akan pulang ke Malang. Bagaimana?” Sari tersenyum.
David ikut tersenyum, ia setuju dengan saran sang istri.
“Ide bagus.” Jawab David.
“Sekalian aku akan mengadakan tujuh bulanan di sana.”
“Tujuh bulanan?” Tanya David tak mengerti.
“Iya, tujuh bulanan itu, mengadakan pengajian untuk mendoakan bayi kita supaya lahir dengan selamat, mudah, dan selalu sehat.”
“Oo begitu. Baiklah, kamu atur saja.” Jawab David dengan tangan yang terus membelai wajah sang istri.
“Memang berapa hari kamu akan pulang? Apa sangat lama di sana?” Tanya Sari, mengerutkan bibirnya.
“Apa kamu begitu merindukanku?” David balik bertanya.
“Bukan aku yang merindukanmu, tapi dia.” Tunjuk Sari pada perutnya yang membulat.
David mulai mengginggit leher jenjang Sari.
“Jangan sekarang!” Sari menahan tangan David yang akan membuka dres yang ia kenakan.
“Aku lapar, dari tadi belum makan, pasti kamu juga belum kan?”
David mengangguk.
“Aku tak sempat makan, karena wajah sedihmu selalu ada di sini.” David menunjuk kepalanya.
Sari tertawa.
“Harusnya kamu membelikanku bunga tadi, sebagai tanda ucapan maaf. Dasar tidak romantis. Bukannya kasih aku bunga malah langsung nyosor aja.” Gerutu Sari.
David tertawa.
“Cara romantisku tidak dengan kata-kata atau bunga, tapi di ranjang.”
“Huwa..” Teriak Sari yang langsung melepas pelukan suaminya itu.
__ADS_1
Sari langsung bangkit dari tempat tidur.
“Dasar, mesum.”
Bugh..
Sari melempar batal tepat di wajah David yang sedang tertawa geli. Kemudian, Sari berjalan melewati David yang masih berada di atas tempat tidur.
“Aku mau makan. Bye.” Ucap Sari melambaikan tangan dan melaju menuju pintu.
Namun, dengan cepat David berdiri dan menahan langkah sang istri. Lalu, meenggendongnya kembali dan menidurkan sari lagi di tempat tidur itu.
“Mas, ih.. aku beneran laper ini. Nanti aja sih.” Rengek Sari, mencoba keluar dari kungkungan David.
“Kamu menu utamaku.” Kata David yang mulai melakukan aksinya.
Sari yang mudah terbawa sentuhan suaminya pun hanya bisa pasrah. Ia melayani nafsu David yang sudah membara. Kegundahan, resah, dan gelisah yang David rasakan sebelumnya tiba-tiba hilang, seiring kenikmatan yang tengah mereka ciptakan saat ini.
****
Satu minggu kemudian, David mengantar Sari ke Malang. Setelah acara tujuh bulanan di sana, David langsung menuju negaranya untuk bertemu Uncle Sam. Ia juga tak memperbolehkan lagi istrinya mengunjungi panti asuhan milik sang ibu. Sementara di sana, Elvira selalu menunggu kedatangan Sari.
Namun, Sari tak kalah akal. Ia tetap berkomunikasi dengan ibu mertuanya. Ia pun menjelaskan kondisi suaminya saat ini. Elvira sangat mengerti, ia sadar bahwa putranya memang butuh waktu untuk mengerti keadaannya.
Sebelumnya, Sari juga sudah memberitahu keluarganya untuk tidak jadi datang ke Jakarta, karena rencana berubah dan kini dia yang akan mengunjungi keluarganya di sana. Ratih dan Ardi sangat senang, begitu pun Teguh. Sari juga merengek pada David untuk mengajak Elvira. Namun, David mengabaikan permintaan sang istri.
“Mas, aku boleh ya, meminta Mommy El untuk datang di acara tujuh bulanan nanti.” Rengek Sari, saat keduanya tengah berada di dalam pesawat.
David masih diam. Ia merangkul pundak Sari, agar sang istri dapat bersandar pada dada bidangnya.
“Nanti dia ngeces, kalau tidak di turuti permintaannya.” Kaat Sari lagi.
“Ngeces apa?” Tanya David mengeryitkan dahinya.
“Itu loh, air liur yang mengalir dari bibir tak berhenti.”
“Sure? Memang seperti itu?”
“Iya, kalau ibu hamil permintaannya tidak di berikan, anaknya bisa jadi seperti itu.”
“Alasan.” Ucap David lagi.
“Ya sudah kalau tidak percaya.” Sari meluruskan tubuhnya dan bersedekap.
Lalu, David kembali meraih kepala Sari, agar wanita itu tertidur di dadanya.
__ADS_1
“Perjalanan masih lama, istirahatlah.” Ucap David, mengecup pucuk kepala istrinya.