
“Lik, siapkan semua dokumen yang harus saya tandatangani lagi, karena minggu depan saya berangkat ke Inggris.” Perintah David pada asistennya di kantor.
“Siap, Bos. Semua sudah saya siapkan.” Sahut Malik, yang langsung di angguki David.
“Oke.”
Kemudian, Malik pamit dari ruangan bosnya, setelah mendapat tanda tangan dokumen untuk keperluan pekerjaannya.
“Oiya, Lik. Satu lagi. Jangan lupa siapkan jet pribadi untuk minggu depan.” Perintah David untuk kenyamanan akamodasi keluarganya selama perjalanan menuju negara asalnya nanti.
Malik Mengangguk dan pergi.
Tak lama kemudian, Angel masuk ke ruangan David.
Tok.. Tok..
“Pak, maaf saya hanya mengingatkan satu jam lagi, kita bertemu Mr. Chang.”
“Oke, tolong kamu bilang juga ke Malik, supaya dia siap-siap. Kita jalan bertiga.” Jawab David.
“Dengan saya juga, pak?” Angel menunjuk dirinya sendiri. Pasalnya ia jarang sekali ikut keluar kantor bersama bos besarnya ini, karena David selalu bersama Malik sebagai asisten pribadinya, sedangkan Angel hanya mengatur jadwal dan selalu standby di kantor.
“Tentu saja, kamu dan Malik akan sering bekerja sama menangani projek ini selama saya di Inggris, karena kemungkinan saya akan lama di sana dan semua pekerjaan ini saya percayakan penuh pada kalian berdua.”
Angel mengangguk.
Ia merasa tidak nyaman ketika harus bekerja sama langsung dengan Malik, karena biasanya Malik selalu berhubungan langsung dengan David, dan hanya sesekali bersinggungan dengan Angel, walau sebenarnya di balik hubungan perkejaan itu ada sebuah hubungan pribadi yang lain yang jauh lebih dekat. Namun, terkadang Malik juga bisa lebih keras pada Angel, jika itu berhubungan dengan pekerjaan. Bahkan, Angel pernah di bentak keras oleh Malik di depan umum karena kesalahannya yang cukup fatal, kesalahan yang membuat Malik harus merombak laporannya. Hal itu sontak membuat Angel menangis, karena Malik memperlakukannya seperti orang lain, walau apa yang Malik lakukan adalah benar dan sebuah profesionalisme dalam bekerja. Namun, wanita tetaplah memiliki sensitifitas yang sangat tinggi.
Tok.. Tok..
Angel membuka pelan pintu ruangan Malik.
“Maaf mengganggu, saya di minta Pak David untuk mengingatkan bapak, agar siap-siap, karena setengah jam lagi pertemuan dengan Mr, Chang di hotel xxx.”
Malik menatap intens wajah kekasihnya yang hanya menunduk sambil berkata. Ia menghela nafasnya kasar, saat Angel langsung pergi tanpa menunggu jawaban darinya.
Sepasang kekasih yang sangat dekat hingga seperti layaknya pasangan suami istri ini, memang sedang dalam pertengkaran. Malik tidak menyukai keputusan Angel yang sudah mendaftarkan diri untuk melanjutkan kuliah S2 nya di malam hari. Ia hanya tidak rela, jika waktu kebersamaan dengan sang kekasih berkurang, sementara Angel merasa perlu untuk melakukan ini, agar ia layak menjadi calon istri Malik di hadapan keluarga
Malik memang tergolong keluarga kaya. Ayah Malik juga memiliki perusahaan sendiri, begitupun sang ibu yang seorang dokter. Namun, perceraian kedua orang tuanya, ketika ia berusia 12 tahun, membuatnya merasa tidak membutuhkan keluarga. Ia di jejali oleh materi yang berlimpah, tapi tidak dengan kehangatan keluarga. Ia pun lebih memilih tingga di apartemen sendiri, setelah sang ibu menyusul sang ayah yang lebih dulu menikah untuk kedua kalinya.
Setelah siap, Angel, David, dan Malik berjalan menuju lobby. Lalu, mereka pun memasuki mobil yang sudah berada di depan pintu lobby di sertai sang supir. Angel membuka pintu depan dan duduk di samping supir. Sedangkan David dan Malik duduk di belakangnya.
Di dalam mobil, David hanya mengarahkan tentang beberapa pekerjaan yng harus di kerjakan oleh Malik dan Angel selama dia pergi.
“Angel, selanjutnya kamu harus lebih sering koordinasi dengan Malik. Karena selama saya pergi. Malik yang akan mengambil keputusan melalui koordinasi dari saya. Okey.” Kata David.
__ADS_1
Angel menengok ke belakang dan mengangguk. “Iya pak.”
“Iya, donk. Lagian kalian kan memeng sering bertemu di luar jam kantor, jadi tidak sulit akan dan lebih banyak waktu untuk selalu koordinasi. Bukan begitu?” Tanya David dan langsung di angguki Malik.
Namun dengan waktu bersamaan, Angel malah menggeleng.
“Wah, bagaimana sih? Jawaban kepala kalian kok tidak sama. Payah.” David meledek.
Kemudian Malik dan Angel hanya tersenyum kecut.
Beberapa menit kemudian, mereka sampai di hotel sesuai dengan janji kedua belah pihat, ternyata Mr. Chang bersama asisten dan sekretarisnya pun sudah berada di sana.
“Hai, Mr. David.” Mr. Chang mengulurkan tangannya kepada David.
“Hai.” David pun membalas langsung uluran tangan itu.
Keenam orang itu saling berjabat tangan bergantian. Lalu, mereka mulai berbicara tentang perkerjaan dan kerjasama yang akan mereka lakukan.
Setelah hampir satu setengah jam berdiskusi, mereka pun menemukan kesepakatan.
“Oke, deal.” Ucap David.
“I agree. Deal.” Jawab Mr. Chang.
Tak lama Mr. Chang, asisten, dan sekretarisnya pun pamit di hari yang semakin sore. Angel tengah merapihkan berkas-berkas di meja yang masih berserakan.
“Angel, kamu boleh langsung pulang setelah ini, tidak perlu ke kantor lagi.” Kata David.
“Baik, Pak.” Angel mengangguk dan tersenyum.
Ia pun bergegas untuk pamit.
“Loh, kok kamu diam saja, Lik. Kamu tidak mengantarkan Angel pulang?” Tanya David, membuat Malik dan Angel saling melirik,
Padahal Angel memang mengharapkan itu dari kekasihnya.
“Tidak pak, Angel sudah besar. Dia bisa pulang sendiri.” Jawab Malik santai.
Malik memang sering seperti ini, ia sering mengabaikan perasaan Angel, demi loyalitas pada pekerjaannya. Malik selalu menjadikan Angel prioritas kedua, padahal Angel telah menyerahkan hidupnya pada pria yang ia cintai itu. Ia yakin Malik akan menjadi teman hidupnya kelak. Lalu, perlahan Angel pun keluar dari hotel itu sendiri. Ia sengaja menaiki MRT, karena dengan berjalan kaki dan melihat keadaan di luar, membuatnya lebih refresh.
****
“Sayang..” Panggil Sari dengan suara manja.
Ia mendekata sang suami yang sedang berdiri di depan meja rias.
__ADS_1
“Sini, aku keringkan.”
Sari mengambil handuk kecil yang ada di tangan suaminya. David tersenyum dengan perhatian kecil yang selalu Sari berikan padanya. Kebetulan saat ini, Melvin sudah di pindahkan ke kamarnya sendiri dan di temani oleh Nina di sana, karena Melvin sudah tidak sering bangun dan menyusu di tengah malam.
Sari memijat pelan kepala suaminya, sambil mengeringkan rambutnya. David merasakan pijatan itu dan membuatnya relaks.
“Kamu pintar sekali, Sayang.” Kata david, sambil memejamkan matanya da duduk di depan meja rias itu.
Sari berdiri di belakangnya, sambil memijat kepala David.
“Aku memang pintar dalam segala hal.” Jawab Sari tersenyum.
David membuka matanya dan membalas senyum Sari dari cermin.
“Benar, kamu memang pintar dalam segala hal.”David tersenyum licik.
“Aku tidak suka senyum itu.” Kata Sari yang melihat ekspresi suaminya dari balik cermin. Senyum David yang menampilkan smirk mesumnya.
“Memang kenapa?”
“Aku tau ekspresi senyum itu.” Sari menyudahi aktifitasnya, lalu memberikan handuk itu ke tangan David.
“Loh, kok udahan, rambutku masih basah, Sayang.” David membalikkan tubuhnya.
“Biarin, keringkan sendiri. Hmm..” Sari menggigit bibir bawahnya. Ia sengaja menggoda suaminya yang menyebalkan, suaminya yang sering membuatnya lelah di malam hari.
Sari hendak berjalan keluar kamar. Namun, dengan cepat David mengejar istrinya dan memeluknya dari belakang.
“tidak semudah itu untuk kabur dariku, Sayang.” David tertawa dan menggelitiki Sari di bagian tengkuk lehernya. Bagian yang sering membuat Sari kegelian.
“Geli, Mas.” Sari tertawa, karena dagu David yang peuh dengan bulu halus yang baru tumbuh itu bergerak menyentuh kulit sensitifnya.
“Mas...” Sari masih tertawa geli. Ia pun tak sadar saat ini ia sudah di bawa David menuju ranjang.
David menindih istrinya. Mereka tertawa. Lalu, David menegakkan tubuhnya di antara kedua paha Sari. Ia membuka handuk yang masih melilit di pinggangnya.
“Mas, kamu ngga capek. Kamu kan baru pulang kerja.” Kata Sari menahan dada suaminya, saat David mulai beraksi.
David tersenyum. “Lelahku hilang, jika sudah menyentuhmu.”
“Hmm.. gom..”
“Hmm..” David langsung menyumpal ibir Sari dengan bibirnya, membuat Sari tak bisa melanjutkan perkataannya.
David kembali mencumbui istrinya, menyentuhnya dan melakukan penyatuan atas dasar cinta. Cinta yang besar dan selalu menggelora. Ia tak pernah menyangka akan mencintai wanita ini dengan sangat, ia tak menyangka wanita yang menurutnya cerewet dan agak ke kanak-kanakan waktu pertama kali bertemu di butik milik istri temannya ini akan menjadi teman hidupnya sekarang.
__ADS_1