Istriku Canduku 2

Istriku Canduku 2
terima kasih, Om


__ADS_3

Perlahan Sari membuka kedua matanya. Malam ini tidurnya sangat nyenyak, mungkin karena memang kesibukan kemarin yang membuatnya lelah, atau karena David yang sedang memeluknya erat.


“Aaa...” Teriak Sari saat ia membuka mata dan meilhat dada yang berbulu tipis di depan matanya.


David terkejut dan langsung bangun melonggarkan pelukannya.


“Ada apa?”


“Jangan ambil kesempatan ya!” Ancam Sari.


David menggeleng. “Tidak, semalam kamu sendiri yang mendekatkan tubuhmu padaku.”


“Masa! Ngga mungkin.”


David mengerdikkan bahunya.


“Kalau begitu besok malam, kamu tidur di sofa.” Rengek Sari, sambil menunjuk sofa yang ada di seberangnya.


“Bailklah.” David bangun dan melepaskan pelukan itu. Padahal tubuh Sari masih sebagian berada dalam pelukannya, membuat Sari sedikit terhempas.


“Aww..” Pekik Sari, saat tak sengaja lengan Sari beradu dengan lengan kekar David yang hendak menghempaskan selimut yang masih menutupi sebagian tubuhnya.


David langsung mendekati Sari.


“Maaf, sakit ya?” Tanya David panik, sambil mengelus lengan Sari.


Sari menggeleng. “Sedikit.”


Wajah Sari tiba-tiba merona. Sedangkan David semakin gemas melihat ekspresi Sari saat ini. Ia semakin mendekatkan wajahnya pada gadis yang mulai semalam tidur seranjang dengannya.


Telunjuk Sari langsung menahan bibir David. “Aku belum gosok gigi.”


David tergelak. Ia terus tertawa. Memang wanita Asia sangat lucu. Akhirnya, ia memeluk lagi tubuh Sari.


“Setelah gosok gigi, boleh cium?”


Sari mengangguk ragu. David tersenyum dan ia mengecup kening Sari, lalu pergi menuju kamar mandi.


“Aaa... Mengapa jantungku berdetak kencang.” Gumam Sari sambil memegang dadanya dan melihat David yang sudah menghilang dari pandangannya.


****


“Kita kemana, Mas?” Tanya Ardi, yang duduk di paling belakang.


Saat ini, Sari, David, Teguh, Ratih, dan Ardi sedang berada dalam mobil. David ingin menepati janjinya pada adik lelaki Sari. Ia pun sengaja tak menggunakan supir. Ia ingin dirinya sendiri yang melayani keluarga Sari.


“Merlion Park, katanya mau foto di patung singa.” Jawab David.


“Asyik.” Sahut Ardi.


“Norak kamu.” Ujar Ratih yang ikut menoleh ke arah sang putra.


Sari duduk di samping suaminya yang sedang menyetir, sementara Teguh dan Ratih duduk di tengah dan Ardi di paling belakang. David sengaja membawa mobil yang lebih besar. Sesekali Sari pun menoleh ke arah suaminya yang fokus menyetir dan memakai kacamata hitam.


“Cool banget sih.” Gumam Sari dalam hati.


David pun ikut menoleh, merasa jika dirinya sedang di perhatikan. Namun, Sari dengan cepat mengalihkan pandangannya. Hal itu membuat David tersenyum senang.


Sesampainya di taman Merlion, Ardi langsung keluar dari mobil dan berlari ke sana. Ratih pun menarik lengan Teguh untuk mengikuti Ardi. Wajah Teguh, kini tak lagi menegangkan seperti sebelumnya. Terkadang ia tersenyum, saat Ratih dan Ardi beradu argumen.


Sari pun tersenyum melihat keluarganya bahagia. Ia duduk di taman itu, sambil melihat keluarganya dari kejauhan yang sedang berfoto ria.


“Kamu tidak ikutan foto?” Tanya David yang sudah mendaratkan bokongnya di samping Sari.

__ADS_1


Sari menoleh ke arah David dan menggeleng. “Takut cepat capek. Setelah ini masih ada perjalanan lagi kan?”


David mengangguk. Lalu, mengeluarkan ponselnya.


“Kalau begitu kita foto berdua.”


Cekrek.


David merangkul pundak Sari dan tersenyum. Ia melihat hasil foto itu, ternyata Sari pun ikut tersenyum.


“Cantik.”


“Masa? Mana lihat?” David menyerahkan hasil beberapa jepretannya.


“Oiya, ponsel satu lagi, belum ada foto kita.” David mengeluarkan ponsel Sari yang tertinggal di hotel pada malam petaka itu.


Sari memperhatikan ponsel yang di pegang David. Ia familiar dengan benda itu.


Ceklek.


David kembali memfoto dirinya bersama sang istri. Namun kali ini berbeda, Sari sengaja menggelembungkan pipinya dan mata yang sengaja di buat juling.


David tergelak, melihat hasil foto itu.


“Cantik kan?” Ucap Sari dengan melebarkan senyumnya.


David terus tertawa, hingga perutnya terasa sakit. “Oo my God.”


“Sini lihat.” Sari mengambil ponsel yang masih ada dalam genggaman David, sementara David masih tertawa.


Sari terus membolak balikkan ponsel itu. Di sisi belakang terdapat stiker kecil dengan gambar hati yang ia beli dua, untuknya dan untuk Rama.


“Ini ponselku.” Ujar Sari.


“Kamu mengambil ponselku?”


“Percaya diri sekali kamu, aku bisa beli ponsel seperti ini ratusan.”


Sari memonyongkan bibirnya. “Lalu, kenapa ini ada padamu?”


David mengerdikkan bahunya. “Mana aku tahu. Bukannya kamu sengaja meninggalkan jejak agar dapat aku temui.”


Sari kembali memukul lengan David. “Dasar, pria menyebalkan. Ish.”


Sari terus memukul lengan David, dan David pun bukannya kesakitan malah tertawa melihat ekspresi istrinya yang lucu. David memeluk tubuh Sari, setelah istrinya puas memukulinya.


‘Ini takdir, Sayang.” Ucap David dan mengecup pucuk kepala Sari.


Sari terdiam mendengar perkataan dan kecupan David. Sementara dari kejauhan Teguh melihat kebersamaan Sari dengan suaminya di sana. ia melihat Sari yang tertawa dan becanda dengan David.


“Nak David menyayangi putri kita, Yah. ibu lihat ketulusan cintanya.” Ucap Ratih, membuyarkan pikiran Teguh. Lalu teguh pun beralih pandangan.


“Besok kita pulang bersama, ibu tidak perlu menjaga Sari di sini, karena ibu yakin David akan menjaga putri kita dengan baik.” Ucap Ratih lagi dan Teguh langsung mengangguk.


Setelah itu, mereka beralih ke Orchad road. Tempat wisata yang banyak di kunjungi wisatawan dari berbagai negara. Karena tempat ini menyuguhkan banyak pusat perbelanjaan dan mall terbesar di kota ini.


“Kita belanja, Mas?”Tanya Ardi, sesampainya mereka di Orchad road.


David mengangguk. “Hmm... pilih apa saja yang kamu mau, untuk oleh-oleh.”


“Wah, terima kasih, Mas.” Ardi memeluk David, dan David menerima pelukan itu dengan senyum.


“Kamu ngga belanja?” Tanya David pada Sari yang hanya melihat-lihat saja.

__ADS_1


Sari menggeleng.


“Kenapa?”


“Tidak apa, hanya tidak ada yang aku suka.”


Lalu, mata Sari mengerlingkan padangannya ke semua penjuru.


“Aku mau itu.” Ia menunjuk es krim yang tinggi.


“Tunggu.” David langsung berlari ke tempat yang Sari tunjuk.


Tak lama kemudian, ia kembali dan membawakan es krim dengan berbagai macam toping.


“Terima kasih.” Sari menerima makanan itu dengan sumringah.


“Tadi Ardi memelukku saat berterima kasih.” Ucap David setelah, duduk di samping Sari.


Lalu, Sari memeluk david dari samping. “Terima kasih.”


“Itu Ardi, kalau kamu harus lebih dari itu.”


Cup


David mencium bibir Sari yang masih mengemut es krim. Ia terus mel*mat bibir tipit Sari.


Sari memukul dada David.


“Mmpph..” david melepas pangutan itu.


“Ini di tempat umum.” Ucap Sari kesal.


“Tidak masalah.” Jawab David santai.


“Manis.” David menjilat sisa saliva di bibirnya.


“Dasar. Bulgil.”


“Apa itu Bulgil?”


“Bule gila.” Jawab Sari cuek, sambil tetap memakan es krim di tangannya.


David tergelak. Lalu mendekapkan tubuh Sari.


“Mas, nanti es krimnya tumpah.” Tangan Sari bergoyang karena menerima pelukan David yang mendadak.


“Apa?’ Tanya David.


“Nanti es krimnya tumpah.”


“Bukan itu, panggilanmu padaku.”


“Mas.” Jawab Sari dengan menatap wajah David.


Lalu, David tersenyum.


“Eh salah, harusnya aku tidak panggil Mas, tapi Om.”


“Terima kasih es krimnya, Om.” Kata Sari lagi dengan cepat dan langsung meninggalkan David.


David dengan cepat menegakkan tubuhnya dan berusaha meraih tangan Sari yang akan pergi, tapi Sari dengan cepat menghindar, lalu menjulurkan lidahnya.


“Awasa ya! nanti aku gigit kamu.”

__ADS_1


__ADS_2