Istriku Canduku 2

Istriku Canduku 2
malu-maluin


__ADS_3

“Setelah ini, tunggu aku sebentar di sini.” Ucap David, sambil memainkan rambut Sari yang terurai. Lalu, mengelus pipi Sari yang mulus dengan ibu jarinya.


Sari masih berada di pangkuan suaminya. David memeluk erat pinggangnya.


“Kita jadi ke rumah sakit?”Tanya Sari.


David mengangguk, kemudian tangannya menyingkap rambut Sari ke sisi kanan, agar bahu sisi kiri Sari terekspose, sehingga ia dapat menelusuri lagi sisi itu.


David menempelkan bibirnya pada sisi leher dan bahu Sari yang terbuka. Ia mencium dan mengendus aroma tubuh Sari yang menjadi candunya.


“Mas..” Sari memanggil lembut David yang masih menelusuri leher jenjangnya.


“Aku boleh main ke butik miss Inka?” Tanya Sari.


David menghentikan aktifitasnya dan menatap Sari.


“Untuk apa?”


“Hmm.. Hanya ingin bertemu, karena sejak kejadian waktu itu, aku langsung menghilang dan tidak pernah memberi kabar padanya hingga saat ini.” Jawab Sari.


“Tidak perlu, kamu juga sudah tak lagi bekerja di sana.”


“Tapi, semua orang di sana sudah seperti keluarga bagiku, Mas. Apalagi Miss Inka itu selalu baik padaku.”


David masih berpikir, ia terus menatap dua bola mata Sari yang terlihat memelas. Keduanya beradu pandang. David hanya takut, jika Sari akan mengetahui bahwa pertemuannya adalah kesalahan. Ia takut Sari mengetahui bahwa dirinya korban salah sasaran, bukan orang yang di harapkan hadir olehnya pada malam itu. Tapi kenyataannya saat ini, Sari adalah orang yang ia inginkan. Ia khawatir Sari akan salah faham dan menghancurkan kembali kebersamaan mereka yang sudah terjalin dengan baik saat ini.


“Jangan ke sana! aku tidak izinkan.’ Ucap David dengan nada dingin.


“Tapi kenapa?” Rengek Sari.


“Aku tidak ingin kamu lelah, tetaplah di rumah dan banyak istirahat.” Ucap David lagi.


“Tapi aku pasti akan bosan berada di apartemen sepanjang hari. Aku biasa beraktifitas.”


“Buatlah aktifitas di rumah, tidak harus keluar kan?”


Sari memonyongkan bibirnya. Berdebat dengan David adalah hal yang paling menyebalkan.


“Kalau kamu ingin keluar dan jalan-jalan, akan aku antar.” Kata David lagi.


“Tapi harus menunggu waktumu luang, dan itu pasti lama.”

__ADS_1


“Tidak, aku punya banyak waktu luang untukmu. Contohnya hari ini. Kita juga masih ada waktu untuk bercinta di sini.”


“Apa?’


Sari membulatkan kedua bola matanya.


****


David dan Sari berjalan keluar ruangan beriringan. David dengan setia menggandeng pinggag sang istri. Semua orang menyalami dan menunduk, saat mereka melewatinya.


“Itu, istri bos besar kita?” Tanya salah satu pegawai laki-laki yang melihat David tengah menggandeng pinggang Sari, hingga masuk ke dalam lift.


“Iya. Gue juga baru tau tadi di dalam ruangan Pak David. Dia yang memperkenalkan istrinya langsung.” Jawab Angel, sekertaris David.


Pegawai laki-laki itu dalah Ihsan, suami Sisy, kakak perempuan Rama.


Ihsan terus menatap kebersamaan David dan Sari, hingga mereka lenyap dari pandangannya.


“Pantes Sari tidak jadi menikah dengan Rama, ternyata saingan Rama berat banget.” Gumam Ihsan.


“Kenapa, Pak Ihsan?” Tanya Angel.


Ya, Ihsan adalah pegawai David yang menjabat sebagai manager operasional.


Di lobby kantor, David membukakan pintu untuk istrinya, saat mereka hendak memasuki mobil yang sudah menunggunya di lobby.


David tersenyum ke arah Sari, begitupun dengannya. Di dalam mobil pun, David masih memeluk istrinya, sambil sesekali mengelus perut Sari. David seperti pria yang sedang kasmaran, karena memang pria ini tak pernah merasakan cinta sebelumnya, di tambah sikap Sari yang mulai menurut dan perhatian, membuat David semakin ingin selalu dekat dengannya.


Empat puluh menit kemudian, David dan Sari tiba di lobby rumah sakit. Pegawai di sana membukakan pintu mobil David.


David menuntun istrinya hingga ke dalam rumah sakit.


“Tunggu di sini!”


Sari mengangguk dan duduk di ruag tunggu. Sementara David melangkah menuju tempat administrasi.


Tak lama, David kembali menemani istrinya dan duduk di sampingnya. Ia menggenggam tangan Sari.


“Nanti sudah bisa di lihat jenis kelaminnya?” Tanya David.


“Hmm.. Aku rasa belum, biasanya usia 4 bulan baru ketahuan.”

__ADS_1


David tersenyum. “Tau dari mana?”


“Baca buku.”


“Bagus, berarti sudah siap untuk jadi ibu?”


“Harus siap.” Ucap Sari dengan percaya diri.


Beberapa saat kemudian, suster memanggil nama Sari. Mereka pun masuk ke ruang dokter. David yang sangat possesive, meminta pada petugas administrasi, untuk mencarikan dokter perempuan yang akan memeriksa istrinya.


“Sore, Dok.” Sapa sari pada dokter perempuan yang ada di hadapannya.


“Sore.”


Sari langsung merebahkan diri di tempat tidur pasien. Dokter Mitha mulai memeriksanya.


“Bagaimana keadaan anak saya, Dok?” Tanya David antusias.


“Sejauh ini, baik, semua tumbuh dengan normal.” Ucap dokter Mitha, sambil menggerakkan tangannya pada benda di atas perut Sari, dengan arah mata pada layar monitor yang menunjukkan gambar hitam putih.


David dan Sari pun melihat ke layar monitor itu. Terlihat satu bulatan kecil yang samar-samar.


“Mengapa saya tidak merasakan morning sickness ya, Dok?” Tanya Sari.


“Tidak masalah. Ada beberapa ibu hamil tidak mengalami itu.”


“Keram perut, istri saya terkadang mengalami itu setelah kami berhubungan. Apa itu tidak masalah?” Tanya David tiba-tiba, membuat sari terkejut dengan pertanyaan frontal suaminya.


Dokter Mitha tersenyum. Sementara wajah Sari sudah terlihat memerah, karena menahan malu.


“Itu juga biasa, bukan masalah besar. Yang penting Bapak melakukannya dengan pelan dan hati-hati.”


“Tidak maslah jika saya melakukannya berkali-kali?” Tanya david lagi, yang membuat Sari semakin malu.


“Tidak masalah, Pak, karena sepertinya bayi anda kuat dan senang di jenguk ayahnya setiap hari.” Ledek dokter Mitha.


David mengangguk dan tersenyum.


Sari mengusap wajahnya, lalu memegang pipinya.


“Haduh nih bule, malu-maluin banget sih.” Gumam Sari dalam hati.

__ADS_1


__ADS_2