Istriku Canduku 2

Istriku Canduku 2
percaya padaku


__ADS_3

David keluar dari kamar mandi dengan rambut basah dan handuk yang di lilitkan di pinggangnya. Ia tak melihat Sari di sana, hanya ada pakaian yang sudah Sari siapkan untuknya yang tergeletak di atas tempat tidur.


David tersenyum. Rupanya Sari masih tak mau bicara dan mencoba menghindarinya.


Setelah berpakaian dan mengeringkan rambutnya, David keluar dari kamar. Ia melihat Sari yang tengah duduk di sofa dengan arah pandang ke televisi yang menyala. Ia pun menghampiri Sari dan ikut duduk di sampingnya.


“Kamu sudah makan?” Tanya David.


Sari mengangguk dengan arah mata yang tetap lurus memandang televisi di depannya.


“Kapan? Tadi sepulang dari rumah sakit, kamu menolak untuk mampir ke restoran.” Tanya David lagi.


“Tadi, saat kamu mandi.”


“Kamu tidak menungguku untuk makan bersama?”


“Aku sudah lapar, jadi aku makan duluan.” Jawab Sari santai.


David melihat Sari yang tak kunjung menoleh ke arahnya. Sedari tadi, Sari hanya menjawab dengan arah mata yang tertuju pada layar televisi.


Blep.


Tiba-tiba David mematikan televisi itu, dan Sari langsung menoleh ke arah David dengan tatapan tajam.


“Mengganggu kesenangan orang saja.”


“Kamu juga mengganggu pikiranku saja.”


Mereka saling bertatapan.


“Aku sedang bicara denganmu. Tatap lawan bicaramu saat di ajak bicara.”


“Okey.” Sari langsung menatap kedua bola mata David yang berwarna biru.


David tak bisa menahan tawanya ketika harus beradu bola mata dengan Sari, karena menurutnya Sari begitu lucu dan menggemaskan.


“Kenapa ketawa? Memang ada yang lucu.” Sari kembali meluruskan tubuhnya dan memandang ke arah televisi.


“Kamu yang lucu. Kenapa tiba-tiba diam? Dari tadi di rumah sakit hingga saat ini tidak mau bicara denganku. Ada apa? Hah” David menangkap dagu Sari dengan tangannya yang besar, lalu memutarkannya agar Sari dapat menatap wajahnya.


“Ih, apa sih.” Sari melepas tangan David dari dagunya.


“Ada apa? Ayo katakan!” David semakin menghimpit Sari.


“Sesak.” Teriak sari, saat David mengungkungnya. Kemudian, ia langsung melepaskan kungkungan itu, mengingat saat ini perut Sari memang sudah lebih membesar.


“Ada yang mencarimu.” Ucap Sari ketus.


“Siapa?” Tanya David pura-pura tidak tahu.

__ADS_1


“Wanita. Tidak tahu namanya siapa, aku lupa tidak tanya.” Jawab Sari, yang kemudian meraih remote televisi itu lagi, lalu menyalaknnya.


Blep.


David mematikan televisi itu kembali.


“Ih, kok di matiin.” Rengek Sari.


“Kita belum selesai bicara.”


“Apa lagi?” Tanya Sari ketus.


“Apa kamu cemburu?” David balik bertanya.


Sari menoleh ke arah suaminya. “Buat apa cemburu? Memang siapa aku.”


David tersenyum, “tentu istriku, memang siapa lagi? Ibu dari anakku, walau bukan mantan pacarku.”


“Apaan sih, ngga lucu.” Gumam Sari yang terdengar jelas oleh David dengan senyum tertahan.


“Bagaimana ciri-ciri wanita itu?” Tanya David lagi.


“Mana aku tahu.”


“Loh, tadi katanya dia mencariku, bagaimana bentuknya? Lebih cantik darimu? Atau lebih sexy darimu?” Tanya David meledek, membuat Sari kesal.


Sari berdiri dan ingin meninggalkan David. Namun, dengan cepat David menahan pergelangan tangan Sari.


“Menurutmu aku harus percaya apa tidak? Aku tidak tahu masa lalumu, aku tidak tahu banyak tentangmu keluargamu, sementara kamu mengenal semua tentangku keluargaku” Ujar Sari kesal. Ingin rasanya ia menangis.


“Dia sedang hamil dan dia bilang itu anakmu.” Sari berujar lagi. Ia kembali duduk. Kali ini air matanya tak bisa di bendung. Tiba-tiba air mata itu mengalir deras.


David langsung mendekat dan merangkul Sari.


“Aku tidak tahu bagaimana membuktikan, agar kamu percaya. Tapi aku tidak sebodoh itu melepas benih pada wanita yang tidak jelas gaya hidupnya.”


Sari menatap wajah David yang kini tak berjarak.


“Aku senang kamu menangis.” David mengahpus air mata Sari dengan ibu jarinya.


“Itu berarti, kamu benar-benar cemburu dan takut kehilanganku.” Kata David lagi.


Sari memukul dada David. “Percaya diri sekali kamu. Perempuan mana yang tidak sakit hati, jika suaminya menghamili wanita lain.”


“Kalau itu terjadi?” Tanya David mengetes.


“Aku akan pergi jauh darimu, kita bercerai dan aku akan menikah lagi. Lagipula usiaku masih muda.” Jawab Sari asal, membuat rahang David mengeras dan hatinya tercubit.


Mata David memerah. “Kamu mau pergi dariku?” Tanyanya.

__ADS_1


Sari menciut dan mulai takut dengan wajah David.


“itu.. Ji..ka.. kamu menyakitiku.” Ucap Sari terbata-bata.


David kembali merengkuh tubuh sari yang sekal. “Aku tidak akan menyakitimu, asalkan kamu juga tidak menyakitiku.”


“Memang perempuan bisa menyakiti? Memukul dadamu saja, malah tanganku yang sakit.” Kata Sari polos, membuat David tertawa.


“Kapan wanita itu akan kembali datang?” Tanya David.


“Malam ini, katanya dia akan datang untuk bertemu denganmu.”


David mengangguk. “Baiklah, aku tunggu kedatangannya.”


Kemudian, mereka menonton televisi bersama. Sari menidurkan kepalanya di dada bidang david. Mereka menonton dalam keadaan berbaring santai.


“Katanya kamu lapar?” Tanya Sari menoleh ke wajah David.


“Kalau memakanmu saja, bagaimana?” David menyeringai.


“Aku serius?”


“Aku juga serius.”


“Mas...” Rengek Sari.


“Apa..?”


“Kamu belum makan dari pulang kerja tadi, nanti sakit.”


David tersenyum. Ia terharu dengan perhatian yang di berikan Sari.


Sari pun tersenyum padanya. Entahlah, sikap manis David seolah menghipnotisnya. Tiba-tiba kesal dan rasa tidak percaya itu hilang dari pikirannya, padahal Sari belum tahu kebenaran tentang kehamilan wanita yang datang menemuinya siang tadi. Ia hanya mendengar dari pihak David saja, tapi seolah ia langsung percaya pada kata-kata si playboy ini.


****


Sari menemani David makan di meja makan. Ia melayani suaminya dengan baik. Ini yang David inginkan, sosok istri seperti Sari, yang bisa mengurusnya dan mengurus anak-anaknya kelak.


Setelah selesai makan malam. Mereka kembali duduk di ruang keluarga. David dan Sari sengaja berada di sana, sambil menunggu kedatangan wanita yang di sebutkan Sari tadi.


Hingga pukul sepuluh malam, wanita itu tak kunjung datang.


“Hoam..” Sari menguap.


“Ayo kita tidur!” Ajak David.


“Wanita itu tak jadi datang?”


“Entahlah.” David mengerdikkan bahunya.

__ADS_1


Memang wanita itu adalah teman dekat David selama di Bali. Namanya Mellisa. Mereka sangat dekat, bahkan Mellisa sering tinggal di rumah David. David mengenal Mellisa tiga tahun yang lalu di sebuha club di Bali. Kemudian, mereka bertukar nomor telepon dan dekat. Mellisa selalu jadi teman tidur David, karena wanita itu yang selalu menawarkan dirinya terlebih dahulu. David pria normal, mana mungkin kucing menolak ikan, dengan tanpa penolakan David pun selalu menikmati tubuh Mellisa, pastinya dengan menggunakan pengaman.


Setelah ke Jakarta dan mencoba menjebak Inka, David tak pernah bertemu wanita itu lagi, hingga saat ini.


__ADS_2