
David sudah meninggalkan Sari lebih dari dua kinggu, dan setiap hari David tak pernah absen untuk menelepon sang istri. Terkadang ia meminta Sari untuk tak mengenakan sehelai benang pun saat mereka melakukan panggilan video call. Sungguh, David rindu menyentuh tubuh itu.
David tak bisa meninggalkan negaranya dengan cepat, banyak urusan yang harus di selesaikan. selain menunggu kesembuhan sang paman, ia pun harus menghadapi banyak masalah pada usaha sang ayah. Adik laki-laki dari kekasih ayahnya itu tidak bisa bekerja dan hanya bersenang-senang menghabiskan hartanya. Alhasil saat ini, David mencoba menyelesaikan permasalahannya satu persatu. Yang penting kini ia telah menegtahui kebenaranya, walau masih belum menerima keberadaan sang adik, paling tidak ia berusaha mempertahankan ap yang sudah menjadi miliknya. Walaupun ia masih punya bisnis yang lain di Indonesia. untung saja, di Indonesia, ia memiliki Malik dan Abram yang dengan setia mengelola perusahaannya di Jakarta, walau ia tak sedang di sana.
David pun telah menceritakan pada sang istri tentang kebenaran yang terjadi dengan keluarganya di sana. Sari menjadi tempat curhatan sang suami, ia pun selalu memberi nasehat dan petuah-petuah yang menenangkan. Hampa rasanya, jika sehari tak mendengar suara sang istri, selain menjadi mood boasternya, istrinya itu mampu menenangkan rasa kesalnya, dan melihat perut besar itu membuatnya bersemangat menyelesaikan semua masalah di sini.
“Suami mu kapan pulang, Sar?” Tanya Teguh.
Sari masih berada di Malang.
“Katanya masih lama, Yah. Banyak masalah di perusahaan ayahnya. Jadi dia harus membereskannya dulu.” Jawab Sari.
“Tapi dia di sana tidak menikah lagi kan?” Tanya Ratih.
“Bu.” Teguh menegur istrinya.
“Ngga tau, tapi dia sering telepon kok.” Sanggah Sari.
“Kadang, ndak enak punya suami dari orang seberang. Was was kalau di tinggal pulang, khawatir di sana dia macem-macem. Orang seberang beda pulau negara sama, masih ada yang seperti itu, apalagi ini beda pulau beda negara.” Ucap Ratih lagi. Ia khawatir dengan nasib sang putri yang sudah dua minggu di tinggal suaminya dalam keadaan hamil besar.
“Ibu, Jangan nakut-nakutin anaknya dong.” Kata Sari lirih.
"Iya, Bu. jangan seperti itu! Kita doakan rumah tangga Sari selalu baik-baik saja. langgeng hingga tua." Kata Teguh.
Sari mengangguk dan mengaminkan.
“Iya, bu. Positif thingking dong.” Ucap Ardi tiba-tiba.
“Lagian Ardi percaya kok, mas David di sana memang sedang kerja, dia tuh cinta mati sama mba Sari.” Ucap Ardi lagi.
“Halah sok tahu.” Sari mencibir perkataan sang adik.
“Lah iya, orang keliatan banget bucinnya.” Jawab Ardi lagi.
“Bucin itu opo toh?” Tanya Ratih.
“Budak micin. Itu generasinya Ardi yang korslet karena keseringan makan micin.” Jawab Teguh.
“Oh gitu.” Ratih mengangguk, membuat semua tertawa karena Ratih percaya dengan kepanjangan yang di sebutkan Teguh tadi.
“Bukan, Bu. Bucin itu budak cinta.” Jawab Sari.
“Oalah..” Ratih tertawa, ia ingat waktu di bandara, Sari di cium hingga semua orang melihatnya, belum lagi hampir setiap hari ia melihat leher dan putrinya merah karena keganasan menantunya. Itu akibat bucin, pikirnya.
“Oh, itu namanya bucin.”
“Pantes di leher dan pundakmu tidak terlihat ada kemerahan lagi sekarang. Itu akibat bucin kan?” Tanya Ratih lagi, membuat teguh dan Ardi mengeryitkan dahinya.
“Apaan sih, Bu?” Tiba-tiba pipi sari memerah. Ia langsung pergi meninggalkan keluarganya dan memasuki kamarnya.
“Loh, emang ibu salah ngomong ya?” Tanya Ratih dengan wajah tak bersalah.
“Salah.” Jawab Teguh dan Ardi bersamaan.
“Au ah.” Ratih pun pergi meninggalkan Teguh dan Ardi. Ia pun memasuki kamarnya.
****
__ADS_1
Sudah tiga minggu, David masih belum pulang.
Dret.. Dret.. Dret...
Panggilan telepon dari “Bule gila”.
Sari tersenyum melihat nama di ponsel itu, ia selalu lupa jika ingin merubah namanya di sana.
“Hallo..” Sari menampilkan senyum manis.
David tersenyum. “Bagaimana kabarmu?”
“Baik, Kamu?”
“Baik. Walau agak sedikit pusing karena sudah tiga minggu tak menyentuhmu, si jerry sudah tak sabar ingin bertemu sarangnya.”
Sari mengeryitkan dahinya. sementara tersenyum menyeringai.
“Dasar mesum.”
David tertawa.
“By the way. Sudah minum susu? Aku kangen makan coklat dari sisa coklat yang menempel di bibirmu.”
“Haduh, dari tadi obrolan kita 21+ ya pak. Ga ada obrolan lain?”
David semakin tertawa.
“Mas, besok aku balik ke jakarta ya. Kasihan Nina sendirian di apartemen.”
“Iya, Ardi nanti menemaniku.”
David mengangguk.
“Baiklah, aku kerja lagi. Jaga dirimu, Jaga anak kita.” Kata David lagi.
Sari melambaikan tangannya. “Jaga dirimu juga. Makan jangan terlambat!”
David tersenyum.
“Oh, iya. Salam dari Uncle Sam dan George. Mereka ingin sekali melihatmu.”
Sari tersenyum. “Sampaikan salamku juga pada mereka.”
“Setelah kamu melahirkan, akan aku bawa kamu ke sini.” Ucap David yang langsung di angguki Sari.
“Oke bye.” David melambaikan tangannya.
Di ikuti Sari. “Bye.”
Keduanya menutup panggilan video call itu.
Sari tak henti-henti mengulas senyum, begitu pun David yang berada jauh di sana. ia memandang wajah Sari melalui ponselnya, terkadang ia pun memutar kembali video cctv yang menampilkan semua aktifitas Sari ketika berada di apartemen.
****
Sari dan Ardi mengemas barang-barangnya. Besok mereka akan pergi ke Jakarta.
__ADS_1
“Mba, nanti di sana ajak Ardi jalan-jalan ya.” Rengek Ardi.
“Iya.”
“Kalau, mba lagi capek. Nanti kamu di temani Nina.” Kata Sari lagi.
“Nina siapa?” Tanya Ratih, yang juga ikut membantu putra putrinya yang sedang berkemas.
“Asisten rumah tangga Sari di apartemen, Bu. Anaknya cantik, baik, dan lucu. Dai yang selalu menemani sari di rumah.”
“Oh.” Ratih membulatkan bibirnya.
Keesokan harinya, Teguh dan Ratih mengantar Sari dan Ardi ke bandara.
“Sar, nanti kabari kalau kamu sudah melahirkan. Ibu dan ayah akan datang ke sana. kalau ayah tidak bisa cuti, ibu yang akan datang duluan.” Ucap Ratih.
“Iya, Bu. Terima kasih.” Sari tersenyum.
“Hati-hati ya, Nak. Ardi jaga mba mu.” Ucap Teguh.
“Sip, Ayah” Ardi menampilkan ibu jarinya ke atas.
Kemudian, Sari dan Ardi memeluk kedua orang tuanya, lalu pergi.
Sari dan Ardi menaiki pesawat. Hampir satu jam sari berada di atas awan, dan tiga puluh menit kemudian mereka sampai di bandara Soekarno Hatta.
Ardi menuntut sang kakak yang sedang hamil tua. Ia pun berjalan pelan mengikuti Sari.
“Mba, duduk saja di sini. biar Ardi yang mengantri.” Kata sang adik saat boarding.
Sari tersenyum melihat manisnya sikap sang adik.
Lalu mereka berjalan menuju pintu keluar.
“Mba, capek?” tanya Ardi yang melihat sang kakak berjalan sangat lambat.
Sari menggeleng. “Tidak, justru mba senang berjalan seperti ini, karena kalau rajin jalan memudahkan persalinan.”
Ardi mengangguk.
“Ah, kamu ngga akan ngerti.” Ucap Sari lagi.
“Ngerti, kan nanti juga Ardi bakalan jadi ayah. itung-itung belajar dari sekarang.”
“Halah anak kecil, punya pacar aja belum, sok-sok an bilang bakal jadi ayah.” Sari memukul pipi Ardi pelan dan tertawa.
Ardi pun ikut tertawa. “Ya kan nanti.” Cengir Ardi, sambil berjalan.
“Sari..." Teriak suara wanita jauh di seberang sana.
Sari dan Ardi menghentikan langkahnya. Sari mencari suara yang memanggilnya. Dari kejauhan wanita itu berlari ke arah Sari.
“Sari... ya ampun, kamu baik-baik saja?” Tanya wanita itu.
Wanita itu adalah Bianca, teman satu tim di butik Inka. Bianca teman yang cukup dekat selama Sari bekerja di sana.
“Miss Bi...” sari dan Bianca berpelukan erat.
__ADS_1