
Perlahan Sari menerima bayi tampan itu dari tangan suster. Bayi itu begitu tampan, pipinya merah merona dan memiliki kedu bola mata yang sama dengan sang ayah, wajahnya pun sangat mirip.
“Anaknya ganteng banget, Bu.” Ucap suster itu, memandang wajah bayi yang sudah ada dalam gendongan Sari.
“Ayo, Bu. Coba di susui.” Ucap suster itu dan membantu Sari emgajarkan cara menyusui yang benar.
Sari pun mengikuti aba-aba si suster dan David hanya tersenyum melihat Sari dan anaknya berada di sana. Ia tak berpikir bagaimana setelah enam bulan nanti. Yang jelas, saat ini ia bahagia karena memiliki keluarga kecil.
Sari sudah mulai terbiasa menyusui bayinya, bayi yang belum di beri nama itu. Suster pun sudah keluar dari ruangan ini, hanya tersisa Sari dan David yang berada di ruangan itu.
David mendekat ke ranjang pasien yang sari tempati. Ia menarik kursi untuk bisa dekat dengan anak istrinya. Namun, Sari tetap bersikap biasa.
“Aku beri nama dia, Melvin Osborne.”
Sari hanya mengangguk.
Keduanya tak bersuara. David hanya menatap putranya yang sedang asyik menyusu pada ibunya. Ia hanya menelan ludahnya kasar, menatap Sari dengan pakaian atas yang terbuka. Sungguh ia akan rindu dengan tubuh itu, tubuh yang entah kapan bisa kembali ia sentuh.
Ceklek.
“Bu Sari..” Teriakan Nina memecah keheningan ruangan itu.
Nina langsung menghampiri Sari dan David memberi Nina temapt untuk mendekati istrinya. Kini, David duduk di sofa yang ada di seberang tempat tidur Sari.
“Hai Nin.” Sari tersenyum ke arah Nina.
Akhirnya, David melihat lagi senyum itu, walaupun senyum itu bukan untuknya.
“Ya ampun, Bu. Anaknya ganteng banget.” Nina menoel-noel pipi Melvin.
“Asi nya sudah keluar banyak ya, Bu? Ngga sia-sia donk, ibu rajin massage tiap hari.” Ucap Nina yang sering melihat Sari memassage payud*r*nya.
David terkejut mendengar ucapan Nina. Ternyata, kata-kata Sari yang seolah tidak peduli dengan anaknya adalah salah, buktinya Sari melakukan itu untuk mempersiapkan diri agar menjadi ibu yang baik dan menjalankan kewajibannya.
“Oiya, Bu. Semalam, Ibu sama bapak merayakan ulang tahun besar-besaran ya? Karena saya pulang apartemen berantakan, tapi kue di lemari es masih utuh. Ibu, nunggu saya buat motong kue ya? Haduh Saya jadi terharu. Maaf ya bu, semalam saya pulangnya telat, karena ada kelas tambahan menggantikan hari ini yang libur.” Ucap Nina yang polos panjang lebar.
Sari tersenyum, sambil melakukan aktifitasnya. Sementara David di kejutkan lagi oleh penuturan Nina. Ternyata Sari ke toko kue itu karena ingin merayakan ulang tahun bersamanya di apartemen. Sungguh, David sangat menyesal dengan tindakannya yang bodoh, yang langsung emosi tanpa mendengarkan penjelasan istrinya terlebih dahulu. Mungkin, jika saat itu David mendengar penjelasan Sari, hari ini mereka sudah benar-benar bahagia dengan senyum yang terus mengembang dari kedua sudut bibir mereka. Namun, nasi sudah menjadi bubur. Kini, semua terjadi tidak sesuai dengan yang di harapkan.
“Nin, kamu jangan terlalu polos! Nanti banyak orang yang bisa menyakitimu.” Kata Sari setelah mendengar semua perkataan Nina.
David melihat wajah Sari yang datar, karena ia sadar perkataan Sari itu adalah bentuk sindiran atas dirinya yang telah menyakiti Sari yang polos.
Nina hanya menunduk menganggapi perkataan Sari.
“Iya, Bu.” Nina baru sadar bahwa majikannya ini terlihat berbeda.
Dret.. Dret.. Dret..
Ponsel David berbunyi, menampilkan Ratih dalam panggilan video call.
“Hallo..” Wajah David dan Ratih terpampang di ponsel David.
“Nak, David, kok hp Sari tidak aktif.”
__ADS_1
“Iya, Bu. Sari sedang menyusui dan hp nya masih tertinggal di apartemen.”
“Oh, mana sari, Nak?” Tanya Ratih.
Kemudian, David mendekat ke arah Sari dan mendekatkan ponselnya pada wajah Sari, membuatnya harus berada dekat di samping tubuh istrinya.
“Sari.. selamat ya.” Ucap Ratih senang saat melihat Sari tengah menggendong bayinya.
“Ibu kira kamu akan melahirkan sekitar dua minggu lagi. Baru saja ibu mau kinta tolong suamimu untuk pesankan tiket minggu depan, eh ternyata kamu sudah melhirkan sekarang.” Ucap Ratih lagi.
Sari tersenyum. “Iya, Bu. Anaknya udah ngga betah di dalam perut, udah minta keluar.”
Ratih pun ikut tersenyum. “Iya ndak apa-apa yang penting kalian sehat.”
“Ibu langsung ke sana ya.”
Sari mengangguk. “Terserah ibu, kalau sekarang repot, minggu depan pun tidak apa.”
“Tidak, Nak. Tidak repot. Pasti kamu membutuhkan ibu, karena anak perempuan itu kalau melahirkan anak pertama, masih belum ngerti dan harus di dampingi ibunya.”
Sari kembali tersenyum dan ingin menangis, karena apa yang terjadi tidaklah sebahagia yang sang ibu pikirkan.
“Nak david.” Ratih memanggil menantunya.
“Iya, Bu.” Kini wajah David yang terlihat di layar ponsel itu. ia berada di sebelah Sari, hingga kedua bahu itu bersentuhan.
“Pesankan tiket untuk ibu ya, Nak. Besok ibu mau ke sana.”
Ratih menggeleng. “Tidak, Nak. Ibu saja dulu karena ayah tidak mungkin bisa cuti dadakan. Si ayah nyusul aja nanti.”
“Baik, Bu.”
“Jaga Sari baik-baik, ya Nak.” Pesan Ratih pada David.
“Baik, Bu.”
Kemudian Ratih menutup panggilan video call nya.
David pun kembali memasukkan ponselnya ke saku celana.
“Bisa tidak terlalu dekat.” Ucap Sari dingin, saat David tubuh David benar-benar menempel padanya.
“Oh, maaf.” David pun bangkit dan menjauh dari tempat tidur itu.
Nina hanya menganga dengan apa yang ia lihat, pasalnya kedua majikannya ini selalu terlihat mesra dan kini seperti orang asing.
Tak lama kemudian, pintu ruang perawatan itu terbuka lagi.
Ceklek
“Sayang...” Panggil Elvira dengan membawa banyak makanan.
Elvira langsung mencium Sari dan mencium bayi yang sudah berada di box nya, karena Sari sudah selesai menyusui dan Melvin yang semakin terlelap dalam tidurnya.
__ADS_1
Sari tersenyum. “Mommy.”
“Selamat ya, Sayang. akhirnya, mommy menjadi nenek.”
Sari kembali tersenyum datar, dan Elvira mengangkap sikap sari yang tak biasa.
“Kamu baik-baik saja kan, Sayang?” Elvira mendekatkan wajahnya pada Sari, alu menoleh ke arah David yang terduduk lesu.
“Kalian baik-baik saja? Apa ada masalah dengan bayi kalian?” Tanya Elvira bingung.
“Tidak ada masalah pada Melvin, Mom.” Jawab Sari.
“Oh, kalian memberi nama anak ini Melvin? Wah nama yang bagus.” Elvira membungkuk untuk mengelus pipi bayi tampan yang sedang terlelap di tempat tidurnya. Ia tak berani menggendong Melvin, karena khawatir akan membangunkannya.
Lalu, Elvira menegakkan tubuhnya kembali.
“Kalian baik-baik saja?” Tanya Elvira lagi, dengan arah mata bergantian menuju Sari dan David.
“Kami akan bercerai, Mom.” Ucap Sari.
“Apa? Kenapa?” Elvira terkejut. Ia tak rela Sari pergi dari hidup putranya, karena putranya banyak berubah setelah bersama Sari.
David hanya diam.
“Dav, jelaskan pada mommy?” Tanya Elvira bingung.
“Kami memang sepakat akan menyudahi pernikahan ii setelah bayi yang Sari kandung lahir.” Jawab Sari.
“Tapi kenapa?” Elvira bertanya lagi.
“Karena sebelumnya, hubungan kami adalah kesalahan. Saya masuk ke kamar hotel yang salah. Sebenarnya David telah mempersiapkan kamar itu untuk bisa bersama wanita yang dia inginkan, tapi karena kebodohanku, aku memasuki kamar itu. Hah” Sari tertawa kecut, mengingat kejadian itu.
“Dan akhirnya, David memaksaku melakukan sesuatu yang harusnya tidak terjadi. Mungkin karena David kesal karena pada malam itu yang datang bukan wanita yang di harapkannya.”
David membulatkan matanya ke arah Sari, dan Sari pun membalas tatapan itu. David tak menyangka bahwa Sari mengetahui apa yang sebenarnya terjadi pada malam itu.
“Lalu, Sari hamil dan David menikahi Sari hanya karena sebuah tanggung jawab hingga bayi yang sudah terlanjur hadir di rahim Sari mendapatkan kejelasan status. Sari pun menjalani ini karena sebuah tanggung jawab padanya.” Arah mata Sari tertuju pada Melvin yang sedang terlelap.
Elvira mendengar semua perkataan Sari dengan seksama. Ia masih tidak percaya, pasalnya David dan Sari tidak seperti pasangan yang berdasarkan kesepakatan. Mereka benar-benar pasangan yang saling mencintai.
“Mommy tidak percaya, kalian tidak seperti pasangan yang terpaksa.” Ucap Elvira.
“Tapi kenyataannya seperti itu, Mom. Setelah ini, Sari pun akan memulai kembali hidup Sari yang tertinggal karena ini.”
Hati David semakin mencelos. Bibirnya tak berkata sedikit pun, hanya Sari yang terus memberi penjelasan pada Elvira.
________________________________________________
Maaf ya para reders yang baik, puasa-puasa jadi bikin kezel hehehehe...
Tapi, tenang aja, kalau jogoh ngga kemana. Yakinlah, cinta akan menemukan jalannya.
Stay tune ya guys.. Mmmuaaaachhhh...
__ADS_1