
“Ar, Ayo naik!” Sari memerintahkan sang adik untuk memanjat pohon nangka yang ada di halaman samping rumahnya.
“Ndak mau, Mba. Ardi masih trauma manjat.” Rengek sang adik.
Sewaktu brusia dua belas tahun, Sari pernah meminta yang sama pada sang adik, tapi bedanya Sari meminta Ardi menaiki pohon rambutan. Alhasil Ardi terjatuh dan tangannya terkilir, belum lagi semut yang menggigit banyak di bagian tangan dan kakinya karena saat itu Ardi menggunakan celana pendek.
“Kamu, badan doank besar, tapi takut manjat.” Ledek Sari.
“Masih ada badan yang lebih besar dari aku, Mba.” Ungkar Ardi.
Sari mengeryitkan dahinya. “Siapa?”
Ardi langsung menoleh ke arah David yang sedang membantu Teguh memotong kayu.
“Itu.” Arah mata Ardi menunjuk ke arah David.
“Ya masa’ bule di suruh manjat. Ada-ada aja kamu.” Sari memukul pelan bahu sang adik.
“Apapun pasti dia lakukan buat mba.” Ucap Ardi yang langsung di balas cibiran dari Sari.
David sedang membantu Teguh memotong kayu menggunakan gergaji. Awalnya David tak menegrti, tapi justru potongan david lebih cepat dari Teguh. mereka merapihkan halaman rumah dan pagar untuk acara tujuh bulanan Sari besok.
“Mas David. Ini istrinya minta Nangka.” Teriak Ardi.
David menegakkan tubuhnya. Ia menoleh ke arah Ardi dan Sari yang berada di seberangnya. Lalu, ia langsung menghampiri kakak dan adik itu.
“Ada apa?” Tanya David.
“Ini loh, Mas. Istrinya minta buah nangka. Di sana!” Ardi menunjuk pohon buah nangka yang sedang berbuah banyak di pohon yang tinggi.
“Bagaimana cara mengambilnya?” Tanya David lagi.
“Memanjat.” Celetuk Sari.
“Memanjat?” Tanya David bingung.
Lalu, mereka bertiga menghampiri pohon nangka itu dan Ardi mempraktikkan cara memanjat dari bawah. Dengan semangat, David pun memsang kuda-kuda untuk naik.
“Kamu benar menginginkan itu?” Tanya David lagi pada Sari.
Sari mengangguk dengan mata berbinar, membuat David semakin tak tega. Walau ini adalah pengalaman pertamanya menaiki pohon. Ia berpikir, mungkin ini lebih mirip seperti mendaki gunung.
“Yeay.. Ayo suamiku, kamu bisa.” Teriak Sari yang melihat David sedang berusaha menaiki pohon itu.
Ardi langsung merogoh ponselnya dan mengabadikan aksi kakak iparnya.
“Kamu ngapain sih, pakai di videoin?” Tanya Sari pada Ardi.
“Ini aksi langka, mba. Mau aku posting dengan caption ‘bule takut istri, sampe rela manjat pohon nangka'.”
Bugh
Sari memukul bokong sang adik. “Itu bukan takut istri tapi sayang istri.’
“Ciye... Sayang nih ye..” Ledek Ardi, sontak membuat Sari merona.
Bugh..
Satu nangka berhasil jatuh ke tanah.
“Satu cukup tidak?” Tanya David berteriak dari atas.
“Ibu mau.” Tiba-tiba Ratih berteriak juga.
Lalu, David menjatuhkan satu lagi buah itu dan satu lagi.
“Wah, mas David hebat. Juara.” Ucap Ardi.
__ADS_1
David yang mengenakan celana pendek berbahan jeans dan kaos oblong putih, tampak begitu tampan, sambil berjongkok menghindari ranting-ranting di sana. Sari tak kedip menatap sang suami.
"Suami siapa dulu.” Jawab Sari jumawa di hadapan Ardi dan Ratih.
“Uuuh... dulu aja benci.” Ledek Ardi lagi di iringi cibiran dari sang ibu.
Kemudian David turun dan hampir terpeleset.
“Awas. Hati-hati, sayang.” Teriak Sari yang membuat David langsung menoleh ke wajah istrinya dengan senyum mengembang.
****
Keesokan harinya, di rumah Sari sudah ramai dengan saudara dan para tetangga yang membantu mempersiapkan acara itu.
Tidak ada acara masak memasak, karena David sudah memesan makanan cathering dari hotel terdekat di kota, lengkap dengan dekorasinya. Menu makanan yang David siapkan pun serupa dengan pesta kawinan di gedung. Hal ini cukup menjadikan keluarga Sari sebagai trending topik.
David pun menyewa MUA untuk mendandani istrinya. Acara akan di mulai lepas Zuhur. Dekorasi dan makanan pun telah selesai tersedia.
“Assalamualaikum.” Ucap wanita paruh baya yang tak lain adalah Elvira.
Elvira di jemput Malik da langsung di bawa ke tempat ini.
“Waalaikumsalam.” Jawab Ratih.
Semua orang di sana menoleh ke arah Elvira. Ratih dan Teguh bingung dengan kehadiran perempuan asing di sini. Sedangkan David dan Sari masih berada di kamarnya.
David yang mendengar suara sang ibu, langsung keluar dari kamar.
“Ibu siapa? Mencari siapa?” Tanya Ratih sopan.
“Saya..”
“Ini Mommy saya, Bu.” Jawab David tiba-tiba dari kejauhan, lalu mendekat ke arah ibunya.
Elvira terkejut oleh pernyataan David, ingin rasanya ia menangis.
“Oalah, ini ibunya David.” Senyum sumringah dari Ratih.
“Mari, Bu. Silahkan masuk.” Kata Teguh sopan.
Teguh dan Ratih menyambut hangat kedatangan Elvira. Elvira pun sangat menyukai keluarga Sari.
“Ibu datang dari Mencester Yunitid.” Ucap Ratih.
“Apaan sih, Bu.” Ardi menyenggol lengan ibunya.
“Iya kan, katamu, Nak David berasal dari Mencester Yunitid, terus kalian mau di ajak kesana.” Celetuk Ratih lagi.
David dan Elvira hanya tersenyum.
“Maaf ya, Bu. Istri saya memang banyak bicara.” Ucap Teguh.
David tersenyum, ternyata banyak bicara Sari berasal dari ibunya.
“Bukan, Pak Bu. Saya dari Jakarta. Sebenarnya David bukan asli dari Inggris. Kebetulan dulu saya bekerja di sana dan bertemu ayah David, lalu menikah.” Kata Elvira, Sambil menatap wajah sang putra yang hanya menunduk. Dan tak menolehnya.
“Oalah, ternyata seperti itu. Pantas saja bahasa Indonesia Nak David fasih sekali.” Ujar Teguh.
Elvira mengangguk.
Akhirnya, mereka berbincang lama, hingga Sari keluar.
“Mommy..” panggil Sari.
Elvira langsung membentangkan tangannya untuk memeluk ibu mertuanya itu.
“Sayang.. Terima kasih, terima kasih atas semua yang kamu lakukan buat mommy.” Elvira menangis di pundak Sari.
__ADS_1
Sari pun memeluk erat tubuh Elvira dan mengelus pundaknya.
“Memang seharusnya seperti ini, Mom. Ikatan anak dan ibu tidak dapat di pisahkan oleh apapun, karena Sari pun akan menjadi seorang ibu.”
Elvira melonggarkan pelukannya. “David beruntung memiliki istri sepertimu.”
“Sepertinya tidak.” Jawab Sari
“Kenapa?”
“Karena Sari selalu bangun kesiangan. Mom.”
Elvira tertawa.
Jam demi jam berjalan, acara tujuh bulanan yang di adakan David dan sari berjalan dengan lancar di iringi cuaca yang cerah. Ibu-ibu pengajian yang jumlahnya hampir seratus orang itu mengisi rumah Sari yang cukup luas.
Sari mengikuti proses adat mereka, di bantu suaminya yang selalu berada di samping. Mereka semua tertawa, tidak ada ketegangan yang terjadi seperti sebelumnya. Ketegangan antara David dan Teguh, serta ketegangan antara david dan Elvira, kini sudah mencair. Sari pun sudah sangat menerima David sebagai suaminya.
Beberapa jam kemudian, Acara adat selesai. Kini para tamu menikmati hidangan yang di sediakan. Sengaja, David memesan makanan untuk tiga ratus orang.
Senyum sari selalu mengembang di iringi riasan cantik dan natural yang membuat David tak kunjung beralih manatap wajah sang istri. Sari menoleh ke arah david yang sedang memandangnya. Sari ikut tersenyum.
“Terima kasih.” Ucap Sari sambil memeluk David dari samping.
David melingkarkan tangannya pada pinggang Sari.
“Kamu harus bahagia, karena jika kamu bahagia, dia juga akan ikut bahagia di sini.” Kata David, sambil mengelus perut bulat Sari.
“Assalamualaiku.” Suara Inka mengejutkan David.
David langsung melepas tangannya yang tengah melingkar di pinggang Sari. Sari pun terkejut karena sikap david, ia melihat ke wajah suaminya yang memandang lurus menatap wanita cantik, yang merupakan mantan bos Sari.
Sari pun mengikuti pandangan David.
“Miss Inka..” Wajah Sari langsung berbinar melihat kehadiran mantan bosnya.
David diam mematung, bukan karena senang atas kehadiran Inka, tapi khawatir Inka akan menceritakan apa yang terjadi sebenarnya di malam petaka itu.
“Sari..” Inka langsung memeluk tubuh Sari, hingga bergoyang.
“Miss.. Kangen banget.” Ujar Sari dengan senyum mengembang.
“Sama. Aku juga kangen banget.” Inka pun tersenyum.
Di belakang Inka ada Sukma yang mengantarkan.
“Hai, Suk. Apa kabar?’ Sari menyalami Sukma setelah pelukan itu mengendur.
“Baik, Mba.” Sukma membalas uluran tangan Sari.
Inka dan Sukma tak menoleh ke arah david sedikit pun, hingga akhirnya Sari memperkenalkan suaminya.
“Miss, Ini suami Sari. Mas David temannya Pak Rio kan?’
David menglurkan tangannya pada Inka dan Sukma. Lalu, Inka dan Sukma pun membalas uluran tangan itu.
Inka mengangguk. “Iya, maaf Mario tidak bisa hadir karena ada pekerjaan yang tidak bisa di tinggalkan. Dia hanya menitipkan salam pada kalian.”
“Oh iya, jenis kelaminnya apa? Kelihatannya bulat sekali.” Ucap Inka sambil mengelus perut Sari.
Sukma pun ikut mengelus perut bulat itu. “Ini pasti laki-laki ya.”
Sari mengangguk dan tersenyum. “Iya benar.”
“Wah selamat, semoga lancar persalinannya, sehat ibu dan bayinya.” Kata Inka.
“Aamiin.” Ucap Sari dan David bersamaan.
__ADS_1
David meninggalkan Sari dan Inka yang sedang berbincang di teras samping. Sungguh batin David bergejolak, ia sangat khawatir dengan apa yang di obrolkan kedua wanita itu, karena sesekali Sari menoleh ke arah David.