Istriku Canduku 2

Istriku Canduku 2
kampung halaman 2


__ADS_3

Setelah empat belas jam, akhirnya pesawat yang di tumpangi keluarga David dan Sari akan segera landing di Bandara Internasional Heathrow di kota London, tepat pukul enam pagi. Selama perjalanan, Ratih selalu tidur karena sebelumnya ia meminum obat anti mabuk darat dan udara sebanyak dua kali. Teguh tertawa sambil menggelengkan kepalanya melihat kelakuan sang istri, tapi ia tetap menyayanginya hingga di usia senja.


“Bu, Kita sudah sampai. Ayo bangun!” Teguh menepuk pelan pipi Ratih. Ia tertidur lagi setelah sholat subuh, karena di sini waktu subuh menunjukkan sekitar pukul 02.30, dengan matahari terbit sekitar pukul 05.30.


Ratih mengerjapkan matanya.


“Sudah sampai, Yah? Cepat sekali.” Tanya Ratih tidak percaya.


Teguh mengangguk. “Sebentar lagi landing. Ayo siap-siap!”


Sementara Elvira, sudah keluar dari kamarnya dan duduk di tengah badan pesawat. Ia di temani oleh putranya yang duduk di sebelah dengan merangkul bahu dan menggenggam tangan ibunya. Elvira pun menceritakan banyak hal, tentang insiden-insiden lucu semasa David kecil, kesukaannya, atau pun hal yang membuatnya takut. Ia juga menceritakan tentang awal pertemuannya dengan ayah David dulu.


Mereka bernostalgia, sambil menikmati pemandangan awan gelap yang mulai menguning karena matahari semakin memunculkan diri.


“Mom, Dav bangunkan Sari dulu ya.” Ucap David, ketika mendengar informasi dari petugas di dalam pesawat itu bahwa sebentar lagi akan landing.


Ia meninggalkan sang ibu yang masih duduk di sana.


Elvira tersenyum dan mengangguk


Kemudian, David masuk ke kamarnya. Ia melihat sang istri yang tengah tertidur bersama putra kecilnya. Sari masih terlelap dengan memeluk Melvin.


“Sayang.” David mengelus pipi Sari.


“Sayang, ayo bangun! Sudah sampai.” Kata David lagi, sambil menelusuri wajah Sari dengan jarinya. Ia mengusap lembut anak rambut yang menutupi wajah manis sang istri.


“Hmm...” Sari melenguh, perlahan matanya terbuka.


“Sudah sampai?”


David mengangguk.


“Aku masih ngantuk.” Jawab Sari dengan suara berat.


Pasalnya, semalam Melvin agak sedikit rewel karena ASI Sari yang semakin sedikit. Untungnya, ia sudah antisipasi dan membawakan susu formula untuk berjaga-jaga. Benar saja, hal ini terjadi.


David juga membantu sang istri untuk menenangkan putranya malam itu.


“Kenapa, dia semalam seperti itu. Tidak biasanya.” Kata David sambil mengelus tubuh Melvin yang masih terlelap.


“Aku juga ga tau kenapa.” Sari mengerdikkan bahunya.


“Apa karena ASI ku sudah tidak banyak lagi ya? Tapi aneh kenapa jadi sedikit? Padahal makanku masih banyak seperti biasa.”


“Nanti coba tanya ke Ibu atau Mommy, mungkin mereka tau.” Jawab David.


Sari langsung mengangguk.


“Sayang, sepertinya sebentar lagi akan landing.” Ucap David yang langsung menggendong putranya, khawatir terbangun karena guncangan saat roda pesawat menyentuh tanah.


Sari pun memeluk tubuh suaminya. Ia juga tak biasa mendengar suara bising ketika landing.


Setelah pesawat turun dengan sempurna, masing-masing keluar dari kamarnya.

__ADS_1


“Melvin masih tertidur, Dav?” Tanya Elvira.


“Iya, mom. Semalam dia agak rewel.”


“Oh, maaf. Mommy tidak mendengar, semalam mommy kelelahan, hingga tertidur pulas.” Jawab Elvira.


“Tidak apa, Mom.”


“Saya juga tidak dengar Melvin menangis.” Ujar Ratih.


“Bagaimana ibu mau dengar, lah wong tidur terus koyo kebo.” Ucap Teguh.


“Ayah, Hmm..” Rengek Atih, sambil memukul lengan suaminya.


David, Elvira, Sari, dan Nina tertawa.


“Ini si Ardi mana? Lama sekali.” Tanya Sari yang sudah siap akan keluar.


Ardi berlari sambil menarik kopernya.


“Maaf, terlambat.” Ardi nyengir menampilkan jejeran gignya.


“Semua sudah siap dan tidak ada yang tertinggal ya?” Tanya David dan di angguki semua anggota keluargnya di sana.


“Oke, Welcome to my country.” Kata David tersenyum lebar.


“Apa toh artinya, Yah?” Tanya Ratih berbisik pada suaminya dengan menggandeng lengan Teguh.


“Ah, masa sih? Sepertinya bukan itu.” Ucap Ratih pelan dengan wajah yang polos.


Teguh terkikik geli. Ia memang paling senang menjahili istrinya.


David berjalan membawa keluarganya menuju lobby bandara. Bandara yang luas dan megah, di lengkapi dengan berbagai teknologi digital untuk memudahkan dalam mengakses segala informasi di sana. Negara dengan sebutan UK (United Kingdom) ini merupakan negara maju yang pada tahun 2009 di nobatkan sebagai salah satu pusat bisnis dan keuangan terbesar di dunia.


David melambaikan tangannya, ketika melihat George berdiri dari kejauhan. Elvira pun tersenyum ke arah George. Dua puluh lima tahun lebih ia tak berjumpa pria itu, salah satu pria yang ikut membantu memulangkannya ke negaranya, sekaligus terbebas dari kungkungan suami tercinta.


“Hai, George.” Sapa David tersenyum.


George langsung memeluk pria yang sudah ia anggap seperti anak sendiri.


“Hai, Elvira. Lama tak jumpa.” George juga memeluk erat Ibu David yang masih terlihat cantik di usianya.


“Lama tak bertemu, George. Kau masih terlihat seperti dulu.” Ucap Elvira yang menahan air matanya, walau bibirnya tersenyum.


Ia terharu dengan hari ini. Hari yang sama sekali tak pernah ia bayangkan, karena Elvira tidak pernah ingin menginjakkan kakinya kembali ke negara ini seumur hidupnya.


“Oh, Ya.” George tertawa.


Semantara Sari dan keluarganya hanya menyaksikan keharuan ketiga orang di hadapannya ini. Mereka berkata dengan menggunakan bahasa Inggris, membuat Ratih bingung.


“Apa ini istrimu?” Arah mata George tertuju pada Sari.


Sari tersenyum dan mendekati George, lalu mengulurkan tangannya.

__ADS_1


“Dia sangat cantik, pantas kau tergila-gila padanya.” Ledek George.


“Tentu saja.” Jawab David, sambil merangkul bahu Sari.


Sari pun tersenyum malu.


“Apa ini anakmu? Hey dia sangat tampan.” George mengelus pipi bulat Melvin yang masih terlelap di strolernya, yang di dorong oleh Nina.


“Ya, dia mirp denganku bukan?” Kata David, membuat George tersenyum lebar.


“Asal kelakuannya tidak sepertimu saat besar nanti.” Ucap George, membuat Sari dan Elvira tertawa, begitu pun David.


Hanya Ratih dan Nina yang benar-benar tidak mengerti percakapan mereka sama sekali. Sedangkan Teguh hanya mengerti kata-kata yang familiar di telinganya saja dan Ardi cukup mengerti, walau masih ada kata-kata yang hanya bisa ia mengerti dengan bahasa tubuh.


Lalu, David memperkenalkan Teguh, Ratih, Ardi, dan Nina pada George.


“Waw, kau punya keluarga yang lengkap sekarang, Dav.” Kata George.


“Ya, dan itu yang membuatku betah di sana.”


“Sial, kau beruntung sekali, Nak.” Ledek George, sambil menepuk bahu David.


“Baiklah, kita ke rumah. Di sana Sam sudah menyiapkan kedatangan kalian.” Ucap George lagi dengan gembira.


“El, Sam sangat merindukanmu.” George sengaja mensejajarkan dirinya dengan Elvira saat semua orang berjalan menuju pintu keluar.


George merangkul bahu Elvira.


“Kami memiliki jalan hidup masing-masing, George.”


“Tapi dia masih menunggumu, El.”


Elvira hanya tersenyum tipis. Ini yang ia khawatirkan. Hal ini juga yang awalnya membuat ia menolak untuk ikut. Namun, David merengek, apalagi Sari. Ia tak kuasa menolak permintaan putra dan menantu kesayangannya itu.


“Kau tidak berubah, selalu keras kepala, El. Sepertinya, keras kepala David menurun darimu.” Ucap George lagi, sambil tertawa.


“Hey.” Elvira membulatkan matanya ke arah George, membuat pria itu semakin tertawa.


David menoleh sedikit ke belakang. Ia pun ikut tersenyum melihat sang ibu dan teman baik sang paman yang sedang bersenda gurau. Mereka seperti sedang bernostalgia.


“Dia siapa mu, Mas?” Tanya Sari pada David di sela-sela langkah mereka menuju mobil yang sudah George sediakan.


“Dia sahabat uncle Sam. Dia sudah seperti ayah bagiku, dan dia juga salah satu orang yang membantu mommy pulang ke Indonesia, lalu pergi meninggalkanku.”


“Sayang.” Sari memeluk pinggang suaminya agar tidak sedih dan tidak lagi mengingat hal buruk dalam hidupnya.


“Aku sudah tidak apa-apa lagi sekarang, Sayang. Bahkan, aku lupa kalau mommy dulu pernah meninggalkanku.”


“Benarkah?” Tanya Sari senang.


David mengangguk. “Itu semua berkat kamu.”


Sari kembali tersenyum dan memeluk erat pinggang David.

__ADS_1


__ADS_2