Istriku Canduku 2

Istriku Canduku 2
menyentuhmu lagi dan lagi


__ADS_3

Rama mencari informasi tentang Melisa, tentang bisnisnya dan tempat tinggalnya. Ia berdiri di depan rumah minimalis Melisa, menunggu di depan gerbang pintu rumah itu hingga ada yang membukanya.


Benar saja, tak lama kemudian, Melisa membuka gerbang itu, karena jam segini memang waktunya ia memantau kedua usahanya.


Rama berdiri dengan menyilangkan kedua tangannya di dada.


Deg


Melisa terkejut saat membuka gerbang dan langsung mendapati sosok pria yang tak pernah terbayang akan bertemu lagi.


“Maaf ini bukan rumah Kak Melinda.” Ucap Melisa yang merasa bahwa Rama akan bertemu dengan Melinda mengenai urusan perceraian sang kakak yang sudah selesai, tinggal menunggu pembagian gono gini.


“Aku tidak mencari Melinda, Aku mencarimu.” Ucap Rama dengan nada dingin.


Dengan cepat, Melisa mencoba menutup kembali gerbang itu. Namun, dengan cepat pula Rama menahannya. Ia menyerobot dan masuk ke dalam pintu yang akan Melisa tutup.


“Kamu mau apa? Aku tidak kenal kamu, kita tidak saling kenal.” Melisa membuang pandangannya ke sembarang arah.


Namun, Rama mendekati Melisa dan mencium aroma tubuhnya. ia memejamkan matanya saat yakin bahwa aroma ini adalah aroma tubuh itu.


“Ih, apaan sih.” Melisa mencoba menghindar dari wajah Rama yang semakin dekat dengan leher jenjangnya.


“Di mana dia?’ Tanya Rama yang sudah meninggalkan Melisa dan berjalan masuk ke dalam rumahnya.


“Dia siapa?” Tanya Melisa bingung.


“Anakku.”


“Anakmu siapa?” Melisa menahan langkah Rama dan memukul dadanya.


“Anak laki-laki yang mirip denganku.” Jawab Rama santai.


“Kita tidak saling kenal, bagaimana bisa aku punya anak darimu.” Ucap melisa dengan suara bergetar.


Sungguh ia takut Rama mengambil Edrick darinya, terlebih lagi Rama adalah seorang pengacara.


“Come on, Mel. Aku ingat kamu, aku ingat kita pernah bercinta delapan belas bulan yang lalu di club XX di Bali.”


“Aaa..” Teriak Rama saat melihat sosok Edrick tengah di gendong oleh pengasuhnya.


“Halo Sayang.” Rama mendekati Edrick dan mencoba mengambilnya dari Mba Tati.


“Hai, sayang. Ini papa. Ayo sini papa gendong.”


“Tidak.” Melisa menghadang.


Lalu, Rama menggendong Melisa seperti karung beras.


“Di mana kamarnya?” Tanya Rama pada Mba Tati.


Mba Tati dengan takut menunjuk kamar Melisa. Lalu, Rama membawa Melisa ke sana.


“Brengsek kamu, b*jing*n.” Melisa terus mengumpat dan memukul punggung Rama dengan kaki yang di gerakkan brutal. Namun, Rama memegang kaki itu agar tidak banyak bergerak.


Bruk.


Rama membanting tubuh Melisa ke ranjang dan menindihnya.


“Mengapa tidak mencariku? Mengapa justru malah meminta bantuan dari pria asing. Hah?”


“Kemana aku harus mencarimu? Kamu meninggalkan aku seprti j*l*ng, Bahkan aku tak di beri uang setelah di pakai.”


“Karena kamu yang minta untuk di sentuh.”

__ADS_1


“Tapi aku tak minta untuk di buahi.” Teriak Melisa.


Cup


Rama ******* bibir Melisa yang berwarna pink. Ia terus ******* bibir atas dan bawah Melisa, menggigit kecil hingga bibir itu terbuka. Rama tak menyia-nyiakan kesempatan itu, ia langsung menelusuri rongga mulut Melisa dengan lembut, hingga terdengar kecapan berkali-kali.


“Mmmpphh..” Melisa memukul dada Rama berulang-ulang.


Tak lama kemudian, Rama pun melepas pangutan itu.


“Brengsek.” Melisa mencoba menjauhkan diri dari kungkungan Rama.


“Mau aku sentuh lagi?” Tanya Rama tersenyum licik.


“Brengsek, akan aku adukan kelakuanmu pada ayah.”


“Sayangnya ayahmu akan lebih percaya padaku, di banding putri bungsunya yang susah di atur ini.” Rama menyeringai.


"Brengsek. Pergi kamu. Pergi!” Teriak Melisa, sambil mendorong dada Rama.


“Aku akan tinggal di sini. Aku akan tinggal bersama anakku dan calon istriku.”


“Apa hak mu berkata seperti itu?” Tanya Melisa kesal.


Rama tersenyum. Sebelum datang ke tempat ini, ia sudah meyakinkan diri untuk bertanggung jawab. Ia memang tak ada bedanya dengan David. Ia pun akan memilih cara yang sama, bertanggung jawab pada anaknya dan mencintai ibunya. Apalagi Melisa bukan orang asing dalam keluarganya, hal ini membuatnya tidak sulit untuk menyayangi wanita itu.


****


Ting Tong..


Bel apartemen Sari berbunyi.


Sari membuka pintu apartemen itu, menampilkan sosok pria bertubuh tegap yang merupakan asisten suami tercintanya.


“Sore, Bu.” Malik membungkukkan sedikit tubuhnya.


“Saya akan menjemput ibu, sesuai permintaan Bos.”


Sari mengangguk. Memang sebelumnya, sang suami berpesan untuk ikut dengan asistennya. Sari berpamitan pada Nina dan meminta Nina untuk bolos sekolah hari ini, karena Sari sedang ada acara mendadak.


“Hati-hati, Bu.” Nina melambaikan tangannya. ia juga mengajak Melvin untuk melambaikan tangan ke arah sang ibu.


Sari membalas lambaian itu dengan senyum. Kemudian, ia mengikuti langkah Malik.


Malik membawa Sari ke butik, lalu ke sebuah salon.


“Malik, sebenarnya ini ada acara apa sih?” Tanya Sari, saat ia hendak di dandani.


“Pertemuan pembesar, Bu.”


“Haruskah berdandan seperti ini?”


Malik megangguk dan berkata, “sesuai permintaan Bos.”


“Oh, menyusahkan sekali, padahal harusnya aku sudah tidur jam segini.” Gumam Sari, membuat Malik menyungging senyum.


Sari siap dengan gaun putih yang panjangnya hanya dua jengkal dari pinggul dan pas dengan lekuk tubuhnya, sedikit terbuka di bagian bahu serta dada, rambutnya pun di biarkan tergerai dengan gaya kriwil di bawahnya. Sari terlihat sangat cantik dengan bentuk tubuh sempurna.


Di sebuah kapal pesiar mewah yang berdiri di kepulauan seribu, David tengah bertemu dengan pebisnis-pebisnis besar negara ini. Mereka membicarakan tentang kerjasama yang akan memperluas jaringan bisnisnya. Di setiap akhir acara pada pertemuan seperti ini, pasti nantinya akan di suguhkan oleh wanita-wanita cantik yang akan menemani pria-pria di sini untuk tidur dan memanjakannya. Namun, David telah mengantisipasi dengan membawa istrinya ke sini. ia tak menolak ajakan koleganya, tapi ia memilih sendiri wanitanya.


“Sir David. Ini wanita untukmu.” Kata salah seorang pria paruh baya di sana.


“Oh, Sorry, aku sudah memesan wanitaku sendiri.”

__ADS_1


“Oh, ya?”


David mengangguk. Pria paruh baya itu pun tak banyak bicara, karena memang di perbolehkan untuk membawa wanitanya sendiri.


Malik sampai di kapal pesiar itu. Sari di ajak untuk masuk ke dalamnya. Ia menganga melihat kapal yang mewah dan megah itu.


“Malik, aku mau di bawa kemana? Aku tidak akan di jual oleh mu kan?” Tanya Sari membulatkan matanya.


Malik Tertawa.


“Mana mungkin, Bu. Saya bisa kehilangan nyawa saya jika melakukan hal itu.” Jawab Malik sambil berjalan di depan Sari.


Tiba-Tiba, Malik berhenti di depan salah satu pintu kamar yang berjejer di sana.


“Silahkan, Bu. Suami anda menunggu di dalam.” Ucap Malik.


Sari pun tersenyum dan perlahan membuka pintu itu.


“Mas..” Panggil Sari saat ia masuk ke dalam kamar itu.


Kaki Sari berjalan menelusuri area dalam kamar itu. Kamar yang luas dan mewah. Ia pun melihat pintu balkon yang terbuka dan melihat sosok suaminya tengah menuangkan air berwarna merah ke dalam gelas yang berada di meja, yang pasti air itu bukanlah alkohol, karena Sari tak menyukai minuman seperti itu.


“Mas..” Ucap Sari lagi.


David menoleh ke sumber suara itu. Ia tersenyum melihat istrinya yang sangat cantik. Lalu, ia pun menghampirinya.


David mencium bibir itu, mengecapnya tidak hanya sekali.


“Kamu cantik sekali.” Kata David setelah melepas pangutan itu dan mengusap sisa saliva yang menempel di bibir sang istri.


“Ini kejutan untukku?” Tanya Sari dengan mata tertuju pada candle light diner yang David siapkan di meja itu, di iringi suara ombak dan angin malam yang menyibakkan rambut Sari yang tergerai.


David memeluk Sari dari belakang. Ia menuntun sang istri untuk berjalan perlahan menuju meja yang telah ia siapkan itu.


“Ini untukmu, untuk istriku yang selalu menjadi canduku, penghilang penatku, dan ibu dari anak-anakku.”


Sari menoleh ke belakang untuk melihat wajah sang suami dan tersenyum bahagia.


“Aku mencintaimu, Mas.”


“Aku lebih mencintaimu.” David pun tersenyum ke arah Sari.


Kemudian, Mereka menikmati hidangan makan malam itu dengan penuh canda tawa, karena memang ada saja kelakuan atau perkataan Sari yang membuat David tergelak. Padahal menurut Sari itu tak lucu.


Setelah makan malam, David menggendong Sari menuju ranjang di sana dengan membiarkan pintu balkon terbuka. Mereka ingin bercinta di iringi deburan ombak dan angin malam yang dingin alami.


“Jadi, aku di persiapkan dandan seperti ini, hanya untukmu?”


David tersenyum dan mengangguk.


“Memang untuk siapa lagi kalau bukan untukku?” Tanya David tertawa dengan pertanyaan istrinya.


“Hah, menyusahkan sekali, padahal nantinya gaun sebagus ini akan kamu robek juga dan dandanan yang di buat berjam-jam ini akan luntur karena ciumanmu yang tak berhenti.”


David tergelak, walau memang ucapan Sari benar adanya.


Kemudian, perlahan David kembali meluncurkan aksinya. Gaun itu pun di buka dengan sedikit paksaan karena terlalu lama untuk terlepas dari tubuh Sari. Bibirnya pun kembali menelusuri tubuh Sari dari ujung kepala hingga kaki. Ia tak melewatkan satu senti pun tubuh Sari dari bibirnya dan membuat tanda merah di bagian yang ia inginkan.


“Hmm..” Sari melenguh, bagaikan terbang ke langit ke tujuh.


Ia menggigit bawah bibirnya dan memejamkan matanya, saat sentuhan itu benar-benar memberi kenikmatan yang luar biasa.


Entah ini sudah ke berapa kalinya mereka melakukan penyatuan. Mungkin ratusan. Namun, David tak pernah bosan, malah rasanya selalu ingin mengulanginya lagi dan lagi.

__ADS_1


__ADS_2