
"Hai, apa kabar kamu? udah lama kakak ngga ketemu kamu." Ucap Sisy kesal pada sang adik yang jarang sekali di rumah.
"Baik, kerjalah.. mau ngapain lagi. Cari duit yang banyak." Jawab santai Rama.
Arah matanya, asyik menonton televisi dengan mengunyah makanan ringan, sambil memegang toples kecil. Rama memang saat ini menjadi workholic, ia tak keberatan jika di tugaskan keluar kota bahkan keluar negeri.
"Kamu jadi gila kerja seperti ini, bukan karena patah hati di tinggal Sari menikah kan?" Tanya Sisy lagi.
Rama mengangguk. "Mungkin."
"Beberapa hari yang lalu, kakak ketemu Sari."
Rama langsung menoleh ke arah Sisy.
"Di mana?" Tanya Rama antusias.
"Seneng banget sih kalau udah sebut nama Sari." Ledek Sisy pada adiknya.
"Perasaan Rama ke Sari ngga pernah berubah, Kak. Rama sungguh mencintainya." Ucap Rama lirih.
"Cinta atau obsesi?" Tanya Sisy dengan intens menatap wajah sendu sang adik.
Rama terdiam.
"Hanya kamu yang tau, apa yang kamu rasakan saat ini? Apa benar ini cinta atau hanya obsesi? karena tiba-tiba dia menjadi milik orang lain, padahal kamu telah menjaganya dengan hati-hati. Seperti mainan kesayanganmu, yang sudah kamu jaga dan pelihara tapi tiba-tiba orang lain merebutnya, bahkan memiliki dan mengambil semuanya."
Arah mata keduanya tertuju ke depan. Mereka menatap televisi sambip bicara dan berpikir dengan pikiran masing-masing.
Sore ini, Sofia tengah mengajak cucunya berkeliling taman komplek rumah mereka.
"Kakak tau perasaanmu, Ram. Cinta bercampur obesesi, membuatmu menjadi seperti ini. Asal jangan kamu gunakan cara licik untuk mendapatkannya kembali!" Kata Sisy.
Rama menggeleng. "Tidak akan."
"Kakak bertemu Sari di mall xxx. Dia tinggal di apartemen sebelahnya, tepat di lantai 4."
Rama menatap serius wajah sang kakak. Kemudian, ia tersenyum.
"Terima kasih, Kak." Kata Rama, sambil memeluk tubuh Sisy dari samping.
"Ingat Rama, Jangan ganggu dia lagi jika dia sudah bahagia dengan pernikahannya!"
"Jika dia tidak bahagia dengan pernikahannya?" Tanya Rama pada sang kakak.
"Kamu boleh merebutnya dan buat Sari bahagia."
Rama tersenyum. "Akan aku lakukan, Kak."
Lalu, ia bangkit dari duduknya menuju kamar. Ia mulai merencanakan sesuatu, rencana untuk mendapatkan kekasihnya kembali, dengan cara natural, seperti pada saat dulu ia memikat hati Sari, gadis manis yang mandiri itu.
Keesokannya, Rama langsung mendatangi manajemen apartemen tempat Sari tinggal. Ia pun berencana menyewa apartemen di lantai yang sama dengan yang Sari dan David tempati. Selain ia senang karena dapat melihat Sari walau dari jarak jauh, ia juga bisa memantau keadaan Sari. Seperti janjinya pada Sisy tadi, jika Sari tidak bahagia dengan pernikahannya, maka ia akan merebutnya kembali dan membuat Sari bahagia. Rama memang sudah jauh berubah.
****
Siang ini, Seperti biasa, Sari hanya bersantai di ruang televisi, sementara suaminya masih berkutat dengan pekerjaannya di ruang kerja.
Ting Tong..
Apartemen David berbunyi.
Sari segera bangkit dan menghampiri pintu utama apartemennya.
Ceklek.
Sari membuka pintu itu dan melihat sosok wanita yang kemarin datang dengan mengaku telah hamil anak suaminya.
Wanita itu pun langsung nyelonong masuk tanpa aba-aba dari si empunya rumah.
Sari hanya melihat wanita itu dengan tatapn kesal. Ia mengeryitkan dahinya.
"Nama kamu siapa?" Tanya Sari saat berhadapan dengan wanita itu di dalam ruang tamu.
"Aku Mellisa."
__ADS_1
"Hai Mellisa, mengapa kamu datang di siang hari? kamu tahu jam segini suamiku tidak di rumah. Bukankah kamu ingin menemui suamiku?" Tanya Sari.
"Suami? Cih, jijik sekali mendengar kata itu dari mulutmu." Mellisa mengalihkan pandangannya ke sudut yang lain di sana.
"David memang sudah menjadi suamiku, sekarang." Jawab Sari lantang.
"Itu hanya mimpi, kenyataannya dia tidak pernah serius dengan wanita manapun. Nanti setelah bosan, kau pun akan di tinggalkan seperti aku." Ucap Mellisa, membuat Sari terdiam.
Sari mulai termakan perkataan Mellisa tadi.
"Siapa yang akan di tinggalkan." Suara bariton David terdengar, sambil berjalan ke arah kedua wanita itu dengan kedua tangan yang di masukkan sedikit ke kedua saku celananya.
Mellisa terkejut, wajahnya pucat pasi karena melihat kehadiran David di sini.
"Dav.." Panggil Mellisa lirih.
Kedua mata wanita itu tertuju pada pria tampan yang sedang berjalan ke arah mereka.
"Kau mencariku?" Tanya David menyeringai pada Mellisa.
"Dav.. aku merindukanmu." Mellisa langsung berlari ke arah David dan memeluknya.
Sari memalingkan wajahnya, melihat adegan mesra suaminya dengan wanita lain. Hatinya seperti teriris dan David melihat raut wajah kecewa dari sang istri. David terus memandang wajah Sari yang tak sedang memandang ke arahnya.
David langsung melepas pelukan Mellisa.
"Ada apa kau menemuiku?"
Mellisa mematung, melihat sikap dingin David, walau ini bukan kali pertama David bersikap dingin padanya, tapi beberapa tahun terakhir David begitu memanjakannya.
David menghampiri Sari dan menatapnya. Sari tak ingin melihat David, ia masih memandang ke arah Mellisa atau ke arah lain.
"Aku hamil anakmu, Dav." Kata Mellisa.
David melirik ke arah Sari. Ia ingin melihat ekspresi sang istri, nyatanya Sari hanya menunduk.
"Oh ya? Apa buktinya? Berapa usianya dan kapan terakhir kali kita melakukannya? Jika terbukti kau berbohong, kau tahu betul bagaimana aku dan apa hukuman untuk pembohong." Ucap David dingin dengan rahang mengeras.
"Aku punya bukti, kapan terakhir kita melakukannya dan tempat di mana kita melakukan itu. Aku juga tahu berapa usia kandunganmu sekarang. Kalau kau ingin menipuku, kau salah orang. Aku bukan pria bodoh, kau tahu." Ucap David Kesal, sambil mencengkram dagu Mellisa kasar.
Sari langsung memegang tangan suaminya yang berada di dagu Mellisa.
"Mas, lepas! kamu bisa membunuhnya." Sari membulatkan matanya ke arah David.
Namun, David tak mendengar peringatan sang istri. Rona matanya semakin merah di penuhi kabut amarah.
"Biar dia mati dan tubuhnya aku buang ke panakaran buaya. Wanita licik seperti ini tak sepantasnya hidup."
"Katakan siapa ayah bayi yang kau kandung? Katakan?" Cengkraman David semakin keras.
"Mas, Apa kamu gila? Teriak Sari.
David masih mencengkram leher Mellisa.
"Ba..yi.. in..i.. memang bukan anakmu."
David langsung melepas cengkramannya.
"Uhuk.. Uhuk.. Uhuk.." Mellisa terbatuk karena cengkraman David yang keras pada bagian lehernya.
Sari memukul dada David.
"Kamu gila, Aku tidak mau mempunyai suami seorang pembunuh."
David hanya berdiri diam dengan mata marah pada Mellisa. Namun, Mellisa merasa terharu karena Sari telah membelanya.
"Mengapa kau tidak meminta tanggung jawab pada ayah itu?" Tanya David.
Mellisa menggeleng.
"Ini kecerobohanku, kami melakukannya saat mabuk dan sekarang aku tak tahu dia di mana?"
"Bagaimana rupanya? Siapa tahu David bisa membantu mencarikan pria itu." Celetuk Sari, yang langsung di balas dengan tatapan tajam dari David.
__ADS_1
Arah mata Sari langsung menangkap tatapan suaminya.
"Kamu kan punya banyak informan, pasti tidak sulit mencari orang, iya kan?" Tanya Sari polos.
Mellisa tersenyum.
"Ternyata wanita ini yang bisa melunakkan hatimu, Dav."
"Hmm.." Sari meminta Mellisa untuk mengulangi kata-katanya, sementara David hanya terdiam.
David mengambil cek di dalam kamarnya, lalu memberikan pada Mellisa.
"Ini untukmu, paling tidak sedikit biaya untuk keperluan persalinanmu." David menyerahkan selembar kertas pada Mellisa dan Mellisa pun menerimanya.
Namun, Sari langsung merebut kertas itu sebelum sampai di tangan Mellisa.
"Sebagai nyonya Osborne, saya harus tahu berapa uang yang di berikan suamiku untukmu."
Tiba-tiba Sari mengeryitkan dahinya.
"Sedikit sekali, kamu pelit sekali sebagai laki-laki, padahal dia sudah memuaskanmu selama tiga tahun. Tiga tahun." Sari menekankan kalimat terakhirnya dengan menampilkan ketiga jarinya.
Mellisa melirik ke arah David dan Sari, sementara mata David hanya tertuju pada istrinya. Sisi apalagi yang akan Sari tampilkan dari dirinya saat ini, membuat David semakin menyukainya.
"Berikan dia satu milyar." Kata Sari.
"Apa?" David dan Mellisa terkejut.
Terlebih Mellisa yang sangat terkejut mendengar uang sebanyak itu akan di berikan cuma-cuma padanya.
"Tidak, Apa kamu gila? Memang siapa dia? Mengapa aku harus tanggung jawab atas ulah orang lain."
Sari memeluk David.
"Kamu kan kaya, uang sebesar itu tak jadi masalah untukmu bukan?."
Lalu, David menulis lagi angka pada selebar kertas itu. Sari langsung meraih dan melihat nominal yang tertera di sana.
"Delapan ratus juta." Gumam Sari.
"Itu cukup, tidak kurang tidak lebih." Ucap David.
"Dasar pelit." Sari mengerucutkan bibirnya.
Lalu, ia memberikan kertas itu pada Mellisa.
"Aku tahu bagaimana perasaanmu ketika hamil dengan kondisi yang belum menikah. Apalagi saat ini kamu akan berjuang sendiri. Gunakanlah uang ini dengan sebaik-baiknya. kamu bisa memulai untuk membuka usaha atau apalah, agar dia dapat hidup dengan layak nanti." Sari mengelus perut Mellisa.
Tiba-tiba air mata Mellisa mengalir. Ia bisa merasakan ketulusan Sari. Lalu, Ia langsung memeluk tubuh Sari.
"Terima kasih, sekarang aku percaya mengapa David memilihmu."
Mereka berpelukan erat. Lalu, keduanya melepas pelukan itu.
"Sekali lagi terima kasih."
Mellisa tersenyum dan pergi.
David dan Sari mengantar Mellisa hingga pintu. David terus merangkul tubuh sekal sang istri. Lalu, mereka berdiri di depan pintu yang sudah mereka tutup kembali, setelah Mellisa pergi.
"Permatasari Anindya." Panggil David lirih.
"Hmm.." Sari menatap bola mata David.
Pandangan mereka bertemu dan saling menatap.
David masih diam, bibirnya sulit sekali untuk mengatakan cinta langsung di hadapan Sari. Ia hanya berani mengatakan itu saat Sari terlelap.
Sari menunggu David yang mengatakan cinta padanya. Namun, David hanya menatapnya. Walau dari tatapan itu terlihat cinta dan ketulusan seorang David, tapi sebagai wanita, Sari ingin kata-kata cinta itu terlontar langsung dari mulut pria ini.
Hap.
David bukan berkata, malah langsung menggendong Sari dan menciumnya. Sari di bawa ke kamar mereka di iringi pangutan yang tak berhenti. Sari membalas setiap sentuhan dari suaminya itu.
__ADS_1
Kemudian, David membaringkan Sari ke peraduan terindah mereka untuk menikmati cinta dari sebuah penyatuan. Walau keduanya tak pernah mengatakan lewat kata-kata, mereka hanya menyalurkan cinta dari sebuah penyatuan dengan emosi dan perasaan.