Istriku Canduku 2

Istriku Canduku 2
mengajukan syarat


__ADS_3

Sari duduk bersandar pada dinding tempat tidur pasien di ruang perawatan. Ia menatap matanya pada luar jendela. Hanya Rama yang di perbolehkan masuk ruangan ini, sedangkan David bahkan bayinya pun tidak di perbolehkan masuk ke ruangan ini.


“Sar, makan dulu!” Ucap Rama yang sedari malam menjaga Sari di sini, sementara David menjaga anaknya di ruang bayi.


“Sar, aku minta maaf. Karena obsesiku, kamu jadi seperti ini.” Rama berkata lagi.


“Ayo makan, Sar! Supaya cepat pulih, kasihan anakmu juga belum makan, dia belum di beri ASI sejak kemarin.”


“Sari..” Panggil Rama lagi.


Sari menoleh ke arah Rama, tidak ada senyum dan tidak ada wajah polos lagi di sana, yang ada hanya sorot kebencian. Sari menatap Rama tajam, membuat Rama tak lagi berbicara.


“Kamu tidak pulang?” Tanya Sari, sambil mengambil makanan yang Rama berikan.


“Aku khawatir dengan keadaanmu.”


“Tidak perlu khawatir, aku tidak apa. Pulanglah! Aku bisa menjaga diriku sendiri.” Jawab Sari dengan dingin, sambil menatap makanan di tangannya.


“Sar. Aku minta maaf.” Kata Rama lagi.


“Tidak ada yang perlu minta maaf dan tidak ada perlu di maafkan. Pulanglah, Mas. Aku sendiri.”


Rama menghelakan nafasnya kasar. Lalu, ia mengambil jaketnya dan mendekati Sari untuk pamit pulang.


“Jaga dirimu! Aku akan ke sini lagi besok.” Ucap Rama, sambil mengelus pucuk kepala Sari.


Sari hanya diam dan tak menjawab perlakuan Rama tadi.


Sari mengunyah makanannya perlahan dengan tetap memandang langit cerah di luar jendela. Tak ada satu pun keluarganya yang di beri tahu bahwa ia telah melahirkan, bahkan ia tak tahu di mana ponselnya berada sekarang.


Di apartemen, semalam Nina pulang dengan bingung, pasalnya isi apartemen ini berantakan. Ia pun tak mendapat kabar di mana kedua majikannya berada. Ia hanya membersihkan semua yang berantakan itu, sambil menunggu kabar dari majikannya.


Ceklek


Suster membuka pintu ruang perawatan VIP Sari.


“Bu, bayi ibu belum di susui. Kasihan dia menangis terus.” Ucap perawat itu, sambil membersihkan tubuh Sari.

__ADS_1


Sari diam. Ia hanya butuh waktu untuk menata rasa sakit di hatinya.


“Apa ayahnya masih di sana?” Tanya Sari.


Suster itu mengangguk.


“Suami ibu, tidak pernah jauh dari bayinya. Dia juga terlihat sangat sedih.” Jawab suster itu lirih.


Beberapa menit kemudian, Sari sudah lebih segar. Tubuhnya, sudah di bersihkan oleh perawat itu.


“Sus, ayah bayi itu boleh masuk ke ruangan ini.” Kata Sari pada suster itu, sebelum suster itu pergi.


Suster itu tersenyum. “Baik, Bu. Akan saya katakan.”


Sari masih menatap ke luar jendela. Entah mengapa melihat langit terhampar luas, membuat jiwanya semakin luas. Sudah tidak ada lagi air mata yang jatuh di pipinya dan sudah tidak ada lagi senyum yang mengukir wajahnya.


Ceklek


Perlahan David membuka pintu ruang perawatan Sari. Ia melihat Sari tengah menatap ke jendela, tak menoleh ke arahnya walau suara pintu terbuka terdengar jelas.


Sari masih belum menoleh ke arah suara itu. Warna awan yang putih dan langit yang biru lebih menarik di banding apapun.


“Sari.. “ Panggil David lagi.


Perlahan Sari menggerakkan kepalanya, menoleh ke arah David.


“Hmm..”


“Aku minta maaf, atas apa yang aku lakukan padamu. Sungguh itu semua di luar kesadaranku. Aku terlalu cemburu, aku terlalu mencintaimu, dan aku terlalu possesive terhadapmu.” David meneteskan air mata.


Ia sedih melihat Sari yang tak seperti biasa. Sari begitu dingin, tidak ada senyuman dan kepolosan lagi di wajahnya.


“Aku mohon, berilah anak kita ASI, dia menangis sejak semalam.” Ucap David lirih.


“Anak kita? Dia anakmu. Aku tidak pernah menginginkannya.” Jawab Sari dingin, membuat hati David tercubit. Hatinya teriris mendengar penuturan Sari.


“Baiklah, dia anakku. Aku mohon kasihani anakku.”

__ADS_1


“Aku akan menyusuinya, tapi dengan syarat.” Ucap sari menatap tajam kedua bola mata David yang berwarna biru.


“Apapun syaratmu, akan aku penuhi.”


Sari mengangguk.


“Pertama, aku ingin kita bercerai.”


David terkejut, hatinya perih. Ia sadar dengan konsekuensi ini. Ia sadar bahwa dirinya telah menyakiti istrinya begitu dalam. Ia sadar bahawa apa yang ia lakukan itu memberi luka bukannya hanya di hati tapi juga fisiknya.


“Jika itu maumu dan membuatmu bahagia, aku akan penuhi.” Jawab David dengan berat hati.


“Kedua, karena aku j*l*ng yang telah menghangatkanmu di ranjang selama ini dan telah melahirkan anakmu juga menyusuinya. Aku menginginkan uang lima milyar atas itu. Kamu tahu, mengandung selama 9 bulan dan melahirkan itu menyusahkan.” Ucap Sari lagi dingin. Ia seperti manusia yang tidak punya hati.


David mengangguk. Sungguh istrinya yang baik hati dan polos sudah berubah seratus delapan puluh derajat. Sari tidak lagi seperti Sari yang ia kenal, dan ini karena ulahnya.


“Aku akan penuhi syarat yang kamu minta. Tapi aku juga punya syarat.”


Sari masih menatap tajam wajah pria yang sangat di bencinya.


“Susui anakku hingga enam bulan.” Kata David lagi.


Sari mengangguk. “Baiklah.”


Keduanya terdiam.


Sari kembali menatap ke luar jendela, sedangkan david masih berdiri di sampingnya. Ingin sekali ia memeluk tubuh mungil istrinya itu, tapi tidak mungkin.


Sari menoleh ke arah David lagi.


“Jika sudah tidak ada yang di bicirakan, kamu bisa keluar.”


David menghela nafasnya kasar. Ia terenyum ke arah Sari yang tak membalas senyumnya.


****


Di luar, David memberitahu ibunya dan keluarga Sari bahwa Sari telah melahirkan. Ia tahu betul, Sari tidak bisa melukai keluarganya, sedangkan perceraian adalah hal yang paling akan melukai keluarga Sari. Oleh karena itu, David sengaja mengabarkan berita bahagia ini pada Ratih dan Elvira, agar kedua ibunya datang dan mampu mengubah pendirian Sari tadi. Ia pun berharap dalam waktu enam bulan, ia mampu meluluhkan hati Sari kembali.

__ADS_1


__ADS_2