Istriku Canduku 2

Istriku Canduku 2
fakta terungkap 2


__ADS_3

David menyetir dengan kecepatan tinggi menuju pabrik milik sang ayah. Sejak usia 18 tahun, ia sudah di perkenalkan oleh bisnis sang ayah. Perlahan, ia pun mampu memimpin bisnis ini, di bantu oleh Samuel, sedangkan sang ayah hanya memantaunya saja. Hingga akhirnya kecelakaan itu terjadi dan mental David yang mulai tidak stabil, Sam mengambil alih.


“Goerge, Di mana Uncle?” Tanya David, setelah bertemu assisten sang paman.


“Dav.. sejak kapan kau di sini?” George terkejut melihat David dan balik bertanya.


“Itu tidak penting, yang penting bagaimana kondisi Uncle?”


David berjalan cepat mengikuti langkah kaki George yang cepat.


“Sam, sudah di bawa ke rumah sakit. Kebetulan aku sedang tak bersamanya dan aku juga baru mendapat kabar ini dari pegawai yang lain.”


“Ayo kita ke sana!” Ajak George yang langsung memasuki mobilnya.


David mengangguk dan mengikuti George masuk kedalam mobilnya.


“lama sekali kau tak pulang, Dav. Apa di sana lebih menyenangkan, hingga kau melupakan keluargamu?” Tanya George di dalam mobil.


Mereka berbicara dalam bahasa Inggris.


“Di sana, aku pun mempunyai keluarga.”


“Benarkah? Apa kau menikahi orang Asia? Kata orang, wanita Indonesia itu memiliki kulit eksotik, sexy dan penurut.” Ucap George lagi.


David mengangguk.


“Lebih dari itu. Dia sangat menggoda.” David tersenyum menyeringai.


“Wah... dasar kau ini.” George meninju lengan David pelan. Ia tahu sepak terjang keponakan Samuel itu.


Sesampainya di rumah sakit. George dan David langsung menuju ruang perawatan Samuel.


Samuel mengalami patah tulang di bagian tangan. Ia terjatuh saat sedang meninjau di pabrik itu. Tangan kanannya menyangga bobot tubuhnya yang lumayan besar, sehingga tidak kuat dan patah.


“Uncle Sam..” David menghampiri Samuel yang tengah duduk di atas ranjang pasien dengan tangan yang di gips.


“Dav..” Samuel membentangkan sebelah tangannya.


“Kau baik-baik saja, Uncle?” Tanya David di ikuti George.


“Mengapa bisa seperti ini?” Tanya George.


“Entahlah, tidak biasanya lantai di bagian itu licin, atau memang sepatuku yang harus di ganti.” Jawab Samuel santai.


“Sepertinya kau butuh hiburan, agar bisa berjalan dengan benar.” Ledek George pada Samuel yang gila bekerja.


Samuel tidak memiliki istri atau pun anak, hidupnya hanya untuk bekerja hingga ia lupa dalam urusan cinta. Selain dari itu, Samuel tidak bisa melupakan Elvira. Ia sudah berusaha dekat dengan beberapa wanita, tapi tak berhasil. Isi kepalanya soal wanita, hanya ada wajah Elvira.


“Apa kabarmu, Son?” Tanya Samuel memukul pundak David.

__ADS_1


“Sam, kau kalah dengan ponakanmu. Dia akan menjadi ayah sekarang.” Celetuk George.


David tersenyum.


“Benarkah? Kau sudah menikah dengan wanita sana? Bagaimana dia, cantik?” Tanya Samuel lagi.


“Tidak jauh beda dengan mommy.”


“Oh, my good. Kau memang putra Jason, seleramu sama.” Sahut George.


“Putraku juga, karena selera kita sama.” Celetuk Samuel.


David mengeryitkan dahinya. Ia tak ambil pusing dengan perkataan paman dan sahabatnya ini.


“Karena kau sudah di sini, aku bisa pensiun. Aku juga ingin menikmati hidup. Aku ingin ke Bali dan bersenang-senang di sana.” Ucap Samuel.


“Hmm... sayangnya aku ke sini tidak untuk kembali dan mengelola perusahaan Daddy.” Jawab David santai.


“Apa maksudmu?” Tanya Samuel.


“Tega sekali kau dengan pamanmu. Dia tak pernah bersenang-senang.” George membela sahabatnya.


“Sebenarnya aku ke sini, ingin menanyakan sesuatu yang serius. Kau tahu, di sana aku bertemu Mommy.”


Deg


Samuel terkejut, begitupun George, karena mereka adalah orang yang membantu Elvira pulang ke negaranya, di bantu juga oleh Paul yang ahli mengurus dokumen ijin tinggal dan pulang.


David mengangguk.


“Istriku berteman dengannya. Dia bercerita tentang Mommy yang memiliki cerita berbeda dengan apa yang aku lihat dan aku alami.”


“Uncle, sebenarnya apa yang terjadi? Mengapa semua orang seolah tahu tetapi aku tidak tahu.” Ucap David lagi.


Samuel terdiam.


“George, sudah saatnya David mengetahui semua kebenaran ini.”Kata Samuel melirik ke arah sahabatnya.


“Jadi.. George? Kau juga membantu mommy pergi?” Tanya David tak percaya.


“Tenanglah Dav, kami akan menceritakan semuanya padamu. Sebentar aku akan membawakan dokumen penting untukmu.” George pamit keluar.


Sementara di kamar itu, tinggal hanya Samuel dan David.


“Sebelumnya, aku minta maaf Dav. Bukan aku tak mau mengatakan yang sebenarnya, tapi melihatmu yang sangat mengangungkan Jason, membuatku tak tega untuk mengatakan yang sebenarnya,” Kata samuel lagi.


Jason adalah ayah David, suami dari Elvira. Jason adalah sosok pria sempurna di mata David, ia adalah ayah yang sangat perhatian dan baik. Jason memang sangat menyayangi David. Ia tak pernah keras atau pun marah padanya. Ia juga selalu memberikan yang David inginkan. Jason bukan hanya ayah, tapi juga seperti sahabat baginya. Oleh karenanya, David amat terpuruk saat kepergian sang ayah.


“Jason adalah kakakku dan aku tidak bisa menjelekkannya di hadapan putranya. Namun, Mommy mu pun butuh kebebasan. Kasihan wanita itu jika terus bersama ayahmu.”

__ADS_1


David menatap intens wajah sang paman. Ia mendengarkan perkataan Samuel dengan seksama.


“Jason memiliki wanita lain selain mommy mu. Elvira selalu mengalah, ia pun meminta berpisah, tapi Jason tak mau melepaskannya. Bahkan Elvira di kurung di rumah, karena Jason takut dia akan pergi, tapi wanita mana yang tahan dengan kelakuan ayahmu. Tidak ada wanita yang rela berbagi hati dan raganya, Dav.” Ucap Samuel lirih.


“Aku tidak tega melihat mommymu yang sering menangis dan tak berdaya. Maafkan Uncle, Dav. Sedangkan pria yang sering kau lihat di rumahmu itu teman Uncle yang bernama Paul. Paul memiliki akses untuk membuat dokumen Elvira yang di bekukan Jason, sehingga Elvira bisa kembali ke negaranya.” Samuel berkata lagi.


“Jadi, Mommy tidak pergi dengan selingkuhannya itu?” Tanya David.


“Mommy mu tidak pernah selingkuh. Kalau pun dia pergi dan mengambil sejumlah uang Daddymu, aku yang menyuruhnya, karena dia butuh penghidupan yang layak di sana, Elvira sebatang kara, dia tak punya keluarga.” Jawab Samuel.


“Lalu, Mommy mendirikan panti asuhan dengan uang Daddy?” Tanya David lagi.


“Yang aku dengar seperti itu. Katanya hal itu sebagai wujud menghilangkan rasa bersalahnya karena telah meninggalkanmu, dia alihkan dengan mengasuh anak-anak kecil di sana.” Jawab Samuel yang membuat David menangis.


“Selama ini, aku telah membencinya.” David meneteskan airmata.


“Elvira hidup di rumah itu bagaikan neraka. Granma mu tidak menyukainya, Elvira di anggap seperti maid di sana karena ia berasal dari buruh pabrik. Lalu, Daddy mu pun tak sepenuh hati mencintainya, dia masih mencintai kekasihnya, tapi menikahi mommy mu karena mommy mu hamil anak laki-laki yaitu kamu.”


“Mommy..” Lirih David memanggil Elvira.


Tiba-tiba, George datang dengan membawa beberapa dokumen di tangannya.


“Ada lagi hal yang harus kau tahu, Dav.” Kata George.


“Kau pergi terlalu cepat pada saat ayahmu meninggal, bahkan kau tak mendengar dulu isi wasiatnya.” George menyerahkan dokumen itu.


David menerimanya dan membacanya.


“Jadi aku punya adik?” Tanya David.


George dan Samuel mengangguk.


“Dia adalah anak dari hasil hubungan daddy mu dengan kekasihnya.” Jawab Samuel.


“Berapa usianya?” tanya David melirik ke arah sang paman dan sahabatnya.


“Saat ayahmu meninggal, anak itu berusia 18 tahun dan sudah berhak mendapatkan sebagian dari perusahaan milik ayahmu.” Kata George.


“Aku mengambil alih 50 persen milikmu, karena aku tidak rela, jika tidak ada yang mengelola hakmu maka dia akan memiliki semuanya.” Jawab Samuel.


David tersenyum. “Terima kasih, Uncle.”


“Lalu, dia sudah berusia 26 tahun sekarang? Adikku laki-laki?” Tanya David lagi.


Kedua pria di hadapannya mengangguk.


“Bisa aku bertemu dengannya?” Tanya David.


“Mungkin Tuhan telah mengatur semua. Aku sakit dan kau di sini. Gantikan aku selama aku sakit, dan kau akan sering bertemu adikmu di kantor.” Ucap Samuel.

__ADS_1


“Kamu akan tahu bagaimana kelakuan adikmu.” Sahut George dengan senyum menyeringai.


__ADS_2