
Sari mengulurkan tangannya, agar David bangkit dan kembali ke ruang tamu untuk menemui Elvira. Akhirnya, David menuruti kemauan sang istri. Ia menerima uluran tangan Sari dan berjalan keluar dari kamar itu.
Elvira tersenyum, melihat putranya yang sedang di gandeng Sari menuju ke arahnya. Ia semakin berterima kasih pada Sari, karena telah membimbing anaknya. Terlihat David sangat menyayangi dan menuruti keinginan istrinya.
“Mommy menginap ya!” Ajak Sari.
Elvira menggeleng. “Sepertinya tidak, Nak. Kasihan anak-anak panti. Lagi pula asissten David sudah siap tuh.” Elvira menunjuk Malik yang sudah berdiri di depan mobil David.
“Loh, cepat sekali, padahal kita belum berbincang.” Sari mengerucutkan bibirnya.
Elvira tersenyum ke arah Sari, kemudian beralih ke arah putranya.
“Terima kasih, Dav. Kamu sudah menjemput Mommy dan mengundang mommy ke sini.”
David hanya mengangguk.
“Boleh Mommy peluk kamu?” Tanya Elvira pada david dan David pun langsung mengangguk.
Kemudian Elvira dan David berpelukan. Rasa haru itu di rasakan pula oleh Sari.
“Maafkan mommy, Dav.” Lirih Elvira di telinga David saat mereka berpelukan.
David hanya diam, tetapi tubuhnya menerima pelukan sang ibu, berbeda ketika perjumpaan pertema di panti asuhan pada waktu itu, David hanya mematung dan tidak membalas pelukan itu.
Seperti ini saja, Elvira sudah merasa senang. Setidaknya ada kemajuan dari sang putra yang mau menerima pelukannya. Semoga selanjutnya, David menerima penjelasan darinya.
Elvira melonggarkan pelukan itu.
“Mommy selalu menyayangimu.” Ia mengelus wajah David.
David tersenyum. Senyum yang sangat di rindukan Elvira, kini bisa ia lihat lagi. Elvira sangat senang dengan ini.
Lalu, Elvira beralih pada Sari. Ia memeluk menantunya.
“Terima kasih, sayang. Terima kasih Tuhan, karena Dia mempertemukan kita.”
Sari membalas pelukan Elvira. “Sama-sama Mommy. Sari pun senang bertemu dengan mommy.”
Setelah lama berpelukan, mereka pun melepasnya.
“Mommy jangan khawatir, cepat atau lambat mas David akan menerima penjelasan Mommy, saat ini dia hanya butuh waktu. Mommy bersabar ya.” Ucap sari, sambil mengelus pungguk ibu mertuanya.
Elvira mengangguk. “Sekali lagi, terima kasih, Sayang.”
__ADS_1
Tiba-tiba Teguh dan Ratih datang dari dalam. Mereka melihat Elvira yang merupakan ibu kandung David, begitu menyayangi putrinya, berbeda dengan ibunya Rama yang sejak pertama kali berjumpa sudah terlihat rasa tidak sukanya terhadap Sari. Mereka kini lega melepas putrinya pada David.
Lalu, Elvira berpamitan juga pada Teguh dan Ratih, hingga dia pun pergi bersama Malik.
“Daah.. Mommy, Hati-hati di jalan.” Sari dan keluarganya melambaikan tangan.
Elvira membalas lambaian tangan itu dengan penuh senyum. Sungguh hari ini adalah hari yang menyenangkan baginya. Senyum itu tak pernah lepas dari bibir Elvira, hingga ia berada di dalam mobil. Ia pun menanyakan segala macam pertanyaan pada Malik tentang putranya, dari mulai bagaimana pertemuannya dengan Sari hingga akhirnya mereka menikah? Bagaimana pekerjaannya? Dan lainnya.
Elvira sedih saat Malik bercerita tentang masa keterpurukan David, tapi kini ia senang melihat putranya yang mulai mendapatkan kebahagiaan.
****
Semakin hari, semakin dekat jadwal keberangkatan David ke negaranya untuk bertemu sang paman.
“Mau ikut bersamaku ke London?” Tanya David lagi, saat ia tengah membereskan beberapa pakaiannya.
Sari menggeleng. “Aku sedang hamil besar. Lagian perjalanan selama itu, apa aku sanggup? Pinggangku sering sakit. Duduk berjam-jam di pesawat bisa semakin sakit.”
David menghelakan nafasnya kasar. Sebenarnya ia sangat mengerti dengan kondisi istrinya. Namun, entah mengapa meninggalkan Sari sendiri di sini terasa berat. Ia tak mau jauh dari istrinya, karena Sari sudah menjadi mood booster dan candu baginya.
“Nanti, siapa yang aku gigit?” Rengek David.
“Tara.. Kamu bawa ini. anggap ini adalah aku.” Sari memperlihatkan boneka barbie kesayangannya, yang selalu menjadi tempat ceritanya di masa sekolah.
“Mirip aku kan?” Sari mengedipkan matanya dengan senyum lebar.
David tertawa.
“Mirip.”
“Kalau begitu, bawa ini. nanti kalau kamu mau gigit aku, gigit saja dia.” Sari memasukkan barbie itu ke koper yang akan di bawa suaminya.
“Tidak berasa.”
“Menggigit ini keras, kalau gigit kamu kenyal dan hmm..” David menaik turunkan alisnya dengan menyungging senyum.
“ih, amit-amit.” Sari menutup wajah mesum David yang menyebalkan itu, dengan kedua tangannya.
David semakin tertawa, dan mengambil tangan Sari dari wajahnya. Lalu, memeluk tubuh itu.
“I Love you.”
“Hmm.. Masa?” Sari masih tak percaya dengan ungkapan cinta David.
__ADS_1
Ia ingat pertama kali bertemu dengan David di butik milik Inka. Pria ini sangat dingin dan cuek, yang ia tatap dan ajak bicara hanya Inka. Sari merasa terabaikan, bahkan pria ini tak melirik sama sekali ke arah Sari saat ia berbicara padanya. Mata David waktu itu hanya terus menuju pada Inka.
“Really, I love you.”
Sari yang juga sudah memiliki perasaan yang sama seperti David, sulit untuk membalas ungkapan cinta itu. ia merasa ini terlaku cepat, lagi pula ia masih ragu dengan ungkapan cinta yang David lontarkan tadi, mengingat sebelumnya David adalah seorang player yang mempunyai banyak pacar dan teman tidur. Menurut analisa Sari, pria bule juga mudah mengungkapkan cinta, padahal justru David bule yang sulit mengungkapkan cinta untuk wanita yang benar-benar ada di hatinya.
Sari hanya tersenyum, lalu melanjutkan kembali membereskan pakaian suaminya ke koper itu.
****
Keesokan harinya, Sari mengantar David ke Bandara hanya di temani Ratih, karena Teguh sudah tak lagi dapat jatah cuti di kantornya, sementara Ardi yang sedang mengikuti satu tes terakhir untuk menjadi Akpol.
Sari mengantarkan suaminya ke tempat yang sudah tak bisa di antar lagi.
“Kalau mau ke Jakarta, minta antar Ardi.” Kata David.
Sari mengangguk, memang sang adik ingin sekali melepas penat setelah sekian lama berkutat dengan serangkaian tes untuk masuk perguruan tinggi. Ardi ingin berlibur ke Jakarta, melihat indahnya kota metropolitan.
“Mungkin minggu depan, aku dan Ardi akan pulang ke Jakarta.” Jawab Sari.
David mengangguk dan mengecup kening Sari, tak lupa ia pun mengelus perutnya. Sebelumnya, ia berjanji akan segera kembali ke sini, kemungkinan ia akan berada dua minggu di sana.
“Jaga dia baik-baik, jaga juga kesehatanmu. Aku akan setiap hari menelepon atau video call.” Ucap David lagi, sebelum ia benar-benar meninggalkan sang istri.
Cup.
David ******* bibir Sari tanpa aba-aba, Ia menghisap dan menyesap lagi bibir yang akan ia rindukan nanti. Padahal David telah mencium bibir Sari berkali-kali sebelum berangkat tadi, bahkan ia pun berkali-kali melakukan penyatuan semalaman, hingga Sari terkulai lemas. Namun, bule ini memang tidak pernah puas dengan tubuh istrinya, ia masih saja merasa kurang.
“Mmphh..” Sari memukul dada David untuk melepas pangutan itu. Sementara Ratih yang berada tak jauh di sampingnya hanya menggaruk kepalanya yang tak gatal.
“Haduh Sari, punya suami kok ya ngga tau malu, ini orang pada ngeliatin. Dasar bule.” Gumam Ratih.
“Mas..” Sari membulatkan matanya saat David melepas pangutan itu.
“Semua orang ngeliatin kita.” Ucap Sari kesal.
David hanya tersenyum.
“Mereka tahu kamu istriku, ini buktinya.” David mengelus perut Sari.
Sari memonyongkan bibirnya. Semantara David hanya tertawa.
“Baiklah, bye. Daaah.. Ibu.” David melambaikan tangan ke arah Ratih dan ciuman pada istrinya.
__ADS_1