
"Wah, yang abis dari Singapur, oleh-olehnya mana?’ Tanya salah satu teman Ardi, saat ia sudah berada di sekolahnya.
“Ini.” Ardi memberikan sekantong besar yang berisi coklat dan cenderamata berlogo Merlion dalam bentuk gantungan kunci.
“Wuih, oleh-olehnya banyak. Sing sugih sekarang yo.” Ucap lagi salah satu teman Ardi yang lain.
Ardi memegang souvenir khusus yang akan ia berikan pada salah satu teman wanita yang di incarnya.
“Itu buat siapa? Dinda ya?” Tanya Rendi, yang duduk di sebelah Ardi.
Ardi menganggkuk. “Tapi, bagaimana kasihnya ya?”
“Wes, tampang doank ganteng, tapi urusan cinta nol.” Ledek Rendi.
Ardi menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Lalu menyandarkan tubuhnya pada kursi itu.
“Eh, akhirnya kamu masuk juga. Ini gantiin pulpen aku yang patah.” Gadis itu melemparkan satu buah pulpen yang sudah terbelah menajdi dua ke meja Ardi.
“Apaan sih, Fa?” Tanya Ardi bingung.
Gadis itu adalah Syifa, teman satu angkatan Ardi, tapi berbeda kelas. Syifa terkenal tomboi dan galak pada semua teman lelakinya. Ia sering berkelahi dan hanya sedikit wanita yang mau berteman dengannya.
“Gantiin, sekarang! Kalau engga, aku jotos bibirmu sampai berdarah.”
Ardi mengingat-ingat apa yang dia lakukan terakhir di sekolah.
“Oh, jadi itu pulpenmu? Salah sendiri kenapa ada di lantai waktu itu, jadi aku ngga sengaja menginjaknya.”
“Ngga peduli, mau sengaja atau tidak. Pokoknya ganti!” Ujar Syifa kesal.
Mereka berdebat. Memang pulpen yang sudah patah menjadi dua itu bukan pulpen biasa. Terlihat dari bentuk dan merk yang tak biasa ada di sini.
“Ini, boleh sebagai gantinya.” Syifa menarik cenderamata yang di pegang Ardi untuk Dinda.
“Eh.. enak aja.” Ardi berdiri dan meraih benda yang tadi sempat berada di genggamannya. Namun, dengan cepat Syifa menghindar.
“Ini buatku. Kita impas!” Syifa tersenyum dan langsung pergi meninggalkan Ardi dan Rendi.
“Ah. Sial.” Ardi mengacak-acak rambutnya. Sementara Rendi hanya tertawa melihat temannya yang sedang frustasi.
“Nasib.. nasib.. kamu sama Syifa berantem terus, udah kaya kucing sama anj*ng. Lama-lama kalian jadian.” Ledek Rendi.
“Ih, amit-amit. Punya cewek rasa laki-laki.” Jawab Ardi kesal.
****
Di rumah Teguh, Sari menemani Ratih di dapur. Hari menunjukkan pukul sepuluh pagi. Ia masih membantu memotong sayuran untuk mempersiapkan makan siang.
__ADS_1
“Suamimu sedang apa, Sar?” Tanya Ratih, keduanya masih sibuk memotong bahan makanan.
“Masih kerja kali, Bu.” Jawab Sari, karena sebelum ia meninggalkan kamarnya, David masih sibuk di depan leptopnya.
“Kasih kopi donk, Nduk!”
“Emang dia suka kopi?”
“Mana ibu tau, ya kamu donk yang tanya.” Ucap Ratih kesal dengan sikap cuek putrinya.
“Kasihan dari tadi suamimu belum di kasih makan apa-apa.” Kata Ratih lagi.
“Makanan apa? Lagian tadi pagi ibu malah beli lontong sayur. Emang dia mau? Terus kue-kue seperti ini apa dia mau?” Tanya Sari, melihat kue lumpur dan jemblem di meja makannya.
“Lah, ibu lupa, Nduk. Lupa kalau ada suamimu di sini.” Jawab Ratih nyengir.
“Yo wis, buatin kopi aja dulu. Siapa tau dia mau.” Ucap Ratih memerintahkan anaknya.
Sari menuruti perkataan ibunya. Kopi buatan Sari memang terkenal enak. Jika anak sulungnya ini sedang berada di rumah, Teguh selalu meinta Sari yang membuatkan kopinya.
“Bu, Sari ke kamar dulu ya!”
Ratih mengangguk.
Sari berjalan menuju kamarnya dengan membawa secangkir kopi khusus untuk pria yang sudah menyandang sebagai suaminya.
Cekelek.
“This is bad report. Ulang! Buat kembali yang lebih rapih. Sekarang!” David menutup telepon itu sepihak.
“Shit.!” Ia melempar ponselnya sembarang.
Sari menciut melihat hal itu. Ia masih berdiri membelakangi David yang sedang duduk di meja rias Sari dengan laptop di depannya.
David memijat pelipisnya, lalu melihat Sari dari cermin, sedang berdiri membelakanginya. Ia membalikkan tubuhnya.
“Sedang apa?” Tanya David dengan suara yang berbeda dari sebelumnya.
“Hmm.. Aku buatkan kamu kopi.” Sari melangkah ragu menghampiri David.
Lalu, ia meletakkan secangkir kopi itu di sisi yang sedikit jauh dari laptop dan kertas kerjanya.
David memperhatikan gerak gerik Sari. Tangannya terangkat untuk meraih rambut Sari yang menutupi wajahnya. Ia menyelipkan rambut itu di telinga Sari.
“Kamu sibuk?” Tanya Sari.
David mengangguk. “Sedikit.”
__ADS_1
Tangan David langsung meraih pinggang Sari dan memintanya untuk duduk di pangkuannya.
Sari menurut, ia pun duduk di kedua paha David. Kedua kaki David berada di tengah kedua kaki Sari. Mereka duduk berhadapan.
“Kamu belum makan dan minum apapun, nanti pusing.” Ucap Sari
Tangan kanan David masih mengelus rambut dan wajah Sari, sementara tangan kirinya berada di pinggang Sari.
“Kalau sakit kepala, obatku bukan makan atau minum. Tapi kamu.” Jawab David dengan sensual.
Arah mata David tertuju pada perut Sari yang masih rata.
“Kita belum memeriksanya.”
Sari mengangguk.
“Terakhir di periksa, saat di rumah sakit Singapura, itu pun usianya baru 4 minggu.” Kepala Sari menunduk, sambil mengelus perutnya.
“Nanti di jakarta, kita periksa lagi.” Ucap David, kembali merapihkan rambut Sari yang terurai ke depan saat menunduk.
Cup.
David ******* bibir Sari yang dari tadi membuatnya tergoda. Sari pun membuka bibirnya, dan membalas ciuman itu. Memang david sangat lihai berciuman. Sari terbuai oleh cara David mengecap bibir tipisnya. David terus ******* bibir bawah dan atas Sari bergantian. Seolah tak ada hari esok, David tak melepas pangutan itu. Ia hanya melepas sebentar untuk memberi waktu sari bernafas, lalu di ulangi kembali.
David menggendong tubuh Sari seperti koala, dengan tak melepas pangutan itu. Lalu, membaringkan Sari di tempat tidurnya.
Sari menikmati cumbuan itu, ia menggingit bibirnya, menerima sentuhan lembut yang di berikan David.
“Aku boleh..”
Sari langsung mengangguk, tanpa mendengar kelanjutan perkataan David. Memang hormon ibu hamil itu menyiksa. Sari malu karena dengan mudahnya menerima sentuhan David, sekarang.
“Jika, kamu mengizinkan, aku tidak akan bisa berhenti.” Kata David lagi dengan suara berat yang sudah menahan hasratnya lebih dari delapan minggu.
Sari mengangguk dengan wajah yang sayu.
David pun mulai membuka bahan yang menutupi **** ********** istrinya. Ia membuka seluruh pakaian Sari dan menanggalkan pakaiannya. Bibirnya menelusuri semua lekuk tubuh Sari, tak ada yang ia tinggalkan.
David mengulangi apa yang ia lakukan dua bulan yang lalu. Namun, kali ini ia melakukanya dengan sangat lembut.
“Kamu milikku, sekarang dan selamanya.” Ucap David persis di telinga Sari.
Sari pun menganggukkan kepalanya, sambil terus menggigit bibirnya. Sungguh, ia menikmati penyatuan ini.
Akhirnya, hasrat David yang tertahan, terbayar sudah. Mereka melakukan penyatuan tanpa paksaan. David sangat menikmati tubuh istrinya. Jauh dari yang ia rasakan bersama wanita-wanita sebelumnya.
Sari adalah wanita yang memberikan sensasi berbeda karena David menjadi pria pertama yang menyentuhnya. Wanita ini juga menjadi wanita pertama yang ia sayangi sejak tahu bahwa Sari mengandung anaknya.
__ADS_1
David adalah pria yang penuh perhitungan. oleh karenanya, Rey mengacungi jempol saat berbisnis dengannya. Ia tak pernah absen untuk memakai pengaman, ketika bersama wanita 'one night' nya, bahkan bersama pacar nya pun, ia selalu menggunakan pengaman itu. Namun, ketika dengan Sari pada malam itu, otaknya tak berpikir panjang, ia dengan semangat melakukan tanpa pengaman.
Akhirnya, mereka melakukan penyatuan di pagi menjelang siang.