Istriku Canduku 2

Istriku Canduku 2
Manis


__ADS_3

Sudah tiga hari David dan Sari sampai di tanah air. Teguh dan Ratih masih berada di apartemen Sari, karena Nina meminta izin untuk pulang ke Bandung hari ini. Sementara Elvira sangat sibuk mengurusi panti yang dua minggu lebih di tinggalkan.


“Hoek..” Sari berlari ke kamar mandi.


David ikut terbangun. Ia melihat jam dinding masih menunjukkan pukul empat pagi. Matanya masih terasa berat untuk terbuka, tapi ia tak tega melihat istrinya yang sering mengalami mual-mual seperti ini. Ia segera bangkit dan mengikuti Sari menuju kamar mandi.


“Hoek..” perut Sari masih terasa mual.


“Sayang, Jangan buat mama repot ya!” Ucap David yang langsung melingkarkan kedua tangannya ke perut Sari dari belakang dan mengelusnya.


Sari menatap suaminya dari dalam cermin. Wajahnya pucat dan lesu. Memang kali ini, kehamilan Sari agak menyusahkan. Ia sering mual dan pusing. Makanan yang ia makan pun sering tak tertelan, sehingga berat badan sari agak menurun. Ia hanya bisa meminum susu atau makan makanan yang di suapi dari tangan David. Alhasil, David harus mondar mandir ke rumah saat waktu bekerja, hanya untuk menyuapi istrinya makan dan setelah itu kembali ke kantor.


“Dulu, waktu hamil Melvin tidak seperti. Mas.” Keluh Sari pada suaminya.


“Sabar, sayang.”


“Hmm... “ Rengek Sari.


“Masih mual?” Tanya David dengan lembut.


“Sedikit.”


“Aku buatkan susu coklat ya? Agar menghilangkan sedikit mualnya.”


Sari mengangguk. Jika dulu, waktu hamil Melvin, Sari tidak menyukai susu, justru sebaliknya. Kali ini, Sari sangat menyukai susu. Bahkan, ketika mual, susu coklat menjadi penawarnya.


David melangkah menuju dapur dan membuatkan sang istri susu coklat kesukaannya. Sedangkan Melvin tengah tidur bersama Teguh dan Ratih di kamar tamu. Sari sengaja melatih Melvin untuk bisa tidur tanpa kedua orang tuanya, karena saat ini David tengah membuat kamar sendiri untuk putranya itu.


“Ini, sayang. minum dulu.” David membantu Sari untuk meminum susu itu.


“Mas. Maaf ya. Aku ngerepotin kamu terus.” Ucap Sari, setelah menghabiskan setengah susu di gelas itu.


“Siapa yang direpotkan? Hmm.. Aku tidak merasa di repotkan. Aku senang jika kamu membutuhkanku.” David tersenyum.


“Hmm.. Kamu manis sekali, Mas. Sini!” Sari menepuk ranjang di sebelahnya, meminta David untuk segera berbaring di sampingnya.


David tersenyum dan menghampiri sang istri, setelah meletakkan gelas yang sudah kosong itu di nakas.


Sari meraih kepala David dan memeluknya. Ia mengelus rambut David. David pun memeluk perut Sari. Ia merasanya nyaman berada di atas dada istrinya.


“Mas. Masih ngantuk? Tidur lagi.”


David menggeleng. “Sebentar lagi subuh. Aku tidur lagi setelah subuh saja.”


“Oh, iya.” Sari melihat ke arah jam dinding.


“Kalau bisa sebelum subuh, aku mau.. Hmm..” Kata David ragu, pasalnya dokter masih melarangnya untuk melakukan hubungan suami istri paling cepat satu minggu ke depan.


“Makan aku?” Tanya Sari meledek, membuat david tersenyum lebar.

__ADS_1


“Pintar.” David mencubit ujung hidung Sari.


“Kalau kamu bisa melakukan pelan-pelan, aku rasa tidak apa.”


David mengeryitkan dahinya.


“Serius.” Ia tertawa.


Jika dulu, sewaktu hamil Melvin, selalu david yang meminta penyatuan, tapi kali ini, Sari yang lebih sering meminta untuk di sentuh.


Sari mengangguk.


“Ck. Tapi aku takut, nanti dia terganggu.” David kembali mengelus perut Sari.


“Enggak, dia ga akan kenapa-napa, yang penting kamu pelan-pelan.”


“Memangnya kamu juga ingin?” Tanya David tersenyum dan Sari pun mengangguk malu.


David semakin mengembangkan senyum.


“Baiklah, permintaan ratuku akan selalu hamba patuhi, apalagi jika permintaan yang satu ini.” Ucap David, membuat keduanya tertawa.


Lalu, dengan perlahan David mencumbui sang istri, memperdalam dengan melakukan penyatuan yang sangat lembut. Keduanya masih dalam pergulatan panas, hingga terdengar suara adzan subuh. Sari benar-benar agresif, David di buat kalah kali ini. pertempuran di menangkan Sari, karena ia berhasil menumbangkan suaminya terlebih dahulu.


“Kamu hebat, Sayang.” David mengangkat ibu jarinya ke atas dengan suara yang masih terengah-engah.


Sari tersenyum, sambil menggigit bibir bawahnya. Ia pun tidak mengerti, entah dari mana keahlian ini berasal. Ia sungguh malu, sekaligus senang.


“Sayang, nanti malam sepertinya aku akan pulang malam.” Kata david di sela-sela aktifitasnya menyuapi Sari makan siang.


Ia baru saja sampai dan membawa gurame bakar sesuai pesanan Sari. lalu, ia langsung menyuapi makanan itu ke mulut Sari yang sedari tadi menunggunya. Jas david pun belum di buka. Ia masih berpakaian kerja lengkap.


Ratih dan Teguh hampir setiap hari melihat pemandangan ini. Mereka sangat bersyukur memiliki menantu seperti David yang selalu siaga dua puluh empat jam untuk anak dan istrinya.


“Ada acara?” Tanya Sari.


David mengangguk dan menyuapi Sari lagi.


“Brian ngajak ketemuan, bersama dengan Rey, dan Andre juga.”


“Mas Brian dan Mba Sasha di sini?” Tanya sari antusias.


“Iya, sepertinya mereka tidak lagi menetap di singapura. Mereka akan pindah ke sini lagi.”


“Oh.” Sari membulatkan bibirnya.


David mengambil sisa nasi yang tertinggal di bibir sang istri, lalu memakannya.


“Ih, itu bekas aku, Mas.”

__ADS_1


“Memang kenapa, aku juga suka menyesap lidahmu.”


“Ih, ada ibu sama ayah. Malu.” Ucap Sari sambil memukul pelan dada suaminya.


David tertawa.


“Tunggu, nanti kamu bertemu Pak Rio juga?” Tanya Sari yang baru nyambung bahwa pertemuan David malam nanti adalah bersama teman-teman kuliahnya dulu.


David mengangguk. “sepertinya.”


“Dia masih marah padamu, Mas.”


“Aku sudah minta maaf. Tapi sepertinya dia masih belum bisa memaafkanku. Padahal kamu saja sudah bisa memaafkanku.”


“Ya, Beda. Kalau aku kan emang cinta sama kamu jadi ngga bisa marah lama.”


“Apa? Coba ulang.” Tanya David yang pura-pura tak mendengar pernyataan Sari tadi.


Ia mencondongkan telinganya ke wajah Sari.


“Ish, pura-pura ga denger.” Sari mencubit perut David, hingga pria itu meringis.


“Sakit, sayang.” David mengelus perutnya.


“Lagian, nyebelin.”


David tertawa lagi.


“Terus aku harus bagaimana jika bertemu Mario?”


“Bilang maaf dan ceritakan keadaan kita sekarang. Lagi pula aku yakin sebenarnya Pak Rio sudah memaafkanmu, karena Pak Rio bukan orang pendendam.”


David mengangguk.


“Terima kasih, Sayang. Kamu memang yang terbaik.” David kembali mencubit ujung hidung Sari dan meletakkan piring itu di wastafel.


“Terima kasih juga, Sayang.” Ucap Sari, kemudian ia bersendawa.


“Ups, maaf. Aku kekenyangan.”


David tertawa dan menghampiri istrinya. Ia mengecup kening Sari.


“Kalau begitu, aku pergi ke kantor lagi.”


“Hati-hati, Sayang. Semangat.” Sari mengepalkan tangannya ke atas.


“Semangat juga meluluhkan hati sahabatmu ya. Bye..” Kata Sari lagi.


David melingkarkan jarinya menjadi huruf O. “Oke.”

__ADS_1


Lalu, ia mengedipkan satu matanya ke arah Sariyag masih duduk di meja makan. Sebelum keluar, ia pun tak lupa berpamitan pada Teguh dan Ratih yang sedang duduk di ruang keluarga dan bermain bersama Melvin. Ia juga mencium pipi putra sulungnya, lalu pergi.


Sari tersenyum. Ia tak menyangka keadaan rumah tangganya akan semanis ini, padahal ia sempat berfikir untuk meninggalkan pria bule yang menyebalkan itu.


__ADS_2