
Pagi ini, David sampai di bandara internasional Soekarno Hatta. Ia meminta Malik untuk menjemputnya dan langsung menuju kantor yang telah lama ia tinggalkan. Sengaja, ia tak memberi kabar pada Sari bahwa hari ini ia sudah tiba di Jakarta.
David membuka ponselnya, di sana ia melihat Sari yang sedang membuat kue di dapur. Walau Sari merengek meminta semua cctv di apartemen itu di hilangkan, tapi David tak menghiraukan keinginan istrinya. Ia tetap memasang alat itu di sana.
“Nina, rainbow cake kukus buatanku sudah jadi.” Ucap Sari, saat membuka panci kukusan yang masih berada di atas kompor.
“Wah, keliatannya enak.” Nina menggosok kedua telapak tangannya.
“Ah, itu mah tampilannya aja bagus, tapi rasa belum tentu.” Celetuk Ardi yang ikut berdiri di samping Nina.
Sari mengerucutkan bibirnya. “Eit, jangan salah, sekarang mba mu sudah jadi chef, tanya aja Nina.”
Nina mengangguk. “Iya, masakan bu Sari enak-enak, kuenya juga.”
“Ngga percaya.” Kata Ardi lagi.
Di kantor, David tersenyum, melihat ketiga orang yang sedang berada di dapurnya melalui ponsel yang ia pegang.
Tok.. Tok..
Abram mengetuk pintu ruangan David.
“Hai, bro. Long time no see.” Ucap Abram, lalu duduk di depan David.
Ia memberikan setumpuk laporan pada bosya itu. David pun mulai sibuk dengan pekerjaannya.
Sore harinya, Ardi keluar dari kamar dengan rapih.
“Kamu mau kemana?” Tanya Sari.
“Jalan-jalan. Ikut Yuk, Mba?”
Sari menggeleng. “Malas.”
“Ah. Mba ngga asyik, dari kemarin betah banget di rumah.” Ucap Ardi lirih.
“Katanya kalau lagi hamil besar harus banyak gerak, supaya lahiran lancar.” Kata Ardi lagi.
"So tau.” Sari mentoyor jidat sang adik.
Tak lama kemudian, Nina menghampiri mereka dengan pakaian rapih juga. Ardi pun melihat Nina tak berkedip. Sontak tangan Sari mengusap wajah sang adik dengan kasar.
“Ngga pernah liat cewek cakep.” Ujar Sari.
“Apaan sih, mba.” Kata Ardi malu.
“Jadi, kalian jalan berdua?” Tanya Sari.
__ADS_1
“Ngga.” Kata Ardi di ikuti Nina yang menggeleng.
“Ih, aku lagi ngga mau jalan-jalan. Kalian berdua aja.” Jawab Sari malas.
“Lah, kemarin katanya ibu ikut.”
Sari menggeleng lagi. “Mau tidur-tiduran aja sambil nonton.”
“Yah, terus. Berarti kita tidak jadi jalan?” Tanya Nina.
“Jadilah, kita jalan berdua aja.” Jawab Ardi.
“Ciye..” Sari meledek Ardi, membuat Nina tersipu malu.
“Ini karena aku ngga tau jalanan di sini, kalau aku tau juga ngga perlu di temenin.” Sanggah Ardi.
“Percaya, ya udah sana jalan. Hati-hati ya Nin, kalau di gombalin Ardi jangan mau, di Malang dia sudah punya pacar.”
“Apaan sih, mba.” Ardi mengerucutkan bibirnya.
Lalu, Ardi dan Nina pergi meninggalkan Sari sendiri di apartemen.
Sari merebahkan dirinya di sofa sambil memegang remot dan memindahkan ke channel yang menyajikan tayangan-tayangan box office hollywood.
Sesaat ia berada di ruang televisi, ia menyempatkan melihat ponselnya yang berada di atas meja riasnya yang sedang di charge, tidak ada panggilan telepon atau whatsapp dari suaminya.
Ting.. Tong..
Tia-tiba apartemen itu berbunyi. Sari dengan malas bangkit dari sofa dan memakai sandal rumahan.
Ceklek.
Sari membuka pintu apartemennya. Tidak terlihat ada orang di sana, hanya ada satu buket bunga besar yang tergeletak di lantai. Arah mata Sari langsung tertuju pada bunga itu danmeraihnya.
“Ini bunga dari siapa? Apa ada yang salah kirim?” Gumam Sari, sambil melihat bunga itu dan mencari apa ada kartu ucapan di sana, ternyata tidak ada.
Sari menghirup harum bunga mawar putih dan merah itu.
Tak lama ada seseorang yang ikut berjalan dari belakang mengikuti langkah Sari yang perlahan masuk ke dalam apartemennya.
Tiba-tiba orang itu menutup mata Sari dari belakang.
“Ardi, kamu udah pulang? Ngga jadi jalan-jalan? Nina..” Ucap Sari dengan mata tertutup.
Namun, orang itu hanya tersenyum.
“Ardi, jangan becanda ya! Nanti mba marah.” Kata Sari lagi.
__ADS_1
Tiba-tiba orang itu melepas tangannya dari mata Sari dan langsung memeluk tubuhnya.
“Kalau marah, nanti berubah jadi nenek lampir." Ucap David persis di telinga Sari.
Sari langsung menoleh ke belakang. Senyumnya mengembang, sungguh ia rindu dengan pria ini. namun, sesaat kemudian senyum itu berubah datar, kala ingat perkataan Bianca.
“Kamu sudah pulang?” Tanya Sari.
“Kamu tidak memelukku?” Tanya David dengan membentangkan kedua tangannya.
Sari tersenyum dan menghampiri David untuk memeluk dada bidangnya dan menghirup aroma tubuhnya. Lama Sari memeluk tubuh David, tiba-tiba isakan tangisnya pun keluar.
“Hey, kenapa menangis? Rindu padaku?” Tanya David.
Sari menggeleng, ia bingung harus mulai bertanya dari mana? Ia menangis karena perasaannya yang tengah bergemuruh, antara kesal kala mengingat bahwa dirinya hanya sebuah kesalahan yang tidak di harapkan hadir di malam itu, dan senang dengan perhatian yang David tunjukkan seperti saat ini.
“Bunga ini darimu?” Tanya Sari menunjukkan sebuket bunga yang masih ia pegang di tangan kanannya.
David mengangguk, membuat Sari kembali menangis.
“Hey..” David memegang dagu sari dan menghapus airmatanya dengan ibu jarinya.
“Apa kamu begitu merindukanku, hingga terharu seperti ini?”
Sari terdiam dan masih terus menangis.
Cup
David langsung ******* bibir itu, karena sedari tadi bibir itu sudah sangat menggodanya. Ia langsung ******* lembut bibir Sari, mengecapnya berkali-kali hingga pangutan itu berubah menjadi sedikit kasar. David ******* rakus bibir itu dan Sari membalasnya.
Walau Sari bertekad untuk membentengi hatinya oleh rasa cinta. Namun, tubuhnya tak kuasa menolak sentuhan suaminya. sungguh ia pun rindu sentuhan itu, harum tubuh itu dan perlakuan lembut David saat penyatuan.
“Mmpph..” Sari melneguh setelah David melepas pangutannya, dan David langsung menggendong Sari menuju kamarnya.
“Aku rindu kamu, sangat rindu.” Ucap David.
Sari pun tersenyum.
David membuka pintu kamarnya dan menutup dengan satu kakinya. Lalu, ia merebahkan Sari di ranjang dan menindihnya. Kedua tangannya ia sanggah agar tidak terlalu menekan perut Sari yang sudah membesar.
David kembali mencium Sari, dari mulai kening, kedua mata, kedua pipi, dan bibir rannumnya. Lalu turun ke leher dan mengggigit lembut hingga memberi tanda kemerahan di sana. sungguh David melakukannya dengan sangat lembut, dan hal itu mampu melelehkan hati sari yang semula ragu padanya. Sari pun menikmati cumbuan lembut yang di berikan David.
David mencium beberapa kali perut besar itu.
“Hai, sayang. apa kabar? Maaf, lama papa tak menjengukmu.” Ucap David.
Sari tersenyum.
__ADS_1
“Haruskah aku melupakan semua perkataan Bianca waktu itu?” Gumam Sari dalam hati seraya melihat kedua mata biru itu yang sedang menatapnya tersenyum.