
Mata David semakin memerah, menahan marah. Apalagi dia tahu bahwa selama ini Rama telah menyewa apartemen yang dekat dengan apartemennya. Dengan cepat, David meminta security untuk mengecek keberadaan Rama di apartemen ini, karena sebelum ia melihat Rama dan Sari tadi, ia pun pernah satu kali melihat Rama di basement apartemen ini.
“Shit.” David mengumpat dan memukul dinding kamar mandi, mengacak-ngacak semua benda di sana.
“Ternyata, kalian masih berhubungan di belakangku?” Gumam David, sambil terus memukul dinding, hingga tulang di ruas-ruas jarinya berdarah dam memar.
Ceklek
Sari membuka pintu apartemen itu perlahan. Ia tidak tahu bahwa David sudah lama berada di kamar mandi kamarnya.
Sari tersenyum, menata beberapa makanan yang baru saja ia beli tadi ke lemari es. Sari membayangkan keseruannya nanti, merayakan ulang tahun pertama bersama suaminya dan Nina, asisten rumah tangga yang sudah ia anggap seperti adik sendiri.
“Eh, Bu, sudah pulang?” Tanya Nina, saat melihat Sari di dapur.
“Iya.” Sari menoleh ke arah Nina yang sudah berpakaian rapih, setelah menutup lemari es itu.
“Kamu mau berangkat ya, Nin?” Tanya Sari dan langsung di angguki Nina.
“Nanti pulang sekolah, langsung pulang ya.” Ucap sari sambil tersenyum.
“Memang ada apa, Bu?”
“Ngga ada apa-apa, aku hanya ingin membuat makan malam spesial.”
“Oh.” Nina membulatkan bibirnya dan mengangguk.
Lalu, ia pamit untuk berangkat sekolah kejar paket C sesuai jadwal. Nina pun tidak mengetahui keberadaan David di sini. pasalnya ketika David memasuki apartemennya, Nina tengah berada di dalam kamar untuk mengerjakan PR sekolah, sebelum ia berangkat.
“Saya berangkat ya, Bu.” Ucap Nina lagi.
Sari mengangguk dan melambaikan tangannya. “Hati-hati, Nin.”
Kemudian, Sari melangkah menuju kamarnya.
Ia membuka pintu perlahan dan melihat David yang sudah berdiri dengan melilitkan handuknya dan dada yang terbuka serta rambut yang basah.
“Loh, kamu sudah pulang?” Tanya Sari terkejut melihat suaminya yang sudah berada di kamar.
David tak menoleh ke arah Sari.
“Mas..” Panggil Sari dan berdiri persis di hadapan David yang masih mengacuhkan perkataan Sari dengan sibuk mengeringkan rambutnya.
Sari meraih handuk kecil yang berada di tangan David.
“Sini, aku bantu keringkan.”
Tiba-tiba David menghentakkan tangan Sari.
“Tidak perlu, aku bisa sendiri.” Jawab David membentak.
Sontak membuat Sari terdiam.
“Kamu kenapa?” Tanya Sari bingung.
David menghentikan aktifitasnya dan menatap Sari tajam, lalu mencengkram dagu Sari.
“Sudah cukup. Aku sudah tahu semuanya.”
Sari mengeryitkan dahinya.
“Kamu tahu, aku bisa lebih menyakitkan jika di sakiti.” Ucap David, lalu menghempaskan dagu Sari dengan kasar.
__ADS_1
“Ah.” Sari mengerang sakit dan memegang dagunya.
“Kamu kenapa? Aku tidak mengerti. Siapa yang menyakitimu?” Sari semakin bingung dan hendak pergi dari hadapan David, karena ia takut melihat sorot mata pria itu.
“Mau kemana?” David mencekal tangan Sari.
“Lepas, Mas. Ini sakit.”
“Hatiku juga sakit, melihat kalian yang masih berhubungan di belakangku.”
Sari mengingat, kesalahan apa yang ia lakukan hari ini.
“Kamu lihat aku di toko kue mall bawah? Itu tidak sengaja, Mas. Aku kebetulan bertemu Rama, aku juga tidak tahu dia sedang ada di sana.” Sari mencoba menjelaskan.
Namun, penjelasan Sari tak di hiraukan David, karena pria itu sudah di penuhi amarah.
“Mas, lepas.” Sari menggerakkan pergelangan tangannya agar tak di cekal David, karena cekalan David begitu kencang.
David ******* kasar bibir Sari. Ia terus memangut bibir Sari dengan rakus dan kasar.
“Mmpphh...” Sari berusaha melepas pangutan itu dan memukul dada David.
Lalu, David menggigit kasar bibir Sari hingga berdarah.
“Ah.” Sari mengerang sakit. Lalu, David melepas pangutan itu dengan kasar.
“Mas..” Panggil lirih Sari sambil mengusap bibirnya yang berdarah.
Kemudian, Sari segera berlari pelan keluar. Ia ingin meninggalkan david yang sudah bagaikan iblis. Matanya merah, rahangnya mengeras, dan nafas yang memburu.
Dengan cepat, David mengejar Sari dan menghalaunya agar tidak keluar dari kamar itu.
“Layani aku.”
“Tidak mau, kamu sedang marah.” Sari menepis tangan David.
“Berapa kali kamu sudah melayaninya?” Tanya David, membuat Sari terkejut.
“Apa maksudmu?” Sari balik bertanya.
David tertawa. Suaranya menggema memenuhi kamar.
“Apa aku bodoh? Hah. Aku tahu pria itu juga menyewa apartemen di lantai ini, bahkan jaraknya tidak jauh dari tempat kita. Apa selama aku pergi, dia memuaskanmu?” David menatap Sari seperti mata elang yang akan melahap mangsanya.
Sari pun menatap David dengan pandangan tidak suka. Hatinya teriris mendengar penuturan pria yang kini sudah mengisi hatinya.
“Apa kamu menilaiku serendah itu?”
“Ayo layani aku! Beri aku pelayanan yang lebih dari yang kau berikan padanya.”
Plak
Sari menampar pipi David, membuat David semakin panas. Perlahan David maju mendekati Sari dan Sari melangkah mundur, hingga tubuhnya terbentur pintu kamar yang tertutup.
David menggendong Sari.
“Lepas.” Sari menggoyangkan kaki dan tangannya.
Lalu, David membaringkan Sari di ranjang. Ia menghiraukan teriak Sari dan menghiraukan keadaan Sari yang tengah hamil besar.
“Dasar J*l*ng.”
__ADS_1
Plak.
David memukul pipi Sari.
Akhirnya air mata itu lolos dari kedua bola mata Sari, hatinya sungguh sakit menerima perlakuan dari David.
“Tidak ada wanita yang bisa di cintai, semua wanita adalah hanya pemuas nafsu.” Ucap David, sambil merobek paksa pakaian Sari.
“Mas, berhenti. Stop.” Sari memperingatkan David yang sudah benar-benar seperti monster.
Perlakuan David, sama seperti saat malam petaka itu.
“Mas, jangan aku mohon! Jangan kamu lakukan lagi hal buruk itu.”
Tanpa aba-aba dan pemanasan lembut, David langsung memasukkan kejantananya paksa, membuat Sari meringis kesakitan. Ia terus melakukannya dengan sangat kasar.
Sari tidak bisa lagi memohon, suaranya tercekat, air matanya terus mengalir. Lagi-lagi pria ini mengasarinya, menyakiti hati dan raganya. Sungguh, kali ini ia tak bisa memaafkan pria di hadapannya ini.
David terus melakukannya dengan kasar, menggigit semua bagian tubuh Sari sesukanya, tanpa peduli rintihan dan rasa sakit yang di alami wanita di depannya itu. Amarah telah menguasai otaknya, ia tidak menyadari dampak yang akan terjadi setelah ini.
“Bitch. Kau hanya pemuas nafsuku.” David terus mengumpat, membuat hati Sari teriris.
Sari menerima perlakuan David dengan derai air mata. Ia ingat kata-kata Bianca, bahwa selama ini David menyukai Inka. Memang jika di bandingkan oleh Inka, Sari tidak ada apa-apanya. Ia semakin yakin, bahwa David tak pernah mencintainya, ia hanya pemuas nafsu dan alat untuk melahirkan anaknya.
“Ngg...” David mengerang melepaskan pelepasannya, sambil menggigit bahu sari yang sudah memar.
Sari meringis, menahannya dengan menggigit bawah bibirnya. Kemudian, ia tersenyum.
“Terima kasih, karena telah menjawab semuanya.” Ucap Sari dalam hati pada David.
Kemudian, david ambruk di samping Sari dan memeluknya dari samping.
Sari memejamkan matanya perlahan, membiarkan air mata yang sudah menggenang itu jatuh lagi. Ia mulai merasakan perutnya yang sakit. Namun, hal itu di abaikannya.
Beberapa menit, keduanya tak bersuara. Sari tak bergerak, posisinya masih membelakangi David dan memegang bagian perutnya yang sakit.
“Sss...” Sari meringis karena bagian perutnya tambah sakit.
Ia menoleh ke belakang, melihat David yang sudah memejamkan matanya karena lelah.
Perlahan Sari bangkit dari tempat tidur itu. Ia menahan perutnya yang besar, juga menahan rasa sakit di bagian intinya.
Dengan tertatih, Sari menuju ke arah lemari dan mengambil pakaiannya asal. Ia memakai pakaian itu karena pakaian yang ia pakai sebelumnya tengah teronggok di lantai dan tak lagi berbentuk. Darah mengalir di belahan pahanya. Ia terus melangkah untuk keluar dan meminta bantuan. Matanya sembab, bibirnya berdarah, rambutnya berantakan, pipinya merah karena tamparan David tadi, juga sekujur tubuhnya yang penuh tanda merah dan kebiruan karena gigitan suaminya.
Perlahan, Sari keluar dari kamarnya menuju apartemen Rama, karena tidak ada lagi orang yang bisa ia mintai pertolongan. Nina sedang tak ada di sana. Sari berjalan merambat dinding menuju apartemen Rama. Walau Rama pernah menyakiti hatinya tapi Rama tidak pernah menyakiti raganya.
Sari berjalan sambil memegang perutnya yang besar, karena kali ini sakit itu semakin hebat.
Ting Tong
Sari menekan bel apartemen Rama.
Ceklek
Rama dengan cepat membuka pintu apartemennya., dan melihat sosok wanita pujaannya dengan tampilan mengenaskan.
“Ya Tuhan, Sari. Apa yang terjadi?” Tanya Rama sedih melihat wanita pujaannya seperti ini.
“Tolong, Mas. Tolong bawa aku ke rumah sakit. Perutku sakit sekali.” Jawab Sari lirih.
Dengan cepat Rama membopong Sari dan membawanya ke rumah sakit.
__ADS_1