Istriku Canduku 2

Istriku Canduku 2
teman yang menjadi lawan


__ADS_3

“Eh, anak mama sudah wangi, ganteng.” Sari menggendong Melvin dari dalam strolernya, karena Melvin baru saja tiba bersama Nina setelah berjalan-jalan pagi ke area taman buatan yang berada di lantai dasar.


“Makanannya habis, Nin?” Tanya Sari.


“Habis, Bu. Den Melvin makannya banyak sekarang.” Jawab Nina, sambil menunjukkan piring melamin biru dengan bergambar capten Amerika di tengahnya.


“Iya, makannya doyan, nyusunya apalagi. Nanti ngga lama lagi juga udah minta nyusu nih, Nin.”


“Iya, Bu.” Nina tertawa dengan terus menyentuh pipi Melvin.


“Ma.. Ma..” Kata Melvin meyentuh wajah sang ibu.


“Apa? Hmm... kita bangunkan papa, yuk.” Sari segera membawa Melvin menuju kamarnya.


“Sarapan dulu, Nin. Aku sudah siapkan di meja makan.” Kata Sari, lalu berlalu dari hadapan asisten rumah tangga yang sudah ia anggap seperti adiknya.


“Iya, Bu. Terima kasih.” Jawab Nina sambil menundukkan sebagian tubuhnya.


Sari membuka pintu kamarnya perlahan.


“Tuh, papa masih tidur.” Sari berkata pada Melvin yang juga melihat sang ayah masih terlelap dengan bertelanjang dada, dada bidang yang di penuhi bulu-bulu halus berwarna coklat.


Sari sengaja menengkurapkan Melvin di dada suaminya. Gerakan tangan Melvin yang memainkan bulu-bulu halus di dagu sang ayah membuat mata David terbuka.


Mata David terbuka sempurna dan menampilan tawa sang anak yang sangat menggemaskan. Bibir David pun langsung mengembang. Ia langsung melingkarkan tangannya untuk memeluk tubuh bayi embul itu dan Sari duduk di samping anak dan suaminya.


“Bangun, Mas. Akhir-akhir ini kamu yang sering bangun kesiangan, biasanya selalu aku.” Kata Sari.


David bangkit sambil memegang Melvin. Ia pun mengecup kening Sari.


“Morning.” Ucap David dengan suara khas bangun tidur.


“Pagi, Sayang.” David mengecup kening Melvin.


“Ma..Ma..” Kata Melvin mengoceh dan berteriak-teriak.


Sari menyender di dinding tempat tidur bersama David yang sedang mememeluk putranya.


“Ini papa sayang. Ayo ucap Pa.. Pa..” Sari mengajarkan Melvin yang baru berkata mama.


“Ayo panggil papa, Sayang.” Kata David tertawa.


“Ma.. Ma..”


“Kenapa belum bisa manggil papa, apa kamu masih marah karena papa pernah menyakitimu saat kami masih di perut mama?” Tanya David lesu.


Sari mengelus bahu suaminya. “Ngga, Mas. Baper banget sih kamu. Emang Melvin belum bisa nyebut kamu aja.”


David menghela nafasnya kasar.


“Ma.. Ma..”


“Ya udahlah, ngga apa. Hmm..” David memeluk erat putranya sambil bercanda.


Lalu, satu tangannya memeluk erat istrinya.


“Mas, nanti siang kita jadi belanja? Aku belum belikan Melvin jaket tebal.”


David mengangguk.


Sari ingin memeprsiapkan untuk kepergiannya ke kampung halaman suaminya. berhubung ke kampung halaman David juga akan memakan waktu yang cukup lama, sehingga Sari harus mempersiapkan semua kebutuhannya dan kebutuhan keluarganya.


Saat ini, Teguh resmi pensiun, sehingga dapat pergi selama yang di inginkan. Ardi pun sedang libur semester. Ia di perbolehkan untuk pulang dalam beberapa minggu, setelah latihan militer di pulau perbatasan selama tiga semester. Sejak pertama kali Ardi memasuki asrama, ia tak pernah pulang.


****


Kebetulan, hari ini adalah hari Sabtu. Sari sudah siap untuk pergi keluar bersama suaminya dan anaknya, juga Nina. Selain ingin membeli perlengkapan selama di Inggris nanti, ia juga ingin membelikan kado untuk Rama dan Melisa yang akan menikah besok. Sari memakai kaos hitam lengan tiga perempat dengan bagian bahu yang sedikit terbuka, di padu celana bahan tiga perempat dengan warna krem dan sepatu sneakers.


ini penampakan Sari yang semakin cantik.

__ADS_1



David tak mau kalah dengan penampilan sang istri yang terlihat muda dan santai. Ia pun hanya memakai kaos oblong berwarna hitam dan celana cargo yang juga berwarna krem. Ia memandang istrinya yang cantik itu.


“Ih, kok warna pakaian kita sama?” Sari melihat ke arah David dan dirinya.


“Biarin, biar di bilang couple.” Jawab David tersenyum.


Sari pun tersenyum. Lalu, ia mengganti pakaian Melvin dengan warna yang senada seperti kedua orang tuanya, karena sebelumnya Melvin menggunakan baju dengan warna biru dongker.


“Ih, anak papa, sudah ganteng.” Ucap David menggendong Melvin dan sofa untuk di pindahkan ke stroler.


“Pa..Pa..” Melvin pun akhirnya memanggil sang ayah.


“Apa, sayang. coba ucap sekali lagi.” David terlihat gembira.


Sari pun menghampiri anak dan suaminya yang sudah berdiri di ruang televisi.


“Pa..Pa..” Ucap Melvin lagi, membuat david terharu dan langsung memeluknya erat.


“Iya ini papa, papa yang akan selalu menjagamu, menjaga ibumu dan adik-adikmu nanti.” David tertawa lagi dengan wajah sumringah.


Sari pun ikut tertawa di samping suaminya.


“Yeay, anak papa semakin pintar.” Ucapnya.


Kemudian, David kembali menaruh Melvin di stroler miliknya. Nina keluar lebih dulu dengan mendorong stroler itu dan David keluar bersama sang istri bersama. Seperti biasa, David selalu menyantelkan lengannya di pinggang ramping Sari atau menggenggam tangannya saat berjalan beriringan, sementara Nina di biarkan brjalan lebih dulu bersama Melvin.


Sesampainya di basement, mereka menaiki sedan hitam mewah milik Sari. Mereka bernyanyi di dalam mobil, sambil menanggapi Melvin yang riang dengan nyanyian dari suara sang ibu dan pengasuhnya. David menyetir sambil tersenyum dan sesekali ikut bernyanyi lagu anak-anak yang di nyanyikan sang istri.


Mereka pun terhenti di sebuah mall yang sangat besar dan mewah.


“Sari..” Panggil seorang wanita, ketika Sari dan keluarganya sudah memasuki mall itu dan beberapa menit berjalan menelusuri toko-toko yang berada di dalam.


“Miss.” Sari menoleh ke sumber suara itu dan menampilkan sosok mantan bosmya yang baik hati sedang melambaikan tangan dari kejauhan bersama suaminya.


Inka tengah bersama Mario di mall yang sama. Mereka sedang menikmati weekend berdua, karena Maher dan Mahira sedang berada di rumah Andreas.


“Miss..” Sari menghampiri Inka, begitu pun dengan Inka yang langsung menghampiri Sari dan meninggalkan Mario yang masih di tempatnya.


Sari pun meninggalkan David yang masih di tempatnya, sementara Nina mendorong Melvin yang berada di dalam stroler menghampiri Sari dan Inka.


“Apa kabarnya?” Tanya Inka yang langsung memeluk Sari.


“Baik, Miss sendiri apa kabar?” Sari pun ikut memeluk Inka dengan erat.


“Kami baik.” Jawab Inka.


Lama berpelukan, mereka pun melepas pelukan itu.


Inka menoleh ke arah suaminya. “Kak, sini!”


Sari pun melakukan yang sama.


“Mas, kamu ngapain di situ aja. Sini!” Sari melambaikan tangan ke arah pria bule itu.


Kedua pria yang awalnya adalah sahabat baik dan selalu kemana-mana bersama ini seolah menjadi orang yang saling tidak mengenal.


“Aku tau semuanya, Miss.” Ucap Sari pada Inka pelan, saat kedua suami mereka bergerak lambat menuju tempat mereka berdiri.


“Tau apa?” Inka mengerdikkan bahunya.


“Tau, petaka malam itu adalah jebakan tante Vivian.”


“Sari.” Inka kembali memeluk Sari.


“Mungkin awalnya memang seperti itu, tapi aku lihat kak David sangat mencintaimu. Awal hubunganku dan Kak Rio juga sebuah kesalahan, kesalahan karena menikah karena sebuah kesepakatan yang saling menguntungkan. Tapi siapa sangka dari sana kami menemukan cinta.” Jawab Inka yang membuat air di bawah mata Sari tiba-tiba menggenang.


“Benar, kita memang tidak bisa melawan takdir.”

__ADS_1


Inka mengangguk.


Lalu, David berdiri persis di belakang Sari, sambil menggandeng pinggangnya. Begitu pun Mario yang berdiri di belakang Inka dengan possesive.


“Apa kabarmu, Sari?” Mario mengulurkan tangannya pada Sari, tapi tidak pada David.


“Baik, Pak.”


Mario hanya melirik sekilas ke arah David, dan David pun menatap lirikan itu.


“Ini anakmu. Ah, tampan sekali.” Inka mengambil Melvin dari dalam stroler dan menggendongnya.


Mario ikut tertawa, ketika Melvin tertawa ke arahnya. Melvin memang bayi yang tidak sulit untuk tersenyum dan tertawa.


“Hai, Sayang. Ini tante Inka. Nanti main ya ke rumah kakak Maher dan kakak Mahira.” Ucap Inka.


Mario ikut mengelus pipi embul Melvin.


“Tampan ya, Kak. Aku jadi ingin punya anak lagi.”


“Buatlah, Miss.” celetuk Sari.


Inka tertawa.


“Buatnya udah rajin, Sar. Tapi saking rajinnya sampe ngga jadi-jadi.”


“Mungkin semburannya kurang pas, Miss.”


Sari dan Inka tertawa. Mario dan David pun ingin tertawa tapi di tahan. Teman yang kini menjadi lawan itu terlihat sama-sama cangguh, padahal kedua istri mereka sangat menggemaskan.


“Miss, kita makan bersama yuk.” Ajak Sari yang langsung membulatkan mata David.


“Oh, tidak Sari. terima kasih. Kami ingin nonton dulu.” Jawab Mario.


Inka kembali menaruh Melvin di strolernya.


“Yah, sayang sekali.” Kata Sari lirih.


“Kita juga masih banyak keperluan yang belum di beli, Sayang.” Ucap David, membuat Inka tersenyum.


“Iya, sayang sekali sih, padahal jarang-jarang loh, kita bertemu seperti ini.” Sahut Inka.


“Ayo, Kak. Kita nontonnya setelah makan siang saja.” Kata Inka dengan suaminya.


Mario menggeleng, memberikan isyarat tidak mau. Inka memonyongkan bibirnya ke arah Mario. Mario memegang bibir itu.


“Lain kali, Sayang.” Ucapnya lirih.


“Baiklah, kalau begitu, kami duluan ya Sar. Lain waktu pokoknya kita harus dinner bareng.” Kata Inka pada Sari.


“Baiklah, Miss.” Sari tersenyum dan membalas pelukan singkat dari Inka.


Lalu, mereka berlalu dari pandangan Sari dan David.


“Hmm.. Pak Rio dari dulu romantis banget sama Miss Inka.” Ucap Sari yang melihat kepergian Inka.


Kemudian, Sari menoleh ke arah suaminya.


“Kamu cemburu?”


“Cemburu kenapa?” Tanya David bingung dengan pertanyaan istrinya.


“Cemburu pada Pak Rio yang memperlakukan Miss Inka romantis seperti itu.” Jawab Sari.


“Apa hubungannya?” David mengajak Sari untuk kembali berjalan.


“Ya, kan kamu pernah mengagumi dan menyukai Miss Inka.”


“Kapan? Emang pernah? Sudah lupa tuh.” Jawab David dingin, dengan tatapan lurus ke depan dan tetap menggandeng pinggang istrinya.

__ADS_1


“Ish.. nyebelin, dasar om mesum.” Sari mentoyor pipi suaminya hingga wajah David tergerak ke samping.


David pun tertawa.


__ADS_2