Istriku Canduku 2

Istriku Canduku 2
~bonus chapter 10~


__ADS_3

“Mama ...” panggil Quinza dari balik pintu kamar Sari.


Quinza mengetuk-ngetuk pintu kamar orang tuanya, membuat seketika, mata Sari terjaga.


“Ya ampun, sudah jam enam,” gumam Sari yang langsung terbangun dan melihat ke arah jam dinding.


Gerakan Sari pun, membuat sang suami yang setia melingkarkan tangannya di pinggang itu, ikut terbangun.


“Ada apa, Sayang?” tanya David.


“Mama ...’ Quinza kembali mengetuk pintu itu.


“Aku kesiangan.” Sari langsung beranjak dari tempat tidur dan hendak memasuki kamar mandi. Tak lupa ia pun menyeret selimut tebal itu untuk menutupi tubuhnya yang polos, saat berdiri berdiri.


Seperti biasa, ritual malam masih sering mereka lakukan, walau mereka sudah berbuntut dua dan David tidak lagi muda. Namun, pria itu masih maksimal dalam memanjakan sang istri dan memberinya kepuasan.


David pun langsung terbangun dan hendak membuka pintu yang sedari tadi di ketuk putrinya.


“Mas, aku mau bersih-bersih dulu.” Sari menengok ke arah sang suami saat mereka sama-sama berdiri dan hendak melangkah ke tempat berbeda.


David meraih pinggang Sari dan mengecup bahu sang istri dari belakang. “Ya, nanti aku yang urus anak-anak terlebih dahulu.”


Sari membalikkan tubuhnya dan menangkup wajah sang suami. “Terima kasih.” Senyum Sari mengembang dengan manis.


“Sama-sama. Aku juga terima kasih untuk tadi malam.”


Sari tersenyum malu, lalu masuk ke dalam kamar mandi. David pun tersenyum melihat sang istri yang masih saja malu jika ia mesumi.


David melangkahkan kakinya untuk membuka pintu itu. Quinza berdiri tepat di hadapan sang ayah. David pun segera berjongkok agar sejajar dengan putrinya.


“Hai, Sayang. sudah bangun?” tanya David yang langsung menggendong sang putri.


“Udah, Pa. Quin mau Mama.” rengek Quinza yang ingin bertemu sang ibu dan menyondongkan tubuhnya agar sang ayah membawanya ke dalam kamar.


“Kakak, sudah bangun belum?” tanya David lagi pada putrinya sembari menatap kedua mata Quinza yang berwarna biru.


Mata Quinza mengikuti mata David, sementara kedua bola mata Melvin mengikuti mata Sari yang berwarna coklat jika dilihat di tempat yang terang, jika di tempat gelap akan terlihat hitam.


“Kakak masih bobo. Tadi Quin lewat kamar abang.”


Quinza dan Melvin sengaja di beri kamar berdekatan dan berhadapan. David dan Sari sudah memisahkan kamar Melvin dan Quinza dari kecil karena keduanya memiliki gender berbeda.

__ADS_1


“Kok, Kakak ngga sekalian Quin bangunin, supaya ngga kesiangan.” David senang jika berinteraksi dengan Quinza, karena putrinya ini tidak akan bicara jika tidak di tanya. Berbeda dengan Melvin yang memang banyak bicara dan mudah berkomunikasi.


“Mama lagi mandi. Tuh denger suaranya!” David mengajak Quinza untuk terdiam dan mendengar gemericik air dari dalam kamar mandi.


“Quin belum mandi,” ucap gadis berusia wmpat tahun itu.


“Kalau begitu, ayo kita bangunin kakak sekalian! setelah itu kita mandi. Oke!” David tersenyum ke arah sang putri.


“Oke.” Quinza pun ikut tersenyum.


Mereka pun beralih ke kamar Melvin dan membangunkannya. Setelah itu, Quinza di serahkan pada Minah. Sementara, David mengurusi Melvin. Kemudian, Mina membawa Melvin dan Quinza di bawa ke ruang makan. Sementara, David kembali lagi ke kamarnya untuk bergantian kamar mandi pada sang istri.


David membuka pintu perlahan dan mendapati sang istri sudah berpakaian lengkap dengan dres selutut berwarna coklat tua yang pas dengan tubuhnya. Sari sedang asyik mengeringkan rambutnya.


“Hmm ... harum.” David mengendus leher sang istri.


“Hmm, Mas, awas ya jangan dibuat merah! Aku mau antar sekolah anak-anak dan ketemu ibu-ibu di sana, malu kalau ada tanda di sini.” keluh Sari yang tahu dengan kebiasaan sang suami dan saat ini kebiasaan itu pun bertambah parah.


David tertawa. “Hanya sedikit tidak sampai keunguan.” Ia kembali mengecup leher itu dan akan menggigitnya. Namun, Sari segera mengelak.


“Mas, ih ngeselin.”


“Ih, sana mandi, bau.” Sari menggerakkan bahunya agar sang suami tidak menempel.


“Ngga, sebelum bisa gigit kamu.”


“Mas,” kesal Sari.


Lalu, ia menyodorkan alat pengering rambut yang ia pegang itu ke wajah David dengan jarak tidak dekat, tapi David tetap merasa sedikit hangat. Pria itu menyingkir dari tubuh Sari.


“Awas ya! hem ...” Sari lagi-lagi mengarahkan pengering rambut itu sebagai senjatanya pada sang suami.


David tertawa dan menghindar. “Awas ya nanti di kantor!” Ia pun tertawa. Pasalanya hari ini sari memang akan di bawa ke kantornya, karena ada beberapa berkas penting yang harus ia tanda tangani sebagai pemilik saham.


Sari menjulurkan lidahnya. “Siapa kentut.”


“Siapa takut.” David meluruskan perkataan Sari yang bergurau dengan memelesetkan kata.


David melangkah menuju kamar mandi. Setelah dirasa aman, Sari kemballi menghadap cermin dan mengeringkan bagian rambutnya yang masih basah.


Tiba-tiba, Dvid kembali menghampirinya dan dengan cepat mengeratkan tangannya pada pinggang Sari dari belakang. Lalu, ia menggigit leher Sari.

__ADS_1


“Aa ... kena kan.” David tertawa puas, sembari langsung mengendurkan pelukan dan menjauh dari hadapan Sari.


“Mas, ih neyebelin.” Sari memegang lehernya yang baru saja di gigit oleh sang suami. Padahal dari semalam ia sudah menolak untuk diberi kissmark. Namun, ternyata David tidak puas sebelum memberi sang istri tanda merah di sana.


David tertawa senang dan berlari ke kamar mandi, agar Sari tak memukul atau mencubitnya, karena cubitan Sari lebih sakit dari capitan kepiting saat binatang itu merasa terancam.


****


Di dalam mobil, Sari masih cemberut karena ia harus mengenakan syal, padahal cuaca pagi ini sangat cerah, bahkan bisa di bilang sangat panas, sehingga memakai syal menjadi tidak cocok.


David tertawa.


“Mama kenapa, Pa?” tanya Melvin yang duduk di belakang bersama Quinza.


“Mama lagi ngambek minta di ajak jalan-jalan.”


“Mau.” Teriak Quinza.


“Jalan-jalan kemana, Pa?” tanya Melvin.


“Ke villa om Mario, mau?” David menoleh sekilas ke arah putra putrinya di belakang.


“Mau,” sorak Melvin dan Quinza bersamaan.


“Mas, jangan mulai deh! Jangan janjiin sesuatu yang kamu ngga bisa tepati,” ucap Sari, karena David memang sering menjanjikan keluarganya jalan-jalan. Namun, hingga saat ini belum ada satu tempat pun yang terealisasi.


“Kali ini beneran, Sayang. Aku sama Mario emang janjian pengen ngedate bareng bersama keluarga di villa miliknya yang di lembang. Udaranya enak banget, Sayang.” jawab David.


“Sama siapa aja? Pak Rey juga?” tanya Sari yang masih memanggil teman-teman David dengan sebutan ‘pak’.


“Hanya kita berdua, karena Rey, Andre, dan Brian tidak bisa. Sedangkan aku dan Mario memang sedang ada proyek bersama. Jadi kami ingin membahas itu sekalian membawa keluarga. Oke kan?” tanya David lagi.


“Mau, Melvin mau main dengan kakak Maher,” ucap Melvin kegirangan.


“Quin juga mau main sama kakak Ira,” ucap Quinza memanggil nama Mahira.


“Oke, minggu depan kita cus,” kata David tersenyum.


Sari pun menoleh ke arah sang suami dan ikut tersenyum. Akhirnya, mereka akan jalan-jalan, setelah sekian lama, hanya di beri harapan palsu oleh sang suami. Mengingat, David adalah orang penting yang memiliki jam kerja tinggi dan tingkat kesibuan yang cukup tinggi. Apalagi, sang suami juga mengurusi perusahaan sang ayah yang berada di London, walau dari jarak jauh, karena Matt benar-benar sibuk dengan perusahaannya sendiri dan urusan cintanya.


David dan Sari tahu, bahwa Matt sudah berpacaran dengan Nina dan saat ini Nina pun tengah magang untuk mengabdikan diri menjadi tenaga kesehatan di daerah terpencil di Bali.

__ADS_1


__ADS_2