Istriku Canduku 2

Istriku Canduku 2
penghilang stres


__ADS_3

Hampir setiap pagi, Sari terbangun dalam keadaan polos. David tidak pernah absen menjenguk bayi yang masih dalam kandungan sang ibu setiap malam, bahkan terkadang ia kurang dan memintanya lagi di pagi atau siang hari.


“Susu.” David membuka pintu dengan membawa satu nampan berisi sandwich dan susu. Kemudian ia menutup kembali pintu kamarnya dengan satu kaki.


David selalu bangun lebih dulu dari sang istri. Kemudian, ia menaruh nampan itu persis di nakas yang dekat dengan tempat tidur mereka.


Sari menatap malas, nampan yang di bawa suaminya. ia masih berbaring dan enggan untuk bangkit.


“Ayo, minum dulu susunya!”


Sari menoleh ke arah suaminya dengan tubuh yang masih tergulai lemas di tempat tidur. Ia masih memeluk guling. Sementara David berjalan menuju ponsel yang sedang ia charge di seberang tempat tidur.


“Tumben, kamu belum rapih?” Tanya Sari pada suaminya yang masih mengenakan kaos oblong polos dan celana boxer.


David yang sedang mengambil ponselya, kemudain menoleh ke arah Sari. “Aku masih ingin bermanja-manja denganmu.”


Sari memutar bola matanya malas.


“Jangan lagi, aku capek. Jangan siksa aku!” Kata Sari dengan ketus.


David tertawa. “Aku nyiksa kamu?”


Sari menatap lagi suaminya. mereka beradu pandang dalam jarak yang tak dekat.


“Sepertinya wajah kamu bukan seperti orang tersiksa, Sayang. Tapi menikmati.” David mengingat wajah sayu Sari, ketika ia memberikan rangsangan pada istrinya itu.


Sejujurnya, David menyukai Sari yang tak berdaya dan berwajah sayu, saat dalam kungkungannya.


‘Ih, menyebalkan.” Sari melempar bantal yang dekat dengannya ke arah David.


David tertawa dan menangkap bantal itu.


“Tapi, aku suka wajah sayu itu, Sayang. Suka sekali.”


Bruk.


Sari kembali melempar bantal yang lain.

__ADS_1


“Ih, rasain.” Ucap Sari saat bantal itu pas mengenai wajah David.


“Pria menyebalkan, pemaksa.” Sari mengumpat dengan tetap melempar bantal dan guling yang berada di dekatnya, hingga habis.


Bibir David masih mengulas tawa, lalu perlahan mendekati istrinya yang tak lagi punya senjata untuk menyerangnya.


Hap


David langsung menaiki tempat tidur itu dan menindih tubuh Sari. Kedua tangannya di tahan agar bobot tubuhnya tidak membuat Sari sesak. Satu tangan David mulai mengelus rambut Sari.


“Aku sudah bilang, jika kamu mengizinkan, maka aku tidak akan bisa berhenti.”


“Iya, tapi jangan berlebihan! Nanti cepat bosan.” Rengek Sari.


“Aku tidak akan pernah bosan. Kamu sudah seperti candu bagiku. Justru, aku akan sakau, jika tak menyentuhmu.”


Sari mengeryitkan dahinya.


Cup


David memangut bibir Sari lembut, dan menyudahinya dengan durasi tak lama. Kemudian, ia bangkit dan meraih gelas yang berisikan susu tadi.


Sari bangun dengan mata berbinar.


“Kalau coklat aku suka. Sini!” Sari meraih gelas yang ada di tangan David.


Ia langsung meminum susu itu hingga habis tanpa jeda, terdengar bunyian air yang di telan dan masuk ke tenggorokannya.


David kembali tertawa melihat istrinya itu. Usia mereka memang terpaut sepuluh tahun, pautan usia yang cukup jauh sebagai pasangan. Sehingga David memaklumi sikap Sari yang terkadang seperti anak kecil. Namun, ia pun menyukai sikap kekanak-kanakan Sari yang membuat bibirnya tak berhenti tersenyum atau tertawa.


****


Sari bosan di dalam apartemen sendirian, tepatnya hanya bersama Nina saja. Ia memencet tombol remote beberapa kali untuk mencari acara yang bagus, tapi tak satu pun yang ia sukai.


“Maaf ya, Bu. saya mengganggu.” Kata nina yang membawa facum cleaner di tangannya.


Ia tengah berjongkok dan bersiap membersihkan karpet di bawah kaki Sari.

__ADS_1


Sari bangkit dari duduknya.


“Sini aku bantu!” sari memegang gagang facum cleaner itu.


“Jangan, Bu. Ini tugas saya.” Jawab Nina.


‘Tidak apa, aku lagi bosan. Sini, aku bantu bersihkan ruangan ini.” Ucap Sari.


“Tapi, nanti ibu lelah.” Nina masih mempertahankan alat pembersih debu itu di tangannya.


“Tidak, kalau lelah, aku akan istirahat dan kamu yang lanjutkan lagi.”


“Sudah, kamu kerjakan pekerjaan yang lain saja.” Kata Sari lagi dan langsung meraih alat pembersih debu itu.


Nina menyerah. “Baiklah, terima kasih Bu.”


Nina menunduk dan pergi ke dapur untuk mengerjakan pekerjaan yang lain.


Sari mencari musik lewat you tube yang bisa muncul langsung di televisi 42 inc milik David. Ia menemukan lagu lawas favoritnya. Genre musik yang bisa membuatnya berjoget dan bergoyang, sambil membersihkan ruangan itu.


“Nah ini dia lagunya.” Gumam Sari.


Sari mulai menyalakan mesin pembersih debu itu dan mengarahkan ke beberapa sudut. Ia memegang alat pembersih itu, sambil bergoyang dan bernyanyi.


“I feel good.. tenonet nonet nonet.. I knew that I would.” Teriak Sari mengikuti suara James Brown dengan gagang alat pembersih itu yang di jadikan gitarnya.


“Now I feel good.. I knew that I would..” Sari bernyanyi dengan lantang, sambil memegang gagang facum cleaner sebagai mic nya.


Sari berteriak-teriak tidak jelas. Bokongnya pun di goyangkan mengikuti alunan musik yang riang itu.


“So good.. So good.. I got you... Uuuu.. Aww.” Teriak Sari lagi dengan tingkah centil dan menggoda.


Di mobil, David tertawa melihat aksi sang istri melalui ponsel miliknya. Tawanya terbahak bahak dan menggema, hingga Malik yang sedang menyetir pun menoleh ke belakang.


“Ada apa, Bos?” Tanya Malik bingung.


David menghentikan pelan tawanya. “Tidak apa.”

__ADS_1


Sari tak menyadari semua aksi dan tingkahnya tak luput dari pantauan David, karena David telah memasang cctv di semua sudut ruang apartemennya, tak terkecuali kamar mereka, ruang tamu, dapur, dan pintu masuk.


David tak pernah jauh dari ponselnya, apalagi saat di kantor. Melihat Sari adalah hiburannya sekarang, karena tingkah Sari selalu membuatnya relaks dan penghilang stres. Kebiasaan Sari yang keluar kamar mandi tak menggunakan apapun, tertangkap oleh David pada cctv itu. David tertawa dan gemas ingin cepat pulang, lalu menerkamnya saat melihat Sari berlari kesana kemari dengan tubuh yang polos.


__ADS_2