
Dret.. Dret.. Dret..
Ponsel sari berdering.
“Mas..” Sari terbangun mendengar bunyi itu.
Ia ingin mengambil ponselnya yang terletak di nakas sebelah David, tapi tubuhnya masih berada dalam dekapan suaminya itu.
Dret.. Dret.. Dret..
Ponsel Sari masih terus berdering.
“Mas.. Aku mau angkat telepon dulu.” Ucap Sari dengan sedikit menggoyangkan tubuhnya yang selalu di dominasi sang suami.
“Hmm.. Nanti saja, masih pagi. Aku masih ngantuk.” Kata David dengan suara yang berat.
“Tumben sih Mas, biasanya kamu yang lebih dulu bangun di banding aku.” Jawab Sari.
“Kemarin aku sangat lelah.” Kata david lagi lirih.
Lalu, Sari semakin mengeratkan pelukannya. Ia meraih kepala David dan memeluknya, membiarkan tubuhnya menjadi tempat menghilangkan penatnya. David tertidur di dada Sari. Sari mengelus rambut pirang itu dengan lembut.
“Istirahatlah, Mas.” Kata sari mengabaikan ponselnya yang dari tadi berdering.
Sari terus mengelus rambut itu, hingga David pun kembali terlelap.
****
Di luar kamar David. Seperti biasanya Nina mengajak Melvin keluar apartemen ketika matahari mulai terbit. Nina mengajak main bayi tampan itu dengan strolernya, sambil menyuapi Melvin yang sudah mulai di beri makanan tambahan ASI. Nina sangat menyayangi bayi tampan itu. Biasanya, ia akan kembali ke apartemen setelah kedua orang tua Melvin bangun, atau tetap mengajak Melvin bermain di ruang keluarga sambil menunggu kedua majikannya terbangun. Siangnya hingga malam, gantian Sari yang mengurus anaknya penuh, sedangkan Nina merapihkan rumah dan sorenya kembali bersekolah.
Benar saja, Nina kembali ke aparemen dan masuk ke dalam, ternyata kedua majikannya itu belum terbangun. Nina meletakkan Melvin di ruang televisi. Melvin terlihat sudah tertidur di dalam strolernya. Nina dengan cekatan, menggeser roda stroler itu menjadi berbentuk ayunan, agar Melvin tidur lebih nyenyak.
Di dalam kamar, Sari masih memperhatikan suaminya yang terlelap di dadanya. Ia masih mengelus dan mengusap wajah tampan itu.
Tiba-tiba, David membuka matanya.
“Kamu tidak tidur lagi?” Tanya David.
Sari menggeleng dan tersenyum.
“Aku ngga ngantuk.”
“Terpesona melihatku sampai tidak ngantuk.” Kata David meledek.
Sari mencibir. “Iya aja deh.”
David tertawa.
“Nyaman sekali berada di dadamu.” David masih mengeratkan pelukannya.
“Modus.” Ledek Sari dengan menyungging senyum.
David tertawa lagi.
“Masih lelah?” Tanya Sari, dengan tangan yang masih mengelus rambut pirang itu.
David menggeleng. “Tidak lagi, jika sudah berada di pelukanmu.”
“Haish.. Gombal sekali kamu, Mas.” Sari tertawa, menghilangkan rona merahnya.
“Sungguh.” David bangkit, di ikuti dengan Sari.
“Udah ah, aku mau lihat Melvin. Pasti Nina sudah balik.”
__ADS_1
David mencekal tangan Sari yang hendak pergi dari sana.
“Temani aku dulu di sini.”
“Iya nanti, aku lihat Melvin dulu ya.. Uh, dasar bayi besar.” Sari mencubit hidung suaminya yang panjang.
David nyengir. Entah mengapa justru sekarang malah David yang begitu manja pada Sari, padahal sebelumnya Sari yang manja pada pria bule itu.
Dret.. Dret.. Dret..
Ponsel David berbunyi, menampilkan sebuah pesan whatsapp dari notifikasinya.
“Bos, tepat jam 11 malam kemarin, Dito di tangkap. Pagi ini, dia menjadi trending topik di semua stasiun televisi.” Pesan dari Malik.
David tersenyum membaca pesan itu.
“Tamat riwayatmu, Sir. Itu balasan karena telah menyentuh milikku.” Gumam David.
Di ruang televisi, sari melihat Nina yang sedang menonton sambil menggoyangkan stroler Melvin.
“Nin. Melvin tidur?”
“Eh, Ibu. Iya nih bu. Saya mau pindahkan Den Melvin ke kamar tapi sepertinya ibu sama Bapak belum bangun.”
Sari tersenyum. “Makasih ya, Nin.”
Nina mengangguk. “Sama-sama, Bu.”
Breaking news.
Arah mata Nina dan Sari tertuju pada televisi yang menyuguhkan berita terkini.
“Pejabat walikota XX di Jawa Timur dengan inisial DK telah tertangkap tangan membawa uang senilai delapan ratus juta rupiah di sebuah kamar hotel. Di duga DK pun terlibat prostitusi dengan artis berinisial WS. DK tertangkap saat akan berbuat mesum dengan artis WS yang ia pesan dengan harga enam puluh juta untuk satu malam.”
“Mas.. Mas..” sari memanggil David yang masih berada di dalam kamarnya.
"Apa sayang?” David segera menghampiri Sari yang dari tadi berteriak.
“Itu, Mas. Itu pak Dito?”
David mengeryitkan dahinya.
“Masa?” David pura-pura tidak tahu.
“Iya, aku yakin itu pak Dito.” Sari menunju layar televisi yang sedang menunjukkan postru seorang laki-laki lengkap dengan masker yang menutupi wajahnya.
“Pejabat Walikota di tempatku dengan inisial itu siapa lagi kalau bukan dia.” Ucap Sari lagi.
“Baguslah, doa mu terkabul. Dia memang harus mendapat ganjaran atas apa yang pernah ingin ia lakukan padamu.”
Sari mengangguk.
“Iya, Mas. Akhirnya doaku terkabul.” Jawab Sari sambil mengusap wajahnya.
“Jadi kamu mendoakan yang buruk untuknya? Kalau untukku?”
“Kalau untukmu tidak perlu di tanyakan, pasti yang baik-baik.”
“Contohnya?” Tanya David lagi.
“Contohnya seperti ini. “Ya Tuhan, biarkanlah suamiku mesum tapi tidak dengan kebiasaaannya yang mudah marah.”
David langsung tertawa terbahak-bahak. Begitu pun dengan Nina, walau Nina tidak terlalu mengerti dengan percakapan yang di lakukan kedua majikannya itu.
__ADS_1
Sari teringat pada orang tuanya yang bekerja pada pak Dito.
“Aku mau telepon Ibu.” Ia langsung ke kamar dan mencari ponselnya.
“Ya ampun ternyata dari tadi itu, Ibu yang menelepon.” Gumamnya menyadari bunyi telepon pagi tadi saat David sulit sekali di bangunkan dari tubuhnya.
David masuk ke dalam kamar dan meletakkan Melvin yang masih tertidur di tempat tidurnya.
“Mas, ternyata dari tadi Ibu telepon, kamu sih susah banget di bangunin, padahal aku kan cuma ingin ambil ponsel doang.” Keluh Sari pada suaminya yang baru saja meletakkan buah hatinya di sana.
“Aku juga cuma ingin peluk kamu doank.”
Sari memonyongkan bibirnya ke arah David yang berjalan menuju pintu untuk menutup kembali pintu kamar itu dan menguncinya.
“Kamu mau ngapain?” Tanya Sari yang mulai melihat gelagat aneh dari sang suami.
David menyeringai licik.
“Habis subuh tadi kita belum sempat..” Ia tak melanjutkan perkataannya.
“Mas, kamu berangkat kerja sana.” Sari berusaha menghindar. Ia tahu maksud suaminya itu.
Sari menghindari David dan berlari menuju sofa.
“Aku mau nelepon ibu dulu, hush.. jangan ganggu!” Sari mengibaskan tangannya, agar David menjauh.
Namun, David adalah David, pria paling menyebalkan dan pemaksa menurut Sari. Semakin dia di larang justru akan semakin ia lakukan.
Sari menempelkan ponselnya di pipi.
“Ibu, ayo angkat!” Ia ingin menanyakan perihal kebenaran Dito yang tertangkap atas dua kasus yaitu korupsi dan prostitusi online.
“Ibu, Ayo angkat!” Kata Sari lagi, sambil melirik ke arah David yang semakin mendekat.
“Hmm..” David langsung memeluk tubuh Sari dan mengendus lehernya.
“Aku baru saja mandi, Mas. Nih rambutku masih basah.” Sari menunjukkan rambutnya.
“Siapa suruh bikin orang gemas, siapa suruh pakai pakaian sexy.”
“Ih, kamu aja yang mesum. Aku ngga pakai pakaian sexy ya.” Ucap Sari yang memang hanya memakai kaos suaminya yang longgar dan kebesaran, hingga bagian sebelah pundaknya kedodoran.
Sari juga tak mengenakan bawahan, menampilkan paha mulus dan jenjang kakinya yang mungil. Hal itu sukses membuat David bergairah melihatnya. Padahal ketika itu, Sari tengah asal memilih pakaian yang ada di dalam nakas kamar mandi.
“Pokoknya tanggung jawab.” Kata David, langsung menggendong Sari ala bridal.
“Mas, aku males mandi lagi.”
“Nanti aku mandiin.”
“Tapi, nanti kamu telat ke kantor.” Ucap Sari merengek.
“It’s Ok. Kalau perlu aku tidak ke kantor.” Jawab David asal, padahal sore nanti ia akan ada pertemuan penting.
“Kalau seperti ini terus, aku akan cepat hamil lagi.” Rengek Sari.
“Bagus dong, aku suka kamu hamil. Melihat perut dan dadamu yang bulat membuatku semakin bergairah.” Kata David sengan nada sensual, sambil menggigit daun telinga Sari.
“Melvin ayo bangun! Tolong mama...” Teriak Sari pelan, sambil terus merengek.
David tersenyum senang. Bibirnya menelusuri wajah, leher, dan bahunya. Ia tak henti-henti mengerjai sang istri, karena Sari semakin menggemaskan ketika seperti ini.
Lalu, David pun melancarkan aksinya. Ia terus menelusuri tubuh yang menjadi candunya itu. Rasa nikmat yang sama sekali tidak berubah sejak pertama kali menyentuhnya. Entah, Sari menggunakan apa? Hingga membuat pria bule bengal ini bertekuk lutut di hadapannya.
__ADS_1