Istriku Canduku 2

Istriku Canduku 2
karena kamu juga mencintaiku


__ADS_3

Teguh datang ke Jakarta untuk melihat putri dan cucunya. Sudah satu bulan ia meminta cuti, tapi baru kali ini cutinya di terima. Alhasil, sudah dua bulan ia baru bisa mendatangi putrinya yang baru saja melahirkan, sekaligus menjemput sang istri untuk pulang bersamanya. Tak terasa Ratih sudah dua bulan menemani putrinya di sini.


Dret..dret..dret..


Ponsel Sari berdering, tertera nama “Ardi” sedang memanggil melalui panggilan video call.


Kebetulan, saat ini ponsel Sari sedang berada dalam genggaman Nina. Nina tersenyum melihat nama yang tertera di ponsel itu, padahal ia sedang memfoto majikannya yang tengah berselfie bersama Ratih dan Elvira, serta Melvin yang berada dalam gendongan Sari.


“Siapa yang telepon, Nin?” Tanya Sari, sambil menerima uluran tangan Nina yang menyerahkan ponsel milik majikannya itu.


“Dari Ardi, Bu.” Jawab Nina.


“Wah Ardi.” Sahut gembira Ratih.


Di balkon ruang tamu, David tengah menemani Teguh dan berbincang di sana. Hari ini adalah hari llibur, kedua keluarga tengah berkumpul di aparemen ini.


“Ardi...” Panggil Sari sambil melambaikan tangannya.


“Mba...” Ardi pun antusias melihat sang kakak di layar ponselnya.


“Kangen kamu, Ar.”


“Sama, mba. Ardi juga kangen banget.”


“Eh, itu Melvin?” Tanya Ardi ketika melihat keponakannya ada di layar itu.


“Halo, Om..” Kata sari sambil menampilkan wajah Melvin.


“Aku udah botak Om, sama kaya Om.” Kata sari lagi yang melihat Ardi sekarang berpenampilan plontos.


Ardi memegang kepalanya. “Ah, iya. Sama kita. Tapi sepertinya gantengan kamu, Vin.” Jawab Ardi tersenyum.


“Iya donk, aku emang ganteng.” Jawab sari bernada anak kecil.


“Di sini lagi kumpul loh, Ar. Kapan kamu libur? Nih ada ibu.” Sari memutar ponselnya ke arah Ratih.


“Ada mommy nya mas David.” Sari mengalihkan ke wajah Elvira dan Elvira melambaikan tangannya.


“Terus, Ada Nina.” Sari mengarahkan ponselnya ke wajah Nina. Sedangkan Nina hanya tertunduk malu.


“Hai, Nina. Apa kabar?” Ardi melambaikan tangannya ke arah Nina.


“Yang di tanya kabarnya Cuma Nina nih? Ibu ngga di tanya kabarnya?” Ledek Sari.


“Aku sering teleponan sama ibu.” Jawab Ardi nyengir.


Kemudian, arah kamera di ponsel itu tertuju lagi pada wajah Sari dan Melvin.


“Kalau mau ngobrol lama sama Nina, telepon langsung ke nomor hape nya. Punya kan?” Ledek Sari lagi.


“Apaan sih, Mba.” Ardi tersipu malu.

__ADS_1


“Melvin, maaf ya mas Ardi belum bisa lihat langsung ke sana.” Kata Ardi.


“Loh, kok mas sih, Melvin panggil kamu tuh om.” Ujar Sari.


“Ogah ah, mba. Aku masih muda, ngga mau di panggil om. Panggil mas aja”


Sari mencibir sang adik.


Setelah berbincang bersama, Ardi pun menyudahi video call itu.


“Udah dulu ya, mba. Salam untuk semuanya. Ayah, Ibu, mas David dan ibunya. Kalau Ardi libur dan di bolehin pulang, nanti Ardi mampir ke tempat mba.” Ujar Ardi yang berada di wisma militer.


“Ngga ada salam untuk Nina?” Tanya sari lagi meledek sang adik.


“Oh iya, salam juga buat Nina.”


Sari tersenyum, begitu pun Ardi. Kemudian panggilan video call itu di tutup Ardi.


Sari menyerahkan Melvin pada Nina. Kemudian, menghampiri Elvira dan Ratih yang sudah berada di dapur, menyiapkan makan siang bersama.


“Wah enak sekali.” Mata Sari berbinar melihat menu makanan yang tersaji di sana.


“Ini apa Mom?” Tanya sari pada Elvira, menunjuk salah satu makanan di meja makan itu.


“Ini namanya sate maranggih. Ini bukan daging ayam, Sayang. tapi daging sapi yang di bakar.”


“Oh. Pasti enak.” Sari langsung mengambil dan melahapnya.


Sari nyengir. “Udah ngga tahan, Bu.”


“Sama aku juga ngga tahan kalau lihat kamu.” Tiba-tiba David berkata di belakang telinga sari dengan pelan.


Sari merengutkan bibirnya. “Apa sih, nyamber aja kaya bensin.”


David tertawa melewati Sari dan duduk di depannya.


Teguh pun duduk di meja makan itu, di ikuti Ratih dan elvira yang sudah duduk di samping kiri David.


“Ayo sayang, sini duduk!” Kata David menepuk kursi bagian kanannya yang kosong.


Sari masih berdiri, lalu David menggeser kursi itu untuk Sari duduk.


Mereka pun makan siang bersama dan saling bercengkrama, karena mulai besok orang tua Sari akan kembali pulang ke Malang.


****


Di kamar, David hanya menatap Sari yang sedang menyusui Melvin. Ia berada di samping Sari dengan laptop di depannya. Sementara sari menyusui, David sedikit mengerjakan pekerjaannya, sambil menemani sang istri.


David menghampiri Sari dan menelusuri bahu terbuka Sari.


“Dia sudah tidur?” Ibu jari David mengelus bibir Melvin yang masih menempel di p*ting Sari.

__ADS_1


Sari mengangguk.


“Mata sih udah merem, tapi bibirnya masih menyusu.”


David dan Sari melihat Melvin yang lucu dengan mata terpejam dan bibir yang terus mengemut p*ting ibunya.


“Aku iri pada Melvin.” Ucap David lirih.


Sari langsung menoleh dan menjauhkan diri.


“Apaan sih kamu, Mas.” Siku legan Sari menghentakkan perut David.


“Aw, galak sekali.” David pura-perua meringis dan memegang perutnya.


“Itu ngga seberapa.” Jawab Sari ketus.


“Iya, ini ngga seberapa di banding sakitnya kamu melahirkan dan..” David tak mampu menlanjutkan kata-katanya.


“Sekali lagi, maaf. Aku tidak akan mengulanginya lagi. Janji.” David mengangkat kedua jarinya ke atas.


Sari hanya diam. “Dulu juga kamu pernah janji. Tapi di ulangi lagi.”


David langsung meraih kepala Sari dan memeluknya.


“Aku terlalu cemburu, aku tidak bisa melihatmu dengan pria lain. Maaf.” David merengkuh tubuh isrinya dan mengecup pucuk kepala Sari berulang-ulang.


Sari menangis. Tak terasa air mata itu mengalir lagi di pipinya.


David melonggakan pelukannya dan meraih Melvin dari pangkuan Sari. Ia memindahkan Melvin ke tempat tidurnya. Lalu, menghampiri Sari.


Ia berjongkok di depan Sari. Tangannya terangkat untuk menghapurs jejak air mata di pipi Sari.


“Mau meamaafkanku?”


Sari masih diam, bibirnya kelu. Hati dan pikirannya masih berperang antara iya dan tidak.


Lama Sari terdiam dan David pun menunggu jawaban itu. Hatinya bergetar dan terus memandang wajah sedih Sari. Tangan David terus mengelus wajah itu.


“Aku memang pria posesive dan tempramen. Aku tidak suka milikku di sentuh orang lain. Semoga kamu mengerti.”


Sari masih menunduk dan diam. Ya, sifat itu yang membuat sari takut kembali pada David. Pria ini memang posesive dan selalu meluapkan hasratnya dengan sesuka hati.


“Ini semua karena aku begitu mencintaimu.” Ucap David lagi lirih.


Sari mengangkat wajahnya. Ia menatap David dan mengangakat tangannya untuk menyentuh wajah tampan itu.


“Berkali-kali kamu menyakitiku, tapi kenapa aku tidak bisa marah padamu? Kenapa?” Tanya Sari merengek.


Kemudian, tangannya beralih memukul dada David pelan.


"Kamu menyebalkan." Sari masih merengek.

__ADS_1


“Karena kamu juga sangat mencintaiku.” Jawab David dengan penuh senyum.


__ADS_2