Istriku Canduku 2

Istriku Canduku 2
genk casanova


__ADS_3

Di hotel XJ, Brian dan Andre tengah duduk menunggu teman-teman semasa gilanya dulu datang. Tak berselang lama, Rey pun datang dan menghampiri kedua pria itu.


“Woy, Sorry. Gue ngga telat kan?” Tanyaa Rey sambil menyalami Brian dan Andre.


“Enggak, emang kita berdua aja yang datengnya kecepetan.” Jawab Brian.


Beberapa menit kemudian pun, Mario datang. Ia sudah tersenyum dari kejauhan.


“Ah, si micin dateng.” Celetuk Brian, membuat Rey dan Andre tertawa.


“Tinggal nunggu si bulgil nih, dia pasti datangnya telat.” Ucap Brian lagi.


“Siapa bulgil?” Tanya Andre mengeryitkan dahinya.


“David, panggilan istrinya ke dia seperti itu, bulgil alias bule gila.” Jawab Brian lagi, membuat Andre tertawa.


Rey pun ikut tertawa, ia tersedak karena tertawa di saat sedang meminum minumannya.


“Hai, Bro. Pada ngetawain apaan sih? Seru bener.” Mario menyalami Bryan, Rey, dan Andre bergantian dengan sapaan khas pria.


“Hai, Yo. Ini kami lagi ngetawain perut kami yang makin buncit.” Kata Bryan tertawa.


“Kami, lo aja kali.” Celetuk Rey.


Ke empat pria itu tertawa.


“Apa kabar lo?” Kata Andre.


“Wes, Lo juga makin berisi. Yo.” Kata Rey menepuk perut Mario.


“Iyalah secara susunya cocok.” Celetuk Brian.


Ke empat pria itu tergelak.


“Iya nih, lagi males ngegym.” Jawab Mario santai.


“Halah ini juga makin buncit.” Mario menepuk perut Andre.


“Si*l*n lo. Kena dah gue.” Jawab Andre.


“Kalau gue tiap pagi olahraga.” Sahut Brian.


“Iya, tapi di kasur.” Sambung Mario yang membuat ke empat pria itu kembali tergelak.


“Yang dari dulu begini-begini aja tuh, si Rey.” Kata Brian, yang membuat Rey tersenyum sambil menyesap secangkir kopi di tangannya.


“Ah, dia mah emang cungkring dari dulu.” Ledek Mario.


“Rese lo.” Rey tersenyum.


“Eh iya, ada satu lagi yang belum dateng.” Kata Rey lagi.


“Siapa?” Tanya Brian


“Emang lo undang siapa lagi?” Mario pun ikut bertanya, sementara Andre hanya menyimak, karena ia tahu orang yang Rey maksud.


“Tuh dia orangnya.” Mata Rey menuju ke pintu luar, yang cukup jauh dari tempat mereka duduk.

__ADS_1


Di sana, terlihat pria bule dengan postur tinggi tegap, nerjalan ke arah empat pria itu.


“David? Lo undang si brengsek itu.” Ucap Mario.


“Kita semua pernah jadi pria brengsek, Yo.” Kata Andre.


“Ah, gue balik.” Mario bangkit dari duduknya. Namun langsung di tahan oleh Brian.


“Yo, lu jangan kaya anak kecil dong! Kejadian itu kan udah lama, lagian lu juga udah ngehajar dia abis-abisan di Singapura. Udah lah, kita damai aja.” Ucap Brian.


“Iya, tuh anak juga udah tobat sekarang.” Sambung Rey.


Mario pun duduk kembali.


Walau rencana licik yang di lakukan David pada istrinya tidak terjadi. Namun, hati Mario masih panas jika melihat wajah sahabatnya itu. Ia masih tak habis pikir, mengapa David punya rencana sejahat itu pada istrinya dulu? Tapi jika ingat yang di katakan Inka tentang Sari yang sudah bahagia dengan suaminya, Rasa panas di hatinya tiba-tiba meredam. Apalagi, Mario juga pernah melihat kemesraan David dan keluarganya waktu itu.


“Sorry, gue telat.” Ucap David, kemudian ia pun menyalami teman-temanya satu persatu. Tak terkecuali Mario.


“Yo.” Panggil Andre, karena Mario tak mau menerima uluran tangan David.


Akhirnya Mario melunak, ia mengulurkan tangannya. Lalu mereka berpelukan.


“Sorry, bro.” Kata David di sela-sela pelukan mereka.


“Obsesi gue mendekatkan gue pada cinta sebenarnya. Thank you.” David mengeratkan pelukannya.


Mario tersenyum dari balik tubuh David. Sungguh, sejujurnya ia sangat senang dengan hidup David sekarang.


“it’s ok. Mungkin itu jalan Tuhan buat lu jadi lebih baik.” Ucap Mario.


“Nah, gitu donk. Gue demen deh liatnya.” Celetuk Brian, membuat semuanya tersenyum dan bertepuk tangan.


“ Cheers.. Untuk persahabatan kita.” Ucap Rey mengangkat gelasnya.


Mario dan David duduk dan langsung mengangkat minumannya.


“Cheers.. genk casanova.” Sahut Mario.


“Eh.. Apaan Genk cassanova? Geli banget gua dengernya.” Kata Brian tertawa.


Mario tertawa. “Itu kata bini gue.”


Kelima pria itu pun tergelak lagi.


“Cheers.. buat para mantan playboy yang bucin sama para istrinya sekarang.” Kata Brian.


Kelima pria yang tengah duduk dan mengangkat gelasnya itu pun kembali tertawa.


“Cheers.. untuk rasa syukur atas semua kebahagiaa yang Tuhan berikan pada kami.” Ucap Andre.


“Cheers.. untuk takdir yang tidak pernah tahu akan membawa kita kemana.” Kata David, membuat mata keempat sahabatnya itu menganga melihatnya.


David pun tersenyum membalas tatapan aneh kelima teman-temannya.


Rey, Brian, Andre, dan Mario tersenyum. David, bule gila yang terkenal nakal dan paling bengal di antara mereka ini, memang sudah sangat berubah.


“Cheers.” Kata kelima pria ini.

__ADS_1


Ting..


Bunyi dentuman kelima gelas itu terdengar nyaring.


Lalu, kelima pria ini berbincang hangat sambil tertawa bersenda gurau. Pembicaraan mereka tidak jauh dari seputar aktifitas ranjang dan cara memuaskan istri. Terkadang di selipkan tentang pekerjaan dan bisnis.


Setelah hampir dua jam berbincang, sambil menikmati makan malam. Mereka pun pamit.


Tring. Ponsel David berbunyi tertera pesan notifikasi dari “My Little wife”


“Mas, tolong titip Serabi di jalan. Aku ingin kue itu. Terima kasih my dear.. Love you, Mmuuaachhh.”


David tersenyum. Ia membalas.


"Iya, Sayang. Semua yang ratu inginkan akan segera datang."


Di sana, Sari membuka balasan pesan suaminya. Ia tersenyum.


“Eh, ada yang tau kue Serabi?” Tanya David sebelum teman-temannya pergi.


“Siapa malam-malam begini nyari serabi?” Tanya Brian memicingkan matanya.


“Istri gue, lagi ngidam.”


“Wah, Sari hamil lagi?” Tanya Mario tak percaya, pasalnya ia tahu usia anak pertama David.


Rey tertawa. “Kejar setoran lo, Dav.”


David tersenyum.


“Yang gue tahu ada, tapi di pinggir-pinggir kota. Sampe malem gini biasanya masih buka.”


Lalu Mario yang tengah mencari data di ponselnya pun langsung memberikan informasinya pada David.


“Tuh tempatnya, udah gue share.”


“Okeh, Thanks.” David menepuk bahu Mario.


“Ngga sia-sia kan punya temen orang cyber.” Celetuk Rey.


“Oke deh, Sasha udah neleponin gue mulu nih. Gue balik duluan ya.” Brian pamit.


“Sama, gue juga.” Andre dan Rey pun mengikuti.


Tinggal Mario dan David yang masih di sana. David tengah menunggu pesanan Sari datang melalui aplikasi makanan online.


“Inka memberi salam untuk Sari.” Kata Mario santai, sambil menyesap minumannya.


David yang sedang fokus memesan makanan Sari dari ponselnya pun menoleh.


“Sari juga memberi salam untuk Inka.”


Mario tersenyum kecil. “Takdir memang aneh.”


“Sangat aneh.”


Mario dan David tersenyum dengan pikiran yang menerawang, membayangkan saat-saat mereka masih menjadi seorang pria brengsek, kemudian pertemuan mereka dengan wanita yang sekarang menjadi istrinya, serta kesalahan yang kini menjadi kebahagiaan.

__ADS_1


“Lain kali, kita harus nge-date bareng.” Ucap David.


“Sepertinya seru.” Mario mengangguk.


__ADS_2